HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 267. Asal Kamu Ikhlas


__ADS_3

"Menurutmu lebih bagus diletakkan dimana?" tanya Bintang saat mereka berdua sampai di kamar Izzam.


"Bagaimana kalau di sana biar Izzam bisa terus mengingat seperti apa wajah ayahnya." Mentari menunjuk dinding yang berada tepat di ujung ranjang putranya.


"Ide yang bagus," ucap Bintang tersenyum senang.


"Kau tidak marah 'kan, Mas?" tanya Mentari sambil menatap ragu wajah Bintang. Mentari hanya tidak ingin membuat Bintang tersinggung sebab dengan berkata seperti tadi seolah mengingatkan pada Bintang bahwa ustadz Alzam adalah ayah Izzam.


"Ngapain marah? Bagaimanapun dia adalah ayah kandung Izzam meskipun anak itu sekarang dekat denganku."


Mentari mengangguk dan Bintang langsung naik ke atas kasur Izzam untuk memasang bingkai foto pernikahan Mentari dan ustadz Alzam.


"Eh nggak ada palu ya!" Bintang bingung saat mau menempelkan bingkai itu ke dinding.


"Biar aku ambilkan dulu." Mentari berlari keluar dan menemui pembantunya kemudian kembali lagi dengan paku dan palu di tangannya.


"Ini Mas!" Mentari mengulurkan benda itu ke atas dan Bintang lalu menerimanya.


"Bagaimana posisinya, pas atau ada yang miring?"


"Kayaknya sudah pas. Rapi sudah Mas."


"Oke." Bintang turun dari ranjang lalu menepuk tangannya.


"Kita kembali ke kamar yuk!" Bintang menggenggam tangan Mentari. Mentari hanya bisa melirik ke arah tangan mereka dan pasrah meskipun dirinya merasa masih sangat canggung.


Wanita itu mengangguk dan membiarkan Bintang mengandeng tangannya hingga ke kamar.


"Benar-benar sudah terlelap dia." Bintang menunjuk Izzam dengan dagunya.


"Mungkin capek kali Mas ngikutin orang dewasa ke sana kemari bareng Gaffi. Mereka berdua seharian ini benar-benar lincah."


"Lucu ya mereka, tapi kayaknya di rumah ini belum lengkap deh kalau belum ada anak cewek," ucap Bintang sambil tersenyum sumringah membayangkan dirinya punya anak perempuan yang cantik seperti Mentari. Wajah bulat dengan lesung pipit di kedua pipinya menambah kesan manis dan semakin tidak bosan dipandang.


"Kalau ada tambah ramai nih rumah," lanjutnya.


"Mungkin anak kedua dari Mas Gala sama Sarah nanti cewek," ujar Mentari menebak-nebak.


"Memangnya Sarah hamil lagi?" tanya Bintang kaget. Kalau iya dia akan memarahi Gala karena teledor padahal Gaffi masih berumur satu tahun dan belum berhenti meminum ASI sedangkan Sarah menginginkan putranya meminum ASI sampai 2 tahun. Bagi Sarah dirinya merasa berhutang jika tidak genap 2 tahun sudah menyapih putranya.


"Tidak."


"Oh tak kirain isi lagi."


"Mas Bintang suka anak perempuan?" tanya Mentari basa-basi untuk menyingkirkan kecanggungan diantara keduanya. Sebenarnya hanya Mentari yang merasa canggung sedangkan Bintang sendiri terlihat biasa saja.


Bintang mengangguk.


"Ya kalau boleh meminta sama Tuhan aku ingin anak sulung cewek."

__ADS_1


"Kok aneh ya?" Mentari menggaruk kepalanya.


"Kenapa aneh?" tanya Bintang heran dengan pemikiran Mentari. Bukankah menginginkan anak pertama laki-laki ataupun perempuan itu wajar saja?"


"Biasanya orang-orang yang punya perusahaan besar ingin anak laki-laki agar kelak bisa menggantikan ayahnya. Kok Mas Bintang malah ingin anak cewek?"


"Siapa bilang wanita tidak bisa memimpin perusahaan? Aku rasa keren jika yang memimpin perusahaan perempuan. Lagipula aku suka kalau anak cewek bajunya lucu-lucu. Rambutnya juga bisa diikat macam-macam. Apalagi kalau cowok aku masih takut kalau Izzam nanti membandingkan perhatianku pada dirinya dengan adiknya. Ah sudahlah kau tidur saja, ini sudah larut malam."


Mentari melirik jam dinding yang sudah menunjukkan hampir pukul dua belas malam.


"Pantas saja suara-suara dari bawah sudah tidak terdengar tenyata sudah malam sekali."


Ya suara dari semua keluarga yang tadinya berisik di lantai bawah sekarang sudah senyap.


"Iya ternyata waktu begitu cepat berlalu ya Me, padahal tadi masih jam sembilan dan sekarang malah sudah hampir jam dua belas malam."


"Iya Mas," ujar Mentari sambil membaringkan tubuhnya di samping Izzam lalu memejamkan mata.


"Me!" panggil Bintang.


"Iya Mas?"


