
"Dasar Sarah!"
Gala menyandarkan dirinya pada kursi kemudi sambil menunggu Sarah. Bintang yang mobilnya berada di depan mobil Gala langsung melongo melalui kaca mobil dan berteriak, "Ada yang ketinggalan?"
Gala pun ikut melongo ke luar mobil dan menjawab, "Sarah masih mengambil sesuatu. Kau jalan duluan saja biar nanti kami menyusul."
Bintang mengangguk dan langsung menyetir mobilnya keluar dari pekarangan rumah Gala menuju rumah mertua Mentari lebih dulu.
"Sorry Pak, nunggu lama ya?" ujar Sarah sambil membuka pintu mobil dan menaruh keranjang berisi bunga di jok belakang.
"Bukan kelamaan, tapi kecepatan," protes Gala saat Sarah sudah duduk di sampingnya.
"Loh–" Sarah tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh Gala.
"Ada ya orang protes karena kecepatan. Sepertinya dia suka yang lelet-lelet," gumam Sarah lalu menggeleng tidak percaya.
"Sudah nggak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Gala untuk memastikan dirinya tidak akan kembali ke rumah setelah sampai di tengah perjalanan.
"Sudah," jawab Sarah singkat.
Gala pun mengangguk dan langsung menyetir mobilnya menyusul Bintang yang sudah keluar dari pekarangan rumah terlebih dahulu.
Beberapa saat kemudian sampailah mereka di kediaman ibu Sarah.
Bintang ternyata sudah memangku baby Izzam sambil mengajaknya bercanda.
"Mas Gala, Sarah, ayo masuk dulu! Saya bikinkan yang segar dulu," ujar Mentari.
Salah dan Gala mengangguk dan langsung bersalaman pada sang ibu kemudian bergabung bersama Bintang, duduk sambil ikut mengajak keponakannya berbicara.
"Ibu apa kabar?" tanya Gala berbasa-basi.
"Baik, kalian kapan akan menginap di sini?"
Sarah memandang Gala seakan meminta keputusan Gala.
"Nanti kalau kamu sudah hamil," ujar Gala asal.
Sarah langsung terbelalak tak percaya.
"Aamiin ibu doakan kalian segera punya momongan," ujar sang ibu.
Gala mengangguk sambil tersenyum sedangkan Sarah masih tidak percaya dengan ucapan Gala. Bagaimana kalau Sarah lama hamilnya?
"Kenapa memberengut?" tanya Gala melihat wajah Sarah yang nampak syok.
"Nggak apa cuma Sarah nggak setuju aja dengan ucapan Pak Gala. Bagaimana kalau Sarah tidak bisa hamil cepat, jadi Sarah nggak boleh nemenin ibu?"
__ADS_1
"Bolehlah siapa bilang. Kan ibu bisa menginap di rumahku," ujar Gala tanpa merasa bersalah.
"Hmm, terserahlah."
Mentari datang dengan jus jeruk di atas nampan.
"Hari yang cerah seperti sekarang ini cocoknya memang minum yang dingin-dingin," ujar Mentari sambil meletakkan gelas-gelas berisi minuman di atas meja.
Jumat pagi ini memang begitu cerah, bahkan masih pagi saja sinar matahari sudah terasa menyengat di kulit.
"Cocok ini," ujar Gala sambil meraih gelas di hadapannya.
"Ayo kita minum, setelahnya kita langsung ke makam agar tidak terlalu panas nantinya," saran Gala.
Semua orang pun meminum jus jeruk buatan Mentari tak terkecuali mertuanya sendiri.
Selesai minum-minum, Sarah dan Gala bergiliran masuk kamar mandi untuk mengambil wudhu terlebih dahulu. Setelahnya baru menyusul Bintang, kemudian Mentari.
"Yuk kita berangkat!" ajak Mentari melihat semua orang sudah siap.
"Izzam nggak usah dibawa biar sama nenek saja sebab cuaca di luar terasa panas," ujar mertua perempuan Mentari sambil meraih tubuh Izzam dalam gendongan Bintang. Namun, Izzam seakan tidak mau berpisah lagi dengan Bintang setelah beberapa hari pria itu tidak pernah menjenguknya lagi.
"Dia tidak mau. Biarlah Bu, sama saya saja dia," ujar Bintang sambil mengusap-usap punggung Izzam.
