HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 130. Hari Pernikahan 2


__ADS_3

Setelah pembacaan do'a selesai kedua mempelai diminta untuk memasangkan cincin kawin di jari pasangannya masing-masing.


Mentari tampak kaget dan langsung menatap jari manisnya. Takut-takut cincin pemberian Bintang masih melingkar di sana. Dia tidak mau ustadz Alzam menjadi tersinggung dan sedih kalau sampai melihat itu.


"Alhamdulillah," ucap Mentari lega saat melihat cincin itu tidak ada di sana. Entah kapan dia melepasnya, dia sama sekali tidak mengingat karena memang sudah tidak pernah lagi memperdulikan keberadaan cincin tersebut.


Ustadz Alzam mengernyit melihat kekhawatiran di wajah Mentari. "Kenapa?" tanyanya.


"Nggak apa-apa. Mentari cuma bersyukur saja bisa mendapatkan suami sebaik ustadz."


Ustadz Alzam mengangguk dan tersenyum meski jawaban Mentari tidak bisa membuatnya puas.


"Biarlah aku tanyakan saja nanti," ucap ustadz Alzam dalam hati. Pria itupun meraih tangan Mentari dengan gerakan lembut dan memasangkan cincin tersebut di jari manis istrinya. Setelahnya ia mengecup jari tersebut dan beralih ke kening Mentari.


Melihat itu semua membuat Reni dan Mega heboh. Mereka berdua berteriak dan bersorak-sorai membuat semua tamu undangan menoleh pada mereka sedangkan Gala sibuk memotret momen saat ustadz Alzam mengecup tangan dan kening Mentari.


Padahal sudah ada fotografer yang mengambil gambar mereka dan bahkan semua gambar tamu undangan. Pengambilan video pun sudah ada yang melakukan, tetapi mengapa Gala harus repot-repot mengambil sendiri. Mungkin dia hanya iseng saja.


"Jangan memalukan, ini bukan pertunjukan!" protes Nanik dengan memelototkan mata.


"Sorry," ucap Mega lalu menunduk.


Sekarang giliran Mentari yang menyematkan cincin di jari manis suaminya. Dengan malu-malu Mentari juga mencium tangan ustadz Alzam.


Setelah selesai dengan cincin, mereka kini beralih melakukan sungkeman pada kedua orang tua mereka masing-masing secara bergiliran.


Ustadz Alzam bersimpuh di depan Tama dan menyampaikan ungkapan perasaannya. "Terima kasih telah mengizinkan kami untuk menikah hari ini. Terima kasih telah memberikan restu kepada kami. Do'akan kami menjadi keluarga yang sakinah mawaddah warahmah ya Pa."


"Pasti papa akan mendoakan yang terbaik untuk kalian berdua. Semoga kebahagiaan senantiasa dilimpahkan kepada rumah tangga kalian ya Nak," ucap Tama sambil mengelus rambut Mentari yang tertutup hijab dan mengusap punggung ustadz Alzam saat Mentari dan ustadz Alzam menyalami tangannya.


"Terima kasih Pa," ucap Mentari.


"Amin," ucap ustadz Alzam.


Setelah menyalami tangan Tama mereka kini beralih kepada Gala.


"Semoga bahagia selalu dan diberikan keturunan sholeh sholeha ya buat kalian."


"Terima kasih Pak Gala, eh Mas Gala," ucap Mentari lalu tersenyum malu karena dirinya salah memanggil Gala. Gala hanya tersenyum sambil mengacak jilbab Mentari.


"Amin dan terima kasih," ucap ustadz Alzam.


"Mas rusak nanti," protes Mentari sambil membenahi jilbabnya.


"Biarin kan udah selesai akadnya," jawab Gala enteng.

__ADS_1


"Kan yang lainnnya belum, belum foto-foto dengan keluarga dan juga menyalami para tamu. Bisa ditertawakan nanti kalau penampilanku kacau." Mentari tampak cemberut.


