HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 184. Baper


__ADS_3

Baru setengah rampung dalam membuat slide presentasinya perut Sarah terdengar berbunyi.


"Sebentar lagi ya perut tahan dikit ya! Sebentar lagi pekerjaanku kelar." Sarah bergumam sendiri sambil mengusap perutnya.


"Loh belum kelar juga Sarah?" Mahasiswi magang yang menyapa Sarah tadi saat keluar sudah kembali dari kantin, sedangkan Sarah belum berhenti juga bekerja.


"Bentar lagi mungkin selesai," jawab Sarah dengan mata yang tetap fokus pada layar laptopnya.


"Aku saranin ya kamu lanjutkan nanti dan sekarang makan dulu mumpung masih ada waktu," ujar mahasiswi tersebut sambil duduk di samping Sarah dan melihat-lihat apa yang dikerjakan Sarah saat ini.


"Tanggung Fal, bentar lagi kelar. Kalau dihentikan takut moodku nggak kembali lagi saat melanjutkan lagi nanti," sahut Sarah.


"Ya sudah deh kalau begitu. Apa mau aku belikan makanan di bawah? Nanti kalau masih ada kesempatan kamu bisa makan di sini." Falsa menawarkan diri.


"Tidak perlu Fal kalau waktunya tidak nutut biar aku makan roti saja," tolak Sarah tidak ingin merepotkan orang lain. Kebetulan hari ini dia membara bekal roti di dalam tasnya.


"Baiklah kalau itu mau kamu."


Sarah mengangguk.


"Eh kayaknya pemilihan warna diagramnya terlihat mencolok deh Sar," ujar Falsa.


"Bukankah justru bagus ya Fal biar terlihat lebih jelas kalau kontras dengan background-nya?"


"Jelas sih jelas, tapi bikin yang ngelihat jadi sakit mata," ujar Falsa lagi. "Sorry bukan maksud ngerecokin pekerjaan kamu hanya memberi saran saja. Kalau tidak diterima juga tidak apa-apa."


"Aku malah senang kalau dapat kritik biar hasilnya bagus. Kan yang menilai hasil pekerjaan kita bukan diri pribadi tetapi, orang lain juga."


"Benar," jawab Falsa.


"Oke, aku akan ubah warnanya." Jari-jari Sarah terlihat lincah menari-nari di atas keyboard.


"Kalau yang ini?" tanya Sarah meminta pendapat Falsa lagi setelah warnanya diubah.


"Nah itu baru bagus. Warnanya masih kontras dengan background-nya tetapi ramah sama mata." Falsa memberikan jempol tangannya.

__ADS_1


"Ada-ada saja kau Fal, tapi apapun itu thanks atas bantuannya."


"Sama-sama."


"Eh Fal keluar yuk sebentar! Mumpung ada waktu kita jalan-jalan di sekitaran kantor ini." Seorang mahasiswi magang lainnya mengajak keluar Falsa.


"Oke yuk biar nggak sumpek nih kita di dalam ruangan terus. Sar aku keluar dulu ya?"


Sarah hanya menunjukkan jempol tangan kirinya sedang tangan kanannya fokus mengetikkan pesan persentasinya.


"Sudah ah jangan ganggu dia. Kayaknya repot banget. Untung Sarah yang ditugaskan kalau aku mungkin bisa stres."


"Untuk apa harus stres? Kalau aku sih langsung kubawa ke rumah dan nyuruh Abang yang ngerjain. Ngapain repot-repot ngerjain sendiri?" Kedua mahasiswi magang itu keluar dari ruangan sambil tertawa-tawa.


Sarah yang mendengar ucapan keduanya hanya menggelengkan kepala. Mungkin benar dia bisa meminta bantuan orang lain, tapi Sarah tidak mau melakukannya karena dia ingin menunjukkan kemampuannya sendiri di hadapan Gala. Lagipula dia bukanlah orang yang suka bermain curang hanya untuk menyelamatkan diri. Sarah yakin dengan kemampuannya sendiri.


Sarah berhenti sejenak dan menarik nafas panjang. Beberapa saat kemudian langsung kembali bekerja lagi.


"Kau tidak keluar Sarah?" terdengar tanya dari seorang laki-laki yang berjalan ke arahnya.


Sarah menoleh dan melihat Kiki yang berdiri di belakang dia duduk.


