HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 194. Badmood


__ADS_3

"Oh ya kalau boleh tahu Bu Sarah ini sudah punya suami atau sudah punya kekasih?" tanya Harlan lagi. Sepertinya pria itu benar-benar menaksir Sarah.


"Tidak ada."


"Sudah ada."


Jawaban Gala dan Sarah bersamaan, tetapi jawabannya berbeda. Sarah mengatakan dirinya tidak punya suami ataupun kekasih sedangkan Gala malah mengatakan sebaliknya.


Harlan dan Wawan mengernyit, bingung dengan jawaban keduanya yang tidak sama sedangkan Gala dan Sarah terlihat saling pandang.


"Dia tidak punya suami tapi sudah ada kekasih, itu maksudnya." Gala menjelaskan agar kedua pria di hadapannya itu paham dengan apa yang di dengarnya dari mulut Sarah dan dirinya juga tadi.


Sarah melorot ke arah Gala. Gadis ini tidak mengerti mengapa Gala malah berbohong.


"Ya sudah kalau begitu kami pergi duluan ya, kami ada beberapa agenda lain hari ini," ucap Gala beralasan.


"Baik Pak Gala semoga kita bisa bertemu lagi di lain waktu," ujar Harlan melepas kepergian Sarah dan Gala.


"Ayo Sarah," ajak Gala sambil menarik pergelangan tangan Sarah.


"Ckk, sudah kubilang jangan pegang-pegang! Katanya nggak minat megang kulitku tapi dari tadi pegang-pegang terus," protes Sarah sambil mengambil semua berkas-berkas dan laptop di atas meja.


Gala melepaskan pegangan tangannya.


"Sorry sebab kamu lama sekali sih," protes Gala.


Mereka berdua pun keluar dari hotel dan berjalan ke arah parkiran. Mereka berdua langsung masuk ke dalam mobil Gala. Tak menunggu lama, Gala langsung mengendarai mobilnya ke luar dari area hotel.


"Pak kenapa Bapak tadi berbohong?" tanya Sarah penasaran dengan alasan yang sebenarnya dari Gala yang yang mengatakan dirinya sudah punya kekasih. Padahal sudah jelas-jelas pria itu selalu menggoda dirinya yang jomblo.


"Karena aku tidak ingin mereka melihatmu dengan tatapan lapar mereka. Bukannya memandang ke arah menu yang dihidangkan malah memandang wajahmu. Dia mau makan makanan atau mau makan kamu?" Gala berkata dengan nada suara yang geram.


"Bapak cemburu ya?" tanya Sarah sambil tersenyum menggoda ke arah Gala dan Gala bisa melihat wajah Sarah dari balik kaca spion. Gadis itu terlihat begitu mengesalkan.


"What! Aku cemburu?" tanya Gala dengan ekspresi tidak senang. "Mimpi kali kamu!"


"Aku mimpi ya?" gumam Sarah sambil menepuk-nepuk pipinya sendiri dengan jari telunjuknya.


"Ya, mimpi sana!"

__ADS_1


"Jadi kenapa Bapak mengatakan aku sudah punya kekasih? Bapak tidak ada niatan kan untuk menjadikan aku kekasih palsu?"


"Otakmu ke geser kali Sarah. Kan aku sudah mengatakan tadi apa alasanku," ujar Gala santai.


"Otakku masih pada tempatnya Pak, makanya aku bisa meraih kesuksesan tadi dalam mengajak mereka kerja sama. Ingat harus adil, siapa yang kalah harus berjalan keliling perusahaan dengan satu kaki dengan tangan yang menjewer telinga." Sarah mengingatkan.


"Masalah hukuman kita pikirkan nanti," ujar Gala.


"Terus sekarang aku harus mikir apa?" tanya Sarah iseng.


"Pikirin aja sendiri," ujar Gala.


"Ya-ya-ya."


"Kenapa Pak Gala bilang Sarah sudah punya kekasih ya tadi. Kenapa tidak mengatakan sejujurnya bahwa Sarah itu jomblo sejati. padahal Pak Harlan itu ganteng banget, masih muda juga dan bodynya sangat menggoda. Duh beruntung banget yang jadi istrinya nanti. Masih muda begitu sudah jadi pengusaha sukses. Kupikir tadi galak, eh ternyata baik banget." Sarah membayangkan Harlan duduk di depannya dan tersenyum manis.


