
Setelah sampai di mobil Mentari menyandarkan bahunya pada kursi mobil. Pikirannya masih belum bisa tenang sebelum bertemu Bintang dan melihat ekspresi wajah pria itu setelah tahu dirinya pulang di antar oleh Gala.
"Kenapa capek?" tanya Gala karena melihat Mentari memejamkan mata.
Mentari membuka mata lalu menggeleng.
"Kalau capek nanti langsung istirahat saja. Kalau pegel-pegel nanti saya telepon tukang pijat langganan saya," ucap Gala.
Mentari menutup mulutnya karena tertawa.
"Kenapa tertawa? Ada yang salah denganku?" heran Gala.
"Tidak, hanya saja terlalu berlebihan. Belanja sebentar saja masa sudah pegel. Saya berjalan di dalam hutan sendirian setengah hari saja nggak kerasa pegel tuh," tukas Mentari.
"Wah wanita petualang, mainnya di dalam hutan," ucap Gala lalu terkekeh.
"Aku bukan bermain-main ke sana tetapi kerja," bantah Mentari.
"Kerja? Di dalam hutan? Memangnya jadi pawang macan?" goda Gala lagi.
"Bukan, hanya saja mencari sayuran untuk dijual."
"Cari sayuran? Sayuran apa sampai dicari ke dalam hutan? Kenapa nggak menanamnya saja?"
"Banyak macamnya yang penting bisa dijual dengan mudah semacam jamur dan daun pakis. Untuk menanam sendiri, saya tidak punya lahan pertanian untuk digarap Pak. Hanya bisa menanam sedikit untuk kebutuhan sendiri di pekarangan rumah yang juga sempit."
"Oh begitu? Tidak takut sama ancaman hewan liar di dalam hutan sana?"
"Awalnya takut tetapi lama kelamaan sudah terbiasa jadi tidak takut lagi."
"Pernah ketemu dengan hewan buas?" tanya Gala lagi dan Mentari mengangguk.
"Menghadapi harimau pernah, singa juga pernah, terkadang juga ular."
Gala terbelalak ketika melihat ekspresi Mentari biasa saja saat menjawab. "Kamu tidak takut?" tanyanya penasaran.
"Saya lebih takut kebuasan manusia daripada hewan." Gala hanya menggeleng mendengar perkataan Mentari.
"Itu mengapa kamu tidak melawan saat orang lain menghinamu? Kamu lebih takut manusia daripada hewan?" tanya Gala mengingat kejadian tadi pagi di kantornya.
"Iya, manusia lebih menakutkan kalau sudah pandai memfitnah orang lain sedangkan hewan tidak bisa melakukan hal itu."
"Kamu benar, tapi aku penasaran bagaimana kamu menghadapi hewan buas yang mengejar dirimu?"
"Naik ke atas pohon," jawab Mentari enteng.
"Waduh, aku aja nggak berani naik pohon atau naik apapun itu."
"Karena belum terbiasa dan belum terdesak."
"Bisa juga sih seperti itu."
Mentari mengangguk. Setelah ini keduanya melanjutkan perjalanan tanpa ada yang berbicara. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
Hingga saat hampir sampai ke area apartemen Mentari bertanya pada Gala.
__ADS_1
"Maaf Pak boleh saya bertanya sesuatu?"
"Tanyakan saja, akan aku jawab kalau bisa."
Mentari mengangguk. Sebelum bertanya dia menarik nafas dulu lalu menghembuskan nafas secara perlahan.
"Maaf sebelumnya kalau saya lancang. Bapak, kan sudah tahu bahwa Mas Bintang dan Katrina telah menikah, mengapa Bapak tidak mengeluarkan salah satu dari mereka dari perusahaan Bapak? Dan kenapa sepertinya Bapak pura-pura tidak tahu di depan Katrina dan para karyawan lainnya tentang status mereka?"
"Boleh aku jawab sekarang?"
"Silahkan Pak."
"Pertama, aku masih butuh mereka dalam perusahaan. Mereka berdua selalu punya ide cemerlang untuk kelangsungan perusahaan. Kedua, tidak ada bukti tertulis kalau mereka sudah menikah karena pernikahan mereka tidak tercatat dalam surat nikah. Saya hanya tahu dari Bintang kalau mereka sudah menikah dan itu dibenarkan oleh salah satu karyawan yang hadir di acara pernikahan mereka."
"Mereka cocok ya Pak, sama-sama cerdas," ujar Mentari. Hatinya merasa ciut kala dirinya harus dibandingkan dengan Katrina. "Saya tidak sebanding dengan dia. Pantas saja Mas Bintang tidak pernah mau meninggalkan dirinya. Saya mah nggak ada apa-apanya."
"Setiap orang pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Sudahlah tidak usah membandingkan, cukup benahi dirimu menjadi lebih baik agar Bintang tidak meninggalkanmu."
"Hah." Mentari menghembuskan nafas kasar. "Aku akan berusaha sebisa mungkin."
"Harus, Om Winata berharap banyak padamu. Aku ingin kau membuat Bintang lebih memilihmu daripada Katrina."
