
"Darimana saja, sudah malam seperti ini baru pulang?" Suara bariton Bintang menggema di dalam apartemen yang sudah gelap saat melihat tubuh Katrina menyeruak di tengah gelapnya ruangan sambil
mengendap-endap dan lebih memilih menenteng higheels daripada harus memakainya.
Lampu-lampu memang sengaja Bintang matikan semua karena jam sudah menunjukkan pukul 10 malam dan pria itu sudah lelah bertahan dengan mata yang terbuka. Namun, ketika hendak tidur dia mendengar bunyi pintu apartemen dibuka.
"Eh kamu belum tidur Bin." Katrina tampak nyengir memperlihatkan deretan gigi putihnya di tengah gelapnya suasana.
"Aku tanya darimana, kenapa tidak menjawab!" Bentak Bintang sambil memencet sakelar lampu hingga ruangan terang seketika.
Wajah Katrina menjadi pucat kala melihat raut wajah Bintang yang terlihat murka.
"Dari ... belanja Bin," jawab Katrina sedikit gugup.
"Belanja seharian? Apa saja yang kamu beli?" Bintang menarik paper bag dari tangan Katrina dengan kuat hingga isinya berjatuhan di atas lantai.
"Ini yang kamu beli seharian?!" tekan Bintang sambil menunjuk pakaian, tas dan kosmetik yang sudah tercecer di lantai.
"Iya."
"Hah setengah hari rasanya sudah cukup untuk mendapatkan itu semua. Apa yang kamu lakukan setelahnya?"
"Kamu apa-apaan sih Bin, kenapa jadi mengintrogasi ku seperti ini?" Katrina tak terima Bintang mengintrogasi dirinya seperti maling yang tertangkap basah saja. Wanita itu berjongkok dan memungut barang-barangnya yang berserakan di lantai.
"Waktu pria dan wanita dalam berbelanja itu berbeda Bin. Mungkin seorang pria akan mudah mendapatkan apa yang ingin dibelinya tapi wanita terlalu banyak pertimbangan untuk mendapatkan barang belanjaannya," protes Katrina.
"Pertimbangkan apa hah? Mungkin kalau seorang istri yang baik akan mempertimbangkan harga dari barang yang akan dibelinya sebab memikirkan kebutuhan dapur. Nah, kalau istri yang boros macam kamu apa yang mau dipertimbangkan? Jangankan mempertimbangkan kebutuhan dapur masak saja jarang," bantah Bintang.
"Banyak lah Bin, Pertimbangan model dan trend harus diperhatikan juga saat memilih pakaian dan tas. Lagipula ini uang yang aku pakai adalah uangku sendiri bukan milikmu, terserah aku lah mau dibelanjakan apa," protes Katrina.
"Kate kau lupa ya uangku habis gara-gara membayar kebutuhan rumah sakit anakmu itu. Kalau tidak, mungkin sekarang tabunganku masih banyak dan lagian yang ku tanyakan sekarang bukan masalah uang, tapi masalah waktu yang terlalu lama kau gunakan untuk berkeliaran di luar sana sehingga tidak memikirkan sedikitpun tentang suami kamu di sini."
"Sudahlah Bin tidak usah mengungkit orang yang sudah mati," ketus Katrina dan langsung membawa barang-barang belanjaannya masuk ke dalam kamar lalu menguncinya dari dalam.
"Kate!"
__ADS_1
Dor dor dor.
Bintang mebggedor-gedor daun pintu beberapa kali.
"Buka Kate aku belum selesai bicara!" teriak Bintang dari arah luar.
"Kate! Kate!"
Persetan dengan teriakan Bintang di luar, Katrina sama sekali tidak berniat untuk mendengarkan apalagi sampai harus menjawabnya. Perempuan itu malah bernyanyi-nyanyi dalam kamar agar tidak lagi mendengar suara Bintang di luar sana. Setelah meletakkan semua belanjaannya di atas ranjang, wanita itu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri setelah seharian memuaskan diri dengan shoping dan berjalan-jalan.
Dor dor dor.
Bintang masih menggedor pintu.
"Argh!" kesalnya sebab Katrina tidak pernah menggubris panggilannya sedari tadi.
