
Mentari pun langsung turun dari apartemen sambil menelpon taksi online agar menjemput dirinya dari tempat itu.
Sampai di supermarket Mentari mengambil troli dan mendorongnya. Dia mulai fokus berbelanja bahan-bahan dapur terlebih dahulu. Tidak lupa dia membeli stok buah-buahan dan beberapa minuman botol maupun kaleng untuk mengisi kulkas. Biasanya saat pulang ke apartemen di sore hari, Bintang sering mengkonsumsi minuman tersebut. Berbeda dengan saat pagi hari dimana Bintang lebih menyukai meneguk segelas kopi.
Saat sedang asyik-asyiknya memilih barang belanjaan terdengar seseorang sedang memanggil namanya.
"Mentari! Nak Mentari!"
Mentari celingukan mencari asal suara, tetapi dia belum menemukan orang yang memanggil itu.
Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundak Mentari dari belakang.
"Astaghfirullah hal adzim." Mentari terlihat sangat kaget lalu wanita itu menoleh.
"Papa Winata? Papa mengagetkan saja," ujar Mentari sambil tersenyum ramah saat tahu yang menyapa dan menyentuh punggungnya adalah Tuan Winata. Wanita itu langsung menyalami tangan mertuanya.
"Kenapa belanja sendiri? Mana Bintang?"
"Mas Bintang masih kerja Pa."
"Oh iya ya jam segini Bintang belum pulang kerja. Maklum papa sudah tua ingatan papa sudah mulai berkurang."
"Papa sendiri tidak ke kantor?"
"Kerja cuma papa sempatkan untuk pulang biar bisa mengantar Mamamu belanja. Maklum Mamamu semakin tua semakin manja." Tuan Winata terkekeh sendiri karena telah mengatai sang istri manja.
"Kamu mengapa tidak menelpon Bintang supaya mengantarmu? Kalau dia tidak sibuk pasti Gala akan mengizinkan dia pergi sebentar sebab kamu kan belum hafal tempat-tempat di sini."
"Mereka sibuk Pa katanya mereka sekarang lagi ada meeting begitu."
"Oh begitu ya?"
"Iya Pa, tapi tenang saja Pa sekarang kan teknologi sudah canggih. Ada ponsel yang bisa menuntunku pulang," sahut Mentari sambil menunjukkan senyum terbaiknya.
"Siapa Pa?" tanya Arumi sambil menghampiri suaminya.
Tuan Winata menoleh. "Mantu kita Ma, Mentari."
"Oh dia?" Arumi menunjukkan ekspresi tidak suka.
"Lagi belanja ya?" tanyanya kemudian sambil melihat ke arah troli Mentari.
"Iya Ma," jawab Mentari sambil mengulurkan tangan untuk menyalami mertua perempuannya itu.
"Tidak usah salaman, tanganku kotor, tadi tidak sengaja menyentuh buah-buahan yang busuk," kilah Arumi padahal itu hanya alasannya saja untuk menolak bersalaman dengan Mentari.
"Iya tidak apa-apa Ma," ucap Mentari sebisa mungkin dia menyembunyikan perasaan kecewanya. Mentari tahu apa yang dikatakan Arumi itu tidaklah benar. Mana mungkin di supermarket yang besar seperti itu menjual buah-buahan yang busuk.
__ADS_1
"Jangan boros-boros ya belanjanya. Beli saja apa yang disukai Bintang. Nanti mentang-mentang Bintang tidak ikut bersamamu semua barang dibeli lagi," ucap Arumi dengan ekspresi seperti orang mengejek.
"Iya Ma, Mentari cuma beli kebutuhan pokok saja kok," sahut Mentari.
"Mama kan lihat sendiri apa saja yang ada dalam troli-ku?"
"Sekarang iya, tapi siapa tahu kalau kami pergi nanti kamu beli barang-barang yang mahal untuk keperluanmu sendiri."
"Ma!" protes Tuan Winata.
"Loh kan Mama bicara benar Pa. Kenapa Papa protes! Uang kita sudah banyak habis oleh keluarganya. Saya tidak mau dia juga memoroti keuangan Bintang."
Mentari menunduk mendengar perkataan Arumi.
"Dia istri Bintang Ma, dia berhak atas keuangan Bintang. Dia berhak untuk membeli apa yang menjadi kebutuhannya sendiri. Apa Mama tidak malu kalau dia memakai barang yang tidak layak gara-gara Mama melarang dia menggunakan uang Bintang untuk kebutuhannya? Apa Mama tega mempermalukan anak sendiri?"