"Sampai saat ini pertanyaanku belum terjawab. Saya masih heran Pak. Kenapa Pak Gala malah mendukung saya? Sedangkan tadi mengatakan sendiri bahwa Kate berjasa dalam perkembangan perusahaan."
"Dia bukanlah tipe wanita yang setia."
"Maksud Bapak dia selingkuh?"
"Sudahlah cukup kamu tahu saja sebab Bintang tidak pernah mau percaya omonganku atau yang lainnya kalau tentang Kate."
"Belum, sampai saat ini saya masih mencari bukti sebelum memberitahukan pada Om Winata. Kemarin aku sempat menghentikan penyelidikan karena mendengar Om Winata telah menikahkan Bintang denganmu sebelum akhirnya aku tahu bahwa dia pun menikahi Katrina.
"Kenapa Papa tidak ingin Mas Bintang menikah dengannya kalau beliau belum tahu kalau Kate selingkuh?"
"Kalau itu maaf saya tidak bisa menjelaskan sebab saya juga tidak tahu apa alasannya. Namun menurut tebakanku, kalau tidak salah sih, sepertinya pernah ada masalah pribadi antara Om Winata dengan keluarga Kate."
"Oh begitu ya Pak."
"Sudah sampai, ayo turun! Barangkali Bintang sudah menunggumu di dalam."
Mentari pun turun dari mobil dan berjalan mendahului Gala. Wanita itu setengah berlari sebelum sampai ke dekat lift.
Sampai di dalam apartemen tampak masih sepi. Tidak ada tanda-tanda ada orang dalam ruangan tersebut. Ruangan masih tampak rapi seperti sebelum Mentari tinggal ke supermarket.
"Mas Bintang! Mas!" panggil Mentari, barangkali Bintang langsung masuk dan beristirahat di dalam kamar.
"Tidak ada," gumam Mentari sambil terus bergerak mencari keberadaan sang suami. Mencari ke kamar mandi, balkon, dapur, dan semua ruangan, tetap tidak menemukan keberadaan Bintang.
"Ternyata dia tidak pulang." Mentari menarik kesimpulan. "Ah sudahlah." Ia duduk di sofa ruang tamu. Sesaat kemudian Gala datang. "Mana Bintang?" tanyanya menerobos masuk ke dalam karena pintu unit apartemen tidak ditutup.
"Belum pulang," jawab Mentari lemah.
"Kenapa tidak ditelepon?"
"Ponselnya mati Pak."
__ADS_1
Gala mencoba menghubungi Bintang tetapi benar kata Mentari ponsel Bintang masih belum aktif.
Gala kemudian ingat sesuatu bahwa tadi Bintang seolah ada masalah dengan Katrina. Gala yakin pasti Bintang ada di tempat Katrina sekarang. Pria itu langsung menghubungi nomor ponsel Katrina.
"Halo." Katrina terbangun dari tidurnya kala mendengar ponselnya berdering.
"Mana Bintang Kate?"
"Sebentar Pak."
Katrina membangunkan Bintang yang terlelap di pinggir ranjang rumah sakit.
"Bintang! Bintang!" Katrina mengguncang bahu Bintang dengan pelan.
"Mau minum?" tanya Bintang kaget.
"Nggak, ini telepon dari pak Gala." Katrina menyodorkan ponsel di tangannya dan Bintang meraihnya.
"Halo Pak!"
"Pulang sekarang istrimu sakit!"
"Apa Mentari sakit? Darimana Bapak tahu?"
"Saya ada di apartemen sedang mencarimu tetapi malah menemukan istrimu dalam keadaan demam."
"Baik saya akan segera ke sana!" Bintang langsung menutup telepon dari Gala dan hendak pergi.
"Mau kemana Bintang? Jangan pergi bayimu butuh ayahnya," rengek Katrina.
"Tapi Mentari sakit, saya harus melihatnya."
"Aku juga sakit, apa kau tega meninggalkan kami? Di sini ada istri dan anakmu sedang di sana hanya istrimu saja."
Bintang duduk kembali.
"Di sana kan ada Pak Gala sedang di sini aku tidak ada yang menemani."
Bintang tampak berpikir. "Baiklah aku akan hubungi Gala dulu dan akan memintanya untuk menjaga Mentari." Katrina mengangguk.
"Halo Pak Gala saya tidak bisa pulang tolong jaga Mentari untukku ya!"
"Bintang ...." Hendak saja Gala ingin marah-marah tetapi sambungan telepon diputus sepihak oleh Bintang.
Bintang duduk kembali tetapi pikirannya kacau. Bagaimana kalau Gala benar-benar menyukai Mentari dan Gala mengambil kesempatan saat ini mendekati Mentari.
"Aku harus pergi Kate."
"Pak Gala pulanglah aku akan pulang sekarang." Bintang menghubungi Gala kembali.
"Kalau kamu pergi sekarang maka aku tidak akan menjamin keselamatan bayimu ini," ancam Katrina.
"Pak Gala kamu jaga Mentari saya tidak jadi pulang."
"Dasar laki-laki plin-plan," ujar Gala sambil membanting ponselnya sendiri ke atas sofa karena kesal dengan sikap adik sepupunya itu.
__ADS_1
Bersambung....