
"Aku bawa dia jalan-jalan ya Me?" pamit Bintang pada Mentari.
"Iya Mas, hati-hati," ucap Mentari kemudian duduk di samping sang papa yang tampak duduk tenang di kursi.
"Iya, Bintang keluar dulu ya Paman?"
"Iya Bin."
Bintang pun membawa Izzam keluar dari area rumah sakit.
"Papa mau lihat cucu yang satunya lagi," ujar Tama sambil bangkit dari duduknya.
"Jangan dulu pa," cegah Mentari.
"Loh kenapa papa tidak boleh melihatnya?" heran Tama.
"Bukan tidak boleh Pa, tapi bayinya sedang di IMD. Jadi tunggu saja dulu sebentar."
"Oh begitu ya!" Tama pun duduk kembali.
Beberapa saat kemudian pintu tampak dibuka dan terlihat wajah Gala yang muncul dari balik pintu.
"Papa sudah bisa melihat bayinya?" tanya Tama dan Gala pun mengangguk.
"Bayi sudah diletakkan di dalam box bayi saat Tama masuk ke dalam ruangan.
"Bagaimana keadaanmu Nak Sarah?" tanya Tama pada Sarah yang masih terbaring ditutupi selimut pada bagian bawah tubuhnya.
"Alhamdulillah baik-baik saja Pa," sahut Sarah.
"Syukurlah kalau begitu," ujar Tama lalu melangkah ke arah box bayi.
"Bayinya laki-laki juga ya?"
"Iya Pa."
Tama berdiri mematung di depan box bayi sambil memandang ke arah bayinya membuat Sarah ketar-ketir saja.
"Jangan-jangan papa tidak suka karena bayiku juga laki-laki," batin Sarah.
"Kalau papa mau menggendong biar suster untuk mengambilkan dari dalam box bayi," ujar Sarah lagi.
Tama berbalik. "Tidak usah Sarah, papa tidak berani kalau menggendong bayi yang masih merah seperti ini," ucap Tama sambil tersenyum membuat hati Sarah sedikit lega.
"Syukurlah kupikir papa tidak suka."
"Biarkan papa melihatnya saja dari sini. Nanti papa akan menyewakan baby sister agar kalian berdua tidak kerepotan menjaga bayinya sebab papa tidak bisa membantu menggendong. Kalau besaran sedikit mungkin papa sudah bisa membantu kalian menjaga cucu papa."
__ADS_1
"Tidak usah Pa, Sarah akan merawat sendiri kok. Kak Mentari yang sering ditinggal kak Alzam bisa kok masa Sarah yang selalu bersama Mas Gala tidak bisa?"
"Iya juga sih, cuma Cahaya kan dibantu ibumu. Masa kamu juga akan pulang ke rumah orang tuamu setelah kembali dari rumah sakit?"
"Tidak Pa Sarah tetap akan pulang ke rumah papa," sahut Sarah dengan begitu yakin.
"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusanmu. Yang penting jangan sampai kalian berdua bertengkar masalah anak."
"Iya Pa."
"Wah dia mirip sekali dengan Gala, bibirnya, hidungnya. Sepertinya dia tidak ingin tidak diangggap oleh papanya," ujar Tama begitu antusias.
"Papa ada-ada saja. Memang kalau lebih mirip Sarah Mas Gala nggak akan menganggap dia anak?" Sarah menggelengkan kepala sambil tersenyum.
"Bukan begitu Nak Sarah, papa hanya bercanda."
"Iya Pa, Sarah juga bercanda."
"Oh ya Gala mau kemana itu?"
"Katanya mau cari makan, dia kelaparan Pa pulang ke sini belum sempat makan. Sekalian juga mau beliin buat papa dan semuanya."
"Oh. Ya sudah aku keluar lagi ya!"
"Iya Pa."
"Apa pemikiranmu tidak berubah Ca?" tanya Tama memulai percakapan.
"Maksud Papa tentang apa?"
"Tentang lamaran Bintang."
"Hah." Sekali lagi Mentari hanya bisa menghembuskan nafas panjang.
"Apa kau tega membuat dia menunggu begitu lama? Waktu setahun bukanlah waktu yang singkat Ca."
