
"Temani aku tidur malam ini." Sontak bola mata Katrina seakan melompat dari tempatnya mendengar permintaan Arka.
"Tidak, aku tidak akan melakukannya lagi. Kalau Bintang tahu aku bisa dilempar olehnya."
"Tenang saja Bintang tidak akan tahu. Malam ini kamu lembur, bukan? Kau tinggal bilang saja padanya kalau kau belum pulang atau kau bisa berbohong dengan. mengatakan akan pulang ke rumah orang tuamu atau ke apartemenmu sendiri. Bukankah jarak keduanya lebih dekat ke sini dibandingkan ke apartemen Bintang?"
"Tidak, aku tidak akan melakukannya. Kau gila ya, aku sudah menjadi istri orang lain."
"Tidak ada bedanya kau masih kekasih Bintang atau sudah menjadi istri Bintang, bagiku kau tetap milikku. Kau tahu bayi di perutmu pasti akan merindukan ayah yang sebenarnya."
"Tidak, aku tidak akan mengulang kesalahan yang sama." Katrina menyetir mobilnya kembali menunju apartemen Bintang.
"Belok! Belok kukatakan!" perintah Arka, tetapi Katrina sama sekali tidak menggubris perkataan Arka.
Melihat Katrina yang tidak menurut, Arka berjalan ke depan dengan cara melompati sofa dan merebut setir.
"Arka, lepas! Kalau begini kita bisa mengalami kecelakaan!" seru Katrina.
"Biarin kalau kau tidak melepas setir aku tidak masalah kalau kita kecelakaan. Kita akan mati bersama."
"Gila kamu ya," geram Katrina.
"Sudah kubilang aku memang gila, gila karena kamu yang dengan teganya memilih Bintang dibandingkan aku," sentak Arka.
Mereka berdua terus memperebutkan setir hingga mobil tampak oleng di jalanan bahkan hampir menabrak truk yang bermuatan penuh.
"Baiklah kau yang menyetir saja," ucap Katrina pasrah. Dia tidak mau nyawanya melayang dengan sia-sia hanya karena berebut setir dengan Arka.
"Baiklah," ucap Arka dan langsung duduk di belakang setir menggantikan Katrina yang berusaha pindah posisi.
Katrina sudah duduk di samping Arka dan terlihat menekan dadanya yang serasa jantungan sedari tadi. Arka melirik Katrina yang memejamkan mata untuk menstabilkan emosi. Pria itu kemudian mencium wanita itu secara diam-diam lalu menyesap bibirnya membuat Katrina membuka mata dan melotot ke arah Arka.
Arka tidak perduli bahkan satu tangannya memegang setir dan satu tangannya meraba tubuh Katrina.
Melihat Katrina kini sudah menikmatinya Arka langsung melepas pegangan tangannya dan fokus menyetir.
"Tahan! Sebentar lagi kita sampai ke hotel," ucap Arka lalu semakin mengencangkan laju mobilnya.
Katrina mengangguk, pertahanannya sudah runtuh. Arka selalu bisa membuatnya ketagihan dengan sentuhannya.
__ADS_1
Katrina meraih ponsel dan mengirim chat lagi pada Bintang, mengabarkan dirinya tidak akan pulang ke apartemen dulu, tetapi menginap di rumah orang tuanya. Bintang yang membaca chat Katrina malah tersenyum senang. Itu tandanya malam ini tidak akan ada yang mengganggu dirinya dan Mentari.
Akhirnya Katrina melalui malam panas ini bersama Arka di dalam kamar hotel sedangkan Bintang malah memadu kasih dengan istri mudanya yaitu Mentari. (Impas kan ya?ðŸ¤)
Esok hari seperti biasa setelah membersihkan diri dari sisa-sisa percintaan semalam dengan Bintang, Mentari beranjak ke dapur untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami.
Saat Mentari sedang fokus menumis Bintang malah muncul dan merengkuh pinggang istrinya.
"Apaan sih Mas? Lepas! Kalau begini aku tidak bisa konsentrasi memasak," protes Mentari.
"Biarin dah Me abisnya aku masih kangen sama kamu." Bintang tidak mau melepaskan pelukannya.
"Apa semalam belum cukup?" tanya Mentari sambil menatap tajam mata Bintang.
