HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 126. Identitas Asli


__ADS_3

"Kenapa senyum-senyum sendiri?" tanya ustadz Alzam yang melihat Mentari tersenyum dari balik kaca spion.


"Pria pilihan," ucap Mentari masih dengan tersenyum geli.


"Pria pilihan itu nabi dan rasul," protes ustadz Alzam.


"Maksudku pria pilihan kaum cewek-cewek," ucap Mentari masih dengan senyum gelinya.


"Senyummu membuatku seolah merasa diejek," ujar ustadz Alzam.


"Loh kok diejek sih?" protes Mentari. "Saya hanya bingung saja ustadz Alzam itu banyak yang menginginkan untuk menjadi suami ustadz sayangnya pilihan ustadz pada Mentari yang tidak tahu apa-apa ini sedangkan mereka itu saya yakin adalah wanita-wanita yang sholeha dan banyak ilmunya terutama tentang ilmu agama."


"Kenapa, memang ada yang salah?" tanya ustadz Alzam pada Mentari.


"Tidak sih hanya takut saja suatu saat nanti ustadz menyesal dengan pilihan ustadz ini."


"Insyaallah tidak, kamu itu jodoh pilihan dari Tuhan untuk apa disesali? Lagipula kalau masalah ilmu agama saya bisa membimbing dirimu nanti biar ilmuku bermanfaat. Kita bisa belajar bersama-sama Me. Kalau punya istri yang sudah pintar ilmu agama siapa yang akan saya ajari? Justru saya senang diberikan kesempatan untuk membimbing istriku sendiri nantinya."


"Kan ada anak dan orang-orang lain ustadz?"


"Kalau istrinya sudah pandai dia yang akan mengajari anak-anak jadi ayahnya tidak diperlukan," goda ustadz Alzam.


"Ustadz itu aneh di mana-mana seorang pria yang sholeh itu akan mencari seorang istri yang Sholeha yang pandai akan ilmu agama," protes Mentari.


"Ya, cinta memang aneh dan apa salahnya aku ingin bahagia bersamamu dan membimbing dirimu menjadi istri yang sholeha."


"Tidak ada yang salah sih."


"Woi Kak percepat laju mobilnya! Saya bengek mendengar kata cinta sedari tadi. Kalau jalannya mobil kayak siput kapan kita sampainya ke desa?"


Astaga Sarah, bukannya dia yang menginginkan ustadz Alzam bersatu dengan Mentari. Mereka belum menikah saja Sarah sudah tampak sewot. Apa maunya tuh orang sebenarnya?


Sebenarnya Sarah hanya iri dan


malas saja mengingat dirinya hingga saat ini masih jomblo sejati.


Kedua orang yang duduk di depan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat tingkah Sarah.

__ADS_1


Setelah berjam-jam berkendara akhirnya mereka sampai ke desa. Sampai di depan rumah Mentari mereka kaget karena ada sebuah mobil mewah yang terparkir di halamannya.


"Mobil siapa itu, apa Kak Mentari mempunyai keluarga yang kaya raya?" tanya Sarah penasaran.


Mentari tampak menilik mobil itu, sepertinya dirinya mengenal warna dan nomor plat mobil tersebut, tetapi dia lupa siapa pemiliknya.


"Apa papa Winata, ya?" Mentari menjadi ketir takut-takut mantan papa mertuanya itu datang dan menagih apapun yang diberikan kepada ibu dan adiknya sebagai hutang. Bagaimana kalau rumah itu diambil kembali? Dimana lagi ibu dan adiknya akan tinggal sementara rumah lamanya telah roboh? Apakah mereka akan dibawa Mentari ke kota untuk ditempatkan di tempat kost atau rumah kontrakan?


Mentari langsung berlari ke arah pintu tidak menggubris akan perkataan ustadz Alzam yang menyuruhnya berhati-hati.


Sampai di dengan pintu Mentari syok mendengar pembicaraan orang-orang di dalam.


***


Satu jam sebelumnya Gala dan Tama datang untuk menyampaikan keinginan Gala menikahi Mentari.


Sengaja mereka datang ke desa terlebih dahulu agar mendapat dukungan dari adik dan ibu Mentari sehingga Mentari akan mempertimbangkan jika harus menolak dirinya. Tama pun sudah diyakinkan oleh Gala bahwa Mentari bukanlah putrinya yang hilang. Namun, Gala berjanji akan mendekatkan Mentari dengan sang papa dengan cara menikahi Mentari.