"Tapi yang menjadi tanggungan Bintang bukan dia saja Pa. Bintang juga punya tanggungan yang lain. Dia juga punya istri lain selain ...."
"Apa maksud Mama?" tanya Tuan Winata tidak mengerti arah pembicaraan istrinya.
"Ah, maksud Mama tanggungan Bintang bukan hanya istrinya saja, tetapi kita orang tuanya juga menjadi tanggungannya Pa." Hampir saja Arumi keceplosan.
"Kalau kita mah, uang papa lebih dari sekedar cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga," ucap Tuan Winata.
"Iya juga sih Pa," sahut Arumi sambil tersenyum padahal dalam hati berekspresi lain.
Berbeda dengan Tuan Winata yang hanya menganggap Arumi hanya salah kata saja, Mentari sekarang sudah paham bahwa sebenarnya mertua perempuannya itu sudah tahu bahwa Bintang dan Katrina itu telah menikah.
"Sudah Pa kita pulang sekarang aku sudah belanjanya dan sebentar lagi mama ada arisan." Arumi berkata sambil menarik pergelangan tangan Tuan Winata menjauh dari Mentari.
"Sebentar Ma." Tuan Winata berbalik dan berjalan mendekati Mentari kembali membuat Arumi mendengus kesal.
"Nak Mentari tidak ingin ikut pulang bersama Papa?"
Mentari menggeleng.
"Kenapa, takut sama Mama Arumi ya?"
Mentari menggeleng walaupun sebenarnya itulah kenyataannya.
"Maafkan dia ya?"
Mentari mengangguk.
"Dia memang begitu kalau tidak kenal, tetapi kalau kalian sudah saling mengenal maka dia pasti akan menyayangi kamu. Makanya sekali-kali kalian harus menginap di rumah biar kamu dan Mama Arumi bisa dekat."
"Iya Pa, lain kali saya akan ajak Mas Bintang menginap di sana."
__ADS_1
"Bagus, tapi sekarang pun kamu boleh langsung ikut kami pulang. Tentang Bintang biar saya nanti yang hubungi."
"Maaf Pa, kalau sekarang Mentari tidak bisa."
"Loh kenapa?"
"Mentari masih belum selesai berbelanja." Untung saja wanita itu punya alasan. Kalau tidak dia pasti akan merasa tidak enak pada Tuan Winata.
"Baiklah kalau begitu kami pamit duluan ya, kamu hati-hati."
"Iya Pa."
Baru saja hendak pergi Tuan Winata berpapasan dengan Gala.
"Gala mengapa kamu ada di sini? Mengapa pula sendiri, mana Bintang?" tanya Tuan Winata.
"Gala ada keperluan sedikit di sini Om. Loh bukannya Bintang tadi izin pulang duluan? Katanya dia ada kepentingan mendesak Om."
"Kepentingan mendesak apa?"
"Saya tidak tahu Om. Pamitnya saja tadi terburu-buru, melalui karyawan lagi, tidak langsung sama saya. Saya pikir istrinya sedang sakit atau apa begitu."
"Tuh istrinya," tunjuk Tuan Winata pada Mentari.
"Kok ada di sini? Saya pikir terjadi sesuatu sama kamu hingga Bintang jadi panik."
"Saya tidak apa-apa Pak, saya baik-baik saja," ucap Mentari.
"Tapi Bintang sudah pulang kan?"
"Tadi sebelum saya ke sini belum, tapi sekarang mungkin sudah ada di apartemen. Mungkin kami salipan di jalan tadi."
"Bisa saja begitu," ujar Gala.
"Ayo Pa!" seru Arumi.
"Iya, iya Ma."
"Gala, Mentari, saya pergi dulu ya."
"Iya Om."
"Iya Pa, hati-hati."
"Siap."
Setelah Arumi dan Tuan Winata pergi, Mentari melanjutkan berbelanja sedang Gala yang ingin membeli sesuatu menunda pekerjaannya dan lebih memilih menyaksikan Mentari yang cekatan memilih barang-barang belanjaan.
__ADS_1
Pria itu tidak berhenti menatap kagum kepada Mentari padahal wanita itu tidak pernah melakukan hal hebat apapun.
Bersambung....