
"Memangnya apa yang terjadi dengan papa dan mama?" tanya Mentari penasaran.
"Yang terjadi jauh dari yang kamu alami saat ini," jawab Tama mengenang masa silam saat dirinya dan sang istri masih muda dan baru menikah.
"Jauh bagaimana menurut papa?" Sekarang giliran Mentari yang penasaran dan ingin mengetahui masa lalu kedua orang tuanya.
"Mama difitnah tidur dengan pria lain. Eh bukan pria lain sih tapi adik ipar sendiri," sahut Tama.
Mentari terbelalak. "Ipar sendiri? Berarti Papa Winata dong," tebak Mentari. Siapa lagi kalau bukan Tuan Winata iparnya Tama.
"Kamu benar," jujur Tama. "Bahkan aku sampai melihat dengan mata kepala sendiri Winata sama mamamu tidur dalam satu ranjang."
Kejujuran Tama membuat Mentari menganga. Wanita itu terlihat syok. Mentari menggelengkan kepala. "Mama selingkuh?" tanya Mentari tidak percaya.
"Ya kalau papa tidak begitu mempercayai mamamu maka papa akan seperti yang lainnya, Menuduh mamamu seperti itu juga dan bahkan mungkin papa akan menceraikan mamamu saat itu juga."
"Dan papa sama sekali tidak kecewa sama mama?" Mentari benar-benar bingung pada sang papa. Sebegitu bucinkah sang papa pada istrinya itu sehingga meskipun melihat secara jelas kejadian seperti itu masih bisa berpikir tenang dan memaafkan Rosa.
"Saya percaya sama mamamu."
"Percaya?" Mentari benar-benar bingung padahal semua sudah terpampang jelas di hadapannya.
"Ya percaya sebab papa tahu seperti apa mamamu. Dia adalah wanita yang setia. Bagaimana mungkin hanya karena kejadian itu akan meruntuhkan keyakinan papa akan kesetiaannya. Apalagi sebelum menikah dengan papa, mamamu sudah berulang kali menolak pinangan Winata."
"Gila." Mentari tidak mengerti dengan jalan pikiran sang papa.
"Mamamu adalah orang yang menjunjung tinggi nilai kehormatan sebagai seorang perempuan. Terbukti sebelum menikah dengan papa pun dia tidak akan pernah mau disentuh walaupun hanya pegangan tangan saja. Bagaimana papa tega jika harus menuduh dia macam-macam setelah dia menikah denganku?"
"Tapi semua orang bisa berubah Pa, maaf bukan bermaksud berpikiran buruk pada mama."
"Ya kamu benar."
"Makanya saat itu papa tidak mau ambil langkah secara tergesa-gesa. Papa bersikap tenang saja tidak seperti Arumi yang saat itu meledak-ledak dan langsung menuduh suaminya macam-macam tanpa mau mendengarkan penjelasan sedikitpun dari keduanya sehingga mereka berdua sempat pisah ranjang."
Mentari semakin terhenyak mendengar cerita papanya itu.
"Daripada marah-marah tidak jelas, papa dekati mama kamu, tanya maunya dia apa. Kalau mau bercerai dan memilih Winata papa akan lepaskan dia dan papa malah menawarkan dia untuk membawa Arumi pergi dari sini agar mereka bisa bersatu."
__ADS_1
"Terus mama bilang apa?"
"Mamamu bersimpuh di kaki papa dan memohon maaf berkali-kali. Dia bersumpah, mengatakan tidak tahu kenapa dirinya sampai ada di dalam kamar dan seranjang dengan Winata. Mama bilang setelah bertemu dengan sahabatnya di restoran dan dia minum di sana kepalanya langsung pusing kemudian tidak ingat apa-apa lagi."
"Dan papa masih saja percaya?"
"Ya, tapi tentunya papa tidak sebodoh itu. Papa langsung mencari tahu sendiri kebenarannya tentang kejadian tersebut dan ternyata apa yang dikatakan mamamu semua benar. Mereka di fitnah oleh orang yang menyukai Winata saat itu agar Winata bercerai dengan Arumi."
"Haah." Mentari bernafas lega mendengarkan penjelasan terakhir dari sang papa.
"Kupikir papa bucinnya keterlaluan hingga jadi bodoh," ujar Mentari.
"Bucin boleh tapi jangan sampai bodoh nanti malah dimanfaatin orang," ucap Tama.
Mentari mengangguk. "Dari tadi aku curiga nih," ucap Mentari lalu menutup mulutnya sendiri.
"Curiga kenapa?" tanya Tama mengernyit.
