
"Jawab!" bentak Tama.
"Itu ... itu ... aku menemukan kalung itu di tanah. Mungkin ada yang tidak sengaja menjatuhkannya," jelas Warni. Dia tidak mungkin jujur sebelum mengetahui apa maksud Tama menyelidiki tentang kalung dan bayi yang dirinya beri nama Mentari sesuai dengan gambar liontin kalung tersebut.
"Kamu tidak berbohong, kan?" tanya Tama masih tidak bisa percaya.
"Sumpah aku tidak berbohong. Aku hanya menemukan kalung itu di atas tanah. Tidak ada bayi di sana. Karena kebetulan aku juga punya bayi perempuan jadi aku memakaikan padanya. Maklumlah kami yang orang miskin sangat senang menemukan benda itu biar anak kami bisa seperti anak tetangga yang memakai perhiasan ketika masih kecil."
"Kamu benar-benar tidak berbohong, kan?" Wajah Tama terlihat pucat pasi. Habis sudah harapannya bahwa Mentari itu Cahaya.
"Tidak aku benar-benar tidak berbohong." Suara Warni terlihat bergetar. Dalam hati rasa takut dan khawatir melebur menjadi satu. Warni memantapkan hati untuk terus merahasiakan agar tidak ada yang tahu bahwa Mentari adalah bayi yang berkalung liontin matahari itu. Mengantisipasi agar Mentari tidak dalam bahaya adalah prioritas Warni.
Kekecewaan Tama begitu besar. Tubuhnya terlihat lemas dan luruh ke lantai.
"Papa!" teriak Gala sambil ikut duduk, menahan tubuh sang papa agar tidak terbentur lantai lagi.
Mendengar teriakan Gala, Mentari dan Pandu bangun dan kaget.
"Ada apa dengan Om Tama Pak?" tanya Mentari sambil beranjak dari ranjang rawat sang adik dan berjalan mendekati Gala dan Tama di lantai. Sedangkan Pandu masih saja duduk sambil memandang tak berkedip ke arah Tama. Dia tidak mengerti dengan apa yang terjadi.
"Om Tama kenapa?" tanya Mentari melihat Tama terlihat syok lagi.
"Bagaimanapun kau tetap Cahayaku." Tama mendekap erat tubuh Mentari dan tidak mau melepaskan.
"Om?" Mentari ingin protes tetapi tidak jadi. Dia tidak ingin membuat Tama bertambah sedih.
"Sudah kubilang panggil Papa jangan Om!"
"Iya Pa."
Warni terlihat bengong melihat keakraban keduanya. Tama terlihat begitu menyayangi Mentari.
Tapi tidak, tinggu dulu! Orang-orang kota memang pandai berakting dan Warni tidak mau tertipu dengan semua itu.
"Pa bangun Pa, kita kembali ke kamar rawat Papa," ucap Gala.
"Aku tidak ingin kemana-mana. Aku ingin tetap bersama dengan Mentari!"
Gala memandang wajah Mentari.
"Beliau kenapa Pak?" tanya Mentari pada Gala.
__ADS_1
"Sejak tadi psikologisnya terganggu lagi," ucap Gala. "Dia harus kembali ke kamar rawatnya kembali," imbuh Gala.
Mentari mengangguk, paham dengan apa yang harus dia lakukan sekarang.
"Kita kembali ke kamar Papa. Papa harus dirawat lagi biar tambah sehat," bujuk Mentari.
Tama mengangguk. Gala dan Mentari saling tatap sambil tersenyum kemudian mengangguk.
"Pandu, kakak pamit keluar dulu ya Dek!"
"Iya Kak."
"Bu?"
Warni hanya mengangguk.
Gala dan Mentari membantu Tama untuk bangun kemudian memapah menuju kamar rawat tama kembali.
"Pa biarkan Mentari istirahat," ucap Gala pada Tama setelah berhasil membaringkan sang papa di atas ranjang rumah sakit.
"Istirahatlah Nak, tapi istirahat di sini jangan kemana-mana," ucap Tama pada Mentari.
Mentari mengangguk.
"Tidurlah di sini Me. Aku mohon jangan kemana-mana. Aku tidak ingin papa kabur lagi seperti tadi."
"Kabur?" tanya Mentari heran.
"Iya, dan tadi kami menemukan papa dalam keadaan pingsan," ujar Gala padahal Tama sama sekali tidak kabur. Gala hanya ingin Mentari berpikir dua kali apabila akan meninggalkan papanya.
