HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 243. Kontraksi


__ADS_3

Sembilan bulan kemudian.


Jam setengah dua belas malam Sarah merasakan ada yang berbeda dengan tubuhnya. Tubuhnya terasa mulas sekali. Dia bolak-balik kamar mandi dan yang keluar hanya air seni.


"Apa sudah waktunya aku melahirkan yah?" Dia langsung memeriksa waktu persalinannya.


"Masih dua hari lagi, tapi bisa saja lebih cepat, kan? Aduh sakit sekali ini." Sarah meringis, perutnya seperti diremas-remas.


"Mas Gala saya harus menelpon dia." Segera Sarah meraih ponsel dan menelpon suaminya. Panggilan tersambung tapi tidak ada yang mengangkat.


"Dia pasti kelelahan setelah seharian meninjau proyek langsung. Jadi dia tidurnya pasti nyenyak." Sarah mengurungkan niatnya untuk menelpon Gala untuk yang kedua kali.


Dua hari ini Gala sedang keluar kota untuk meninjau pembangunan secara langsung di sana dan tadi sore Gala sempat menelpon Sarah saat masih berada di lapangan.


"Kak Mentari, aku harus menghubungi dia." Segera Sarah memencet nomor Mentari. Namun, sama saja dengan Gala. Wanita itu tidak mengangkat panggilan teleponnya begitupun dengan sang ibu.


"Kayaknya semua orang sedang mengonsumsi obat tidur massal nih sehingga tidak ada yang bisa diganggu malam ini." Sarah terlihat kesal.


"Sudahlah aku tanggung sendiri saja, semoga di mampukan ya Allah." Sarah hanya bisa berpasrah diri. Ingin rasanya membangunkan Tama tapi tidak enak sebab akan menganggu tidur mertuanya itu.


Jadi Sarah memutuskan untuk tidak membangunkan siapapun selama dirinya masih bisa menahan sakit.


Wanita itu mencoba berbaring siapa tahu dengan posisi seperti itu bisa membuat perutnya nyaman.


"Jangan lahir sekarang ya sayang lahir besok saja," ucap Sarah sambil mengelus perutnya.


"Aw sakit sayang." Sarah merasakan perutnya ditendang lebih kuat.


"Aku kuat, aku kuat," ujar Sarah sambil menarik nafas lalu menghembuskan secara perlahan.


"Huft, huft, huft." Sarah gelisah, mondar-mandir di dalam kamar. Tiap kali dia merasakan sakit dia langsung melirik jam.


"Kenapa lama sekali sih mau siang." Sarah mengeluh sebab waktu seolah bergerak begitu lambat.


"Mas pulanglah!" seru Sarah sambil meremas perutnya yang benar-benar sakit.


Jam sudah menunjukkan pukul 4 pagi dan adzan subuh pun berkumandang.


"Aku shalat nggak ya? Tapi aku sudah mengeluarkan cairan bercampur darah sepertinya sudah tidak boleh," gumam Sarah.

__ADS_1


Sarah duduk berjongkok tatkala perutnya merasakan sakit yang sangat.


"Aku harus menelpon bibi." Sarah tidak ingin mengambil resiko jika tidak ada yang tahu keadaannya sekarang. Dia tidak ingin terjadi sesuatu yang tidak diinginkan baik pada bayi maupun dirinya sendiri sebab semakin lama rasa sakit yang menderanya semakin menyiksa.


Saat meraih ponselnya ternyata ponselnya bergetar terlebih dahulu.


"Mas Gala?" Sarah tersenyum senang saat melihat kontak bernama Pak Gala itu memanggil dirinya. Ya meskipun panggilan Sarah pada Gala sudah berganti dengan Mas, tetapi tetap saja Sarah menyimpan nomor suaminya dengan nama 'Pak Gala'. Bagi Sarah panggilan itu ada kenangan tersendiri.


"Halo sayang ada apa menelponku malam-malam? Sorry baru lihat hape sekarang sebab semalam aku tertidur pulas sehingga tidak mendengar panggilan telepon darimu."