Daripada membuat mood-nya semakin hancur Bintang kembali ke dalam kamarnya dan langsung membanting pintu dengan keras setelah itu pria itu membanting tubuhnya ke atas ranjang.
"Argh apa yang harus kulakukan?" Bintang bergumam sendiri lalu menarik nafas panjang.
"Apa aku harus menceraikan Katrina juga?"
"Ah tapi tidak, aku tidak bisa menceraikan Katrina sebelum mendapatkan Mentari kembali." Egonya terlalu tinggi, dia mengingat prediksi Gala dulu yang mengatakan jika tidak melepas salah satu istrinya dengan cepat maka dirinya akan kehilangan dua-duanya.
"Perkataan Gala tidak boleh menjadi kenyataan. Malu lah aku kalau sampai tebakannya benar. Bisa-bisa tuh orang jadi besar kepala."
Bintang memejamkan mata, tetapi dia tidak tidur. Dia masih bicara seorang diri.
"Tapi apa yang akan aku lakukan menyikapi sifat Katrina yang semakin hari semakin membantah saja?" Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Berharap akan muncul ide dari kepalanya itu.
"Ckk, aku teramat lelah untuk memikirkan hal itu, daripada rambutku rontok hanya karena banyak berpikir mending aku tidur saja deh, sudah malam juga. Biarlah semuanya kupikirkan hari esok saja." Malam itu Bintang memutuskan untuk tidur daripada harus mengurusi Katrina.
Berbanding terbalik dengan Bintang yang bisa tidur setelah marah-marah, di dalam kamar sebelah Katrina malah tidak bisa terlelap saat memejamkan mata.
"Arka."
__ADS_1
Wanita itu memikirkan Arka yang dia lihat menaiki mobil mewah.
"Apa kinerjanya bagus hingga bos-nya menghadiahi mobil sebagus itu?" Kemarin Katrina melihat Arka menaiki mobil tapi tak sebagus ini dan sekarang Kartini bangga dengan kekasih gelapnya ini sebab terlalu cepat berkembang.
Rasa penasarannya yang terlalu tinggi membuat wanita ini memilih untuk membuntuti Arka sebelum pulang ke rumah seusai berbelanja.
Katrina terhenyak saat membuntuti Arka menemukan kenyataan bahwa perusahaan tempat kekasihnya itu begitu besar, bahkan perusahaan milik Gala maupun Tuan Winata pun seolah tidak bisa menyainginya.
"Pantas saja fasilitas untuk karyawannya bagus," batin Katrina. Lain kali dia akan meminta Arka untuk memasukkan dirinya ke perusahaan itu.
"Menjadi manager saja fasilitasnya waw apalagi kalau sampai bisa meraih posisi sekretaris." Katrina masih saja percaya diri bahwa perusahaan lain akan menerimanya bahkan dirinya tetap akan bisa mempertahankan posisinya sebagai sekretaris meskipun bukan di perusahaan Gala.
"Lebih baik aku hubungi Arka sekarang." Katrina langsung meraih posisi dalam tas dan mendeal nomor Arka.
"Kenapa Kate, kamu telepon malam-malam seperti ini?" Arka langsung bertanya saat menerima telepon dari Katrina.
"Hmm, ada lowongan tidak di perusahaan kamu?" tanya Katrina tidak ingin berbasa-basi.
"Oh kalau begitu aku tidak tahu. Besok saya akan tanya pada pihak hrd dulu."
"Oke, tolong ya Arka kalau bisa kamu rekomendasikan aku agar diterima di posisi tebaik," ucap Katrina penuh harap.
"Akan saya coba," sahut Arka.
"Oke terima kasih ya. Aku tunggu kabar baik dari kamu."
"Oke sayang ditunggu besok ya, sekarang sudah malam, jadi bobo saja ya biar besok kalau ada lowongan bisa langsung datang ke perusahaan."
"Oke."
"Good night, sayang. Semoga mimpi indah.
"Selamat malam juga."
Katrina langsung meletakkan ponselnya yang sambungannya sudah diputuskan oleh Arka terlebih dahulu.
__ADS_1
"Argh sepertinya hari esok akan lebih baik." Katrina tersenyum senang lalu memejamkan mata.
Bersambung.