
"Bagaimana Me, kali ini berhasilkah?" tanya Reni pada Mentari yang berjalan mendekat ke arahnya. Mentari hanya mengangguk lemah.
"Kamu mengangguk, itu artinya iya apa tidak sih, kok nggak semangat gitu?" tanya Reni yang masih merasa ambigu dengan anggukan Mentari.
"Mana ada mengangguk itu artinya tidak?" Seorang kuli pria melayangkan protes kepada Reni sambil terkekeh. "Aneh kamu," lanjutnya.
"Iya, habisnya dia mengangguk tapi kayak sedih gitu," ucap Reni bingung.
"Iya Ren kami sudah resmi bercerai secara agama. Dia bahkan melayangkan talak tiga sekaligus," ungkap Mentari.
"Wah bagus dong." Reni terlihat sumringah sedangkan kuli pria tadi hanya terlihat menggeleng kemudian berlalu pergi. Mau ikut nimbrung dia tidak begitu paham dengan masalah Mentari.
Mentari mengangguk. "Ya memang bagus sih bahkan surat perjanjianku dengan papa Mas Bintang pun sudah tidak akan berlaku lagi karena di dalam kertas itu tertulis jika Mas Bintang yang menceraikan aku terlebih dahulu maka segala tuntutan di dalamnya gugur sudah."
"Waw berarti setali dua uang dong. Kau bisa bebas dari suami yang tidak bertanggung jawab sekaligus bisa terbebas dari hutang," ucap Reni ikut bahagia. Memang Reni hanya kenal dengan Mentari sebentar. Namun, ketika mendengar cerita Mentari, Reni menyimpulkan bahwa laki-laki seperti Bintang memang harus dibuang.
Mentari mengangguk sambil tersenyum.
"Pahit banget sih senyumnya atau jangan-jangan kamu masih mencintainya ya?" Reni menatap Mentari curiga.
"Nggaklah Ren aku bahagia kok, tapi masih ada yang mengganjal di hatiku," ucap Mentari dengan wajah yang masih terlihat muram.
"Apa sih, cerita dong!"
Mentari mengangguk.
"Mas Bintang memang sudah menceraikan ku, tapi masalahnya dia tidak menceraikan ku secara baik-baik Ren." Mentari menatap ke luar toko dengan perasaan yang sulit diartikan.
"Kalau menurutku sih dengan cara baik kek, cara buruk kek, terserah, yang penting kamu sudah bebas dari belenggu pernikahan yang tidak sehat itu," ucap Reni acuh.
"Bukan begitu Ren, yang jadi masalah bukan perceraiannya sih tapi alasan dia mau menceraikan aku."
Reni tampak mengerutkan dahi. "Emang apaan alasannya?"
"Aku dituduh mendorong Katrina hingga bayi dalam gendongannya jatuh membentur lantai. Aku takut Ren, jika terjadi sesuatu pada bayi itu mereka pasti akan memasukkan aku ke dalam penjara. Aku lihat bayi itu parah hingga yang tadinya menangis langsung diam seketika dan kemudian tak sadarkan diri." Raut wajah Mentari berubah ketakutan mengingat bagaimana bayi tadi terjatuh dan beberapa saat langsung tak sadarkan diri. Tangannya bahkan terlihat gemetar saat ini.
"Apa memang benar kamu melakukan hal yang dituduhkan?" tanya Reni.
"Tidak Ren, Katrina hanya memfitnahku saja. Dia sendiri yang menjatuhkan bayinya dan malah menuduhku."
"Ya sudah ngapain kamu takut," ucap Reni lalu menggenggam tangan Mentari yang tampak gemetaran.
"Kalau tidak salah tidak perlu takut," imbuh Reni.
"Tapi bagaimana caranya aku membuktikan kalau aku tidak bersalah nantinya Ren?"
