
"Mau ayah atau papi seperti dedek Gaffi," rengek Izzam.
"Kan sudah ada papi Bintang?" tanya Bintang pada Izzam, sekedar mengingatkan anak itu bahwa ada dirinya yang siap melakukan tugasnya sebagai seorang ayah meskipun dirinya hanyalah paman dari Izzam.
"Izzam mau papi yang selalu tinggal serumah dengan ummi dan Izzam. Tidur bertiga di kamar Izzam sebelum akhirnya Izzam terlelap tidur seperti dedek Gaffi."
Sepertinya anak itu iri saat memperhatikan Gaffi karena mendapatkan kasih sayang yang utuh dari kedua orangtuanya.
"Hah! Sepertinya aku salah mengajak Izzam menginap terlalu lama di rumah papa," keluh Mentari.
Gala dan Sarah hanya terdiam, mereka berdua menatap wajah Bintang, Mentari, dan Izzam secara bergantian.
Mereka tidak mau ikut campur meskipun sebenarnya setuju dengan permintaan Izzam.
"Papi Bintang, mau kan tiap malam tidur dengan Izzam dan ummi?" Tidak mendapatkan jawaban dari Mentari anak itu beralih bertanya pada Bintang.
Mendengar pertanyaan dari Izzam Bintang langsung menatap ke arah Mentari.
Keduanya saling tatap tanpa bersuara.
"Tidak mau ya? Ya sudah kalau tidak mau." Anak itu terlihat kecewa dan memalingkan muka.
Bintang langsung duduk di samping brankar Izzam.
"Izzam! Bukan papi tidak mau, tapi semua keputusan itu ada pada Ummi kamu. Jadi, semua terserah ummi kamu," ujar Bintang yang langsung mendapatkan tatapan tidak enak dari Mentari.
"Jadi papi Bintang mau jadi papi Izzam yang sebenarnya?" tanya anak itu antusias.
Bintang menyentuh dahi Izzam dan mengambil kain kompres lalu mencelupkan ke dalam baskom berisi air sebelum akhirnya mengompres Izzam kembali.
"Tentu saja," ucap Bintang dengan mengulas senyuman dan Izzam terlihat mengangguk sambil tersenyum.
Mentari memejamkan mata, melihat Bintang menyayangi putranya sepertinya dia harus menyerah demi kebahagiaan Izzam.
"Aku mau," jawab Mentari lirih.
"Ummi mau apa?" tanya Izzam tidak mengerti.
__ADS_1
"Mau mengabulkan permintaanmu sekiranya ada jalan," jawab Mentari sambil menunduk. Dia sangat malu pada Bintang sebab akhirnya dia yang kalah.
Mendengar keputusan Mentari Bintang tersenyum manis.
"Kenapa tidak ada? Semua keinginan pasti ada jalan."
Mentari tidak menjawab, dia masih menunduk dan tidak berani mengangkat muka.
"Apakah kamu berkenan menjadi istriku lagi? Me kita mulai dari awal lagi. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi. Beri aku kesempatan ya Me! Cukuplah masa lalu kita menjadi pelajaran untukku membina keutuhan rumah tangga kita ke depannya. Aku janji kasih sayangku tidak akan berubah pada Izzam meskipun kita sudah menikah dan punya anak nantinya." Pemikiran Bintang terlalu jauh padahal sudah jelas Mentari mau melakukan itu atas permintaan putranya.
Sayangnya Bintang tidak perduli, cintanya sudah sangat besar untuk Mentari hingga tidak ada satu wanita pun yang bisa menembus dinding hatinya lagi. Hatinya sudah terkunci pada mantan istrinya itu.
"Bagaimana Me?" tanya Bintang lagi dan Izzam hanya menatap kedua orang tua di depannya itu dengan bingung.
"Iya Mas, aku mau menikah denganmu." Akhirnya kalimat yang ditunggu-tunggu oleh Bintang selama ini keluar juga dari mulut Mentari.
"Alhamdulillah," ucap Bintang begitu bersyukur. Gala dan Sarah saling pandang sambil tersenyum sementara Mentari masih terus menunduk.
"Aku akan menemui paman Tama nanti," ucap Bintang membuat Mentari langsung mendongak.
"Mas jangan sekarang!" mohon Mentari.
"Saya sudah mendengar pembicaraan kalian dan saya setuju saja jika Cahaya mau. Sebagai orang tua saya akan mendukung keinginan putri saya," ujar Tama lalu melangkah ke arah Bintang yang sedang duduk sekarang.
