HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 251. Muhammad Almair Gaffi Pradiatama


__ADS_3

"Kau–"


"Hei ngapain rame-rame di sana?" Belum selesai Bintang melayangkan protes pada Mentari, Tama menyapa semua orang.


"Papa?"


"Paman?"


"Assalamualaikum semuanya," sapa Sarah dibalik punggung Gala yang berada di samping Tama. Bayi kecilnya berada dalam gendongan sang ibu.


"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang serentak.


"Dek Arumi bagaimana?" tanya Tama memastikan apa yang ia mintai tolong sudah selesai.


"Beres Mas, saya mengerjakannya tadi bersama Mentari, tapi kalau Gala sama Sarah tidak suka bisa dirombak lagi."


"Tidak usah bibi, apapun hasilnya Sarah pasti suka. Terima kasih banyak atas bantuan kalian. Oh ya, sedang apa kalian di kamar Kak Mentari? Maaf sedikit kepo," ujar Sarah sambil tersenyum.


"Tidak ada apa-apa Nak Sarah, kami hanya melihat Izzam saja setelah dari kamar bayimu, sekarang dia sudah tertidur pulas," jawab Arumi.


"Masih suka nangis dia Kak? Masih suka ditemani Bintang juga?"


Mentari tidak menjawab, tetapi Bintang yang mengangguk.


"Sudahlah kita ke kamar bayi Gala dulu," ajak Tama.


Semua orang pun mengangguk dan mengikuti langkah orang-orang yang baru datang ke kamar bayi.


"Sehat sekali kamu Sarah," ujar Mentari melihat Sarah berjalan seperti biasa, tidak seperti orang yang baru melahirkan yang biasanya berjalan pelan. Termasuk dirinya dahulu.


"Alhamdulillah Kak," sahut Sarah.


"Jangan ditaruh dulu bayinya!" Arumi meminta putra Gala dari tangan besan Tama sebelum diletakkan dalam box bayi dan ibu Sarah itu langsung memberikan cucunya untuk digendong oleh Arumi.


"Duh gantengnya ya Ma, kapan kita punya cucu sendiri?" tanya Tuan Winata sambil mengusap-usap pipi bayi dengan jari telunjuknya.


"Jangan tanya mama Pa, tanya saja Bintang," sahut Arumi membuat semua orang langsung menatap Bintang dan pria itu hanya terlihat menelan ludah.


"Sudah dapat jodoh Bin?" tanya Gala menggoda sang adik sepupu.


"Belum," jawab Bintang malas.


"Nggak ada semangat cari jodoh jangan-jangan kamu udah nggak laki-laki ya," bisik Gala di telinga Bintang.


"Kalau kamu meragukanku kasih saja adikmu sebagai tumbal," balas Bintang dengan berbisik pula membuat Gala sekarang yang terlihat menelan ludah.


"Taruh aja dulu Ma, biar nggak biasa minta digendong nanti," saran Tuan Winata. Pria itu teringat saat Izzam kecil yang keseringan digendong saat sudah tertidur, jadi saat diletakkan di atas ranjang malah bangun lagi karena ingin tertidur dalam gendongan.


"Lagian tuh anak sudah tidur juga," lanjutnya.


"Sebentar Pa, mama masih gemas," ujar Arumi sambil menimang-nimang putra Gala dalam gendongannya.


"Oh ya siapa namanya?" tanya Arumi sambil memandang lekat wajah bayi itu.


Sarah dan Gala hanya saling tatap, keduanya bingung sebab belum menyiapkan nama untuk putranya.

__ADS_1


"Siapa Sayang?" tanya Gala pada Sarah.


"Kan janjinya Mas Gala yang kasih nama kalau bayinya cowok. Kalau cewek baru Sarah yang ngasih nama."


"Memang kalian tidak tahu ya sebelumnya, jenis kelamin bayinya apa?" protes Mentari. Kalau sudah dilakukan USG seharusnya Gala sudah bersiap-siap untuk menyiapkan nama.


"Nggak," jawab keduanya serentak lalu tertawa.


"Aneh kalian," ucap Mentari.


"Sengaja Kak biar kejutan," sahut Sarah.


"Oma taruh dulu ya, lain kali oma gendong lagi kalau ke sini," ujar Arumi sambil menaruh bayi dalam gendongan ke dalam box bayi.


"Bagaimana kalau kita namai dia Almair?" tanya Gala tiba-tiba.


"Artinya?" tanya Sarah memastikan Gala tidak sembarangan memberikan nama untuk putranya sebab pria itu terkadang suka iseng.


"Putra dari Elmeira, putra Sarah Elmeira," jawab Gala lalu cekikikan membuat Sarah langsung menatap tajam Gala.


"Kasih nama itu yang benar Gala, jangan main-main!" protes Tama.


"Almair itu artinya pangeran Pa," ucap Gala kemudian membuat Tama langsung mengangguk.


"Pangeran? Memang kamu raja dari kerajaan mana?" Bintang tertawa renyah.


"Kalau belum punya anak nggak usah protes, mana mengerti dengan begituan. Maksudnya pangeran kami, iya nggak Sayang?" Gala memandang Sarah sambil mengedipkan sebelah matanya dan Sarah hanya mengangguk.


