
"Sudah ya Kate aku pergi dulu."
"Oke Bin tapi jangan lama-lama ya!"
"Oke siap."
"Pergilah!"
Bintang langsung bergegas keluar dari apartemen menuju mobilnya kembali. Dalam hati berpikir hal penting apa yang akan disampaikan papanya sehingga sore-sore seperti ini meminta Bintang pulang padahal dia baru saja pulang dari kerja yang tentu saja butuh istirahat untuk menghilangkan penat.
Namun, sang papa sepertinya ingin mengajak Bintang berdiskusi. Begitulah pikiran Bintang yang memang sangat mengenal sang papa. Kalau menyuruh dirinya pulang mendadak pasti ada-ada saja keputusan ataupun protes yang Tuan Winata sampaikan.
Ah ada-ada saja papa, jangan bilang ingin mengajakku berdebat. Ayolah Pa sedang masalahku dengan Mentari belum kelar juga. Kemana tuh orang bersembunyi.
Bintang menyetir mobilnya menuju kediaman kedua orang tuanya sekaligus kediaman dirinya juga asal dia ada keinginan untuk pulang. Namun sayang, sepertinya Bintang tidak betah di rumahnya sendiri. Entah apa alasannya.
"Ada apa Pa?" Bintang langsung melayangkan tanya pada sang papa yang sedang duduk bersila di atas sofa ruang tamu.
"Duduk dulu!" Tuan Winata menepuk sofa yang ada di sisi kanannya dan menurunkan kakinya ke lantai. Bintang menurut. Dia duduk di sebelah papanya.
"Bik Jum ambilkan es jeruk dulu sepertinya putraku ini kehausan setelah bekerja keras seharian."
"Baik Tuan."
Bintang mengernyit, merasa aneh dengan tingkah sang papa. Apa mungkin papanya itu ingin menyerahkan perusahaan yang dijanjikan dahulu sebelum pernikahannya dengan Mentari.
Berani sekali Bintang berharap seperti itu sedang perjanjiannya adalah kalau sampai pernikahannya dengan Mentari sudah bisa bertahan dalam dua tahun baru Tuan Winata akan menyerahkan kepemimpinan perusahaan kepada Bintang.
Bintang menatap wajah Tuan Winata, tak sabaran ingin mendengar kabar baik yang akan keluar dari mulut papanya itu. Namun, sang papa masih diam sambil menatap kepergian Bik Jum ke dalam dapur.
"Sabarlah tunggu sebentar sampai kita selesai minum dulu." Tuan Winata mengerti putranya tidak sabaran. Batin Tuan Winata
terasa senang melihat putranya begitu penasaran. Padahal yang ingin disampaikan hanya simpel saja, ingin meminta Bintang tinggal di rumah kembali seperti dulu. Namun, Tuan Winata puas mempermainkan Bintang karena lelaki itu telah berani mempermainkan wanita pilihan untuk putranya itu yaitu Mentari.
"Ini pesanannya Tuan." Bik Jum meletakkan dua gelas orange juice di atas meja.
"Terima kasih Bik." Setelah mengangguk Bik Jum kembali ke dalam dapur.
"Diminum dulu Bin!"
Bintang mengangguk bersemangat, lalu meraih gelas di depannya.
"Sudah Pa," ucapnya setelah minuman dalam gelas itu sudah tandas.
Sekarang Tuan Winata yang meraih gelasnya dan meminum isinya sampai tandas.
"Sepertinya kau tidak sabaran ya," ucapnya sambil tersenyum ke arah Bintang. Putranya itu hanya mengangguk.
"Begini, Papa menelpon kamu supaya ke sini adalah untuk mengajak kamu dan Mentari agar tinggal bersama kami di sini."
"Apa?" Bintang kaget setengah mati. Dirinya dipanggil ke tempat itu hanya untuk mendengarkan ajakan papanya saja. Yang benar saja, Bintang sangat kecewa.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Tuan Winata saat melihat ekspresi Bintang yang terlihat tidak senang.
"Papa kan bisa menyampaikan hal ini lewat telepon saja tadi. Ah, Papa buang-buang waktuku saja."
Tuan Winata menggeleng, tidak mengerti dengan pemikiran putranya.
"Ini rumahmu, apa salahnya kau meluangkan waktu untuk datang ke tempat ini," protes Tuan Winata.