"Tapi paman mohon jangan pernah sia-siakan Cahaya lagi! Sebab jika itu terjadi saya tidak akan pernah mempertemukanmu dengan Cahaya lagi untuk selamanya. Ini adalah kesempatan pertama dan terakhirmu untuk memperbaiki hubungan rumah tangga kalian," ujar Tama sambil menepuk pundak Bintang.
"Insyaallah paman, saya tidak akan pernah menyia-nyiakan Mentari lagi. Terima atas kesempatan yang sudah diberikan oleh kalian berdua," ujar Bintang sambil menatap Tama kemudian beralih ke Mentari.
"Selamat ya Bin, akhirnya perjuanganmu tidak sia-sia," ucap Sarah dan dibarengi anggukan dari Gala.
"Nanti setelah Izzam sembuh kami akan langsung mendiskusikan dengan Winata dan Arumi," ujar Tama kemudian.
"Jangan terburu-buru Pa!" mohon Mentari.
"Apa yang mau ditunggu lagi Ca, kalian sudah sama-sama dewasa dan ini juga permintaan dari putramu, kan? Saya pikir lebih cepat akan lebih baik."
"Kalau kamu belum siap menyerahkan dirimu seutuhnya padaku tidak apa-apa Me. Aku
__ADS_1
akan menunggu sampai kau siap. Yang penting kita menikah dulu agar kita bisa hidup bersama dalam satu rumah. Sekarang yang terpenting saat ini adalah kebahagiaan Izzam dulu, baru perasaan kita berdua," tegas Bintang.
"Baik Mas, tapi aku mohon jangan dalam bulan ini, apalagi dalam tiga hari ini ya!" pinta Mentari. Wanita itu tak ingin hari kelahiran Izzam, kematian sang suami dan pernikahannya dengan Bintang berada dalam bulan yang sama apalagi dengan tanggal yang sama pula.
"Tidak Me, sesederhana apapun pernikahan kita pasti butuh persiapan. Bukan hanya dari kita berdua saja, tetapi juga dari pihak keluarga."
"Nak Bintang benar Ca, semuanya tidak akan mendadak. Namun, Pastikan hatimu tidak berubah," sambung Tama yang khawatir Mentari akan berubah pikiran lagi.
Mentari hanya terlihat mengangguk.
"Wah selamat ya Izzam, sepertinya sebentar lagi Izzam akan punya papi," ucap Sarah membuat anak kecil itu mengulas senyuman dan mengangguk.
"Kasih Tante," ucapnya kemudian.
"Kak selamat ya Kak, kayaknya sebentar lagi akan ada cinta lama bersemi kembali." Sarah berbisik menggoda Mentari.
Plak.
Sontak Mentari langsung memukul bokong Sarah karena telah berani menggodanya. Wajah Mentari semakin kentara merah karena semakin merasa malu.
"Jangan diledek Sarah, nanti kalau dia berubah pikiran kamu yang harus bertanggung jawab!" ancam Bintang.
"Duh yang lagi senang, kayaknya nggak sabaran nih ingin segera–"
Mendengar tatapan Gala yang seolah tidak enak bagi Sarah, wanita itu langsung terdiam.
"Sudah! Kita makan semuanya. tadi papa menyempatkan beli di luar," ujar Tama saat melihat penjual nasi bungkus yang mengantarkan pesanannya tadi sudah ada di depan pintu.
"Baik Pa," ujar Sarah sambil berjalan ke arah pintu untuk membantu Tama memberikan nasi itu pada semua orang yang ada di dalam ruangan.
"Izzam makan juga ya biar cepat sehat," bujuk Mentari agar putranya juga ikut makan.
"Kau makan saja Me biar aku yang menyuapi Izzam," ujar Bintang lalu membuka bungkus nasi yang disodorkan Sarah.
"Makan sama papi ya!" ucapnya pada Izzam dan anak ini terlihat mengangguk.
"Hmm, kayaknya ada yang bakal meniru nih menyerahkan untuk menyuapi anak pada ayahnya," goda Gala membuat Sarah yang menatap Bintang sedang menyuapi Izzam jadi cekikikan sendiri.
__ADS_1
"Mana bisa? Bisa-bisa Gaffi kelaparan kalau menunggu dirimu yang sering sibuk itu," protes Sarah.
Bersambung.