
Mentari menghembuskan nafas berat. Memandang jam di ponselnya ternyata belum masuk waktu shalat Isya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya dan memeluk guling sambil menaruh ponsel di dekat telinganya agar kalau sampai tertidur maka lantunan adzan akan berkumandang di ponselnya.
Benar saja tidak berapa lama ternyata ia benar-benar tertidur. Mentari tidak tahu mengapa akhir-akhir ini dia begitu mudah ngantuk dan tertidur juga sering cepat kelelahan. Adzan dalam ponselnya pun tidak ia dengar karena dia sudah masuk ke alam mimpi.
Dalam mimpi tersebut Mentari, Bintang, Katrina, juga Arumi dan Tuan Winata sedang menikmati tamasya di sebuah pulau di tepi pantai yang dekat dengan sebuah hutan yang lebat.
Sore menjelang Cuaca dingin tiba-tiba saja menyerang mereka. Namun, diantara mereka tidak ada satupun yang ingin pulang dari tempat itu. Mereka hanya berencana membuat api unggun dan membuat kemah di tepi pantai itu.
"Ayo Me kita cari kayu bakar bareng-bareng," ajak Bintang. Mentari mengangguk dan langsung mengikuti langkah Bintang di susul Katrina di belakangnya.
"Aku ikut!" seru Arumi menyusul ketiganya dan karena tidak ingin ditinggal sendirian Tuan Winata pun berlari mengejar sang istri.
Sampai dalam hutan setelah kayu terkumpul dan dirasa cukup Mentari mengajak semuanya untuk kembali ke tempat mereka tadi.
"Mas sudah dapat, kayaknya kayu-kayu ini sudah cukup deh kalau hanya untuk membuat api unggun." Mentari menunjukkan kayu bakar dalam pangkuannya yang sangat banyak."
"Iya aku juga dapat banyak ini." Bintang tak kalah menunjukkan hasil kayu pencariannya."
"Kalau begitu kita kembali," ajak Katrina dijawab anggukan oleh Bintang dan Mentari.
"Ayo kita balik," ajak Tuan Winata kemudian, yang tiba-tiba berjalan mendekat ke arah Bintang dengan menggandeng tangan istrinya.
"Papa curang, nggak dapat apa-apa," protes Bintang.
"Kan papa sudah lihat kayu bakar di tangan kalian sudah banyak buat apa papa juga mencarinya? Kita tidak akan masak menggunakan kayu bakar kan? Persediaan makanan kita masih banyak."
"Ya sudah yuk kembali!" ajak Arumi kemudian karena mereka melihat suaminya dan Bintang tampak mengobrol.
Mereka semua mengangguk dan membalikkan badan, melangkah keluar hutan dengan Mentari yang berjalan di belakang.
Auuung.
Terdengar suara harimau mengaum dari jauh. Kemudian secepat kilat harimau sudah ada di samping Mentari dan mendorong tubuhnya hingga terjungkal ke belakang.
"Mas tolong aku!" teriak Mentari pada Bintang yang sudah berada jauh di depannya. Entah seperti apa Bintang melangkah hingga jaraknya sudah terlalu jauh dengan Mentari.
Bintang menoleh dan terkejut menyadari Mentari tertinggal di belakang dengan seekor harimau yang tampak mengamuk pada Mentari hingga tubuh wanita itu bersimbah darah.
__ADS_1
"Meme!" teriak Bintang, dengan gusar dia berlari ke arah Mentari tanpa membuang kayu bakar yang dipegangnya.
"Mas tolong!" pekik Mentari yang sudah hampir kehabisan nafas.
Bintang semakin kencang berlari bahkan semua orang juga berlari menuju tempat Mentari terduduk sekarang.
Bintang memukul harimau itu dengan kayu-kayu yang dipegangnya. Namun, siapa sangka satu persatu kayu yang dilempar Bintang berubah menjadi ular-ular berukuran besar.
Melihat itu semua Mentari ketakutan pun dengan Bintang dan yang lainnya. Kini ular-ular itu mengelilingi Mentari dan siap mematuk.
"Bagaimana ini?" tanya Bintang. Dua sudah bertambah gusar saja.
"Biar papa yang lawan." Tuan Winata mengambil satu batang kayu besar dan memukul ular-ular itu. Namun, sama saja kayu itu berubah menjadi seekor ular naga yang menyemburkan api. Untung saja tidak mengenai bagian tubuh manapun.
"Pergilah aku tidak membutuhkan kalian. Kalau kalian tetap ngotot ingin menyelamatkan wanita ini maka jangan harapan kalian akan bisa terbebas dari tempat ini." Mentari kaget mendengar ular naga tersebut seolah sedang berbicara.