"Belum. Aku mau lagi," sahut Bintang dengan suara yang dibuat manja.
"Mentang-mentang tidak ada Katrina," protes Mentari.
"Justru itu, mumpung dia lagi tidak ada jadi tidak akan ada yang menggangu kita," terang Bintang.
"Nggak, aku mau kerja. Jadi, jangan ganggu aku kalau kamu tidak mau kelaparan pagi ini," ancam Mentari.
"Nggak usah kerja dulu ya Me!" Bintang merengek seperti anak kecil.
"Nggak akan, dia kan teman kamu, pasti akan merasa tidak enak kalau harus memecat dirimu," sanggah Bintang.
"Mentang-mentang teman, mentang-mentang keluarga, haruskah seenaknya melanggar peraturan kerja?" protes Mentari membuat Bintang ingat saat dirinya bekerja dengan Gala, memanfaatkan kerabat hingga peraturan tidak boleh menikah sesama karyawan pun dilanggarnya dan malah meminta Gala untuk tidak mengeluarkan satupun diantara dirinya dan Katrina.
"Lagi pula kamu juga harus mencari pekerjaan lagi kan hari ini?" Mentari mengingatkan.
"Kalau telat semenit saja bisa kedahuluan orang lain," lanjut Mentari.
Bintang membenarkan ucapan Mentari. Sekarang waktu semenit pun harus dia hargai, kalau tidak maka kesempatan akan hilang begitu saja.
"Kalau begitu aku akan mandi dulu," ucap Bintang seraya pergi dari dapur untuk membersihkan diri. Dia baru ingat berkas-berkas yang harus dia bawa hari ini juga belum dia siapkan.
Satu jam berlalu kini Bintang dan Mentari sudah bersiap di meja makan dengan pakaian yang sama-sama sudah siap untuk bekerja. Sebab tak ada Katrina, Mentari yang melayani Bintang makan.
Setelah makan Bintang terlebih dahulu mengantarkan Mentari ke toko Sarah barulah sesudahnya dia berjuang kembali mencari pekerjaan.
__ADS_1
Sore hari Bintang menjemput Mentari dari toko Sarah sebelum pulang ke apartemen. Seharian Bintang memang tidak pulang ke rumah. Dia begitu gigih mencari pekerjaan bahkan siang hari dia tidak pulang ke apartemen dan hanya makan bekal yang telah dibuatkan Mentari tadi pagi.
"Bagaimana?" tanya Mentari.
"Cie yang sudah akur," goda Nanik dan Mentari hanya tersenyum menanggapi candaan sahabatnya.
"Bagus deh berarti nggak ada saingan lagi bagiku," ucap Mega.
"Saingan apa tuh maksudnya?" tanya Bintang.
Mentari mengangkat bahu. "Tidak tahu, jangan dengerin omongan dia, dia rada-rada ...."
"Mentari!" protes Mega tidak suka dengan perkataan yang akan diucapkan Mentari selanjutnya.
Mentari hanya mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya dan menunjukkan pada Mega.
"Bagaimana?" tanya ulang Mentari.
"Berhasil akhirnya aku dapat pekerjaan juga. Itu berkat doa kamu," ucap Bintang seraya mencubit hidung Mentari membuat wanita itu cemberut.
"Terima kasih ya."
Mentari mengangguk dan tersenyum. Dia ikut senang. "Wah Alhamdulillah dong kalau begitu."
"Iya Alhamdulillah banget. Cuma, jabatannya nggak tinggi hanya karyawan biasa," jujur Bintang.
"Nggak apa-apa Mas. Semua akan berproses nggak langsung ada di atas. Yang penting bekerja dengan giat, disiplin, dan jujur, insyaallah suatu hari nanti bisa naik jabatan," ucap Mentari.
"Amin," ucap Bintang.
"Ya sudah yuk ke mobil!" ajak Bintang.
Mentari mengangguk. Setelah pamit pada rekan-rekan kerjanya Mentari dan Bintang menuju mobil.
"Kita makan di restoran ya sekarang!" ajak Bintang dia merasa jarang mengajak Mentari makan di tempat seperti itu.
"Katanya mau berhemat," ucap Mentari mengingatkan.
"Tidak apa-apa sebagai perayaan aku diterima kerja," ucap Bintang.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu." Mentari menyambut ajakan Bintang dengan senang.
Bersambung.