
Hari ini up 2000 kata lebih ya biasanya ini jadi 2 bab. Jadi jangan minta crazy up bisa-bisa othor crazy beneran🤣🤣🤣
🌟HAPPY READING 🌟
"Lama sekali Kak?" tanya Sarah saat melihat Mentari masuk ke dalam mobilnya.
"Biasa ada kesalahan teknis sedikit," jawab Mentari santai.
"Nunggu Pak Gala yang lama ya Kak?" tanya Sarah lagi sebab dia baru saja melihat Gala memasuki kantor.
"Termasuk itu juga."
Sarah mengangguk. "Sekarang kita kemana?" tanya Sarah kemudian.
"Ke rumah papa buat nganterin makanan itu." Mentari menunjuk rantang lain yang ada di belakangnya.
"Oh." Tanpa banyak bertanya lagi Sarah langsung melajukan mobilnya ke rumah Tama.
"Kamu nggak ada acara kan hari ini? Kalau memang ada biar kakak naik taksi saja." Mentari merasa tidak enak jika terus merepotkan Sarah.
"Nggak ada Kak, paling juga hanya ke toko. Biarlah Mega sama Mbak Nunik yang sudah menghandle semuanya. Lagipula Sarah sudah mendapatkan amanat dari Kak Alzam untuk mengantarkan Kakak pagi ini."
"Oke kalau begitu."
Mereka melanjutkan sisa perjalanannya hanya dengan diam. Mentari mengernyit tidak biasanya Sarah diam seperti itu. Biasanya gadis itu banyak topik pembicaraan yang akan dibahas saat mereka berdua dalam satu mobil.
"Bagaimana kuliahmu?" tanya Mentari berbasa-basi untuk memancing Sarah agar bercerita panjang lebar.
"Baik."
Mentari menghela nafas, sepertinya Sarah sedang tidak bersemangat hari ini.
"Itu kan rumahnya di depan?"
"Iya, kamu ikut masuk ya?"
Sarah hanya mengangguk.
"Pak buka pintu pagarnya!" perintah Mentari melalui kaca yang terbuka di samping mobil.
"Baik Nona." Pak satpam langsung membuka pintu dan menyuruh agar Sarah membawa mobilnya memasuki pekarangan rumah.
"Ayo Sarah," ajak Mentari sambil membuka pintu mobil dan turun lalu membuka kabin belakang untuk mengambil rantang. Setelah itu menggandeng tangan Sarah dan membawanya masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum Pa," sapa Mentari saat melihat Tama berada di pintu hendak keluar.
"Waalaikumsalam, ayo masuk!"
Mentari dan Sarah menyalami tangan Tama secara bergantian.
"Ini adiknya Nak Alzam, bukan?" tanya Tama saat Sarah menyalami tangannya.
"Iya Pa dia Sarah," jawab Mentari sedang Sarah hanya mengangguk dan tersenyum ramah.
"Ayo Nak masuk, biar saya panggilkan si bibi untuk membuatkan minuman."
"Tidak usah repot-repot Tuan," ucap Sarah sungkan."
"Tidak apa-apa kan si bibi yang buat bukan saya. Panggil paman saja ya jangan panggil Tuan," ujar Tama pada Sarah.
"Iya Paman."
Sarah pun masuk sedangkan Mentari sudah menaruh rantang di atas meja.
"Pa ini saya buatkan makanan untuk Papa. Semoga Papa suka ya. Saya ambilkan piring dulu ya ke dapur?" Mentari menawarkan diri.
"Tidak usah Ca mendingan kamu duduk saja temani Sarah di sini biar papa sendiri ke dapur sekalian mau menyampaikan kepada bibi supaya membuatkan minuman buat kalian berdua. kalian jauh-jauh ke sini pasti harus, bukan?"
"Tapi kayaknya Mentari mau ke kamar aja deh Pa daripada di sini. Nanti suruh si bibi mengantarkan minuman kami ke kamar saja ya," pesan mentari pada Tama.
"Oke siap kalian istirahatlah dulu sana di kamar, pasti capek kan membuatkan makanan untuk papa."
"Ah nggak Pa biasa aja, yuk Sar ke kamar," ajak Mentari lalu menapaki satu persatu anak tangga menuju kamarnya.