Bintang diam tidak menjawab. Dia teringat akan momen satu tahun yang lalu bagaimana sang papa menolak keras saat dirinya membawa Katrina dan menyampaikan keinginannya untuk menikahi kekasihnya itu. Saat itu dia memutuskan untuk keluar dari rumah tersebut karena tidak mendapat restu.
Selama itu Bintang tidak pernah pulang lagi kecuali saat Tuan Winata memanggil dan meminta keputusan Bintang untuk menerima rencananya menikahkan Bintang dengan Mentari. Saat itu sebenarnya Bintang menerima dan bertekad akan belajar melupakan Katrina. Sayangnya semua itu gagal total saat kedatangan Katrina ke apartemennya. Bintang tidak tega dan juga masih tidak bisa melupakan cintanya pada Katrina, apalagi saat itu terjadi sesuatu pada dirinya dan Katrina sehingga membuat kekasihnya itu hamil.
"Apa kau masih mengingat saat-saat itu?" Tuan Winata melihat ada kekesalan di wajah Bintang.
Bintang tidak menjawab.
"Seharusnya kau melupakan saat-saat aku menolak dia dan malah harusnya bersyukur karena sekarang kau mendapatkan ganti yang lebih baik dibandingkan wanita murahan itu."
"Pa!" Bintang bangkit dari duduknya dengan marah, tidak terima papanya mengatakan Katrina wanita sembarangan.
"Bintang duduk!" perintah Tuan Winata.
"Dengar ya Pa, mungkin Bintang masih bisa terima kalau Papa tidak merestui hubungan antara Bintang dengan Katrina, tetapi jangan sekali-kali papa mengatakan dia gadis murahan!" Suara Bintang menggelegar memenuhi seluruh ruangan sehingga membuat atmosfer di dalam ruangan menjadi buruk.
"Bintang! Berani sekali ya kamu membentak papa?"
"Papa yang mulai. Sampai saat ini Bintang belum tahu apa yang menjadi alasan papa untuk menolak Katrina. Semua tuduhan papa sangat tidak beralasan. Papa malah menjodohkan Bintang dengan wanita yang sama sekali tidak Bintang kenal," protes Bintang panjang lebar.
"Terpaksa Pa karena ancaman papa itu. Ya sudahlah mulai sekarang saya tidak perduli lagi dengan perusahaan milik papa. Bintang bisa mencari uang sendiri tanpa bergantung pada perusahaan itu, Bintang pergi." Bintang langsung melenggang pergi meninggalkan Tuan Winata yang berdiri tertegun mendapatkan perlawanan dari putranya.
"Bintang!" teriak Tuan Winata tetapi tak sedikitpun Bintang menoleh.
Mentari yang sedang menuruni tangga ingin membantu Bik Jum di dapur mendadak langkahnya terhenti mendengar pembicaraan ayah dan anak itu. Saat mendengar pernyataan Bintang Mentari menjadi kecewa.
"Ternyata Mas Bintang menikahi diriku hanya demi jabatan. Terus kasih sayang yang dia berikan padaku selama ini apakah hanya kepalsuan semata?" batin Mentari.
Mentari mengusap air matanya yang tidak sengaja menetes. Dia berbalik dan kembali menapaki tangga. Keinginan untuk membantu Bik Jum ia urungkan karena mood-nya sedang buruk.
"Nak Mentari!" teriak Tuan Winata. Setelah menoleh ternyata
Tuan Winata melihat Mentari yang tampak mengusap air mata. Tuan Winata menebak pasti Mentari sudah mendengar semuanya.
Mentari menghentikan langkahnya dan Tuan Winata berlari ke atas tangga.
"Kamu tidak apa-apa?"
"Mentari tidak apa-apa Pa." Wanita itu masih berbohong.
"Kau tahu semuanya?"
Mentari mengangguk. "Iya Pa."
__ADS_1
"Apa yang kau rasakan sekarang?"
"Mentari kecewa Pa, kalau tahu begini Mentari tidak akan pernah menerima tawaran papa dan menandatangani perjanjian itu. Lebih baik Mentari hidup seperti dulu saja." Mentari tidak ingin munafik.
"Mentari sadar Mentari lebih cocok menjadi pembantu di tempat ini daripada harus menjadi menantu papa."
"Maafkan papa Nak tapi saya benar-benar berharap kamu yang akan menjadi menantu Papa."
"Tapi Pa Mas Bintang sangat mencintai Katrina dan cintanya pada Mentari mungkin hanya kepalsuan semata."
