
Pengambilan donor pun sudah selesai Katrina langsung kembali ke tengah-tengah keluarga Bintang. Bayi Aldan terlihat akan dibawa ke ruang operasi. Bintang, Katrina dan Arumi pun mengikuti para perawat yang mendirikan brankar menuju ruang operasi.
Sekarang tinggallah Gala dan Tuan Winata yang berembug masalah tes DNA tadi.
"Terus kapan kita akan mengambil sampel baby Aldan dan Bintang paman?" tanya Gala tidak sabaran.
"Tunggu saja lah Gala, keadaan masih tidak memungkinkan. Semua orang masih berkumpul di di sini. Kalau baby Aldan sih mungkin kita bisa minta tolong sama suster untuk pengambilan sampelnya. Yang susah tuh Bintang. Kita tidak mungkin minta dia secara terang-terangan untuk melakukan tes DNA. Dia terlalu percaya pada Katrina jadi akan sangat murka kalau tahu dengan rencana kita."
"Paman benar, kita akan menunggu Bintang lengah atau tertidur untuk mengambil sampel, tapi kayaknya akan sulit paman sebab Bintang tidak akan tidur karena memikirkan bayinya."
"Kita sabar saja dulu Gala."
"Iya Paman kita tunggu waktu yang tepat saja."
"Tes DNA?" Arka yang tadinya ingin melihat bayinya dari jarak jauh terpaksa bersembunyi ketika melihat di depan ruangan ada banyak keluarga Bintang. Dia mengurungkan niatnya dan hendak pergi saja. Namun, langkahnya tertahan ketika melihat Gala dan Tuan Winata tidak ikut ke depan ruang operasi dan malah mengobrol berdua.
Mendengar pembicaraan mereka yang serius Arka menjadi penasaran dan memilih menguping.
"Gawat pasti mereka akan melakukan tes DNA antara Aldan dengan Bintang. Bahaya ini, aku harus selalu waspada," batin Arka. Yang tadinya akan pergi akhirnya memutuskan untuk stay di rumah sakit untuk berjaga-jaga.
"Paman, sekarang Gala balik ke kantor dulu ya. Nanti malam Gala kembali lagi ke sini," pamit Gala dijawab anggukan kepala dari Tuan Winata. Setelah Gala pergi Tuan Winata menemui Arumi di depan ruangan operasi.
"Lebih baik kita duduk di sana saja," ajak Tuan Winata melihat Arumi berdiri saja di luar ruangan. Arumi mengangguk dan mengikuti langkah suaminya dan duduk di sebuah kursi.
Setelah beberapa jam menunggu akhirnya para dokter yang menangani Aldan keluar dari ruang operasi.
"Bagaimana dokter?" tanya Bintang dan Katrina bersamaan. Tuan Winata dan Arumi pun berjalan mendekati Bintang.
"Alhamdulillah, operasinya berjalan lancar. Nanti pasien akan dipindahkan ke ruang perawatan apabila sudah siuman," jelas dokter.
__ADS_1
"Syukurlah, terima kasih Dok." Bintang meraup tangannya sambil mengucapkan syukur pada Tuhan.
Katrina pun bernafas lega.
"Sebaiknya kamu pulang saja Bin biar mama sama Katrina yang jagain Aldan," ucap Arumi.
"Tidak Ma, Bintang mau jagain Aldan sampai sadar," tolak Bintang.
"Kau sudah izin pada bosmu?" tanya Arumi lagi.
"Sudah Ma."
"Baiklah kalau begitu. Papa juga nggak mau ke kantor?" Arumi beralih bertanya pada Tuan Winata.
"Nggak Ma, biar papa nemenin kalian semua."
"Kalau begitu mama keluar dulu ya untuk membeli makanan. Mama yakin nih kalian semua pasti belum ada yang sempat makan pagi," tebak Arumi dan dibalas anggukan dari semua orang.
"Oke mama beli makanan dulu," pamit Arumi.Namun beberapa langkah langsung berhenti dan menoleh. "Eh papa mau ikut?"
"Nggak Ma, papa tunggu di sini saja. Lagi mager ini."
Arumi mengangguk dan berlalu pergi.
Malam hari menjelang, sekarang baby Aldan telah dipindahkan ke ruang rawat.
"Nak Kate, kamu sebaiknya pulang," ucap Tuan Winata sengaja baik-baikin Katrina.
"Iya Kate kau pulang dan istirahatlah dulu biar tidak kecapekan menjaga Aldan terus," imbuh Bintang.
__ADS_1
"Iya Bintang benar, biar saya dengan Bintang saja yang akan menjaga Aldan. Besok pagi kamu bisa kembali ke sini. Kita gantian menjaganya," ucap Tuan Winata lagi.
"Papa?" Arumi kaget melihat perubahan suaminya.
"Sudahlah Ma, Mama pulang saja temani Katrina. Mama pikir papa tega apa melihat keadaan anak kita yang terkena musibah seperti ini." Tuan Winata mengerti apa yang dipikirkan Arumi.
Arumi mengangguk paham. Memang suaminya adalah orang yang mudah bersimpati terhadap orang lain yang mengalami kesusahan ataupun musibah. Apalagi sekarang musibah itu menimpa putra satu-satunya.
"Ayo Kate mama temani kamu beristirahat di apartemen," ajak Arumi sambil mengulurkan tangan. Katrina mengangguk dan mengulurkan tangannya agar bisa digandeng oleh ibu mertuanya.
"Terima kasih ya Pa," ucap Katrina. Sengaja dia mengubah panggilannya terhadap Tuan Winata agar terlihat lebih akrab. Bukankah pada Arumi dia sudah memanggil mama, tidak salah, kan jika dia memanggil Tuan Winata dengan sebutan papa dan bukan paman lagi?
"Hmm."
Mereka pun pergi meninggalkan ketiga orang dalam ruangan.
"Bin kamu tidurlah dulu biar papa yang jaga. Nanti tengah malam kamu yang gantian jaga!" perintah Tuan Winata.
Bintang mengangguk dan karena dia memang sudah kecapekan akhirnya lekas tertidur. Tuan Winata keluar dan meminta bantuan seseorang.
"Sus sini!" Tuan Winata membawa seorang perawat masuk ke dalam ruang rawat Aldan.
"Iya Tuan."
"Tolong ambilkan sampel mereka berdua!" Tuan Winata menunjuk baby Aldan dan Bintang.
Suster mengangguk dan langsung mengambil gunting. Setelah mengambil sampel dia langsung membawa keluar dari kamar rawat bayi Aldan.
Tuan Winata duduk bersandar pada sebuah kursi. Dia berharap dugaannya itu benar bahwa Aldan memang bukan cucunya agar Bintang tidak semakin terikat dengan Katrina. Untunglah sebelum dokter pulang tadi dia sempat menemuinya. Dia berharap esok hari bisa langsung dilakukan tes DNA.
__ADS_1