
"Nggak ah aku mau nemenin dedek Izzam dulu," tolak Pandu.
"Ayo lihatnya nanti saja, aku kan tidak mengajakmu ke Jepang." Sarah menarik lengan Pandu.
"Kak?"
Pandu menoleh pada Mentari dan meminta persetujuan padanya.
"Pergilah Pandu. Temani mereka berdua!"
"Baik Kak." Akhirnya Pandu mengikuti langkah Sarah keluar dari ruang rawat Mentari.
Beberapa saat kemudian mobil mereka sudah terparkir di salah satu restoran dan mereka bertiga terlihat masuk ke dalam dengan Gala di depan dan Pandu beserta Sarah bergandengan tangan di belakangnya.
"Pak saya lupa nanyain mau beli makan apa pada mereka."
"Biar saya yang pesan, kamu sama Pandu duduk saja!"
Sarah mengangguk dan mengajak Pandu duduk di sebuah kursi yang posisinya dekat dengan pintu keluar.
"Pandu kapan kamu datang ke kota?"
Pandu tidak menjawab sebab dia fokus melihat ke arah luar.
"Apakah sekarang kamu libur sekolah?"
"Ah, apa Kak? Maaf Pandu tidak mendengar."
Sarah melihat ke arah pandangan Pandu. Meskipun bertanya, tetapi anak itu terus fokus menatap ke arah luar.
"Kau lihat apa sih Pandu?"
"Hehe ... mainan kak. Itu toko mainannya banyak sekali." Menunjuk ke arah toko-toko yang berjejer di seberang jalan.
Sarah menggeleng. "Dasar anak kecil. Kau sudah SD mengapa masih suka mainan?"
"Kenapa dia?" tanya Gala sambil berjalan mendekat karena melihat Sarah berbicara dengan Pandu sambil menggeleng.
"Tuh mainan." Sarah menunjuk ke arah toko tadi.
"Oh, mau beli?"
"Nggak sih Mas, nggak ada uang," jawab Pandu padahal dalam hati sangat tertarik pada salah satu mainan yang ada di sana. Dari balik kaca terlihat mainan robot Transformers.
"Nanti beli tapi sekarang makan dulu."
"Makan?" tanya Sarah.
"Iya."
"Apa tidak takut mereka menunggu lama?"
"Saya sudah menelpon tadi sama Cahaya. Katanya, ibumu sama Bu Warni belum bangun. Jadi tidak ada salahnya kita makan dulu sambil menunggu pesanan makanan yang kita bungkus."
"Baiklah." Sarah pasrah saja sebab dirinya juga belum makan pagi ini.
Gala menjentikkan jari memanggil pelayan agar mendekat ke kursinya. Setelah pelayan memberikan buku menu Gala langsung memberikan buku tersebut pada Sarah.
"Pesan apa?"
"Nasi sama Chicken steak saus enoki."
__ADS_1
"Oke, kamu Pandu?"
"Nggak Mas, Pandu sudah makan tadi, jadi sudah kenyang," tolak Pandu.
"Ya sudah Mbak nasi sama chicken steak saus enoki nya 2 ya!" Pelayan tersebut langsung mencatat.
"Tidak ada lagi Mas?"
"Cukup."
"Oke ditunggu ya!" Pelayan itu pun pergi.
Gala menggeleng melihat Pandu masih saja melihat ke arah mainan.
"Sudah sana cari mainan apapun yang kamu suka." Gala menyodorkan kartu kredit ke tangan Pandu.
"Benar Mas?" Pandu terbelalak tidak percaya.
Gala tersenyum sambil mengangguk. "Puas-puasin lihat dulu sebelum memutuskan untuk mengambilnya. Takutnya pas sudah dibeli nyesal." Padahal hanya ingin Pandu lama di sana.
Senyum Pandu mengembang. "Beneran?"
"Ya ampun Pandu, kapan saya tidak serius padamu?"
"Terkadang." Pandu mencabut kartu dari tangan Gala dan berlari keluar.
"Pandu hati-hati!" Sarah yang khawatir dengan Pandu takut menyebrang sembarangan akhirnya bangkit dari duduknya dan berlari mengejar Pandu.
"Yaaa." Gala duduk dengan kecewa. Dia pikir sekarang saat yang tepat untuk membicarakan perasaannya pada Sarah. Gala tidak ingin menundanya lagi sebab takut Sarah keburu dimiliki orang lain. Biarlah dia menyingkirkan egonya sendiri daripada harus kehilangan Sarah.
Sarah mengejar Pandu dan menitipkan anak tersebut kepada penjaga toko. Setelah itu barulah Sarah kembali ke restoran untuk menikmati makanan yang sudah dipesannya.
Sampai di restoran terlihat menu yang dipesannya sudah terhidang di meja dengan Gala yang memandang makanan itu dengan tatapan yang entah.
Gala mendongak dan melihat Sarah berjalan ke arahnya. Barulah terlihat kembali senyum di bibir Gala.
"Nggak ada temannya, aku menunggumu," jawab Gala.
"Aish kayak judul lagu Peterpan," ujar Sarah langsung terkekeh.
"Ayo makan!" Gala tidak menggubris candaan Sarah karena saat ini jantungnya berdetak tidak karuan. Rasanya akan meledak saja karena belum mencurahkan isi hatinya pada Sarah.
