HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 148. Curhat Dengan Papa


__ADS_3

"Ada apa Nak? Apa ada yang ketinggalan?" tanya Tama saat melihat Mentari kembali dan masuk ke dalam rumah dengan berlari.


Mentari tidak menjawab. Namun, dirinya terus berlari menapaki tangga menuju kamarnya sendiri. Tama yang melihat putrinya tidak seperti biasanya menggeleng lalu menyusul Mentari naik ke atas tangga menuju kamar putrinya itu.


Setelah sampai ke dalam kamar Mentari langsung menutup pintu kamar dan menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur. Dia kemudian menelungkupkan wajahnya ke bantal dan menangis sesenggukan.


"Cahaya, buka pintunya Nak!" Tama mengetuk-ngetuk pintu kamar Mentari. Tak ada jawaban dari putrinya tersebut.


"Cahaya buka pintunya Nak!" perintah Tama lagi. Namun, tetap saja tak ada jawaban dari dalam.


"Pasti ada sesuatu yang tidak beres pada dia," batin Tama lalu mencoba memutar handle pintu kamar Mentari dan ternyata pintunya terbuka karena tidak dikunci dari dalam oleh putrinya itu.


"Kamu kenapa sih Nak? Cerita sama papa kalau ada apa-apa!"


Tama duduk di tepi ranjang dan tangannya terulur mengelus-elus rambut Putrinya yang tertutup hijab yang bahkan ikut basah terkena air mata.


"Aku tidak apa-apa Pa," jawab Mentari sambil mengusap genangan air mata di pipinya.


"Mana mungkin tidak apa-apa sedangkan dirimu sekarang menangis sesenggukan seperti itu," sanggah Tama.


Mentari menggeleng. "Tidak ada apa-apa Pa, Cahaya hanya ingin menangis saja," kilahnya.


"Hanya ingin menangis saja? Tanpa sebab? Kamu pikir papa akan percaya dengan perkataanmu itu. Katakan apa yang telah terjadi padamu dan katakan siapa yang telah membuat dirimu menangis!Selama masih ada papa tidak akan papa biarkan orang lain menyakitimu," ucap Tama dengan nada suara yang menggebu-gebu. Dia pikir pasti ada yang menyakiti Mentari saat ini.


"Cahaya tidak apa-apa Pa, hanya bad mood saja, bawaannya hanya ingin menangis saja dari tadi Cahaya sendiri tidak tahu apa alasannya," bohong Mentari dia tidak mungkin menceritakan apa yang sebenarnya didengarnya tadi di rumah ustad Alzam.


"Kau tidak bisa membohongi papa," bantah Tama. Dia yakin Mentari menyembunyikan sesuatu. Pasti ada sesuatu hal yang terjadi dengan putrinya itu.


Mentari diam, dia tidak tahu apakah harus bercerita ataukah hanya akan memendam rasa sakit hatinya seorang diri.


"Nak Alzam selingkuh?" tebak Tama. Pria setengah baya itu sudah tidak tahan dengan asumsinya sendiri.


"Papa!" protes Mentari sambil menggeleng.


"Nak Alzam tidak memberimu nafkah atau kalian tidak punya uang untuk belanja?" Tama masih saja mencerca Mentari dengan pertanyaan. Dia tidak akan menyerah sampai putrinya jujur, sampai benar-benar mau menceritakan apa sebenarnya yang sudah terjadi sehingga putrinya sampai menangis seperti itu. Padahal sebelum pulang dari rumah ini tadi Mentari terlihat sangat ceria

__ADS_1


"Tidak Pa."


"Terus apa? Dia kdrt?" tanya Tama lagi.


"Ah papa terlalu mengikuti berita yang viral kini hingga membuat curigaan sama mantu sendiri." Mentari cemberut mendengar tebakan sang papa yang terakhir ini. Benar-benar jauh dari sikap ustadz Alzam.


Mana mungkin ustadz Alzam yang notabennya pria yang ramah mau melakukan hal sehina itu. Jangankan memukul istrinya sendiri diserang Bintang pun dia tidak melawan kecuali hanya melakukan pembelaan diri. Padahal Mentari tahu ustadz Alzam bisa melakukan lebih dari hal itu.


"Lah terus kenapa? Tidak mungkin kan ada asap kalau tidak ada api?Dan papa tidak bisa mempercayaimu yang mengatakan menangis tanpa sebab." Tama masih saja ngotot.


"Apa kamu bertengkar dengan Sarah?" Mencurigai gadis itu sebab Mentari bersama Sarah tadi.