Setelah menikmati jamuan yang dihidangkan akhirnya Gala mengutarakan tujuannya datang ke rumah itu.


"Iya bener Bu. Saya berjanji meskipun saya adalah sepupu Bintang, tapi saya akan memperlakukan Mentari dengan baik dan tidak akan pernah menduakannya," janji Gala pada Warni.


Warni tidak pernah meragukan itu karena kata-kata Gala memang terlihat sangat serius dan dia pun tahu bahwa Gala adalah pria yang baik. Kalau tidak, mana mungkin waktu pandu sakit pria itu yang malah mengantarkan Mentari kepada dirinya dan Pandu sedangkan Bintang sendiri sebagai suaminya sama sekali tidak perduli.


"Tapi apakah Mentari mau?" tanya Warni mengalihkan pembicaraan karena ada sesuatu yang dikhawatirkan.


"Saya yakin kalau ibu dan Pandu sudah merestui pasti Mentari akan menerima saya," ucap Gala begitu yakin.


Pandu tampak mengangguk-angguk. Sepertinya anak kecil itu memang menginginkan kakaknya menikah dengan Gala.


Warni berpikir sebentar, sepertinya tidak ada cara lain untuk menghentikan keinginan Gala tersebut selain harus mengungkap semua kebenarannya. Warni takut Mentari benar-benar akan menerima Gala menjadi suaminya dan pernikahan sedarah pun akan terjadi. Namun, Warni merasa perlu mengecek dulu kebenarannya.


"Sebentar, sebelum saya memberikan dukungan kepada Nak Gala untuk bersama dengan Mentari saya ingin bertanya dulu pada Tuan Tama."


Gala dan Tama tampak mengernyit melihat Warni seperti ingin berbicara serius lalu keduanya saling pandang.


"Tanyakan saja apa yang ingin ditanyakan!"

__ADS_1


Warni mengangguk.


"Ini masalah kalung yang berliontin berbentuk matahari itu."


Tama langsung mengingat ketika dirinya menemukan kalung berliontinkan matahari tersebut di rumah Warni.


"Ya, kenapa?"


"Apakah benda itu sangat berharga bagi Tuan?"


"Iya, barang itu adalah kalung dari putri saya yang hilang beberapa tahun silam. Ada yang menculik bayi perempuanku waktu itu ketika istriku lengah karena membantu seseorang.


Berhari-hari kami mencarinya tidak menemukan putriku jua, malah kami hanya menemukan kereta bayinya saja yang tergeletak di dalam hutan dengan berlumuran darah. Di sampingnya ada harimau dengan lidah yang menjilat-jilat penuh darah. Akhirnya kami menyimpulkan bahwa putriku tiada karena dimakan harimau."


Tama menghentikan bicaranya sebentar karena merasa tidak kuat mengingat itu semua. Dia menghirup udara dalam-dalam dan melepasnya secara perlahan sedangkan tubuh Warni terlihat gemetar mendengar kondisi itu, sama seperti saat dirinya menemukan Mentari. Warni menjadi yakin bahwa Mentari adalah putri dari pria yang duduk di depannya sekarang ini.


"Di hutan mana itu?" tanya Warni untuk memastikan.


"Di sekitaran sini di hutan yang aku lewati tadi saat ke sini," jawab Tama.


"Maaf kalau saya menganggap Mentari putriku karena menemukan kalung itu di rumahmu," ucap Tama dengan tulus.


"Tidak perlu meminta maaf. Jika ada yang harus meminta maaf maka akulah orangnya," ucap Warni merasa bersalah.


"Kenapa Bu Warni harus meminta maaf? Bu Warni tidak ada salah kok," ujar Tama merasa heran melihat wanita di depannya kini seperti orang yang ketakutan.


"Saya salah telah merahasiakan semuanya. Sebenarnya bayi berkalung liontin berbentuk matahari itu adalah benar-benar Mentari," beber Warni.


"Apa? Jadi dia putriku?" Tama tampak senang sedangkan Gala tampak syok mendengar kenyataan itu.


"Ibu tidak bercanda, kan?" tanya Gala masih tidak percaya.


"Saya tidak bercanda Nak Gala, jadi Nak Gala tidak bisa menikahi Mentari karena hubungan sedarah."


Mentari yang mendengar pengakuan Warni terhadap Gala dan Tama hanya termenung di pintu. Wanita itu terlihat syok.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2