
"Bagaimana dokter, apa hasilnya?" Bintang sudah tidak sabaran mendengar hasil pemeriksaan dokter.
"Dari serangkaian pemeriksaan yang kita lakukan tadi saya menyimpulkan bahwa sebenarnya tubuhmu seperti ini karena terlalu sering mengonsumsi bahan kimia yang mengurangi tingkat kesuburan."
"Apa Dok? Mana mungkin? Saya tidak pernah mengonsumsi bahan kimia yang dokter katakan. Barangkali pemeriksaan dokter salah, sebaiknya diulang lagi ya Dok pemeriksaannya biar akurat."
Dokter yang duduk di hadapan Bintang menggeleng. "Tidak perlu, saya sudah sangat berhati-hati dalam memeriksa Anda, jadi saya pastikan semuanya benar dan sesuai prosedur."
"Tapi Dok saya tidak pernah merasa melakukan apa yang dokter tuduhkan padaku. Saya sangat hati-hati dalam mengonsumsi sesuatu."
"Anda mungkin benar tidak merasa melakukan hal itu, tetapi bisa saja ada orang yang sengaja memasukkan obat tersebut ke dalam minuman Anda sehingga Anda sama sekali tidak sadar."
"Mengapa Dokter bisa menyimpulkan seperti ini?" Bintang tidak mengerti mengapa dokter tersebut seolah begitu yakin ada yang memasukkan obat ke dalam minumannya.
Melihat efek yang besar pada tubuh Anda saya menyimpulkan anda tidak hanya meminum obat itu satu, dua kali, tetapi malah berkali-kali. Kalau Anda tidak merasa mengonsumsi obat tersebut ya jawabannya cuma satu, ada yang sengaja memberikan Anda obat tersebut."
Bintang manggut-manggut mendengar penjelasan dokter.
"Kalau menurut saya yang melakukan hal tersebut pasti orang yang dekat dengan Anda. Maaf bukan maksud saya untuk masuk ke dalam ranah pribadi Anda."
"Tidak apa-apa Dok, terima kasih atas semua penjelasannya. Terus apakah ini sangat berpengaruh terhadap kemampuan diri saya untuk mempunyai keturunan nantinya?"
"Ya itu sudah jelas Pak Bintang. Anda sangat sulit untuk memiliki keturunan kecuali Anda langsung melakukan terapi kesuburan. Namun, itupun kemungkinan kecil bisa berhasil mengingat tingkat kesuburan Anda saat ini sangat kecil."
Hancur hati Bintang mendengar penjelasan dokter tersebut. Bukankah setiap manusia pasti mengharapkan keturunan nantinya? Termasuk Bintang yang masih belum bisa menemukan jodohnya saat ini. Lebih tepatnya tidak mencari sebab Bintang masih ingin hidup sendiri dulu mengingat kegagalan pernikahannya baik dengan Mentari maupun dengan Katrina.
"Namun percayalah Pak Bintang, Tuhan akan memberikan kesembuhan jika Dia menghendaki walaupun sekecil apapun harapan itu ada." Dokter tersebut menyemangati Bintang melihat pria itu terlihat putus asa.
"Terima kasih Dok." Setelah membayar Bintang langsung keluar dari ruangan dokter dengan ekspresi wajah yang tidak bergairah.
"Siapa yang tega melakukan ini padaku?" Bintang memijit pelipisnya lalu menyadarkan kepala pada setir. Pria itu memejamkan mata tanpa ada niat untuk menyetir mobil keluar dari parkiran rumah sakit.
Tiba-tiba dia ingat sesuatu. Bintang ingat beberapa kali Katrina membuatkan minuman untuk Mentari dan tidak pernah disentuh oleh wanita itu. Saat itu Bintang yang mengambil minuman tersebut untuk meminumnya selalu dicegah oleh Katrina, tetapi Bintang tetap saja meminumnya karena Katrina tidak mengatakan apapun.
"Kate, jadi kau penyebab semua ini!" Bintang mengepalkan tangan dan memukul setir.
__ADS_1
"Dasar wanita licik! Apakah ini caramu untuk membuat Mentari tidak bisa hamil anakku waktu itu? Ataukah kau yang tidak ingin hamil anakku mengingat kau sudah punya selingkuhan si Arka brengsek itu?"
Wajah Bintang memerah penuh amarah. Pria itu kemudian menghidupkan mesin dan dan menyetir mobil menuju apartemen Katrina.
Brak.
