HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 273. Hamil


__ADS_3

Sekitar 16 jam lebih akhirnya mereka sampai ke Bandara Internasional Geneva atau yang sering disebut Jenewa, Swiss( Switzerland), setelah sempat transit beberapa kali.


Kalau menurut perhitungan jam seharusnya mereka sampai di Swiss jam 12 siang lewat. Namun, karena perbedaan jam antara Swiss dan Jakarta berkisar antara 5 jam maka mereka semua sampai di negara Swiss pada jam 7 pagi lewat beberapa menit


Dari bandara mereka menaiki taksi menuju hotel Royal Savoy lausanne, salah satu hotel terbesar di kota Bern, Swiss. Sampai di hotel mereka menyewa tiga kamar. Satu untuk Bintang dan Mentari, satu untuk Gala dan Sarah dan satu kamar lagi untuk Bik Jum beserta kedua anak-anak.


Setelah semua mendapatkan kamar masing-masing, mereka memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur setelah melakukan perjalanan panjang yang sangat melelahkan.


"Izzam mau muntah," rengek Izzam saat Mentari dan Bintang sudah beristirahat. Anak itu tidak langsung tinggal bersama Bik Jum dalam kamar yang sama melainkan menempel pada Mentari, begitu juga dengan Gaffi yang tidak mau lepas dari Sarah apalagi anak itu belum berhenti menyusu pada ibunya.


Kedua suami istri itu langsung bangun dan menangani Izzam yang sudah nampak mual-mual.


"Muntahkan saja Sayang agar kamu bisa lega!" perintah Mentari sambil menggendong putranya di depan wastafel. Lalu memposisikan dagu Izzam di atas wastafel agar kalau muntah tidak tercecer kemana-mana.


Bintang pun tidak tinggal diam, dia membantu memijit leher Izzam dan bahu Izzam hingga anak itu benar-benar bisa muntah.


Setelah Izzam memuntahkan isi perutnya dan berkumur-kumur Mentari membaringkan Izzam di atas ranjang sambil membalurkan minyak kayu putih di leher dan kening Izzam.


"Mas bisa minta tolong carikan minuman hangat seperti teh hangat!"


"Baik saya turun dulu ke bawah!"


Kebetulan kamar mereka berada di lantai tiga.


Mentari mengangguk dan Bintang bergegas turun.


Bintang kembali ke kamar dengan membawa minuman yang dipesan Mentari. Di belakangnya ada petugas hotel yang mengantarkan sarapan untuk mereka semua.


Untuk seharian itu baik Bintang maupun Gala tidak ada yang keluar dari hotel. Mereka benar-benar hanya menghabiskan waktu untuk beristirahat dan mengobrol dengan anak-anak.


Siang hari mereka berkumpul di kamar Bik Jum dan menelpon Tama untuk memberikan kabar bahwa mereka semua sudah sampai dengan selamat.


Esok hari barulah mereka melakukan petualangan, mendatangi beberapa destinasi wisata yang menarik.


Setengah bulan mereka berputar-putar mengelilingi beberapa destinasi wisata yang ada di beberapa kota di Swiss/Switzerland, hari ini rencananya mereka ingin datang dan melihat ke The Einstein Museum and Historical Museum Of Bern dan juga ingin melihat Zytlogge atau menara jam atas permintaan Izzam yang tentu saja juga akan menjadi permintaan Gaffi.


Namun, ternyata keadaan Mentari tidak memungkinkan karena semenjak kembali dari St. Moritz, tempat wisata yang sejak lama sudah menjadi sebuah tujuan liburan musim dingin terbaik ketika berlibur di tempat yang indah di Bern.


Mentari merasa menggigil pada tubuhnya meskipun sudah memakai jaket yang tebal. Kadang di berpikir kalah dengan kedua anak kecil yang begitu antusias menyaksikan para kedua ayah mereka juga para wisatawan yang mencoba olahraga salju seperti ski, seluncur salju, dan trek sepatu salju. Bahkan kedua anak itu sesekali duduk berjongkok sambil bermain salju lalu tertawa riang. Hingga akhirnya Sarah mengajak mereka semua shopping di sekitar tempat tersebut memiliki pulang ke hotel.


Pagi ini badannya lemas dan muntah-muntah.


"Kau dan Sarah saja yang pergi Gala, keadaan Mentari sedang tidak enak badan. Mungkin hari ini saya akan membawanya ke dokter saja," ucap Bintang saat Gala mengajak ke tempat yang sudah menjadi planning mereka sebelumnya.


"Baiklah Bin, aku serahkan Cahaya padamu. Jaga dia baik-baik dan semoga segera sembuh. Izzam aku bawa ya, sebab keduanya begitu lengket dan tidak bisa dipisahkan. Apalagi keduanya begitu ingin melihat jam besar katanya," ujar Gala lagi.


"Baik Gala, aku nitip dia ya."


"Kayak dia siapa aja kau nitip dia segala. Lupa ya kalau dia itu keponakanku," ujar Gala lalu terkekeh Bintang pun hanya tersenyum kecil.


"Sudah ya, aku pergi sekarang."

__ADS_1


"Hati-hati Gala."


"Ya, insyaallah."


Gala lalu mengajak anak-anak, Sarah dan bik Jum pergi sedangkan Bintang merawat Mentari di dalam kamar.


"Makan ya!" Bintang mengulurkan piring berisi makanan ke hadapan Mentari.


Mentari menggeleng lalu mendorong piring itu menjauh darinya.


"Aku suapi ya? Dalam cuaca yang begitu dingin seperti saat ini kau harus lebih banyak makan agar pembakaran dalam tubuh bisa membantu menghangatkan badan. Makan daging bagus dalam cuaca dingin," bujuk Bintang.