"Bin kita pergi saja dari sini!" Katrina menarik tangan Bintang menjauh.
"Tapi Kate ...."
Bintang memandang ke arah Mentari dengan tatapan sayu kemudian beralih ke Katrina dan mengangguk. Katrina membalas anggukan itu dengan senyuman.
"Pa, sudah jangan! Tempat ini berbahaya jadi kita harus segera pergi," cegah Arumi ketika Tuan Winata hendak menolong Mentari kembali.
"Tapi Ma, Mentari butuh bantuan kita," protes Tuan Winata. Saat ini ular-ular sudah melilit tubuh Mentari hingga tak dapat bergerak bahkan harimau yang menyerangnya tadi sudah tidak berniat untuk melakukan serangan lagi karena melihat tubuh Mentari sudah dipenuhi oleh ular-ular. Harimau itu berlari menjauh.
"Kita tidak bisa membantu apa-apa hanya bisa berdoa saja. Jika Mentari masih diperkenankan hidup oleh Tuhan maka dia akan kembali dengan selamat dan jika sebaliknya kita harus ikhlas," ucap Arumi dan bersamaan dengan itu ular naga menyembur lagi ke arah mereka membuat semua orang berlari tunggang langgang meninggalkan tempat itu tanpa perduli lagi dengan nasib Mentari.
"Papa!" Mentari berteriak kencang saat melihat Tuan Winata pun meninggalkan dirinya. Dirinya pun langsung terkulai lemas saat ular-ular itu sedikit mengendorkan lilitannya.
Saat setengah sadar dia mendengar suara burung elang yang melengking di udara kemudian suaranya begitu dekat di telinga. Mentari membuka mata. Mendapati burung itu mematuk satu persatu ular yang melilit di tubuhnya sampai habis tak bersisa. Mentari mencari-cari keberadaan ular naga tadi, tetapi sudah tidak ditemukannya.
"Hei itu dia, burung elang itu ternyata ada di sini." Terdengar suara seorang pria. Mentari menelisik ternyata suara itu dari arah depan Mentari duduk.
"Astaghfirullah hal adzim Mentari!" pria itu langsung berlari dan mendekat ke arah Mentari.
"Nak kau tidak apa-apa?"
__ADS_1
"Papa tama? Bagaimana mungkin kalian bisa ada di sini?" tanya Mentari melihat Tama, Gala dan ustadz Alzam ada di hutan juga sekarang.
"Aku hanya mencari hewan piaraan kami ini," ucap Gala sambil menunjukkan elang yang hinggap di bahunya.
Tama dan ustadz Alzam membantu Mentari bangun. Namun, tiba-tiba ular naga tadi menyerang ustadz Alzam dengan semburan apinya.
"Astaghfirullah hal adzim!" teriak Mentari masih dalam mimpinya kemudian dia langsung terbangun.
"Astaghfirullah hal adzim." Mentari terbangun dan menyeka keringat yang bercucuran dari dahinya. Jantungnya pun masih berdetak kencang karena mimpi buruk yang dialami tadi.
"Pertanda apa ini? Mengapa mimpiku buruk sekali?"
Mentari mengingat-ingat mimpinya tadi dengan nafas yang masih ngos-ngosan.
"Ada apa Me?" Bintang berlari dan masuk ke kamar karena mendengar teriakan Mentari tadi.
Mentari mengatur nafas sebelum akhirnya menjawab pertanyaan dari Bintang.
"Tidak ada aku hanya bermimpi buruk," tutur Mentari.
"Mungkin kau lupa berdoa tadi," ucap Bintang. Mentari mengangguk membenarkan karena memang dia tidak ada niat untuk tidur tadi.
"Mimpi apa?" tanya Bintang.
"Mimpi dililit ular," jawab Mentari singkat.
"Jangan dipikirkan itu mimpinya setan. Itu mengapa papa pernah menganjurkan agar tidak tidur disaat Maghrib," ujar Bintang.
"Mas Bintang tahu apa arti kalau kita bermimpi ular?" tanya Mentari tidak menggubris perkataan Bintang tadi.
"Kata orang-orang sih mungkin punya niat yang dilupakan, tapi tidak selalu benar begitu sih, yang namanya mimpi tidak harus dipercaya." Bintang memberikan segelas air di meja kepada Mentari.
Mentari meneguknya kemudian menghembuskan nafas panjang.
"Semoga mimpi itu bukan pertanda buruk," batin Mentari.
Bersambung.
__ADS_1