"Pa, saya sudah berungkali menolak Mas Bintang dan menyuruhnya untuk menikah dengan wanita lain. Dia saja yang tidak mendengarkan perkataanku. Kenapa Cahaya yang harus disalahkan?"
"Dan kalau dia mendengarkan perkataanmu dan benar-benar menikah dengan wanita lain bagaimana dengan putramu?
Papa tidak pernah
menyalahkanmu, tapi Izzam butuh sosok seorang ayah Ca dan sekarang Gala tidak akan bisa lagi fokus pada putramu sebab dia sudah punya anak sendiri. Apalagi kau lihat sendiri putramu begitu dekat dengan Bintang? Apa kau tidak bisa melihat kedekatan keduanya?"
"Tidak masalah Pa, Cahaya bisa merawat Izzam sendiri. Nanti Cahaya akan mencoba untuk menjauhkan keduanya agar Izzam tidak lagi bergantung pada Mas Bintang."
"Kalau begitu caranya kamu itu egois Ca."
__ADS_1
"Terus Cahaya harus bagaimana Pa? Harus menikah dengan Mas Bintang meskipun yang ada dalam hatiku bukanlah dia?"
"Bukankah dulu kau pernah mencintainya? Apakah sulit mengembalikan rasa itu lagi?"
"Bukan hanya sulit Pa, tapi sangat sulit karena di sini masih terukir nama Abi." Mentari mengusap dadanya sendiri. Air matanya menitik lagi.
"Lagipula Mas Bintang menyayangi Izzam tulus, kan? Bukan karena dia ingin mendapatkan Cahaya kembali, kan?"
"Ya aku tulus mencintai anak ini bukan karena ingin mendapatkan imbalan bisa menikah denganmu. Aku tidak suka pemaksaan jadi tidak suka memaksa siapapun untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan."
"Bintang?"
"Mas Bintang?! Maaf Mas aku tidak bermaksud .... "
"Tidak apa-apa Me, saya tidak masalah orang lain akan menilai diriku seperti apa termasuk dirimu. Namun satu hal yang saya pinta, jangan pernah pisahkan kami berdua. Saya sangat menyayangi Izzam seperti anakku sendiri." Bintang menghela nafas.
"Kami sudah terlalu dekat, jadi tolong jangan dipisahkan!" ulang Bintang dan Mentari hanya tertegun melihat Bintang menatapnya dengan ekspresi memelas.
Aku memang masih mencintaimu dan menginginkan dirimu menjadi istriku lagi, tapi bukan berarti harus menjadikan Izzam sebagai alat. Aku tidak sejahat itu Me.
"Me?"
"Ah iya, aku tidak akan memisahkan kalian. Kenapa Mas Bintang kembali? Ada yang ketinggalan? Dompet?" tanya Mentari sedikit gugup.
"Ya, tapi bukan dompet melainkan sandal Izzam yang terlepas sebelah."
Sontak saja Tama dan Mentari langsung menatap ke lantai.
"Itu dia." Mentari langsung melangkah dan mengambil sandal Izzam dan memakaikan pada putranya.
"Sudah."
"Me habis jalan-jalan aku tidak langsung bawa Izzam kemari ya, tapi aku bawa pulang ke rumahku. Katanya mama kangen sama nih anak."
"Iya anterin saja ke rumah Bin, jangan ke sini lagi sebab kemungkinan nanti sore saya sama Cahaya akan pulang ke rumah."
"Baik Paman. Nanti saya langsung ke rumah paman saja. Syukur-syukur Sarah sudah diperbolehkan pulang biar Bintang ajak sekalian papa dan mama untuk menjenguk ke sana."
"Ide yang bagus."
"Kalau begitu Bintang dan Izzam pergi lagi!"
"Iya Bin."
"Eh Izzam salaman dulu sama Ummi dan Opa biar perjalanan kita lancar tanpa hambatan lagi." Kali ini Bintang berbicara pada Izzam.
Anak itu mengangguk sambil tersenyum dan melakukan apa yang diperintahkan oleh Bintang.
__ADS_1
Bersambung.