"Kamu istrinya Nak, kamu yang harusnya dicintai oleh Bintang bukan wanita itu. Berjuanglah Nak untuk mendapatkan hakmu itu."
"Tapi Pa Katrina juga istrinya dan Mas Bintang lebih mengutamakan dia. Itu artinya dia tidak mencintai Mentari."
"Apa kamu bilang Nak? Bintang menikah dengan Katrina?" Tentu saja Tuan Winata kaget mendengar berita tersebut.
"Iya Pa bahkan mereka menikah sebelum pernikahan kami."
Tuan Winata terlihat syok.
Pantas saja aku melihat Bintang membawa wanita itu ke apartemen.
"Bersabarlah Nak aku akan membantumu agar melepaskan wanita itu dari tangan Bintang dan putraku akan seutuhnya menjadi milikmu."
"Bagaimana kalau Mentari menyerah Pa? Mentari minta maaf tidak bisa bertahan dengan Mas Bintang. Mentari juga minta maaf telah mengingkari perjanjian dengan Papa waktu itu. Kalau Papa tidak terima dan ingin menuntut, Mentari pasrah Pa, Mentari akan menerimanya. Namun, Mentari mohon bebaskan Mentari untuk mencari kebahagiaanku sendiri. Mentari berjanji akan mengembalikan segala harta Papa yg telah dihabiskan keluarga kami meski tidak akan bisa dengan cepat,
Mentari benar-benar berjanji akan mencari pekerjaan dan membayar semuanya. Mentari mohon ya Pa!" Akhirnya Mentari mengeluarkan keluh kesahnya. Dia tidak mau berhadapan lagi dengan Katrina yang kapan saja bisa menggila. Dia tidak ingin nyawanya akan terancam.
"Papa minta bertahanlah. Papa tidak mau si Katrina menguasai Bintang. Demi Tuhan aku tidak sudi Bintang bersama perempuan itu seumur hidupnya."
"Seharusnya Papa sadar, cinta sejati Mas Bintang adalah Katrina bukan Mentari. Mentari hanyalah pilihan Papa bukan pilihan hatinya."
"Tidak Nak, kumohon bertahanlah. Aku akan bicara lagi pada Bintang agar ia melepaskan wanita itu dan menjadikanmu istri satu-satunya."
"Kenapa Papa begitu membencinya? Bukankah Papa tahu sendiri mereka sudah lama menjalin hubungan? Perasaan mereka sudah menyatu dan kuat sekali Pa jadi tidak mungkin terpisahkan satu sama lain. Bukankah Papa sudah mencoba memasukkan Mentari dalam kehidupan Bintang dan Katrina tetapi mereka masih saja bersatu. Lagipula diantara mereka sudah ada anak. Bagaimanapun putra Katrina adalah cucu Papa."
"Apa Katrina hamil?" Tuan Winata semakin syok saja.
"Iya Pa bukankah papa memang menginginkan seorang cucu? Katrina bisa mengabulkan keinginan papa itu dan Mentari tidak." Mentari menunduk dan Tuan Winata tiba-tiba terdiam.
"Bagus kalau kau sadar diri. Memang seharusnya kamu melepaskan Bintang agar dia bisa bahagia bersama Katrina. Apalagi sebentar lagi mereka akan memiliki putra. Jadi sudah dipastikan Bintang tidak akan memperdulikanmu lagi." Suara Arumi memecah keheningan diantara keduanya.
Tuan Winata dan Mentari menoleh ke asal suara. Terlihat Arumi melukis senyum manis di bibirnya.
"Tidak aku tidak percaya kalau itu cucuku. Aku tidak percaya kalau itu adalah putra Bintang." Tuan Winata berkata begitu yakin.
"Papa!" seru Arumi. "Sampai kapan papa bisa mempercayai Katrina? Kasihan Pa dia itu sedang hamil cucu papa dan dia juga menantu papa."
"Tidak sampai kapanpun aku tidak akan pernah menganggap dia sebagai menantuku." Arumi hanya menggeleng pada keras kepala suaminya.
"Dan kamu Mentari beri Bintang kesempatan. Beri papa juga kesempatan untuk merubah sikap putra papa itu. Kalau masih belum berubah juga maka papa akan membebaskan dirimu untuk menentukan pilihan. Bertahan atau berpisah terserah dirimu."
__ADS_1
Bersambung....