"Duh manisnya." Gadis itu tersenyum sendiri. "Andai saja Pak Gala mengatakan Sarah jomblo tadi mungkin saja dia mau pendekatan dengan Sarah." Masih bicara dengan melamun.


"Kamu mau jadi korban php dia," ujar Gala lagi. Dia melihat tatapan Harlan yang aneh kepada Sarah tadi.


"Menuduh orang sembarangan. Su'udzon itu tidak baik," protes Sarah.


"Terserah kalau tidak mau percaya. Seharusnya kamu berterima kasih padaku telah menyelamatkan dirimu dari pria mata keranjang seperti mereka. Coba kalau kamu bertemu mereka tanpa aku di sisimu mungkin kau sudah diterkam oleh mereka." Rupanya Gala lupa bahwa gadis yang duduk di belakangnya saat ini memiliki ilmu bela diri dan tentu saja bisa menjaga dirinya dari pria hidung belang tanpa membutuhkan pertolongan dari dirinya.


Gala tidak menjawab, mereka berdua memilih diam ketika mereka terjebak kemacetan arus lalu lintas.


"Jam berapa sekarang kenapa masih macet? Biasanya jam segini jalanan sudah terlihat lengang," gumam Gala seorang diri dan Sarah tidak ada maksud untuk menimpali. Wanita itu hanya terlihat diam saja.


"Jam berapa Sarah kenapa tidak menjawab?"


"Loh Bapak bertanya pada Sarah?" tanya Sarah bingung sebab Gala terlihat seperti orang yang bermonolog tadi.


"Ya iyalah masa bicara dengan setir?"


"Ya ampun Pak, apa gunanya jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangan Bapak kalau tidak digunakan?" protes Sarah.


"Bisa tidak kamu nurut nggak usah membantah kalau aku ngomong. Lupa apa kalau posisiku sekarang adalah sebagai atasanmu." Gala terlihat kesal membuat Sarah langsung menelan ludah.


"Jam 10 pagi Pak," jawab Sarah.

__ADS_1


Gala mengangguk dan fokus menyetir mobilnya menuju perusahaan.


Baru setengah perjalanan Ponsel Sarah bergetar. Sarah langsung merogoh pondek' yang berada dalam tas dan langsung mengangkat telepon yang ternyata adalah telepon dari Kiki yang menanyakan kabar kerjasama tadi.


"Sukses Pak, presentasinya berhasil dan mereka sudah menandatangani surat kontrak kerjasama."


"Oh oke selamat ya! Terus hukuman untuk Pak Gala rencananya akan dilaksanakan kapan?"


"Kalau bisa sih besok biar cepat."


"Telepon dari siapa Sarah?" tanya Gala penasaran.


"Pak Kiki Pak," sahut Sarah.


"Mana aku mau ngomong!" Gala meminta ponsel Sarah.


"Kapan pulang Ki?"


"Mungkin Lusa Pak," jawab Kiki dari balik telepon.


"Kenapa tidak besok saja langsung balik?"


"Belum kelar Pak urusannya di sini."


"Masalah kecil seperti itu tidak bisa kamu selesaikan dalam sehari?" Gala tidak percaya kemampuan Kiki tidak bisa diandalkan.


"Masalahnya cukup rumit Pak," ujar Kiki padahal hanya alasan saja takut jika ia kembali besok akan diminta untuk menemani Gala melaksanakan hukuman dari Sarah.


"Ya sudah pokoknya lusa pagi kamu sudah ada di kantor. Ada pertemuan lagi dengan klien kita yang dari luar negeri."


"Oke Pak, siap."


"Hmm."


Gala menutup panggilan telepon dari Kiki dan menyerahkan ponsel di tangannya kembali pada Sarah.


"Lusa saja aku akan menjalankan hukuman darimu, nunggu Kiki datang dulu." Meskipun Sarah tidak tahu apa hubungannya hukuman itu dengan Kiki, tetapi gadis itu mengangguk juga. Daripada Gala badmood lagi seperti tadi mending dia nurut saja dulu.


"Jangan katakan pada Kiki bahwa hukumannya ditunda sampai lusa!" Gala memperingatkan.

__ADS_1


"Baik Pak," ujar Sarah lalu memasukkan ponselnya kembali ke dalam tas.


Bersambung.


__ADS_2