"Haaah." Mentari menarik nafas panjang lalu menghembuskan secara perlahan. Dia tahu papanya keras kepala dan tidak bisa dibantah keinginannya. Dulu ketika pria itu menganggap dirinya adalah putrinya sebelum semua terkuak masih saja ngotot saat Gala menjelaskan bahwa Mentari bukanlah Cahaya sebab Mentari memiliki ibu yang lain bukan Rosa.


"Jelaskan pada Papa atau papa akan mengintrogasimu terus-menerus!" desak Tama.


"Ckk." Mentari berdecak kesal, yang tadinya menangis kini malah berubah geram sendiri dengan sikap sang papa.


"Nggak ada yang nyakitin Cahaya."


"Terus?"


"Kecewa? Kenapa? Pada siapa?"


"Kenapa papa jadi berlebihan begini sih, apa jangan-jangan kalau aku cerita nanti dia bakal marah sama abi," gumam Mentari. Perempuan itu galau sendiri antara ingin terus diam ataukah akan jujur saja.


Mentari diam lagi.


"Kalau begitu papa akan memenuhi Nak Alzam sekarang juga." Tama bangkit dari duduknya.


"Eh jangan Pa!" Mentari menarik tangan Tama agar duduk kembali.


"Baik Cahaya akan cerita." Mentari terpaksa memutuskan akan bercerita.


Tama mengangguk dan duduk

__ADS_1


kembali. Mentari bangkit dari posisi tengkurap dan ikutan duduk di samping sang papa.


"Ceritakanlah, papa akan menjadi pendengar yang baik. Mulai saat ini kamu cukup curhat sama papa kalau ada apa-apa tidak usah sama yang lain," himbau Tama.


Mentari mengangguk lagi.


"Cahaya kecewa sama abi." Mentari mulai bercerita.


"Tuh kan?"


"Dengerin dulu Pa, kalau papa memotong pembicaraan Cahaya, aku tidak mau cerita lagi."


"Hmm, baiklah papa diam." Akhirnya Tama benar-benar hanya menjadi pendengar yang baik.


"Ternyata abi menikahi Cahaya bukan karena cinta."


Tama mengernyit, rasanya ingin protes, tapi takut putrinya tidak menuntaskan ceritanya.


"Dia menikahi Cahaya hanya karena pada permintaan Mas Bintang untuk menjadi muhallil agar Mentari bisa kembali kepada Mas Bintang Pa." Air mata yang sudah surut dari tadi akhirnya mengalir kembali.


Jangan tanya Tama, pria itu syok mendengar pengakuan putrinya. Namun, sesuai janjinya tadi untuk menjadi pendengar yang baik dia hanya diam saja.


"Tadi Mas Bintang datang ke rumah dan menagih janji kepada Abi untuk mengembalikan Cahaya kepada dirinya. Cahaya sakit hati Pa, Cahaya merasa dipermainkan oleh kedua pria itu." Mentari menjeda ucapannya karena air mata kini semakin deras mengalir di pipinya. Wanita itu mengusap air mata dengan kedua tangannya.


Kalau cahaya tahu ini lebih awal, Cahaya tidak mungkin memelihara rasa cinta yang begitu dalam kepada Abi Pa." Sampai di sini Mentari tidak lagi mampu untuk meneruskan perkataannya.


Tama merangkul Cahaya, memeluk putrinya itu dengan erat lalu mengusap punggung putrinya beberapa kali.


"Bersabarlah Nak, apa yang kita lihat, apa yang kita dengar belum tentu sesuai dengan kenyataan." Tama menenangkan Mentari.


Mentari menggeleng. "Rasanya sulit Pa untuk tidak mempercayai sesuatu yang kita dengar di belakang kita. Kalau perkataan itu Cahaya dengar saat mereka sadar ada Cahaya di sana mungkin itu hanya akal-akalan Mas Bintang untuk memisahkan kami. Kenyataannya mereka berbicara di belakang Cahaya dan itu lebih mendekati ke arah kebenaran."


"Jangan buru-buru mengambil kesimpulan sayang, apa kau mendengar Nak Alzam membenarkan dan menyetujui perkataan Bintang?"


Mentari menggeleng. "Cahaya pergi sebelum Abi menjawabnya."

__ADS_1


"Nah itu dia, papa dan mama dulu pernah ada di posisimu saat ini. Kalau papa mendengarkan perkataan orang lain waktu itu mungkin papa dan mama akan bercerai sebelum ajal yang memisahkan kami. Mungkin tidak akan pernah ada yang namanya Gala Prasdiatama dan Cahaya Roseline Pradiatama yang terlahir ke dunia ini," nasehat Tama.


Bersambung.


__ADS_2