HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 89. Salah Sasaran


__ADS_3

"Argh laki-laki itu sudah kubilang jangan meninggalkan jejak masih saja nekat," kesal Katrina saat mengingat kelakuan Arka.


Sementara itu Bintang telah mendapati Mentari menangis di dalam kamarnya.


"Kamu kenapa Me?" tanya Bintang saat melihat istrinya itu mengucek kedua matanya yang basah.


"Kamu menangis?" tanya Bintang sambil duduk di samping Mentari.


Wanita itu menggeleng tidak mau Bintang menganggapnya cengeng.


"Terus kenapa?" tanya Bintang lagi karena tidak mendapatkan jawaban yang jelas dari Mentari.


"Hanya kelilipan," jawab Mentari sekenanya.


"Tidak mungkin kelilipan karena kedua bola matamu merah semua. Kau pasti menangis, apa karena malam ini aku akan tidur bersama Katrina?"


Mentari menggeleng dalam hati berpikir percuma berkata jujur pada Bintang. Lelaki seperti dia tidak akan pernah bisa mengerti perasaan wanita. Walaupun mengerti sekalipun Bintang tidak akan bisa memberikan solusi pada sakit hatinya itu karena jawaban Bintang pasti sama, tidak akan mampu melepaskan salah satu diantara mereka.


"Terus kenapa kamu belum menjawab pertanyaanku? Katakan yang sejujurnya!"


"Aku kangen keluargaku di kampung." Mentari beralasan padahal baru beberapa hari menemui mereka bersama Gala.


"Oh begitu ya, mungkin pekan depan kita akan pergi ke sana. Besok pertama kali aku masuk kerja tidak mungkin kan aku bolos ataupun cuti kerja."


"Iya aku ngerti kok."


"Ya sudah kalau begitu sekarang kita tidur dulu hari sudah larut malam ini." Bintang hendak merebahkan tubuhnya ke ranjang.


"Mas!"


"Kenapa lagi?" tanya Bintang.


"Maaf boleh aku menemui Papa Tama?" tanya Mentari dengan hati-hati.


Bintang mengernyit mendengar nama Tama disebut otomatis dia akan mengingat nama Gala.


"Kenapa mau menemuinya?" tanya Bintang penasaran.


"Tadi siang Papa Winata menelpon katanya dia demam dan mengigau namaku terus. Aku tidak enak kalau tidak menjenguknya."


Bintang berpikir sebentar.


"Baiklah besok jam makan siang kau boleh menjenguknya, tapi aku yang akan mengantarmu sendiri."


"Terima kasih," sahut Mentari merasa lega. Sejak tadi siang dia memang kepikiran Tama tapi kalau sampai ke sana takut ketahuan Bintang dan pria itu malah membuat keributan lagi di rumah Gala.


"Besok siang aku akan menjemputmu di toko Sarah, jadi jangan pergi sendiri." Bintang mengingatkan.


Mentari mengangguk. Saat ini mengangguk dan menggeleng lebih banyak dilakukan Mentari daripada harus menjawab pertanyaan Bintang dengan perkataan.


"Sudah ayo tidur!" ajak Bintang lagi.


"Kau tidur di sini?"


"Iya." Jawaban Bintang disertai anggukan.


"Dia tidak akan marah?" Yang dimaksud dia oleh Mentari siapa lagi kalau bukan si Katrina itu.


"Tidak justru dia yang menyarankan aku tidur di sini," jawab Bintang tanpa pikir panjang.


"Kamu ngerasa aneh nggak sih Mas? Kok tiba-tiba dia jadi suka mengalah seperti itu?"


"Haruskah aku menjawab lagi? Kan sudah kukatakan dia baru sadar bahwa aku milik berdua," jawab Bintang enteng.


"Kalau menurutku dia pasti merencanakan sesuatu. Feeling-ku begitu sih."


"Sudah jangan selalu menggunakan perasaan karena semua itu belum tentu benar. Lebih baik kita sekarang tidur agar besok bisa fresh saat bekerja."

__ADS_1


Mentari mengangguk dan ikut merebahkan tubuhnya di samping Bintang yang sudah lebih dulu rebahan.


Pukul satu malam Mentari belum bisa tidur padahal orang yang memeluknya kini sudah tertidur pulas.


"Kenapa perasaanku tidak enak ya?" Mentari bergumam sendiri. Terlihat Bintang masih tertidur pulas. Mentari mencoba melepas pelukan tangan Bintang dengan pelan agar tidak membangunkan suaminya itu.


Setelah terlepas ia pergi keluar kamar dan berjalan ke arah kamar Katrina. Dengan pelan-pelan sekali Mentari membuka kamar Katrina dan mengintip wanita itu sedang melakukan apa.