"Baiklah Nak, semoga saja anak itu tidak merepotkan."
Balita itu tidak menjawab, hanya tersenyum sambil berceloteh riang.
"Kita mau jalan kaki atau naik mobil saja?" tanya Gala mengingat jarak pemakaman dengan rumah orang tua Sarah tidak terlalu jauh.
"Naik mobil saja, kasihan soalnya sama dia," ujar Bintang sambil menunjuk Izzam dengan dagunya.
"Emang kamu bisa nyetir kalau Izzam menempel begitu?" protes Gala.
"Biar saya yang nyetir dan Pak Gala yang nyetirin mobil Bintang. Saya satu mobil dengan Kak Meme saja," usul Sarah.
"Boleh juga idenya," sahut Gala. "Ini kunci mobilnya," lanjutnya sambil menyerahkan kunci mobil ke tangan Sarah.
Sarah dan Mentari pun masuk ke dalam mobil Gala sedangkan Gala dan Bintang masuk ke dalam mobil Bintang dengan Gala yang mengambil kemudi.
"Kenapa dia terus menempel padamu sih?" Gala tidak habis pikir Izzam bisa terlalu dekat dengan Bintang padahal dengannya sendiri tidak sedekat itu.
"Mungkin dia takut saya bohongi lagi," jawab Bintang.
"Bohong?"
"Iya beberapa hari yang lalu sejak saya meninggalkan dia di rumahnya, saya kan berjanji untuk kembali menemuinya besok, tapi baru sekarang saya bisa menemuinya kembali. Mungkin dia takut saya pergi dan akan kembali dalam waktu yang lama lagi."
__ADS_1
"Oh." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Gala.
Tidak memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke pemakaman karena memang jarak dari rumah ustad Sarah ke pemakaman itu sendiri bisa dikatakan dekat.
"Sudah sampai!" seru Gala lalu memarkirkan mobilnya. Dia turun bersamaan dengan Bintang yang masih dengan posisi yang sama. Menggendong tubuh Izzam.
Di samping makam ustad Alzam sudah terlihat Sarah dan Mentari mengaji.
Kedua pria yang menyusulnya itu langsung turut mendekat. Gala pun ikut duduk berjongkok lalu membaca surat Yasin.
Bintang yang kerepotan dengan Izzam hanya memandang mereka dari belakang dan tidak ikut mengaji.
Selesai mengaji Sarah dan Mentari tampak mengobrol dengan makam ustaz Alzam sambil sesekali meneteskan air mata.
"Sarah!" seru Gala.
"Iya Pak?"
"Sudahlah bangun! Jangan sampai larut dalam kesedihan lagi. Kasihan ustadz Alzam kalau melihat adik dan istrinya meratapi kepergiannya terus-menerus."
Sarah mengangguk sambil mengusap air mata lalu bangkit dari duduknya dan berdiri di samping Gala. Dia mengambil kelopak bunga mawar lalu menaburkan di atas makam sang kakak.
"Ca, sudahlah! Ayo kita kembali!"
Mentari tidak mau menggubris perkataan Gala. Wanita itu semakin berbicara dengan terisak.
"Kak sudahlah!" Sarah mengulurkan tangannya ke arah Mentari agar wanita itu juga ikut berdiri. Namun, Mentari terus saja berbicara sambil menangis.
"Oh iya aku ke sini juga ada niat lain selain berziarah," gumam Sarah.
"Niat lain apa?" tanya Gala sambil menatap curiga ke arah Sarah.
"Kak Alzam saya ke sini ingin membayar hutang pada Kak Alzam," ujar Sarah pada kuburan ustadz Alzam.
"Hutang apa sih?" Gala tidak mengerti.
"Hutang janji," ujar Sarah lalu segera tengkurap di sebelah makam ustad Alzam.
"Sarah kamu apaan sih?" protes Gala.
"Dulu semasa Kak Alzam masih hidup saya pernah bersumpah kalau sampai menerima Pak Gala menjadi suamiku maka aku akan push up 100 kali," terang Sarah lalu mulai melakukan push up sambil berhitung.
Sontak perkataan Sarah itupun mengingatkan Gala akan sumpahnya juga. Pria itu menelan ludah.
"Aduh aku seribu kali," ujar Gala sambil menggaruk kepalanya.
Bersambung.
__ADS_1