"Mas sakit!" ringis Sarah.


"Kamu kenapa sayang? Sakit apa? Kenapa tadi sore tidak mengatakan kalau kamu sedang sakit?" Gala terdengar panik.


"Perutku Mas, sepertinya bayi kita akan segera lahir. Auw, aduh."


"Apa! Mau melahirkan? Baiklah aku pulang sekarang." Gala menyambar jaket dan mengambil kunci mobil serta tas kerjanya lalu berlari ke arah mobilnya terparkir.


Koper berisi baju-bajunya dia tinggalkan begitu saja di ruangan itu. Biarlah nanti dia akan meminta orang yang akan mengurus semuanya.


Sampai di mobil Gala langsung mengemudikan mobilnya dengan kencang.


"Pa tolong urus Sarah dulu, Gala masih dalam perjalanan pulang."


"Kenapa terburu-buru seperti ini Gala? Kamu bisa pulang nanti siang atau sore dan memang ada pada Nak Sarah?"


"Tuh kan papa tidak tahu, Sarah mau melahirkan Pa. Jadi tolong bawa dia ke rumah sakit sebab kalau menunggu Gala datang mungkin membutuhkan waktu yang lama. Gala akan menghubungi dokter kandungannya dulu agar langsung bersiap-siap."


"Baik Gala, papa akan segera membawa Nak Sarah ke rumah sakit."


"Terima kasih Pa."


Gala langsung penutup panggilan teleponnya pada Tama dan beralih menelpon dokter kandungan yang menangani Sarah.


"Baik Dok terima kasih banyak."


Selesai menelpon Gala mengencangkan laju mobilnya kembali.


"Sarah, Sarah kenapa tidak memberitahu papa sih?" Gala tidak habis pikir kenapa Sarah tidak mau meminta bantuan kepada orang yang ada di sekitarnya dulu sebab dirinya berada dalam jarak jauh.

__ADS_1


"Nak Sarah kita ke rumah sakit sekarang, bik tolong gendong dia!"


Sang bibi terbelalak, rasanya dia tidak akan kuat menggendong tubuh Sarah.


"Tidak usah Bik, Sarah akan berjalan saja."


Bibi mengangguk dan memapah Sarah keluar. Setelah sampai di mobil, Tama langsung melajukan mobilnya dengan kencang di jalanan.


"Hati-hati Tuan, jangan mengebut seperti ini." Sang pembantu memperingatkan.


"Terpaksa Bik. Bibi mau Sarah melahirkan di dalam mobil? Bibik bisa menangani kalau itu sampai terjadi?"


"Tidak Tuan."


"Ya sudah jangan protes! Kau lihat kan Sarah itu sangat kesakitan," ujar Tama sambil melihat ke arah Sarah yang gelisah dari kaca spion.


"Iya Tuan."


"Non Sarah sabar ya, nanti kalau baginya sudah keluar pasti rasanya akan plong."


"Bik tisu!" pinta Sarah. Keringat sudah membasahi di seluruh tubuhnya. wanita hanya itu hanya berharap agar tidak sampai melahirkan di dalam mobil seperti yang dikatakan Tama tadi. Kalau sampai itu terjadi bisa-bisa Gala murka terhadapnya.


Bibi pun membantu mengelap keringat Sarah.


"Aduh Bi rasanya Sarah tidak kuat. Seperti ada sesuatu yang menekan dan ingin keluar."


"Maksud Non Sarah?"


"Saya seperti mau buang air besar Bik. Apa itu pertanda bayinya sudah akan keluar?"


"Tuan bagaimana ini? Bagaimana kalau Non Sarah lahir di sini?" Sang bibi jadi ikutan panik.


"Kalau begitu siap-siap bibik menjadi bidan mendadak," ujar Tama.


"Tuan!"


"Ya sudah makanya jangan banyak protes sehingga mengganggu saya menyetir."


"Baik Tuan."

__ADS_1


.Bersambung


__ADS_2