"Nggak Mas, makanannya bau." Mentari mual dan menutup hidung.


"Dari semalam kamu nggak makan, bagaimana kalau kamu benar-benar sakit? Ini negara orang Me kita harus pandai-pandai menjaga diri agar tubuh kita sehat. Kalau terjadi sesuatu tidak banyak orang yang bisa kita mintai tolong."


"Baiklah," ujar Mentari karena merasa tidak enak dengan Bintang.


"Aku suapi ya!"


Mentari mengangguk.


Bintang tersenyum lalu menyuapi istrinya. Mentari makan walaupun masih dengan hidung yang selalu dipencet sebab tidak tahan dengan aroma makanan yang diberikan oleh Bintang.


Beberapa kali Mentari tampak menguap.


"Kamu kenapa sih aneh sekali? Apa gara-gara telat makan perutmu tidak bisa menerima makanan lagi? Apakah penyakit magh mu kambuh?"


"Aku tidak tahu Mas," lirih Mentari dan terus berusaha mengunyah makanannya meskipun dia sama sekali tidak berselera. Dia tidak ingin merepotkan Bintang apabila dia benar-benar sakit.


Mentari menggeleng, sejak semalam dia tidak berselera dengan makanan apapun meskipun Bintang sudah menyediakan berbagai macam makanan yang lezat.


"Sudah teruskan saja Mas!" Mentari memaksakan diri.


"Akhirnya habis juga," ucap Bintang sambil menyodorkan segelas air putih. Namun, sebelum gelas itu menyentuh bibir Mentari, terlebih dahulu wanita itu berlari ke kamar mandi dan memuntahkannya semuanya.


Bintang pun menyusul sengsara berlarian pula.


"Astaghfirullah Me, kamu kenapa sih sebenarnya?" Bintang heran melihat makanan yang baru saja disuapi pada istrinya kini sudah berceceran di lantai.


Setelah memijit dan Mentari tidak ingin muntah lagi Bintang langsung menyuruhnya berkumur-kumur. Setelahnya pria itu menggendong sang istri menuju ranjang.


"Minum dulu dan kita langsung ke rumah sakit."


Mentari menurut saja saat sang suami menggendong tubuhnya keluar dari hotel, sebab meskipun sedikit malu dia merasa tubuhnya lemah untuk berjalan sendiri.


Bintang langsung mendudukkan istrinya ke dalam mobil dan membawa Mentari ke rumah sakit dengan mobil sewaannya itu.


***


"Bagaimana dokter?" tanya Bintang yang sedari tadi menunggu hasil pemeriksaan dengan tidak sabaran.

__ADS_1


"Tenang Tuan, silahkan Tuan duduk dulu!" perintah seorang wanita berkulit putih, berambut pirang dan bermata biru.


"Istri saya saya sakit apa Dokter?" tanya Bintang lagi, dia tidak akan bisa tenang sebelum mendapatkan jawaban akan kondisi sang istri.


Dokter wanita itu mendesah melihat Bintang yang tidak sabaran.


"Sepertinya istri Anda hamil," jelas dokter dan sontak Bintang langsung kaget.


"Benarkah dokter?"


Dokter itu mengangguk. "Tapi untuk memastikan lebih akuratnya tunggu hasil dari tespect-nya dulu," ujar dokter sambil melirik Mentari yang berada di dalam kamar mandi.


"Apa tidak bisa di USG saja Dok?" tanya Bintang.


"Tidak bisa Tuan, ini terlalu dini untuk dilakukan pemeriksaan melalui USG. Sepertinya janinnya masih berusia sekira dua minggu sehingga di monitor nanti hanya akan tampak seperti jarum saja karena ukurannya yang masih sangat kecil. Biasanya pada usia ini baru akan terlihat penebalan dinding rahim."


"Okey, baiklah," ucap Bintang sambil mengangguk-angguk.


Beberapa saat kemudian Mentari keluar dari kamar mandi dengan tespect di tangannya.


"Bagaimana Me?" tanya Bintang tidak sabaran.


Mentari hanya menjawab dengan senyuman sambil mengulurkan tespect ke tangan dokter.


"Bagaimana Dok?" Bintang terlalu tidak sabaran.


Dokter tersebut tersenyum lalu mengulurkan tangan. "Selamat istri anda benar-benar hamil."


Bintang terbelalak lalu kemudian tersenyum senang.


"Saya sedang tidak bermimpi, kan?" tanyanya masih belum bisa mempercayai semua kebahagiaan ini. Dia masih ragu pada dirinya sendiri yang dulu meskipun sudah menikah dengan dua wanita tidak ada satupun yang bisa berhasil hamil anaknya.


"Kamu dan dokter ini tidak ngeprank aku kan, Me?"


Kedua wanita yang ada di hadapan Bintang hanya diam saja.


"Kenapa kalian bengong?" tanya Bintang bingung.


"Ini Mas Bintang lihat sendiri!" Mentari mengambil tespect di atas meja dokter dan menyerahkan pada Bintang.


"Kau benar-benar hamil?" Senyuman Bintang merekah melihat dua garis merah di tespect tersebut.


"Terima kasih Me. Terima kasih Sayang," ucap Bintang sambil mengecup kening Mentari beberapa kali kemudian memeluk istrinya.


"Mas lepas, malu dilihat sama


dokter!"


"Biarkan saja! Biar dokter tahu bahwa aku sedang bahagia," ucap Bintang sambil terus memeluk Mentari.


"Mas awas ya kenapa-kenapa dengan janinnya kalau kamu memelukku erat seperti ini!" ancam Mentari.

__ADS_1


Akhirnya Bintang melepas istrinya dan dokter yang melihat hanya bisa geleng-geleng kepala.


Bersambung.


__ADS_2