
"Pak Bintang jangan muncul dulu di hadapannya sampai keadaan hatinya membaik." Perkataan dokter ini terngiang-ngiang di telinga Bintang. Pria itu berjalan menjauh dari ruang periksa agar saat Mentari dipindahkan nanti tidak bisa melihat dirinya.
"Aku harus apa? Apa aku harus meninggalkan dia sendirian di sini?"
Saat sedang gelisah dia mengingat akan Arumi. Segera Bintang merogoh ponsel di saku celananya dan langsung mendeal nomor sang mama.
"Ada apa Bin?" Terdengar tanya dari balik telepon.
"Ma, mama bisa bantu Bintang tidak?"
"Kamu ada masalah apa lagi sih, si Katrina bikin ulah? Atau kamu menginginkan mama untuk mengembalikan Mentari ke sisimu? Maaf kalau ya terakhir mama tidak bisa membantu sebab kalau itu terjadi Mama bukan hanya mendapatkan kemarahan dari Mas Tama, tetapi dari papamu juga." Bintang belum bercerita Arumi menyikapi sendiri.
"Ma, dengarkan Bintang dulu Ma ...."
"Ini dari tadi kan mama sudah mendengarkan."
"Mama bukan mendengarkan, tapi bicara sendiri," protes Bintang.
"Baiklah katakan apa mau kamu sebenarnya?"
"Aku mau Mama datang ke rumah sakit Harapan Sehat sekarang juga bisa kan Ma?"
"Kamu sakit Bintang?" tanya Arumi, terdengar nada khawatir dari suaranya.
"Bukan aku Ma, tapi Mentari."
"Apa, Mentari sakit dan dia bersamamu?" tanya Arumi tidak percaya. Pikiran buruk menguasai. Melihat anaknya yang sedikit tidak baik suasana hatinya membuat Arumi berpikiran Bintang pasti melakukan hal yang buruk terhadap Mentari.
"Duh anak ini bikin ulah terus, kau tahu tidak Bin, caramu ini akan semakin membuat papamu sendiri tidak perduli lagi dengan putranya," batin Arumi. Wanita itu benar-benar gelisah.
"Iya Ma, Bintang tidak sengaja menemukan Mentari pingsan di jalan dan ketika aku bawa ke dokter ternyata dia sedang hamil," jelas Bintang.
"Apa! Dia hamil?" Arumi kaget sebab sebelumnya dirinya sempat menuduh Mentari adalah wanita yang mandul.
"Iya Ma dan Bintang minta mama segera kemari!"
Tanpa mau mendengar jawaban mamanya dulu, Bintang langsung mematikan panggilan teleponnya kemudian ponselnya pun dimatikan.
"Kau tidak berbohong kan Bin? Kamu tidak ngapa-ngapain dia, kan?"
Tak ada suara jawaban dari balik telepon.
"Bin! Bin!"
Tetap tak ada jawaban.
Tut, tut, tut.
"Yaelah nih anak main matikan telepon semaunya, aku kan belum selesai ngomong." Arumi mendumel sendiri lalu mencoba menghubungi putranya kembali.
"Ada apa Ma, kenapa Mama kesal seperti ini?"
Tuan Winata masuk ke dalam rumah dengan menyingsingkan lengan kemeja disusul sopir di belakangnya yang menenteng tas kerja Tuan Winata.
"Taruh saja di sana Pak!" Tuan Winata menunjuk sofa yang berada di samping dirinya.
"Baik Tuan." Setelah meletakkan tas pak sopir membungkukkan badan dan menganggukkan kepala pertanda dia mau pamit keluar.
"Terima Pak," ucap Tuan Winata.
"Sama-sama Tuan."
__ADS_1
"Oh ya Mama tadi terima telepon dari siapa?" ulang Tuan Winata sebab Arumi tidak menjawab pertanyaannya tadi.