"Ish, gitu aja report kan ada MUA apa gunanya mereka kalau tidak diberikan pekerjaan?"


"Ih, mentang-mentang banyak uang, sok berkuasa," protes Mentari lagi, tidak suka Gala menambah-nambahkan tugas untuk orang-orang kecil.


"Sudah sana ke mertuamu jangan berdebat saja," bisik Tama di telinga Mentari.


"Baik Pa," jawab Mentari sambil mengangguk.


"Ayo ustadz," ajak Mentari pada ustadz Alzam dan ustadz Alzam pun mengangguk dan mendekati kedua orang tuanya sendiri.


Gala terkekeh mendengar Mentari memanggil ustadz Alzam masih dengan panggilan ustadz. Benar-benar aneh adiknya itu.


Mereka menyalami ibu ustadz Alzam, perempuan itu tampak meneteskan air mata. Air mata haru dan bahagia karena akhirnya putranya menikah juga setelah beberapa kali menolak keinginannya untuk dijodohkan dengan beberapa ustadzah di tempat ustadz Alzam mengajar.


Ibu ustadz Alzam tidak berkata apa-apa, hanya tampak mengelus kepala anak dan menantunya. Beralih kepada sang ayah mereka mendapatkan wejangan darinya. Ustadz Alzam meski sebenarnya tidak suka kepada sang ayah karena telah meninggalkan ibunya demi perempuan lain tetap saja mengangguk dan berterima kasih karena memang yang disampaikan sang ayah adalah kebaikan.


"Sekarang sungkeman sama Sarah," ucap Sarah sambil terkekeh.


"Tidak perlu Me dia hanya adik, tidak perlu sungkeman sama dia," seru Gala membuat Sarah langsung melotot pada Gala.


Mentari tidak menggubris ucapan Gala. Dia tetap mendekat ke arah Sarah dan menyalami perempuan itu.


"Terima kasih ya Sarah sudah mendukung kami selama ini," ucap Mentari tulus.


"Cih." Gala hanya berdecih lalu bersikap cuek kembali.


"Semoga cepat nyusul ya," ucap ustadz Alzam sambil mengacak rambut adik manjanya itu.


"Terima kasih Kak."


Ustadz Alzam hanya mengangguk.


Hal yang terberat yang harus dilakukan Mentari sekarang adalah mendekati Tuan Winata dan Arumi. Tidak disalami atau dilewati begitu saja rasanya tidak nyaman mengingat sebenarnya mereka berdua adalah paman dan bibinya sendiri.


Mentari menoleh kepada ustadz Alzam seakan meminta persetujuan suaminya. Ustadz Alzam yang melihat keraguan di wajah Mentari mengangguk, menguatkan dan meyakinkan Mentari agar mendekati mantan mertuanya itu.


Mentari pun mengangguk dan mendekati keduanya kemudian bersimpuh di hadapan Tuan Winata.


"Maafkan Mentari ya Pa," ucap Mentari sambil menunduk.


"Tidak perlu meminta maaf Nak karena kamu tidak bersalah. Jika ada yang perlu disalahkan dalam pernikahanmu dengan Bintang itu adalah papa yang telah memaksa kalian untuk hidup bersama padahal kalian tidak berjodoh dan itu hanya membuatmu selalu mendapatkan kekecewaan. Maafkan papa yang telah memaksa dirimu masuk dalam kehidupan putraku padahal papa tahu putraku itu cinta buta pada Katrina," sesal Tuan Winata.


"Papa tidak salah kok ini sudah takdir Mentari," ucap Mentari masih dengan menunduk.

__ADS_1


"Maafkan Bintang ya Nak, dan papa minta meskipun kamu tidak berjodoh dengan Bintang tetaplah seperti dulu, jangan pernah menjauh dari papa karena seyogyanya meskipun dirimu bukanlah menantu papa lagi, tapi kamu adalah keponakan papa. Bagi papa keponakan itu sama dengan anak sendiri."