Tanpa mengucapkan salam Bintang langsung membuka dengan kasar pintu apartemen Katrina.
Katrina yang sedang merias diri kaget dan langsung berbalik.
"Bintang, ngapain kamu ke sini?" tanyanya heran.
"Lupa ya apartemen ini milik siapa?"
Katrina tidak menjawab dan merasa tidak perlu menjawab sebab apapun itu kepemilikan apartemen ini sudah atas nama dirinya. Perempuan itu hanya berharap Bintang tidak melupakan hal itu agar dia tidak perlu repot-repot menunjukkan surat-suratnya.
"Apa kabar Bin?" Katrina mencoba berbasa-basi agar aura kemarahan di wajah Bintang mereda walaupun perempuan itu tidak tahu kemarahan Bintang kali ini untuk apa.
"Buruk dan kamu yang telah berperan untuk itu."
"Maksudnya?" Katrina mengernyit tidak paham.
"Aku tidak mengerti obat apa yang kamu maksud Bin."
"Alah jangan berlagak tidak tahu kamu Kate, kamu kan yang memasukkan obat penurun kesuburan ke dalam minumanku!"
"Omong kosong apa yang kamu tuduhkan Bin? Saya tidak pernah melakukan hal itu," kilah Katrina.
"Cih mana ada maling mau ngaku." Bintang meraih dagu Katrina dan menekannya dengan keras.
"Aw sakit Bin, lepaskan!"
"Katakan dulu baru aku lepaskan!" Tangan Bintang yang satunya menggenggam rambut Katrina dan siap menjambak.
"Oke-oke aku jelaskan."
__ADS_1
Bintang melepaskan pegangan tangannya dan sedikit mendorong tubuh Katrina ke belakang hingga tubuh perempuan itu hampir tersungkur.
"Ayo jelaskan apa maunya!" bentak Bintang.
Katrina yang tadinya hendak kabur mengurungkan diri melihat Bintang yang benar-benar marah.
"Aku melakukannya karena tidak ingin Mentari bisa hamil anakmu. Aku tidak mau kamu lebih perhatian padanya dibandingkan denganku."
Bintang menghela nafas berat, ternyata benar dugaannya apa yang dilakukan Katrina salah sasaran.
"Dan kenapa kamu tidak menjelaskan saat aku yang meminumnya. Kamu sengaja ya agar aku mandul dan kamu bisa bebas bersama si Arka bajingan itu!"
"Aku sudah mencegahmu tetapi kamu yang tidak ...."
"Wah rupanya ada tamu di sini." Arka berjalan santai menuju ke arah Katrina.
"Ngaca lo siapa tamu di sini. Ini apartemenku," sanggah Bintang.
"Yang namanya sesuatu yang sudah disedekahkan itu adalah milik penerimanya kecuali kalau kamu mau sih tuh mata bintitan. Sekarang apartemen ini hanyalah milik Katrina dan tentunya milikku juga karena Katrina telah memberikan izin padaku kapan saja untuk tinggal di sini.
"Masih demen kalian kumpul kebo ternyata. Dasar pezina!"
"Makanya Bin kamu cepat katakan talak padaku agar aku bisa menikah dengan Arka secepatnya," timpal Katrina.
"Hahaha masih butuh ya itu?"
"Butuh lah Bin karena secara agama aku masih syah sebagai istrimu dan aku tidak mungkin mengajukan cerai ke pengadilan karena pernikahan kita tidak pernah tercatat di sana."
"Hebat ternyata pezina seperti kalian masih tahu tentang agama. Keren sekali," ujar Bintang sambil tersenyum miris.
"Dan ingat aku tidak akan mengeluarkan kata talak biar kalian tetap berzina selamanya, hahaha." Setelah tertawa keras Bintang langsung meninggalkan apartemen Katrina.
"Apa benar Arka kita harus menunggu kata talak keluar dari mulut Bintang? Bagaimana kalau yang dikatakannya tadi benar? Haruskah kita menjalin hubungan tanpa status pernikahan terus-menerus?"
"Iya Kate jadi kita harus bersabar dan kau pelan-pelan rayu dia untuk mengatakan kata talak itu."
__ADS_1
Padahal dalam hati Arka ada tujuan lain. Dia masih bisa belum bebas dari jerat sang bos dan kalau dirinya menikah dengan Katrina dia takut Katrina akan tahu apa yang dilakukan dirinya dibelakang perempuan itu.
Bersambung.