
Sementara Bintang dan Izzam mengobrol di ruang keluarga sambil sesekali terdengar tawanya ke dalam kamar, di kamar, Mentari sudah menyelesaikan makannya dan kini masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Lega rasanya melepaskan pakaian ini," ujar Mentari lalu menghela nafas panjang. Ya gaun yang dipakainya sebenarnya terasa berat dan ribet menurut Mentari.
"Aku harus melepaskan foto itu." Masih saja teringat akan foto yang hampir dilepaskannya tadi padahal Bintang tidak begitu mempermasalahkan foto itu, yang jadi masalah adalah hati Mentari yang masih belum bisa menerima dirinya sebagai suami seutuhnya.
Mentari mengguyur tubuhnya dan tidak lupa membasahi rambutnya yang panjang. Rasa dingin dari air membuat pikiran Mentari sedikit lebih fresh dari sebelumnya.
"Ah segar rasanya," batin wanita itu tersenyum apalagi mendengar tawa Izzam dari lantai bawah sana.
"Aku bahagia mendengarmu tertawa senang seperti itu Sayang," ucapnya dalam hati.
Selesai mandi Mentari langsung mengambil baju tidur panjang dan mengunakan mukena untuk melaksanakan sholat Isya'.
Setelah selesai sholat lalu menggunakan kerudung bergo dan keluar dari kamar dengan membawa piring kotor di tangannya. Wanita itu berniat untuk berkumpul dengan semua keluarga, terutama untuk menemui putranya.
"Ngantuk," keluh Izzam saat Mentari duduk di sampingnya.
"Kalau begitu Ummi antar ke kamar ya," ucap Mentari langsung meraih tubuh putranya dari pangkuan Bintang.
"Ibu, Pandu, aku tinggal ya!Betah-betah di sini jangan buru-buru pulang," pinta Mentari kepada ibu dan adik angkatnya yang juga datang di pesta pernikahannya.
"Nanti setelah menidurkan Izzam saya akan kembali ke sini dan mengobrol bersama kalian."
"Tidak usah Kak, Pandu juga sudah mengantuk," tolak pandu yang memang sudah tidak bisa menahan kantuk padahal hari belum terlalu larut malam.
"Oke kalau begitu Kakak duluan."
Anak itu hanya mengangguk.
"Mas aku antar dia ke kamar dulu ya," pamit Mentari pada Bintang lalu bangkit dari duduknya.
"Saya pamit ya semuanya."
"Iya Me."
"Iya Kak."
"Iya Ca."
Bintang hanya mengangguk lalu menyusul keduanya dari belakang.
"Saya juga pamit ya," ucap Bintang pada semua orang.
__ADS_1
"Oke."
Setelah Mentari membawa Izzam ke kamarnya anak itu menolak untuk ditidurkan di sana.
"Bukannya Ummi dan papi berjanji akan tidur bertiga dengan Izzam?"
"Loh ini kamarmu mengapa tidak mau?" tanya Mentari sambil menggaruk kepalanya. Dia bingung bagaimana caranya membujuk Izzam. Dia tidak enak dengan Bintang jika membawa Izzam ke kamar mereka. Apalagi setelah dirinya sudah melakukan kesalahan.
"Tapi Izzam mau tidur dengan papi," rengek anak itu.
"Sudah kita ke kamar saja." Bintang langsung menerobos masuk kemudian menggendong tubuh Izzam dan membawanya keluar dari kamar anak itu menuju kamarnya sendiri.
"Tapi Mas–"
"Tidak apa-apa, kita sebagai orang tua harus menepati janji. Janji itu adalah tanggung jawab. Suka atau tidak suka apa yang sudah kita janjikan tidak boleh kita ingkari apalagi terhadap anak kecil yang ingatannya kuat. Jangan sampai putra kita meniru apa yang kita lakukan." Bintang terus melangkah.
"Putra kita?" Mentari termenung di kamar Izzam.
"Tunggu dulu! Izzam sudah mandi?" tanya Bintang saat membaringkan tubuh Izzam di atas kasur.
"Mandi sama siapa?" tanya Bintang lebih lanjut sebab tubuh Izzam terlihat berkeringat. Bisa saja anak itu menunggu Mentari untuk memandikannya dan Mentari sendiri melupakan akan hal itu.