"Kan mantan suamimu bisa melihat rekaman cctv. Mungkin dia sekarang masih kaget dan lupa dengan hal itu. Namun, nanti setelah pikirannya sedikit tenang dia pasti akan melihat rekaman itu. Jadi tanpa kau tunjukkan bukti, nanti dia akan tahu dengan sendirinya. Kenapa kau malah ribet sih?"
"Di tempat itu tidak ada cctv."
__ADS_1
"Ya udah berarti dia juga nggak akan punya bukti kalau kamu yang mendorong. Yakinlah, kau tak akan pernah masuk penjara. Sekarang tenanglah dan berbahagialah," ucap Reni menyakinkan Mentari.
"Iya ya Ren aku kok nggak kepikiran ke situ ya. Mereka juga tidak punya bukti untuk menjeratku masuk ke dalam penjara karena memang bukan kesalahanku."
"Yup, benar. Ngapain dipikirkan? Hari ini hari kebebasanmu jadi berbahagialah selalu," ucap Reni lagi.
"Terima kasih ya Ren kau begitu baik padaku padahal tidak begitu mengenalku," ucap Mentari terharu.
"Jangan dipikirkan, kita sesama wanita pasti akan bisa merasakan perasaan wanita lainnya." Reni menepuk bahu Mentari.
"Terus madunya Mentari kan juga wanita kenapa tidak bisa merasakan apa yang Mentari rasakan sesama kaum hawa?" protes pak mandor.
"Bukan tidak merasakan Pak, tetapi hatinya sudah tertutup rasa egois bahkan sifat serakah."
"Kau benar Ren," ucap Mentari.
"Jadi siapa nih yang merasakan hari ini hari kebebasan?" tanya Pak mandor lagi. Pria itu memang tidak mendengar pembicaraan keduanya sedari awal.
"Kita semua Pak, rakyat Indonesia. Kan bulan Agustus." Reni tertawa lepas setelah menggoda pak mandor.
"Ah, kamu," protes pak mandor karena Reni malah bercanda.
"Mentari Pak, hari ini dia sudah bercerai dengan suaminya yang bego itu," beber Reni kemudian tertawa lagi.
"Awas jangan banyak ketawa, entar malah dihampiri kesusahan lagi," tegur pak mandor membuat Reni langsung menutup mulutnya dan berhenti tertawa.
"Ah, Bapak ada-ada saja. Doanya tidak bagus Pak, malah mendoakan Reni mengalami kesusahan," protes Reni.
"Wah ada yang berbahagia nih sekarang. Bolehlah traktirannya," goda yang lain.
"Alah kamu mah maunya gratisan terus, sendirinya malah tidak pernah mentraktir," protes teman yang lainnnya lagi.
"Ya sudah nanti siang aku yang traktir makan sebagai ungkapan rasa syukur atas kebahagiaanku," ucap Mentari sambil tersenyum.
"Alah nggak usah Me, ucapan dia mah nggak usah dianggap," ucap Reni pada Mentari.
"Tidak apa-apa Ren, sekali-kali. Lagian aku baru dapat rezeki. Lumayan dapat beberapa juta gitu."
"Waw memang kamu dapat undian?" tanya Reni penasaran.
"Nggak," jawab Mentari singkat.
"Terus dapat darimana dong, kan gajian kita masih lama."
"Ada deh dari pekerjaan sampingan yang sudah beberapa bulan tidak aku tarik. Sudah jangan tanyakan itu yang penting aku jamin uang itu uang halal," pungkas Mentari agar Reni tidak bertanya lebih dalam lagi.
Terlihat seorang pembeli masuk ke dalam toko dan di sambut ramah oleh pak mandor. Reni kembali ke tempat kasir dan sekarang sibuk menghitung uang dan semua karyawan atau kuli di tempat itu termasuk Mentari sudah kembali ke aktivitasnya di toko, mengangkut barang-barang yang dipesan pembeli. Hari ini sangat sibuk, banyak pembeli yang membeli barang bangunan di toko tersebut.