"Iya pa," jawab Mentari masih dengan wajah yang menunduk.


"Nak Alzam, bahagiakan Mentari selalu ya, berikan apa yang tidak bisa diberikan oleh putraku padanya dalam pernikahan mereka. Aku selalu merestui hubungan kalian." Tuan Winata menepuk-nepuk pundak ustadz Alzam.


"Insyaallah dan terima kasih atas restunya," ucap ustadz Alzam ramah.


Tuan Winata pun mengangguk.


"Ma, maafkan Mentari ya. Mentari telah membuat Mama Arumi selalu kesal." Sekarang Mentari bersimpuh di depan mantan mertua perempuannya.


"Mentari janji tidak akan mengganggu Mas Bintang lagi. Semoga dia kembali bahagia seperti saat Mentari belum hadir di sisinya."


Mendengar perkataan Mentari Arumi terenyuh. Bagaimanapun bencinya dia pada Mentari sebenarnya dia memiliki rasa simpati di dalam hati. Hanya saja rasa itu tertutupi dengan rasa cemburunya terhadap wajah Mentari yang terlihat mirip dengan Rosa. Masa lalu sang suami membuat dirinya terlalu naif untuk membuka diri menerima Mentari menjadi menantunya.


"Saya maafkan," ucap Arumi singkat.


Mentari menghela nafas lega, paling tidak Arumi sudah tidak membencinya lagi.


"Sudah sana naik ke pelaminan. Para tamu pastinya tidak sabar untuk menyalami kalian berdua!" perintah Tuan Winata.


Keduanya mengangguk dan bangkit berdiri. Setelahnya berjalan pelan sambil bergandengan tangan menuju pelaminan.


Seorang MUA ikut naik ke atas panggung dan membenahi riasan dan penampilan Mentari yang sedikit acak-acakan karena ulah Gala. Setelah selesai barulah para tamu dipersilahkan untuk naik ke atas memberikan ucapan selamat.


Setelah selesai mereka dipersilahkan untuk menyantap hidangan prasmanan yang sudah disajikan.


Tampak para keluarga dan teman-teman keduanya berfoto-foto bersama. Berbeda dengan Gala yang malah fokus mengambil foto antara Mentari dan ustad Alzam di atas pelaminan. Pria itu langsung mengirimkan kepada Bintang dan tersenyum senang.


"Rasain kamu, kami pikir adikku tidak laku apa kalau tidak menikah denganmu." Gala tersenyum mengejek lalu berubah tersenyum manis setelah terdengar ponselnya berbunyi pertanda fotonya sudah diterima Bintang.


Sedangkan di atas sana Tama memanggil-manggil nama Gala tetapi, pria itu tidak mendengarnya karena terlalu fokus dengan ponselnya.


"Pak Gala dipanggil tuh!" teriak Sarah. Melihat Gala masih belum merespon dan sepertinya tidak mendengar ucapannya, Sarah mendekat dan langsung mendekatkan mulutnya di telinga Gala.


"Pak Gala yang terhormat dipanggil Tuan Tama tuh di atas pelaminan." Niatnya mau berbisik, suaranya malah melengking membuat Gala langsung mengusap-usap telinganya.


"Kamu mau membuatku budeg ya," protes Gala.


"Cih belum dibuat budeg aja udah tuli duluan," ucap Sarah lalu tertawa renyah.


"Dasar, kakak dan adik beda banget kayak langit dan bumi. Untungnya yang nikahi Mentari saudaranya yang normal. Jangan-jangan kamu anak pungut lagi," ledek Gala lalu berlari dan naik ke atas pelaminan mendekati sang papa.


Sarah melotot mendengar Gala mengatakan dirinya tidak normal dan anak pungut.

__ADS_1


"Awas kamu ya."


Bersambung


__ADS_2