"Itu tadi dari Bintang Pa. Mama belum selesai ngomong eh teleponnya sudah dimatikan. Mama telepon ulang eh nomornya langsung tidak aktif."
Tuan Winata mengernyit. "Apa katanya?"
"Dia meminta Mama ke rumah sakit, katanya Mentari sekarang dirawat di sana."
"Apa?" Tuan Winata terlihat kaget mendengar kabar Mentari masuk rumah sakit.
"Sakit apa katanya Ma?" Dalam hati berharap agar penyakit Mentari bukanlah penyakit yang parah.
"Mentari hamil katanya Pa."
"Hamil?"
"Katanya Bintang begitu Pa, tetapi untuk memastikan kita harus pergi ke rumah sakit langsung sebab Mama takut Bintang melakukan hal yang aneh pada Mentari hingga Mentari masuk rumah sakit dan berita hamil itu hanyalah rekayasa putra kita semata."
Tuan Winata menggeleng mendengar perkataan dari istrinya. "Semoga saja tidak Ma, semoga Mentari benar-benar hamil."
Arumi hanya mengangguk.
"Tama dan Gala sudah diberitahu?"
"Itulah Pa, Mama juga tidak tahu sebab saat Mama pengen bertanya panjang lebar Bintang malah menutup panggilan teleponnya."
"Baiklah kalau begitu Papa akan menelpon Mas Tama dulu."
"Eh jangan Pa," cegah Arumi.
"Loh memangnya kenapa Ma? Biar kita bisa bareng-bareng sama Mas Tama dan Gala ke rumah sakitnya."
"Kamu kenapa sih Ma, kayak khawatir saja?"
"Tidak tahu Pa cuma Mama memiliki perasaan tidak enak seolah Mentari masuk rumah sakit karena ulah Bintang."
"Baiklah kalau begitu kita pergi berdua dulu sekarang untuk memastikan keadaan Mentari baru setelah sampai di sana kita akan menelpon Mas Tama ataupun Gala."
"Itu lebih baik Pa, ayo sekarang kita pergi."
Tuan Winata mengangguk.
"Bik! Bibik! teriak Arumi memanggil pembantunya.
"Ada apa Nyonya?" Si bibik datang dengan tergopoh-gopoh.
"Tolong bawakan tas bapak ke dalam kamar. Sekarang kami akan pergi ke rumah sakit dulu untuk menjenguk Mentari!"
"Baik Nyonya," ucap Bik Jum sambil meraih tas Tuan Winata yang terletak di atas sofa dan melangkah menuju kamar tuannya. Namun, sebelum dia melanjutkan langkahnya menuju kamar Tuan dan nyonya dia berbalik.
"Maaf Nyonya. Nona
Mentari sakit apa?" tanya Bik Jum penasaran.
"Dia hamil Bik."
"Hamil masuk rumah sakit?" tanya Bik Jum tak percaya.
"Iya karena kandungannya lemah,
Bik," jawab Arumi.
__ADS_1
"Oh begitu ya Nya. Semoga Nona Mentari dan bayinya sehat-sehat saja."
"Aamiin Bik, kalau begitu kami pergi dulu ya," ujar Tuan Winata.
"Iya, hati-hati Tuan, Nyonya."
"Iya Bik."
Mereka pun bergegas keluar rumah dan menemui sopir lagi. Setelah sopir siap mereka langsung berangkat ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit Arumi celingukan mencari keberadaan Bintang. Namun, pria itu tidak nampak batang hidungnya sekalipun.
"Dimana Bintang ya Pa kok nggak kelihatan? Dimana juga kamar tempat Mentari dirawat?"
"Sudahlah Ma tidak perlu mencari keberadaan Bintang. Kita tanyakan saja pada bagian admin rumah sakit, mungkin Bintang masih ada di dalam kamar Mentari," usul tuan Winata.
Arumi mengangguk, dia setuju dengan pendapat suaminya.