"Dih mentang-mentang–" Bintang tidak melanjutkannya kalimatnya, dia sedang malas hari ini karena Mentari meminta mamanya untuk mencarikan dirinya jodoh.


"Tidak Paman." Gala tampak berpikir sejenak.


"Bagaimana kalau Almair Gaffi Pradiatama?"


"Boleh juga," ujar Sarah langsung setuju.


"Oke kalau begitu setuju ya Sarah?"


Sarah mengangguk. "Tapi bagaimana kalau depannya kita tambahi Muhammad, Mas?" usul Sarah.


"Boleh juga," ujar Gala.


"Jadi nama panjangnya Muhammad Almair Gaffi Pradiatama?"


"Ya," jawab Sarah.


"Wow keren, panggilannya apa Mas?" tanya Mentari.


"Gaffi aja deh biar mirip sama aku," sahut Gala lalu terkekeh.


"Artinya?" tanya Mentari lagi.


"Berhati lembut," ujar Gala.


"Sama kayak papanya, juga berhati lembut," lanjut Gala kemudian kembali tertawa. Hari ini Gala benar-benar bahagia dengan kehadiran buah hatinya. Bawaannya hanya ingin tersenyum dan tertawa saja.

__ADS_1


"Cih sok," cibir Bintang. Kita pulang aja yuk Ma," ajak Bintang pada Arumi.


"Lah baru juga kita sampai di rumah kalian sudah mau pulang," protes Gala.


"Lagi sibuk, kerjaan menumpuk," ucap Bintang ketus.


"Yasudah kamu kembali saja duluan Bin kalau mau ke kantor," suruh Tuan Winata.


"Ya kami masih mau di sini," imbuh Arumi.


"Baiklah kalau begitu saya permisi semuanya," pamit Bintang lalu keluar dari kamar Gaffi.


"Kenapa dia Bi? Sepertinya hari ini lagi tidak bersemangat."


"Lagi badmood dia," jawab Arumi.


"Karena?" tanya Gala lagi.


"Karena–" Arumi melirik Mentari dan Mentari yang mengerti langsung pamit.


"Saya ke kamar dulu ya semuanya, takut Izzam terbangun," ucap Mentari lalu undur dari hadapan semua orang.


***


Mas ini sudah 5 hari loh dari kelahiran putra kita. Kenapa Mas Gala masih terlihat santai-santai saja?" Protes Sarah karena melihat Gala masih saja fokus bermain-main terus dengan putranya tanpa terdengar ada rencana untuk melakukan syukuran atas kelahiran putranya itu.


"Terus aku harus bagaimana? Harus tegang begitu kalau tidak boleh santai? Bayi kita kalem sayang, jarang nangis kayak Izzam. Jadi untuk apa harus heboh?"


"Bukan itu maksudku Mas, acara aqiqahan putra kita bagaimana?Haruskah terlewatkan begitu saja? Tinggal 2 hari loh Mas, waktunya mepet. Sepertinya Mas Gala melupakan acara penting itu."


"Oh kalau itu yang kamu maksud, saya tidak lupa kok Sayang. Kamu tenang saja. Nanti sore saya akan mendatangi jasa aqiqah biar kita tinggal terima beres saja," ujar Gala.


"Ckk." Sarah hanya terdengar berdecak saja.


"Kamu tidak setuju?" tanya Gala melihat ekspresi Sarah terlihat tidak suka.


"Aku mau kelola sendiri, aku mau Mas Gala yang memilihkan kambingnya sendiri. Kalau perlu Mas Gala datangi peternakannya langsung. Carikan yang gemuk dan sehat dan yang penting juga umurnya memenuhi syarat."


"Aku harus ke peternakan langsung? Apa kamu sengaja ingin mengerjai ku seperti saat kamu hamil?" Gala merasa perlu curiga dengan permohonan Sarah.


"Ih nggak lah Mas, aku ingin semuanya berjalan sesuai dengan ekspektasiku. Nanti jangan hanya mengundang tetangga saja ya Mas! Sarah juga ingin mengundang anak-anak panti asuhan dan santri-santri di tempat Kak Alzam mengajar dulu. Selain melaksanakan aqiqah Sarah juga ingin menyambung tali silaturahmi," jelas Sarah panjang lebar.


Gala tampak manggut-manggut saja.


"Bagaimana setuju tidak?" tanya Sarah memastikan karena Gala tidak menjawab dengan kalimat.


"Boleh juga, tapi sepertinya kita tidak cukup hanya menyembelih 2 ekor kambing deh kalau yang diundang banyak orang."


"5 ekor cukup mungkin," ucap Sarah.


"Hmm, kayaknya 2 ekor kambing ditambah sapi deh. Kita syukuran besar-besaran sekalian biar puas mengundang banyak orang karena dia nih anak pertama kita," usul Gala sambil membelai pipi putranya yang tampak imut di mata Gala.


"Boleh Mas, saya setuju."


"Ya sudah, mulai sekarang saya akan menghubungi orang-orang yang bisa membantu kita," ujar Gala dan Sarah mengangguk setuju.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2