"Kau tidur dengan memakai kerudung? Aku sudah boleh 'kan melihat rambutmu?" Entah mengapa Bintang begitu rindu dengan rambut Mentari yang selama ini selalu tertutup rapat di hadapannya.


"Ah iya aku lupa melepaskannya," ujar Mentari lalu membuka kerudung dan kembali memejamkan mata sambil mendekap erat tubuh putranya.


Bintang menatap Mentari sambil tersenyum bangga. Dia sangat bahagia, apa yang dulu menjadi miliknya kini sudah kembali.


Setelah berdoa pada Tuhan, Bintang lalu memiringkan tubuhnya dan ikut memeluk Izzam yang posisinya berada di tengah-tengah mereka berdua.


Saat kedua orang tuanya tertidur Izzam malah membuka mata karena merasakan berat di bagian pinggangnya. Rasanya anak itu ingin segera menyingkir beban dari tubuhnya.


Namun, saat melihat tangan Bintang dan tangan Mentari sama-sama melingkar di pinggangnya, Izzam malah tersenyum dan membiarkan tangan keduanya tetap memeluk dan berada di tempatnya.


"Ummi! Papi!"


Izzam menyatukan tangan keduanya dan tangannya sendiri di taruh di atas tangan kedua orang tuanya. Setelahnya Izzam memejamkan matanya kembali.


Mereka bertiga pun terlelap bersama.


"Jam setengah tiga dini hari Bintang terbangun sebab merasa ada yang mengganjal di hati, seperti tidurnya terasa tidak pulas.


"Aku kenapa sih?" Pria itu langsung duduk dan termenung.


"Astaghfirullah haladzim aku belum shalat Isya'." Buru-buru Bintang masuk ke dalam kamar mandi. Membersihkan tubuh kemudian mengambil wudhu dan mengambil baju serta sarung dari dalam koper kemudian shalat Isya'.


Selesai shalat ia lanjutkan dengan sholat tahajjud disambung mengaji sambil menunggu waktu subuh tiba. Bintang khawatir jika tidur lagi salat subuh nya akan terbengkalai.


Saat sedang fokus-fokusnya mengaji tanpa terkontrol suara Bintang semakin nyaring dan hal itu langsung membangunkan Mentari.

__ADS_1


"Mas suaramu–"


"Shadaqallahul adzim." Bintang menutup Al-Qur'an nya, mencium lalu meletakkan ke tempatnya semula.


"Mengganggu tidurmu?" tanya Bintang dengan raut wajah bersalah.


"Eh tidak hanya ... ah lupakan saja. Kenapa kamu tidak membangunkan diriku tadi?"


"Aku tahu kamu pasti capek menghadapi pesta pernikahan kita seharian ini. Jadi aku memutuskan untuk membangunkan dirimu saat subuh nanti," jelas Bintang.


"Ah curang Mas Bintang mau masuk surga sendiri," ujar Mentari cemberut.


"Kau tahu nggak Me, saat kau cemberut seperti itu kau terlihat lebih cantik."


"Gombal banget sih. Darimana cantiknya coba? Aku merasa biasa saja."


"Mungkin kau merasa seperti itu, tapi kau akan terlihat cantik di mata orang yang mencintaimu."


Sontak perkataan Bintang membuat hati Mentari meleleh.


"Sudah ambil wudhu' sana kalau mau tahajud juga! Nanti aku sholat lagi dan kita berjamaah."


Mentari mengangguk dan turun dari ranjang. Namun, saat melewati Bintang kakinya terjerembap hingga jatuh dan mengenai tubuh Bintang.


Bintang yang mencoba menangkis tubuh Mentari ikut oleng dan akhirnya tubuh mereka seperti posisi orang berpelukan.


"Aku harus mengambil wudhu' secepatnya Mas." Mentari mencoba bangkit tetapi ditahan oleh Bintang.


"Kenapa terburu-buru?" Entah mengapa saat ini Bintang begitu tergoda dengan Mentari hingga pria itu langsung menyambar bibir istrinya.


"Ma ...s ?" Mentari ingin protes, Namun Bintang menaruh telunjuknya di bibir Mentari sehingga membuat wanita itu tidak meneruskan protesnya.


"Bolehkah aku meminta hakku malam ini?" tanya Bintang dengan tatapan sayu. Sepertinya komitmen yang dibangun kalah dengan nafsunya sendiri.


"Bu ... kan ... kah ... Mas Bintang ingin menunggu sampai aku bisa mencintai Mas Bintang lagi?" tanya Mentari tak percaya dengan ucapan Bintang saat ini.


"Saya pikir tidak perlu menunggu itu asalkan kau ikhlas saja."


Mentari menghembus nafas panjang lalu menatap wajah Bintang.


"Bagaimana Me?" tanya Bintang tampak memelas membuat Mentari tidak tega untuk menolaknya.


Mentari memejamkan mata lalu mengangguk.


"Bukankah dosa jika aku menolak Mas Bintang?"


"Jadi?" tanya Bintang memastikan.


"Lakukan apa yang ingin dilakukan Mas Bintang terhadapku."

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2