"Bapak kenapa sih?" Sarah merasa Gala tidak seperti biasanya. Pria itu terlihat duduk dengan gelisah.
"Tidak apa-apa, kita makan saja."
Sarah mengangguk dan mulai menyendok makanannya.
Beberapa waktu tampak hening sebab keduanya sama-sama fokus makan. Hanya denting sendok yang beradu dengan piring yang terdengar dan suara pengunjung restoran lain yang terdengar samar-samar di telinga mereka sebab meja mereka berjauhan dengan meja lain yang ada orangnya.
Pandu di dalam toko mainan nampak mondar-mandir. Meskipun sudah ada satu mainan incarannya, tetapi dia masih mencari mainan lain yang kira-kira bisa menarik perhatiannya. Sampai keduanya selesai makan pun Pandu masih saja berkeliling toko.
"Sarah aku ingin membicarakan sesuatu," ucap Gala saat menyudahi sarapannya bersama Sarah. Lelaki itu tampak mengusap-usapkan kedua tangannya seperti orang kedinginan saja.
"Katakan saja Pak. Maaf kalau beberapa bulan yang lalu saya meninggalkan kantor tanpa pamit pada pak Gala."
"Tidak masalah, aku tidak ingin berbicara tentang urusan kantor."
Sarah mengernyit, Gala benar-benar aneh. Tidak pernah pria itu terlihat seserius dan setegang ini.
"Aku hanya ingin berkata .... " Gala tidak meneruskan ucapannya. Dia menoleh terlebih dahulu ke arah pintu sebab takut Pandu sudah kembali.
__ADS_1
"Aku–"
Aduh kenapa sulit untuk mengatakan aku suka padamu, aku cinta padamu.
Gala menepuk jidatnya sendiri. Kata-kata yang sempat dirangkainya tadi seolah tercekat dalam kerongkongan dan tidak bisa keluar. Dia begitu nerveos.
"Pak Gala kenapa? Pusing?"
"Nggak."
"Terus kenapa?"
"Aku ingin menikah denganmu." Kalimat ini meluncur begitu saja dari mulut Gala tanpa pria itu sadari.
Gala langsung terlonjak kaget mendengar ucapannya sendiri membuat Sarah malah menertawakannya.
"Sudah bercandanya Pak. Nggak lucu!"
"Sarah." Gala menatap mata Sarah inten membuat gadis itu langsung menunduk dan merasakan detak jantung yang tidak normal.
Gala tampak menghela nafas.
"Jujur selama ini aku menyukaimu, tapi aku menyembunyikan perasaan itu dibalik sikap yang membuatmu kesal. Maafkan aku dan aku mohon kau bisa menerimaku. Aku mencintaimu." Lepas sudah beban yang selama ini menghimpit dada Gala.
Sarah tidak menjawab. Gadis itu masih saja menunduk.
Gala menyentuh tangan Sarah dan gadis itu membiarkan saja, tidak menepisnya seperti sebelum-sebelumnya.
Gala tersenyum, dia mulai yakin Sarah akan menerima cintanya.
"Sarah aku menunggu jawabanmu. Apakah kau mau menikah denganku?" Menggenggam tangan Sarah.
Di dalam hati Sarah sendiri gadis itu merasa galau. Jujur dia memiliki perasaan yang sama dengan Gala, tetapi saat itu terngiang pula ucapan Diandra yang mengatakan kemanapun mereka pergi Gala selalu tidur dengannya.
"Tidak. Aku tidak ingin sakit hati terlalu dalam jika menjadi istrinya," batin Sarah. Dia tidak mau dipermainkan oleh Gala sebab dia sudah tahu bahwa Gala hanyalah seorang yang suka
mempermainkan wanita. Dia tidak mau menjadi seorang istri yang diselingkuhi suami.
Gadis itu mendongak, menatap mata Gala yang terlihat serius. Namun, Sarah tidak bisa mempercayai itu semua.
Perlahan Sarah melepaskan genggaman tangan Gala.
"Maaf saya tidak bisa membalas cinta Bapak dan Maaf juga Sarah tidak bisa menikah dengan Bapak."
Terlihat kekecewaan pada raut wajah Gala. Namun, sebisa mungkin dia menahan diri agar tidak terlihat terlalu bersedih.
Baginya mungkin Sarah masih benci akibat dirinya yang sering menggoda hingga membuat gadis itu kesal.
"Apa alasannya?"
"Aku mencintai orang lain. Aku sudah punya kekasih dan berjanji untuk menikah dengannya."
Serasa tersambar petir saja hati Gala mendengar pengakuan dari Sarah. Ternyata dirinya sudah terlambat.
"Apa itu Bintang?" Sarah menatap Sarah seolah meminta penjelasan.
Sarah menggeleng sedangkan Gala menghembuskan nafas berat.
"Maafkan Sarah ya Pak."
"Never mind!" Berpura-pura baik-baik saja padahal dalam hati terasa sesak sekali.
__ADS_1
"Mas Gala! Pandu beli tiga. Tidak apa-apa 'kan?" Pandu berlari ke arah keduanya yang saat ini nampak canggung.
Bersambung.