Sarah mengangguk dan langsung menyusul Mentari melangkah menuju kamarnya berada.
"Sar kamu kenapa sih dari tadi layu saja? Kayak hidup segan mati tak mau tahu," protes Mentari melihat adik iparnya yang masih nampak tidak bergairah sedari tadi, bahkan Mentari melihat Sarah sudah terlihat lelah saat menyambangi rumah dan menjemput dirinya.
Sarah hanya menggeleng mendengar pertanyaan dari Mentari.
"Tuh kan hanya geleng-geleng kepala saja dari tadi, nggak biasanya kamu seperti itu, pasti ada apa-apa. Cerita dong, kalau kak Mentari dari dulu kalau ada apa-apa pasti cerita sama Sarah. Masa Sarah nggak percaya sih sama Kak Mentari apalagi kakak kan sudah menjadi kakak Sarah sendiri," bujuk Mentari agar Sarah mau terbuka padanya.
"Entahlah Kak, Sarah bingung mau cerita apa. Lagipula Sarah malu juga jika harus bercerita."
"Bingung? Malu sama kakak?" tanya Mentari tidak habis pikir.
__ADS_1
Sarah mengangguk.
"Bahkan aku nggak pernah malu cerita sama kamu. Emang apaan sih kok kakak jadi penasaran? Ah nggak asyik ah Sarah main rahasia-rahasian."
"Hmm, baiklah saya akan bercerita, tapi janji ya Kakak jangan ceritanya sama siapapun termasuk pada Kak Alzam."
"Oke siap."
Baru saja Sarah hendak bercerita terdengar pintu kamar diketuk.
Tok, tok, tok.
"Non! Non! Ini minumannya." Terdengar suara bibi dari luar.
"Masuk saja Bi, pintunya tidak di kunci.
Si bibi masuk dan berjalan ke arah keduanya lalu meletakkan minuman di meja yang terletak di samping ranjang.
"Terima kasih ya Bi."
"Iya Non, silahkan dinikmati ya minuman dan camilannya ya Non Cahaya dan Non Sarah. Sengaja juga bibi buatkan minuman yang banyak biar nanti kalau kalian haus bisa menuangkan sendiri dari ceret ini," ujar si bibi sambil menyentuh ceret yang sudah ia letakkan di atas meja.
"Iya Bi terima kasih ya," ucap Sarah.
Si bibi mengangguk dan berkata, "Kalau begitu bibi pergi dulu ya Non nanti kalau sekiranya membutuhkan bantuan bibi panggil saja di bawah," ujar sang bibi sambil melenggang pergi.
"Iya Bi makasih banyak. Oh ya Sarah ayo diminum dulu." Mentari pun meraih gelas bagiannya dan meminum sampai tandas. Sarah pun melakukan hal yang sama tetapi tidak sampai tandas.
"Kuenya juga," ucap Mentari agar sarah mencicipi kue buatan pembantunya.
Sarah pun mengambil satu keping kue dan mengunyahnya.
"Enak," puji Sarah.
"Oh ya sekarang kamu boleh menceritakan apa yang membuat kamu murung sejak tadi pagi."
"Aku kecewa Kak sebab cowok yang ku taksir ternyata malah ingin melamar temanku sendiri. Aku pikir selama ini dia menyukaiku karena selalu perhatian pada Sarah," ucap Sarah jujur.
"Oh patah hati rupanya kamu." Mentari langsung menarik kesimpulan.
"Iya Kak, Kakak benar," ucap Sarah membenarkan perkataan Mentari sambil mengangguk.
"Temanmu tahu kalau kamu menyukai pria itu?"
"Terus yang kamu harapkan sekarang apa? Mau memiliki pria itu?" tanya mentari penasaran apa yang ada di hati Sarah saat ini.
"Kalau menurut saya sih selama janur kuning belum melengkung sah-sah saja jika kamu mengungkapkan perasaanmu pada pria itu. Apalagi pria itu belum melamar temanmu itu, kan? Jadi kamu masih punya kesempatan untuk mengetahui isi hati pria itu. Jika pria itu juga menyukai dirimu pasti dia akan membatalkan rencananya untuk melamar sahabatmu itu."
