
"Mas Bintang!" teriak Mentari dan langsung berlari mengejar Bintang.
"Untuk apa kau mengejarku, bukankah kau membela dia?"
"Gila ya Mas, kau masih berpikiran seperti itu. Aku tidak membela dia, tetapi aku tidak terima Mas Bintang memfitnah kami. Benar kata ustadz Alzam tuduhan Mas Bintang sangat tidak beralasan. Apa buktinya kalau kami memang berselingkuh?"
"Oh kamu mau tahu? Butuh bukti?" Bintang tersenyum mengejek.
"Iya tunjukkan padaku apa buktinya!" Mentari menantang Bintang karena dia memang merasa tidak melakukan hal yang dituduhkan. "Kalau hanya melihat kami bicara di toko tadi tidak bisa dijadikan bukti. Itu namanya berlebihan. Mas Bintang bahkan sering berbicara berdua dengan klien wanita saat Pak Gala meminta Mas Bintang mewakilkan dirinya. Apa aku pernah cemburu? Apa aku pernah mengatakan Mas Bintang berselingkuh dengan wanita itu? Tidak, kan Mas?"
"Hentikan ocehanmu! Kau lihat saja ini!" Bintang menyodorkan ponselnya ke depan mata Mentari.
"Apa ini yang disebut aku berlebihan? Apa ini tidak cukup bukti bahwa kalian berselingkuh? Kau malah membiarkan pria itu mengendong tubuhmu. Apa yang kalian lakukan di kamar Sarah?"
Mentari terlihat syok melihat video itu. Dalam hati berpikir kapan itu terjadi. Mentari tidak pernah ingat bahwa tubuhnya pernah digendong oleh ustadz Alzam.
"Bagaimana, tidak dapat mengelak, kan?" Bintang berjalan lebih cepat dan meninggalkan Mentari yang berdiri mematung.
Setelah menyetop taksi kembali, Bintang minta diantarkan ke bengkel tadi. Sampai di bengkel Bintang langsung menelpon salah seorang temannya untuk membuat karir ustadz Alzam hancur secepatnya.
"Tenang hari ini juga aku akan membuatnya tidak berdaya. Kebetulan ustadz ini sekarang mulai menanjak karirnya," ucap suara dari balik telepon.
"Lakukan secepatnya aku tidak ingin dia masih bisa bernafas lega setelah melakukan ini pada istriku."
"Santai saja Bro, kenapa terlalu emosi seperti ini? Wanita di dunia ini, itu banyak Bro, kau bisa menceraikan istrimu dan menikah dengan gadis lain." Terdengar suara kekehan dari seberang sana.
"Jangan tertawa! Ini bukan hanya masalah perempuan, tetapi masalah harga diri." Bintang langsung menutup panggilan teleponnya.
Pria di seberang sana menggeleng mendengar pemikiran Bintang. Bukankah dengan menghancurkan karir ustadz Alzam semua orang akan saling terikat dengan berita itu. Kalau orang-orang tahu istri Bintang berselingkuh nama Bintang pun akan terseret dan harga dirinya malah akan turun karena punya istri yang sampai berselingkuh. Orang-orang pun pasti akan mengorek kehidupan rumah tangga mereka. Pria itu tampak memainkan ponsel di tangannya. Menimbang-nimbang apakah perlu melakukan hal yang diperintahkan Bintang.
Setelah mendapatkan mobilnya kembali, Bintang langsung kembali ke apartemen. Sampai di dalam dia melempar ponselnya begitu saja di atas sofa ruang tamu dan dirinya menghempaskan tubuhnya begitu saja.
"Kenapa sih Mas?" tanya Katrina melihat Bintang emosi. Dia belum tahu kalau rencana yang dilakukan oleh Arka telah berhasil.
"Siapkan air hangat Kate, aku mau mandi!" perintah Bintang masih dengan ekspresi kesal.
Tanpa menjawab Katrina langsung melakukan yang diperintahkan oleh Bintang.
Beberapa saat kemudian wanita itu berjalan mendekati Bintang dan berkata, "Airnya sudah siap Bin."
Bintang tidak menjawab lalu bergegas pergi begitu saja menuju kamar Katrina.
"Ada apa sih? Datang-datang kayak macan mau ngamuk saja, mukanya seram amat." Katrina duduk di tempat Bintang tadi duduk. Melihat ponsel Bintang tergeletak begitu saja, dia meraihnya.
__ADS_1
Kebetulan saat di tangan Katrina ponsel Bintang terdengar berdering. Katrina mengangkatnya.
"Halo Bin! Yakin loh mau video istrimu dengan ustadz itu akan aku sebarkan? Apakah kamu mau namamu terseret dalam masalah itu?"
"Waw apaan ini? Bukan aku kan ya. Aku tidak pernah kenal dengan yang namanya ustadz-ustadz," batin Katrina. Tadinya Katrina berpikir video yang dimaksud adalah video dirinya dengan Arka yang ditunjukkan Arumi tadi, tetapi mendengar kata ustadz dia yakin istri Bintang yang dimaksud di sini adalah Mentari.
"Halo Bin, bagaimana?" Lelaki di seberang sana masih menunggu jawaban Bintang.