"Ah, apa cuma perasaanku saja," ucap Mentari dalam hati. Di dalam sana Katrina terlihat sudah tertidur pulas.


Mentari menutup pintu kamar Katrina kembali dan meneruskan langkah ke dapur. Dia membuka kulkas lalu mengambil air dingin dan meneguknya. Rasanya begitu segar di tenggorokan.


Setelah minum ia kembali ke dalam kamar. Merebah tubuhnya kembali di samping Bintang.


Esok hari pagi-pagi buta Katrina sudah terlihat berkutat di dapur sedangkan Mentari belum bangun juga karena semalaman kurang tidur. Bintang membiarkan Mentari tidur tanpa mau membangunkannya. Bintang pikir Mentari lelah setelah seharian bekerja, jadi dia membiarkan saja Mentari tidur toh jam masih menunjukkan pukul 4 pagi.


Bintang yang terasa haus pergi ke dapur untuk mengambil minuman kaleng di sana, ternyata mendapati Katrina sedang berkutat dengan bahan-bahan dapur.


"Wah sekarang kau memang benar-benar rajin Kate," ucap Bintang bangga.


"Mungkin bawaan anak kita Bin, aku sekarang tidak enak kalau banyak berdiam diri," jelas Katrina.


"Wah bagus dong berarti dia calon pekerja keras seperti papanya," ujar Bintang.


Katrina hanya mengangguk dan tersenyum lalu melanjutkan memasaknya. Hari ini dan seterusnya dia harus berusaha membuat Bintang lebih kagum padanya dibandingkan pada Mentari.


"Oh ya Bin dari aku kamu sebentar lagi punya anak, bagaimana kalau dengan Mentari?" tanya Katrina karena melihat Bintang masih berdiri di sampingnya.


"Tidak aku planning sih. Kalau dikasih sekarang aku terima, tapi kalau masih lama pun tidak masalah, aku juga akan menunggunya," sahut Bintang.


Katrina tampak mengangguk.


"Kenapa bertanya seperti itu?" tanya Bintang.


"Ah nggak cuma mau tanya saja. Kira-kira kalau Mentari punya anak nanti kamu akan lebih sayang ke siapa. Sudahlah jangan dipikirkan aku hanya iseng saja bertanya."


"Oke, yang jelas aku tidak akan pernah pilih kasih. Mereka sama di mataku," jelas Bintang sambil membuka pintu kulkas dan mengambil minuman kaleng dari dalam sana.


"Ya sudah aku kembali dulu dan kamu teruslah memasak. Mentari sepertinya tidak bisa membantumu pagi ini karena dia terlihat sangat lelah."


"Oke tak masalah."


Bintang menepuk pundak Katrina lalu meninggalkan wanita itu sendiri di dapur.


Jam setengah enam Mentari terbangun dengan kepala yang terasa berat dan berdenyut. Dia menekan-nekan kepalanya agar tidak terlalu sakit.


"Kenapa?" tanya Bintang yang sudah duduk di samping ranjang dengan pakaian yang sudah siap ke kantor.


"Sakit banget Mas, apa karena aku bangun kesiangan ya, padahal aku tidak pernah merasakan begini. Mas Bintang sudah mau pergi ke kantor?"


"Iya hari ini kan hari pertama aku masuk kerja, jadi harus tahu dulu keadaan lingkungan perusahaan sebelum bekerja. Oleh karena itu aku aku akan berangkat lebih pagi. Kamu kalau sakit jangan masuk dulu, saya pikir Sarah akan mengerti."


Mentari hanya mengangguk dan menjatuhkan lagi kepalanya pada kasur. Kali ini kepalanya seperti mau pecah.


Bintang meraba dahi Mentari untuk memastikan dia demam atau tidak.


"Tidak panas kok," ucap Bintang.


"Aku mau muntah Mas," ucap Mentari sambil mengangkat kedua tangannya ke hadapan Bintang agar suaminya itu menarik dan membantunya bangun.


Bintang pun menarik tangan Mentari dan membopongnya masuk ke kamar mandi. Di kamar mandi Mentari muntah-muntah. Bintang menepuk-nepuk pundak Mentari saat wanita itu muntah lagi, tetapi tidak bisa keluar.


Mentari berkumur-kumur sedangkan Bintang tampak masih memijit pelipisnya.


"Sudah." Mentari menyingkirkan tangan Bintang dari dahinya. Bintang pun menuntun Mentari kembali ke ranjang.


"Sebentar aku buatkan teh dulu agar bisa sedikit membuat tenggorokanmu hangat," Bintang meninggalkan Mentari ke dapur.

__ADS_1


"Ada apa Bin, apa kau sudah mau berangkat mencari kerja lagi?" tanya Katrina setelah melihat pakaian Bintang yang sudah rapi.