"Entahlah Sarah memang menginginkan pria itu menjadi pendamping Sarah, cuma Sarah tidak tega kalau harus merebut pria dari tangan sahabat sendiri. Apalagi sahabatku itu kebetulan memiliki penyakit yang serius."
"Oh ya? Sudah kalau begitu ikhlaskan saja pria itu untuk sahabatmu masih banyak pria lain di dunia ini."
"Iya Kak, tapi Sarah tetap saja merasa sedih."
"Itu sudah biasa awalnya memang akan terasa sakit di hati, tapi lama-lama akan hilang juga. Jangankan kamu yang mencintai tanpa ada ikatan. Aku saja yang dulunya begitu berat harus berpisah dengan Mas Bintang sekarang enjoy-enjoy saja, bahkan kakak lebih bahagia dengan kakakmu itu. Jadi yakinlah suatu saat nanti kamu akan menemukan yang terbaik."
"Amin."
Prang.
Tak sengaja hijab Sarah menarik ceret yang terbuat dari keramik di hadapannya hingga terjatuh di lantai. Namun, sebelum gelas itu terjatuh gelas itu menyangkut di gamisnya terlebih dahulu.
"Maaf Kak."
"Tidak apa-apa Sarah."
"Aduh basah semua," keluh Sarah saat melihat pakaiannya basah dengan minuman yang tumpah dari ceret tadi.
"Sana mandi dulu biar kakak ambilkan baju milik kakak," perintah Mentari dan Sarah diarahkan oleh menteri menuju kamar mandi sedangkan dirinya langsung mencari baju yang sekiranya cocok untuk Sarah.
"Kak kran airnya mati!" seru Sarah dari dalam kamar mandi.
"Coba aku lihat." Mentari mencoba memeriksa ternyata yang dikatakan Sarah benar kran air di kamar mandinya tidak berfungsi.
"Sebentar aku tanya papa dulu," ucap Mentari lalu berlari ke bawah dan menghampiri sang papa yang sedang makan.
"Pa, kran air di kamar mandi Mentari kenapa ya kok macet?"
"Oh iya Ca memang sedang rusak. Hari ini sebenarnya papa sedang memanggil tukang servis, tapi kok belum datang juga ya. Kalau kamu mau mandi, mandi di kamar papa saja dulu ya untuk sementara waktu," saran Tama.
Mentari lalu berlari lagi ke atas menuju kamarnya.
"Sarah mandi di kamar sebelah saja ya," ajak Mentari pada Sarah yang masih berada di dalam kamar mandi.
Sarah yang memang sudah membuka bajunya langsung mengambil handuk dan memakainya. Ia lalu keluar menemui Mentari.
__ADS_1
"Ayo Kak rasanya tubuh Sarah sudah lengket ini."
"Iya ayo."
Mentari langsung membawa Sarah ke kamar yang berada di samping kamarnya sendiri.
"Mandilah saya harus kembali ke kamar untuk mengambil pakaian ganti untukmu," ucap Mentari dan langsung melenggang pergi. Memang dia tadi belum sempat mengambil pakaian karena keburu dipanggil Sarah dari dalam kamar mandi.
Sarah mengangguk dan buru-buru masuk ke kamar mandi. Sampai di dalam dia langsung menutup pintu kamar mandi tanpa menguncinya dari dalam dengan alasan agar Mentari mudah untuk memberikan baju gantinya nanti. Rupanya dia lupa bahwa kamar mandi yang sekarang ini bukanlah kamar mandi yang berada di kamar Mentari.
Di kamar sebelah Mentari tampak mengacak-acak bajumu untuk mencari yang sekiranya cocok dengan Sarah. Maklum baju yang disediakan Tama itu belum pernah disentuh olehnya, bahkan ketika beberapa malam sesudah pernikahannya dengan ustadz Alzam. Disaat mereka memutuskan untuk menginap di rumah itu setelah dari hotel dan sebelum ikut ke rumah ustadz Alzam.
"Ini kali yang cocok buat Sarah." Mentari tersenyum sumringah mendapatkan baju yang sepertinya memang pantas dan cocok dipakai Sarah.