"Takut-takut Mas Gala adalah anak papa Winata, maaf," katanya sambil menunduk.
Tama malah tertawa mendengar tebakan Mentari.
"Enak aja nuduh orang macam-macam," protes Gala sambil melangkah masuk ke dalam kamar Mentari.
"Mas Gala belum tidur?" tanya Mentari heran. "Masih gatal-gatal dan panas? Sana gih ke rumah sakit!"
"Saya tidak terima loh dikatakan anak paman Winata," protes Gala lagi.
Mentari hanya cekikikan mendengar protes dari Gala seolah dia melupakan masalah sendiri saat ini.
"Siapa tahu kan Papa Winata kelihatan lebih sayang sama Mas Gala dibandingkan sama Mas Bintang," goda Mentari.
"Itu sih karena Bintang suka tidak nurut sama Paman Winata kalau aku kan anak baik sedari kecil," puji Gala pada dirinya sendiri.
"Cih." Mentari hanya berdecih. "Yang anak baik tuh aku anak orang kaya tapi mau hidup miskin," imbuhnya.
"Kalau itu mah sudah takdirmu. Hidup di hutan seperti tarzan kayaknya lebih cocok untukmu. Sayang Bu Warni menemukanmu terlalu cepat kalau tidak kamu bakal jadi anak angkat harimau atau monyet ," ucap Gala cengengesan menggoda sang adik.
__ADS_1
Mentari kesal. "Pa tadi Mas Gala sama Sarah bertengkar karena Mas Gala mengin ...."
Gala langsung menutup mulut Mentari dengan kedua tangannya.
"Awas kalau ngomong!" ancam Gala.
"Kenapa kamu naksir Sarah, Gala?"
"Ah tidak Pa, siapa bilang?" bantah Gala.
"Kalau naksir tidak apa-apa juga. Sepertinya dia gadis yang baik. Nanti papa lamar dia buat kamu. Kalau bisa langsung nikah saja biar kamu tidak menjomblo terus."
"Ogah Pa, kalau Gala nikah sama Sarah yang ada tiap malam bertarung terus. Ranjang bukan patah karena bikin anak tapi karena ribut terus. Papa tahu dia itu wanita yang paling mengesalkan yang pernah Gala temui, di dunia ini," tolak Gala.
"Ya sudah kalau tidak mau. Tadi sampai dimana ceritanya?"
"Sampai Cahaya menuduh Gala anak Paman Winata." Gala yang menjawab sambil cemberut.
"Oh iya betul dulu Arumi berbuat konyol. Saat tahu mamamu hamil dia menarik mamamu ke rumah sakit saat papa masih ada di kantor."
"Ngapain?" tanya Gala bingung.
"Sama dengan prasangka adikmu tadi. Saat dia mendengar mamamu hamil dia langsung meminta dokter untuk melakukan tes DNA," jelas Tama.
"Gila, masih hamil harus tes?"
"Ya tapi dokter dan juga mamamu tidak mau sebab akan menimbulkan resiko yang besar. Akhirnya mama kamu menyetujui dengan keinginan Arumi untuk melakukan tes DNA setelah bayinya lahir."
"Mama setuju?" tanya Gala yang tidak mendengar cerita Tama dari awal.
"Ya, kata mamamu buat apa takut kalau dia tidak pernah berselingkuh dengan siapapun. Ya sudah jelas bayinya itu adalah putra papa."
"Mama orangnya memang selalu tenang ya Pa dalam mengambil keputusan hanya saja saat kehilangan putrinya barulah beliau berubah 180 derajat. Gala jadi rindu sama Mama. Rindu saat mama manjain Gala," kenang Gala akan masa kecilnya.
"Maaf semua gara-gara aku," ucap Mentari sambil menunduk. Dia merasa bersalah, kalau saja bukan gara-gara dirinya sang mama tidak akan meninggalkan dirinya dan Tama di dunia ini.
"Kenapa harus minta maaf? Jodoh dan maut itu sudah takdir dari sang Maha Kuasa. Jadi kalau misalkan kamu tidak berjodoh dengan Nak Alzam kamu harus bisa berlapang dada sebab itu adalah takdir yang ditentukan oleh Allah. Cerita paa tentang masa lalu mama dan papa tadi sebenarnya hanya ingin memberikanmu pelajaran agar tidak tergesa-gesa saat mengambil keputusan sebab apa yang dilihat dan di dengar oleh raga kita semuanya itu belum tentu kebenarannya," nasehat Tama pada Mentari.
__ADS_1
Bersambung.