"Sebentar lagi menunya siap, tunggulah sebentar," lanjutnya.


"Aku tidak ingin mencari kerja lagi Kate karena kemarin sudah ada yang menerimaku bekerja di perusahaan mereka."


"Oh ya?" tanya Katrina antusias.


"Kamu diterima diposisi apa?" tanyanya begitu penasaran.


"Cuma karyawan biasa Kate," jawab Bintang tidak bersemangat karena jabatan istrinya lebih tinggi darinya.


"Oh." Katrina hanya mengatakan oh dengan wajah yang terlihat kecewa.


"Tapi aku janji akan bekerja keras agar bisa cepat naik jabatan."


"Oh ya kamu ke sini mau apa?" tanya Katrina tidak mau lagi membahas masalah pekerjaan.


"Oh ya aku ingin membuatkan Mentari teh hangat sebab tadi dia muntah-muntah."


"Muntah-muntah?" tanya Katrina kaget dalam hati berpikiran jangan-jangan Mentari hamil.


"Iya dari tadi muntah terus hingga terlihat lemas," jelas Bintang.


"Kau kembalilah ke kamar siapa tahu dia muntah lagi, biar aku yang buatkan teh hangatnya," ucap Katrina.


"Baiklah kalau begitu," ucap Bintang seraya meninggalkan dapur.


"Ini kesempatanku," gumam Katrina sambil menuangkan air ke dalam gelas yang sudah terisi dengan teh celup. Dia menambahkan campuran teh dengan obat yang sudah ia tumbuk semalam.


"Dia tidak boleh hamil, dia tidak boleh punya anak dari Bintang. Kalaupun saat ini dia sedang hamil aku harap dengan obat ini bisa membuatnya keguguran," ucap Katrina dalam hati sambil mengaduk teh dengan sendok.


Setelah selesai dia mencium aroma teh tersebut. "Wanginya tetap sama, aroma melati ini seakan menghilangkan aroma obat ini. Semoga berhasil." Katrina mengantarkan minuman itu ke kamar Mentari dan memberikannya pada Bintang.


"Ini teh hangat pesananmu yang katanya buat Mentari," ucap Katrina sambil tersenyum manis ke arah Mentari. Namun, entah kenapa lagi-lagi Mentari merasakan Katrina tidak tulus melakukan semua itu.


"Terima kasih Kate," ucap Bintang sambil meraih gelas dari tangan Katrina.


"Minum dulu Me, biar segeran dikit!" Bintang meniup-niup teh tersebut lalu mengarahkan ke bibir Mentari.


Katrina masih terlihat berdiri dengan tegang melihat Bintang yang memberikan teh pada Mentari.


"Hmm, bau Mas." Mentari memencet hidungnya lalu berlari ke arah kamar mandi.


"Hoek-hoek." Terdengar suara muntah dari dalam kamar mandi. Bintang menaruh gelas itu kemudian menyusul Mentari ke dalam. Beberapa saat kemudian keluar dengan menuntun Mentari ke atas ranjang.


Katrina meradang melihat Mentari. "Sepertinya perempuan itu memang hamil," batinnya.


"Ayolah minum barangkali dengan minum teh ini kamu akan mendingan." Bintang masih memaksa Mentari untuk meneguk teh tersebut.


"Bau Mas, Mas Bintang cium aja sendiri. Teh itu aromanya aneh."


Bintang mengernyit lalu mencium teh tersebut. "Nggak ada yang aneh kok, memang aromanya begini," terang Bintang.


"Mungkin dia hamil Bin, jadi dia merasa masakan atau minuman yang tidak dia sukai akan tercium bau di indra penciumannya," jelas Katrina tidak ingin dicurigai kalau sampai Bintang mendengarkan perkataan Mentari.


"Hamil?" Bintang terlihat sumringah. Kalau benar Mentari hamil dan dia bisa mendapatkan anak dari Mentari, Bintang yakin papanya akan menyerahkan perusahaan kepada dirinya tanpa harus menceraikan Katrina.


Mentari terbelalak mendengar perkataan hamil dari Bintang. Entah kenapa dia tidak suka kalau dirinya hamil dalam keadaan rumah tangga yang seperti itu.


"Baguslah kalau memang benar dia hamil." Bintang tanpa sadar meneguk teh hangat dalam pegangannya.


Katrina terbelalak melihat yang meneguk teh tersebut adalah Bintang.


"Bin itu teh bukan untukmu," protes Katrina reflek.


"Biarkan saja dia kan tidak mau," jawab Bintang santai.

__ADS_1


Bersambung.


Udah dulu ya, panjang amat ini🤭


__ADS_2