***
Di tempat lain setelah selesai makan Gala merasakan tubuhnya yang aneh.
Dia menggaruk seluruh tubuhnya yang tiba-tiba saja menjadi gatal.
"Apa alergiku kambuh lagi ya?" gumam Gala mengingat-ingat beberapa waktu ini dia memang sering mengkonsumsi seafood ditambah tadi masakan Mentari yang ada udangnya juga.
"Kenapa Pak?" tanya Kiki melihat atasannya bertingkah seperti monyet saja, garuk-garuk sana sini.
"Sepertinya aku alergi lagi deh Ki," sahut Gala dengan tangan yang tidak berhenti menggaruk tubuhnya.
"Apa perlu saya carikan obat Pak?" Kiki menawarkan diri.
"Sepertinya tidak usah, kalau begini biasanya saya sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi bekerja. Di rumah sudah tersedia stok obat. Jadi lebih baik saya pulang saja ya. Kamu nggak apa-apa kan saya tinggal? Bisa kan menangani semua yang ada di perusahaan ini?"
"Kalau itu mah serahkan saja pada saya Pak, insyaallah saya mampu. Memang sebaiknya Bapak pulang saja sekarang, minum obat lalu beristirahat," ujar Kiki.
"Baik kalau begitu aku pulang ya Ki." Gala menepuk pundak Kiki.
"Iya Pak hati-hati."
Gala hanya mengangguk dan langsung keluar dari ruangan menuju lift yang akan membawanya ke lantai dasar.
Sampai di lantai bawah semua karyawan memandang aneh kepada Gala.
"Kenapa sih Pak Gala itu?" Karyawan yang ditanya hanya mengangkat bahu pertanda tidak tahu.
"Aih jangan-jangan di santet sama Bu Katrina sebab marah telah dipecat," tuduh salah satu karyawan membuat kepalanya langsung ditoyor oleh karyawan lainnya.
"Ih kotor amat pikiranmu. Awas jangan ngomong sembarangan nanti jatuhnya fitnah," tegur karyawan yang lain lagi.
"Mungkin hanya salah makan makanya jadi gatal-gatal," tebak yang lain.
"Bisa jadi."
"Pak antar aku pulang!" perintah Gala pada sopir pribadinya yang sedang duduk-duduk di pos satpam sambil menikmati kopi bersama Pak satpam sambil bercerita-cerita.
"Eh di panggil bos itu," ucap Pak satpam.
Sopir itu berbalik dan melihat Gala berjalan menuju mobil.
"Iya ya, ya sudah kalau begitu saya balik dulu."
Pak satpam hanya mengangguk, pak sopir berlari menuju mobilnya.
"Sudah ingin balik Den?" tanyanya heran.
"Iya Pak seluruh badan rasanya tidak enak, panas dan gatal."
"Oh." Pak sopir langsung masuk ke dalam mobil. Setelah Gala masuk langsung menyetir mobil menuju kediaman Tama.
Sampai di garasi rumahnya Gala segera berlari ke dalam dan juga menaiki tangga dengan berlari. Sampai di depan kamarnya ia kaget mendapati pintu kamar dalam keadaan terbuka.
"Ah, paling kerjaan si bibi habis membersihkan kamar lupa menutupnya kembali." Gala berjalan menuju meja yang ada di samping ranjang. Ia menarik laci yang ada dibawah meja itu dan langsung mencari obat gatal-gatal. Setelah membuka bungkusnya dan menaruh di atas lidah dia langsung meneguk segelas air yang tersedia di atas meja itu.
"Cck, kenapa aku jadi kebelet ingin pipis ya." Kebiasaan buruk Gala setelah meminum obat mesti ingin buang air kecil.
Buru-buru Gala berjalan ke arah kamar mandi dan langsung membukanya.
Gala kaget dan menutup mulut kala melihat ada seorang wanita yang baru selesai mandi di sana.
"Aaaaa!" Sarah berteriak kencang melihat Gala berdiri di depannya.
Bersambung.
Sambil menunggu novel ini up lagi, jangan lupa yuk mampir ke novel temanku dijamin seru abis. 👍Nih dia novelnya.
Karya: Rima Junia Ermolina.
__ADS_1