"Kenapa tidak dibuat di rumah saja?"


"Saya ingin segera selesai Pak sebab rencananya hasilnya nanti akan Sarah serahkan pada Pak Kiki dulu untuk dinilai layak atau tidak layaknya. Kalau memang kurang menarik atau bahkan tidak layak nanti saya ganti dengan yang lain," jelas Sarah panjang lebar.


"Boleh saja, tapi jangan sampai telat makan. Kalau kamu sakit siapa yang akan menemani Pak Gala bertemu klien besok, sedangkan Bu Diandra masih sakit dan saya juga ada hal penting lainnya yang harus ditangani."


"Iya Pak, tenang saja saya bawa roti kok."


"Enggak bosan ya kamu makan roti terus? Ini aku bawakan makanan untukmu." Kiki menaruh box makanan di atas meja Sarah.


"Tidak usah Pak terima kasih. Itu Bapak saja yang makan. Sarah yakin Pak Kiki belum makan juga, kan?"


"Ini aku bawa dua." Kiki meletakkan juga box makanan yang ada di tangannya.

__ADS_1


"Temani aku makan! Aku lagi tidak selera makan. Mungkin kalau ada temannya nafsu makanku bisa kembali."


Sarah menatap wajah Kiki tidak percaya.


"Kenapa menatapku seperti itu? Nih tatap saja makanannya barangkali bisa meyakinkan dirimu untuk berhenti bekerja sebentar dan memilih untuk makan." Kiki membuka box makanannya hingga memperlihatkan menu makanan yang ada di dalamnya.


Sarah menelan ludah melihat makanan itu sangat menarik seleranya.


"Sudah ayo makan, hentikan pekerjaan itu sebentar. Saya tadi repot-repot pesan online ini makanan karena yakin kamu pasti belum makan."


Perkataan Kiki membuat Sarah baper saja. Gadis itu tersenyum manis dan Kiki juga membalas dengan senyuman yang manis pula.


Dari arah pintu, Gala berjalan masuk ke dalam ruangan sebab ingin mewanti-wanti Sarah agar tidak curang dalam taruhan ini. Dia akan mengatakan kalau Sarah ketahuan dibuatkan pesan presentasinya, dia akan menganggap Sarah yang kalah.


Namun, melihat Sarah dan Kiki yang saling tatap dengan saling tersenyum membuat Gala menghentikan langkahnya.


"Wah terima kasih banyak ya Pak. Bapak itu perhatian sekali sama wanita. Beruntung wanita yang menjadi pendamping bapak nantinya."


"Ah biasa saja Sarah, tidak usah berlebihan seperti itu." Kiki menjadi canggung.


"Ah nggak benar kok Pak. Saya kagum deh pokoknya sama Bapak. Bapak tidak begitu kenal saja sama Sarah bisa baik seperti ini padahal yang kenal dan ada hubungan kekerabatan, jangankan baik sama saya yang ada selalu membuat saya kesal." Sarah menyindir Gala, tetapi pura-pura tidak melihat pria tersebut.


"Seandainya aku tidak diminta oleh Tuan Tama untuk mendekatkan kalian berdua, sudah pasti aku pendekatan sendiri denganmu Sarah. Cantik dan pintar sudah tidak diragukan lagi," batin Kiki.


"Kiki!" Panggil Gala padahal pria itu rencananya langsung mau balik, tetapi malah keceplosan memanggil nama Kiki.


Kiki membalikkan badan. "Iya Pak?"


"Tidak jadi, kalian lanjutkan kencan kalian saja!" perintah Gala lalu benar-benar berbalik dan keluar dari ruangan divisi pemasaran tersebut.


"Kencan?" Kiki menggeleng tidak percaya dengan prasangka Gala.


"Tapi baguslah, aku mau tahu bagaimana perasaan dia kalau Sarah memang benar-benar dekat dengan seorang pria. Biasa saja atau meradang kah?" Kiki bicara dalam hati.


"Sudah Sarah makan saja!"

__ADS_1


Kiki membuka box makanannya sendiri dan mulai menyendok. Sarah pun ikut makan sebab tergoda dengan aroma makanan yang ada di hadapannya kini yang bukan hanya menusuk hidung melainkan sampai ke perut.


Bersambung.


__ADS_2