"Kalau begitu aku tidak akan tidur. Aku akan menjaga Om Tama supaya tidak kemana-mana."
"Eh jangan, kamu harus tidur biar kesehatanmu tidak terganggu. Biarkan aku yang menjaga papa, lagipula kalau ada kamu aku yakin papa tidak akan kemana-mana," cegah Gala.
"Bagaimana bapak bisa yakin?" tanya Mentari ragu.
"Yakinlah aku rasa kamu punya magnet tersendiri sehingga papa tidak bisa jauh darimu."
"Alah Bapak ada-ada saja." Setelah mengatakan itu Mentari membaringkan tubuhnya. Rasa kantuk masih tersisa sehingga dengan mudah dia memejamkan mata dan tertidur pulas.
Melihat Mentari sudah nyenyak, Tama pun ikut memejamkan mata. Dia yakin Mentari tidak akan meninggalkan dirinya karena sudah tertidur.
__ADS_1
***
Di tempat lain Bintang menjatuhkan dirinya di ranjang kamar apartemen.
"Sial! Sudah mencari Mentari ke sana kemari tetap saja tidak ketemu. Malah diberikan tugas lain lagi sama si Gala. Emangnya tuh orang mau ngapain sebenarnya hingga besok tidak akan masuk lagi," keluh Bintang.
Dia sudah terlalu lelah bekerja. Gala seenaknya melimpahkan tugasnya dengan alasan papa, papa dan papa. Gala capek menjadi bawahan, dia ingin menjadi bos saja.
"Ah, sayang papa masih belum percaya padaku." Bintang membuka sepatunya dan melempar sembarangan hingga mengenai kaca rias.
Katrina yang mendengar suara benda yang dibanting oleh Bintang segera menghampiri kamar Bintang dan Mentari.
"Bintang, apa-apaan sih kamu!" protes Katrina. Bintang tidak menjawab.
"Kalau kesal sama Mentari jangan yang lain jadi sasaran. Kamu bisa bunuh orang kalau sikapmu begini."
"Aku lelah Kate, lelah. Mentari tidak ada di mana-mana. Bagaimana kalau terjadi sesuatu sama dia? Bagaimana kalau ibu di kampung menelpon lagi dan menanyakan keberadaan putrinya? Aku harus berkata apa?"
"Tak perlu mengkhawatir dirinya Bin, dia sudah dewasa. Bukankah sudah kubilang kalau ibunya bertanya kemana dia? Jawab dia kabur dari rumah, kalau perlu katakan bahwa Menteri kabur bersama pria lain. Maka ibunya itu tidak akan menyalahkan dirimu."
Tar!
Terdengar bunyi pecahan kaca setelah sepatu Bintang yang sebelah menyentuh kaca itu.
"Kalau tidak bisa memberikan solusi lebih baik kamu diam!" bentak Bintang membuat Katrina terlonjak kaget. Seumur-umur tidak pernah sekalipun Katrina melihat Bintang murka seperti ini.
"Besok kau harus kembali masuk kerja!" Bintang menuding wajah Katrina dengan tatapan tajam. Nyali Katrina ciut, dia menunduk sambil mengangguk.
"Aku tidak ingin bekerja sendirian, aku bisa stres kalau begini," keluh Bintang lagi.
"Aku akan masuk kerja besok," ucap Katrina masih dengan wajah yang menunduk. Dia tidak berani memandang wajah Bintang yang sekarang tampak merah dan seperti ada kobaran api di wajah pria itu.
"Bagus, sekarang masuk kamar dan istirahatlah."
Katrina mengangguk dengan posisi wajah yang masih setia menunduk. Dia keluar dari kamar Mentari menuju kamarnya sendiri.
Setelah Katrina berlalu Bintang ikut keluar. Sampai di ruang tamu dia meraih pot bunga plastik yang terbuat dari kaca lalu melemparnya sembarangan.
Tar.
Katrina semakin takut saja. Dalam kamar dia langsung mengunci pintu dan menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Ini bukan salahku, Mentari pergi sendiri. Mengapa Bintang seolah marah padaku? Ah sial, wanita itu telah mengubah sikap Bintang hingga jadi seperti ini. Mentari aku berharap kau habis dimakan buaya." Katrina sangat membenci Mentari.
Bersambung....