HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 248. Tantangan Arumi


__ADS_3

"Baik Mas. Mana Nyonya bajunya, biar saya bungkus!" pamit pelayan meminta baju yang dipegang oleh Arumi dan Arumi pun langsung memberikannya.


"Tunggu dulu! Tapi ukurannya 'kan belum tentu pas Bin, kamu malah main suruh bungkus-bungkus aja," protes Arumi pada Bintang.


"Pasti muat Ma," ucap Bintang dengan begitu yakin.


"Mau taruhan?" tantang Arumi.


"Boleh kalau Mama tidak percaya pada Bintang," jawab Bintang pasrah.


"Bagaimana kalau tebakanmu salah atau baju itu tidak pas pada tubuh Sarah? Kamu harus menerima konsekuensi yaitu harus mau menikah dengan perempuan manapun yang mama pilihkan untukmu," ucap Arumi sambil tersenyum jahil.


"Boleh," sahut Bintang begitu yakin.


Sontak Arumi langsung menganga mendengar kesanggupan Bintang.


"Kau yakin Bin?" tanya Arumi masih belum bisa percaya. Baru saja putranya itu mengatakan tidak akan pernah menikah jika bukan dengan Mentari.


"Yakin Ma, tapi kalau Mama yang salah Mama harus menerima konsekuensinya yaitu menyetujui pilihan Bintang jika Bintang memilih tidak akan menikah seumur hidup."


Mendengar persyaratan Bintang nyali Arumi menjadi ciut.


"Bagaimana Ma, Mama takut?" Bintang terkekeh.


"Ah nggak, kenapa harus takut? Lagian baju ini terlihat kekecilan untuk Sarah," ujar Arumi dengan begitu percaya diri.


Walaupun Bintang yang menang dan saya harus menyetujui persyaratan Bintang, minta saja papa untuk menentangnya. Yang terpenting sekarang kalau mama yang menang bisa meminta Bintang menikah kapan saja dan dengan siapa saja yang mama kehendaki.


Arumi tertawa jahat dalam hati.


"Apakah aku licik? Ah, biarlah yang penting itu untuk kebaikan Bintang juga," batin Arumi.


"Ya sudah tunggu apalagi, cepat dibungkus Mbak!" perintah Bintang.


"Baik Mas," sahut pelayan lalu membawa baju yang sedari tadi tertahan di tangan karena langkahnya yang tertahan oleh drama ibu dan anak.


"Kado untuk bayinya sudah Mama beli?" tanya Bintang karena tidak melihat Arumi memegang apapun sedari tadi kecuali hanya pakaian saja.

__ADS_1


"Sudah dan sudah ada di kasir, kalau begitu ayo kita kembali." Mereka berdua berbalik dan hendak melangkah ke arah kasir. Namun, Bintang menghentikan langkahnya tatkala melihat Izzam fokus menatap sesuatu.


"Sepertinya dia menyukai mainan itu," tunjuk Arumi pada sebuah smart Hafiz yang terletak di salah satu rak.


"Kayaknya bagus kalau Izzam memang mau mainan edukasi itu," ucap Bintang lalu mendekat ke arah rak dan mengambilkan satu smart Hafiz yang berwarna biru.


Ketika memberikannya pada Izzam anak itu langsung mendekapnya.


"Mau dia Ma," ucap Bintang sumringah.


"Namanya juga anak kecil Bin, mau dikasih mainan apapun pasti akan diambil," ucap Arumi.


"Siapa bilang Ma? Dari tadi Bintang sudah menyodorkan beberapa mainan, malah tidak ada satupun yang dia kehendaki, dia menggeleng terus dari tadi," jelas Bintang.


"Oh ya?" tanya Arumi kaget.


Bintang mengangguk.


"Sepertinya dia akan menurunkan sifat abinya," ujar Arumi.


"Ayo kita segera ke kasir Ma, kasihan papa menunggu terlalu lama." Tiba-tiba Bintang ingat akan papanya lagi.


"Papa mungkin menganggap Mama tidak akan berlama-lama lagi setelah Bintang menyusul. Eh, ternyata malah semakin lama." Bintang hanya menggelengkan kepalanya lalu tersenyum lucu.


"Tanyakan dulu sama ponakanmu itu mau beli apa lagi!"


"Izzam mau apalagi?" tanya Bintang kemudian.