Katrina memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Malah dimatikan lagi." Pria di seberang sana nampak kesal karena tidak mendapat jawaban dari Bintang.
"Ah ngeselin."
Tiba-tiba terdengar notifikasi masuk ke dalam ponselnya. Pria itu langsung membuka chat yang masuk dan membacanya.
✉️: Haruskah aku menjawab lagi?Hancurkan dia. Aku akan menanggung segala resikonya.
"Baiklah kalau itu maumu." Pria itu langsung melakukan tugasnya.
***
"Ustadz anda tidak apa-apa?" tanya Nanik menghampiri ustadz Alzam setelah kepergian Mentari dan Bintang. Apa yang harus saya lakukan? Bolehkah saya membantu mengobati luka-luka Anda?" Nanik menawarkan diri.
"Baik Ustadz." Nanik pun masuk ke kamarnya dan mengambil pesanan ustadz Alzam.
"Ini ustadz."
"Terima kasih Mbak Nanik."
Ustadz Alzam tampak membersihkan lukanya setelah itu membubuhkan povidone iodine dengan kapas. Yang terluka ustadz Alzam yang meringis malah Nanik.
"Cie Mbak Nanik modus, sok perhatian lagi," bisik Mega ditelinga Nanik. Nanik melotot, wanita ini memang tidak tahu sikon. Dalam keadaan seperti ini masih saja bercanda.
"Sorry," ucap Mega dengan suara kecil hampir tak terdengar.
"Maaf kalau boleh tahu ada masalah apa ustadz dengan Bintang, suaminya Mentari?" tanya Nanik hati-hati.
"Entahlah Mbak Nanik saya tidak pernah melakukan apapun terhadap Mentari, tetapi saya malah dituduh tidak-tidak oleh suaminya. Dia menuduh aku selingkuh dengan Mentari," terang ustadz Alzam.
"Apa ada bukti sehingga Bintang sampai menuduh dan yakin seperti itu?"
"Entahlah dia tadi tidak menunjukkan buktinya. Sudahlah Mbak Nanik lupakan saja kejadian tadi. Saya harus berganti pakaian sebelum pergi. Tolong kotaknya dikembalikan ke tempatnya ya!"
__ADS_1
"Siap ustadz."
"Oh ya, tentang kejadian tadi tidak usah memberitahu pada Sarah ya." Ustadz Alzam hanya tidak mau Sarah menyalahkan Mentari dengan apa yang terjadi.
"Beres ustadz."
"Terima kasih." Ustadz Alzam pun berlalu pergi dengan membawa mobil Sarah dan pulang sebentar ke rumah untuk mengganti pakaian.
"Kamu kenapa Nak?" tanya ibunya saat melihat kondisi putranya tidak seperti saat pergi tadi.
"Jatuh dari motor tadi Bu saat saya akan menukar motor dengan mobil Sarah." Ustadz Alzam tidak ingin membuat ibunya bersedih kalau tahu yang terjadi sebenarnya.
"Hati-hati Nak, jangan pernah ngebut di jalanan." Ibu ustadz Alzam selalu mengajarkan putranya ini agar lebih awal bersiap-siap agar tidak terburu-buru dalam suatu hal.
"Iya Bu, tadi saya tidak mengebut kok. Mungkin sudah takdirnya Alzam jatuh. Sudah ya Bu, saya sudah hampir terlambat ini."
"Iya Nak." Ustad Alzam pun berlalu ke dalam kamar untuk mengganti pakaian. Setelah berpamitan pada ibunya dia langsung menyetir mobil sendiri ke tempat acara.
Namun, saat ustadz Alzam sampai ke tempat acara, dirinya malah ditolak kehadirannya oleh orang-orang.
"Hei jangan mau mendengar ceramah dari orang ini." Salah seorang mengompori yang lainnya. Ustadz Alzam masih maklum mungkin orang yang ada di depannya kini memang tidak menyukai dirinya.
"Iya ya, dia tuh hanya pintar nasehatin orang dirinya malah suka berbuat dosa. Ih jijik amat." Seorang ibu-ibu nampak melihat ustadz Alzam dengan ekspresi muak.
"Astaghfirullah hal adzim, apalagi ini?" Ustadz Alzam hanya beristighfar dalam hati.
"Jangan biarkan dia masuk!" Orang-orang menutup jalan.
"Maaf ada apa ini?" Ustadz Alzam benar-benar tidak mengerti.
Seorang panitia berjalan ke arahnya dan menjelaskan semua.
"Oh baiklah kalau begitu saya akan pulang," jawab ustad Alzam. Seperti biasa dia selalu tenang dalam setiap situasi.
"Maaf ya ustadz," ucap ketua panitia itu.
"Tidak apa-apa. Kalau begitu saya pamit. Assalamualaikum."
"Waalaikum salam warahmatullahi wabarakaruh."
Ustadz Alzam masuk ke dalam mobil. Dia menyandarkan tubuhnya di kursi kemudi dan memejamkan mata. "Ternyata Bintang benar-benar melakukan ancamannya. Tidak apa-apa Tuhan, hamba ikhlas dengan cobaan ini. Semoga saja cepat ditemukan jalan keluarnya dan hambaMu ini dijauhkan dari fitnah selanjutnya. Amin."
Bersambung.
__ADS_1