"Ayo Ma ke sana!" Tuan Winata menggandeng tangan Arumi dan membawanya ke ruang administrasi rumah sakit. Mereka langsung menanyakan keberadaan kamar rawat Mentari.
Setelah mendapatkan alamat kamar Mentari, dengan setengah berlari Tuan Winata menuju ruangan rawat Mentari membuat Arumi menjadi berlari agar menyamai langkah suaminya yang besar.
Sampai di depan kamar rawat Mentari, Arumi membuka pintu kamar dengan pelan. Dia mengantisipasi takut Mentari sedang tertidur dan akan terganggu dengan bunyi pintu yang terbuka.
Mentari menatap ke arah pintu dan melihat keberadaan Tuan Winata di sana.
"Papa!" serunya dengan mata yang berkaca-kaca.
Tuan Winata mengangguk sambil tersenyum dan berjalan ke arah Mentari yang terbaring di atas ranjang rumah sakit lalu duduk di pinggir ranjang tersebut.
Melihat Tuan Winata berjalan ke arahnya, Mentari berusaha untuk duduk.
"Sudah Nak, kamu tiduran saja, jangan dipaksa untuk berbaring! Papa tahu kok kamu saat ini butuh istirahat banyak."
Mentari tidak menggubris perkataan Tuan Winata, terlihat wanita itu tetap berusaha untuk bisa duduk dan akhirnya dengan susah payah berhasil.
"Sudah Nak jangan dipaksa untuk duduk dulu kamu kan, ...." Belum selesai Tuan Winata bicara, Mentari langsung memeluk mantan mertuanya itu yang juga merupakan pamannya sendiri.
Arumi dan Tuan Winata kaget. Tidak biasanya Mentari memeluk orang lain sembarangan seperti itu. Namun, Tuan Winata tidak menolak pelukan Mentari. Pria itu tahu wanita ini lemah sekarang dan perlu pelukan hangat keluarga untuk menenangkan hatinya.
"Pa Mentari takut." Mentari berkata dengan mata berkaca-kaca.
Deg.
Jantung Arumi berdetak dengan lebih kencang. Wanita ini berharap dugaannya tentang Bintang yang telah membuat Mentari masuk rumah sakit tidak benar. Dia bertambah khawatir saja tatkala tidak menemukan keberadaan Bintang di dalam kamar tersebut.
"Kenapa harus takut? Asal kamu jaga dengan berhati-hati insyaallah kandunganmu akan baik-baik saja." Tuan Winata mencoba menenangkan Mentari dengan mengusap-usap punggung keponakannya itu.
"Aku takut sama Mas Bintang Pa, aku takut gara-gara dia bayi dalam kandunganku akan keguguran." Bagi Mentari Tuan Winata seperti papanya sendiri, jadi dia tidak sungkan sama sekali meski harus membicarakan tentang Bintang yang notabene-nya adalah putra Tuan Winata sendiri.
Arumi menarik nafas berat melihat Mentari meneteskan air mata saat mengatakan takut pada Bintang. Ternyata dugaannya tentang Bintang benar adanya. Wanita itu pun duduk di sebelah suaminya.
"Apa yang dia lakukan padamu?" tanya Tuan Winata penasaran hingga Bintang bisa membuatnya menangis padahal Mentari bukan istrinya lagi.
"Dia mau menculik Mentari Pa, Mentari takut dia kembali ke sini."
"Kamu tenanglah biar papa yang akan menangani Bintang biar tidak menganggu dirimu lagi. Namun, papa minta tolong ya sama kamu agar jangan memberi tahu Mas Tama sama kakakmu dulu. Papa janji akan mengatasi anak papa itu."
Arumi mengangguk setuju mendengar permintaan suaminya pada Mentari sebab kalau sampai Tama tahu, pasti keluarga besar ini akan berselisih dan rasa persaudaraan nya akan renggang. Terutama Gala dan Bintang yang akan semakin menjadi orang lain saja.
Bersambung.
__ADS_1