Anak itu malah menunjuk keluar toko dan setelah Bintang telusuri ternyata Izzam menunjuk pedagang es krim keliling.


"Izzam mau eskrim?" tanya Bintang dan anak itu mengangguk-angguk.


"Baiklah, ini Mama yang bayar saja!" Bintang menyerahkan kartu debitnya pada Arumi dan dia sendiri sedikit berlari keluar untuk memanggil penjual es krim.


"Bang tunggu!" teriak Bintang dan penjual es krim pun berhenti.


Bintang pun mengambilkan satu kotak es krim rasa strawberry berukuran sedang untuk Izzam dan dua kotak es krim cokelat untuk kedua orang tuanya. Barangkali Arumi ataupun Tuan Winata juga mau mencicipinya di tengah cuaca yang masih terik padahal sudah memasuki sore hari.

__ADS_1


Arumi selesai membayar belanjanya dan Bintang pun sudah selesai membayar harga es krim. Keduanya langsung bergegas menuju mobil.


"Apa sih yang kalian lakukan? Lama amat, bokongku sampai lumutan duduk lama menunggu kalian," protes Tuan Winata sebab anak dan istrinya begitu lama berbelanja.


"Kenapa Papa tidak keluar saja dari mobil dan berjalan-jalan saja di luar. Kalau bertahan di dalam meskipun semenit rasanya satu jam tahu Pa," ujar Arumi.


"Mana ada begitu Ma. Apa Mama tidak tahu kalau papa menengok jam saat Mama keluar dari mobil tadi? Sudah lebih dari satu jam! Sudah gitu keluar dari toko tidak membawa camilan satu bungkus pun, seakan papa memang benar-benar dilupakan."


Arumi malah tertawa mendengar keluhan dari suaminya.


"Papa itu lucu, itu toko adalah toko perlengkapan bayi dan ibu hamil serta menyusui. Mau Mama belikan Papa bubur bayi ataupun susu ibu hamil?" Arumi terkekeh.


"Biskuit bayi boleh lah Ma daripada tidak ada apapun," ujar Tuan Winata dengan tatapan memelasnya. "Nanti kita makan berdua tuh biskuit, iya nggak Izzam?"


"Astaga Papa, seperti orang kelaparan saja," protes Arumi.


"Iyalah Ma, daripada saya makan orang karena ditinggal lama di dalam mobil," ucap Tuan Winata lalu terkekeh.


"Papa ada-ada saja. Nih makan es krim saja," ucap Bintang sambil menyodorkan satu kotak es krim yang tadi dibelinya.


"Kau pikir aku anak kecil Bin disogok dengan es krim," protes Tuan Winata, tetapi tetap melanjutkan aksinya membuka kotak es krim dan menikmati isinya.


"Wah segar ya makan es krim di tengah cuaca panas seperti ini," ujar Tuan Winata sambil terus menyendok es krim ke mulutnya.


"Ma tolong pegangin Izzam ya." Bintang menyerahkan Izzam pada Arumi setelah wanita itu meletakkan barang belanjaannya.


Arumi pun memangku Izzam sambil menyadarkan tubuhnya pada sofa mobil sedangkan Bintang membalikkan badan dan kembali ke depan untuk mengemudi.


Ditengah perjalanan Arumi merebut es krim yang dipegang oleh suaminya.


"Ampun Mama, kalau butuh es krim Bintang ada lagi ini." Bintang menyodorkan satu kotak es krim ke belakang dengan satu tangan masih memegang setir.


Arumi pun mengambil dan memakan es krim itu berdua dengan Tuan Winata tanpa mengingat dalam pangkuannya ada anak kecil yang menggerakkan bibirnya seperti mengunyah melihat orang dewasa yang berada di dekatnya malah asyik makan sendiri.


"Ya Tuhan mengapa mereka berdua semakin ke sini semakin seperti anak kecil ya?" gumam Bintang.


"Manusia semakin tua memang semakin akan kembali seperti anak kecil Bin. Yang dulunya giginya ompong akan kembali ompong lagi, yang dulunya tidak bisa berjalan mungkin akan kembali tidak bisa berjalan lagi. Maka sebelum hal itu terjadi pada kami berdua papa minta segeralah kau menikah! Papa tidak akan tenang jika suatu saat nanti apabila ajal papa tiba kau masih saja sendiri. Tidak tenang papa Bin."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2