Mentari menyeka keringatnya setelah sampai pada jam istirahat siang. Semua kuli duduk beristirahat sambil berjaga-jaga mungkin saja masih ada pembeli yang mau memesan barang dari toko tersebut. Ada juga yang pulang ke rumah untuk membersihkan diri sekaligus beribadah. Tentu saja ini hanya dilakukan bagi mereka yang rumahnya dekat, bagi yang jauh mereka memilih mandi di toko dan beribadah secara bergiliran.
__ADS_1
"Ingat jangan makan di rumah ya Kang, nanti Mentari traktir," ucap Mentari mengingatkan pada dua orang yang sudah bersiap untuk pulang.
"Oke siap." Kedua orang itu menunjukkan jempol tangannya dan langsung naik ke sepeda motor kemudian meninggalkan tempat.
"Aku mandi duluan ya Ren, Kang, Pak," pamit Mentari pada Reni dan pak mandor.
"Iya, ayo giliran," sahut pak mandor.
Mentari pun mengambil pakaian ganti di dalam tas dan berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri kemudian melakukan shalat dhuhur.
Setelah selesai dia keluar dari toko dan mencari depot makanan. Dia memesan beberapa bungkus makanan untuk diberikan kepada teman-teman satu kerjanya.
"Maaf ya Pak, Ren, dan semuanya, Mentari cuma bisa traktir segini," ucap Mentari merasa tidak enak.
"Tidak apa-apa Mentari segini aja kita-kita sudah bersyukur. Jarang-jarang kita makan ikan ayam seperti ini, biasanya kita hanya makan pakai lauk tahu tempe saja," ucap salah seorang.
"Iya Mentari, bukan tidak sanggup sih cuma kita kan harus mikirin kebutuhan anak sama istri di rumah yang tentunya lebih penting daripada hanya sekedar makanan enak."
"Iya betul," timpal pak mandor.
"Doakan ya suatu saat Mentari bisa mentraktir kalian lebih dari ini. Syukur-syukur bisa traktir kalian sekeluarga," ucap Mentari.
"Amin," jawab semuanya serentak.
"Hanya bisa janji ya, nggak tahu kapan bisa terwujud," ucap Mentari pesimis. Dia ingat pernah berjanji pada Alya dan Pandu untuk membawa mereka ke kota dan berjalan-jalan ke mall apabila dirinya sukses ataupun banyak uang. Namun, nyatanya jangankan sukses dirinya malah hancur karena mendapatkan suami seperti Bintang.
"Insyaallah kalau ada niat pasti ada jalan dan setiap usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kalau gagal coba lagi," ucap Pak mandor.
"Terima kasih Pak semangatnya," ucap Mentari.
"Sama-sama."
"Kalau saya mendoakan supaya Neng Mentari mendapatkan jodoh yang kaya."
"Kau ada-ada saja Kang," ujar Mentari merasa lucu dengan perkataan temannya itu.
"Buat apa kaya kalau tidak setia dan bertanggung jawab?" protes Reni.
"Iya maksudnya yang paket komplit gitu. Kaya, setia, tanggung jawab dan penyayang, dan yang lebih penting lagi pria itu taqwa," ucap pria tadi.
"Amin," ucap Mentari kencang membuat semua orang menjadi tertawa. Mentari pun ikut tertawa. Baru kali ini dia bisa tertawa lepas tanpa beban.
"Sudah, kalau bicara terus kapan kita makannya?" protes pak mandor.
"Ya sudah Pak ayo pimpin langsung doanya," pinta Reni.
Mereka pun berdoa bersama sebelum akhirnya menyantap nasi bungkus masing-masing.
"Ya Allah hari ini aku bahagia. Semoga bisa menjadi awal yang baik bagiku untuk melanjutkan kehidupan yang lebih baik. Amin dan Alhamdulillah," ucap Mentari dalam hati.
__ADS_1
Bersambung.