"Sama Tante Sarah sambil main perahu-perahuan di kamar mandi bersama dedek Gaffi," tutur Izzam dengan polosnya.
Anak itu mengangguk mantap.
"Tapi kenapa nih tubuh masih kecut?" goda Bintang sambil menggelitik perut Izzam sehingga anak itu tertawa cekikikan.
"Udah papi aku mau tidur," protes Izzam lalu matanya terlihat menutup.
"Tidak sikat gigi dulu? Entar dimarahi ummi loh."
"Katakan pada Ummi malam ini Izzam libur dulu." Setelah mengatakan kalimat itu Izzam benar-benar terlelap.
"Izzam! Izzam! Benar-benar sudah tidur dia," ucap Bintang lalu membenarkan posisi tidur Izzam sedangkan dirinya ikut naik ke atas ranjang. Bintang pun ikut terlelap sambil memeluk putra kecilnya itu.
Mentari masuk dan melihat keduanya sudah tertidur pulas dengan dengkuran halus yang keluar dari mulut keduanya.
Wanita itu kemudian ingat akan foto itu lagi. Segera Mentari menaiki tangga dan mencopot foto tersebut.
Gerakan Mentari yang begitu berisik mampu membangunkan Bintang kembali.
"Mau dibawa kemana foto itu?"
__ADS_1
Langkah Mentari tertahan di depan pintu. Wanita itu menoleh mendapati Bintang yang sudah duduk di kasur sambil menatap ke arahnya.
"I ... ni, i ...ni akan aku bawa ke gudang," ucap Mentari gugup.
"Kenapa? Bukankah kamu masih ingat foto itu masih terpajang?"
"Foto ini akan semakin membuatku susah untuk melupakan Abi," jawab Mentari lalu menunduk.
"Aku tidak ingin kamu melupakannya." Ucapan Bintang sontak membuat Mentari kaget.
"Bukankah Mas Bintang akan sakit hati jika aku terus mengingatnya?"
"Kau tahu nabi kita tetap tidak bisa melupakan almarhumah Siti Khatidjah, istrinya. Jadi aku pun tidak punya hak untuk memaksamu melupakan almarhum ustadz Alzam di hatimu. Cukup beri aku ruang di sudut hatimu yang lain untukku. Itu sudah sangat membuatku bahagia dan bersyukur."
"Mas kenapa kau jadi sebijak itu?" tanya Mentari dengan air mata yang mulai menetes.
"Dari ustadz Alzam aku belajar arti sebuah keikhlasan dan ternyata luar biasa. Karena keikhlasan beliau kau bahkan tidak pernah bisa melupakan dirinya dan aku yakin kalau bukan karena beliau, saat ini kau masih membenciku."
"Mas, maafkan aku." Air mata menetes lebih deras di pipi Mentari.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kalau pun harus ada yang meminta maaf itu aku bukan dirimu. Maafkan dosaku di masa lalu." Bintang mendekap erat tubuh Mentari dan Mentari sama sekali tidak menolak.
"Jangan tinggalkan aku lagi." Pria itupun ikut meneteskan air mata.
"Aku tidak pernah meninggalkanmu Mas, tetapi dulu kaulah yang ingin aku pergi."
"Sst! Lupakan masa lalu kita. Aku tidak ingin mengenangnya lagi. Cukup menjadi pelajaran bagi rumah tangga kita ke depannya."
"Iya Mas, aku akan berusaha mencintai Mas Bintang lagi."
"Terima kasih."
"Tapi ini?" tanya Mentari sambil melihat bingkai foto di tangannya.
"Meskipun kamu membuang foto ini sekalian kau tidak akan pernah bisa melupakan beliau karena diantara kalian sudah ada Izzam. Bagaimana kalau kita pindah ke kamar Izzam saja?"
Ide Bintang disambut baik oleh Mentari. Wanita itu mengangguk mantap.
"Terima kasih atas pengertiannya Mas," ucap Mentari begitu bahagia.
"Sama-sama, ayo kita bawa ke kamar Izzam!"
Bersambung.
__ADS_1