HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 52. Pencarian


__ADS_3

"Kalau makan tidak boleh bicara," ucap Mega berkilah.


"Ya sudah ayo makan jangan bengong aja. Menatap wajah seseorang tidak membuat perut kita kenyang," ucap Nanik berbisik di telinga Mega.


"Nggak apa-apa yang penting mataku kenyang." Mega membalas berbisik di telinga Nanik. Mendengar jawaban Mega entah kenapa Nanik menjadi kesal. Ingin rasanya ia mencolok mata Mega karena masih saja menatap wajah ustadz Alzam.


"Terserah deh, perut juga perut kamu. Mau lapar mau kenyang terserah. Yang penting saat kerja ya harus kerja nggak boleh mengeluh lapar."


"Mbak Nanik kalau makan tidak boleh sambil bicara, nanti tersedak."


"Ah iya ustadz." Nanik menunduk dan melanjutkan makannya. Tidak perduli lagi dengan Mega di sampingnya.


"Sarah kakak nanti malam ada acara untuk mengisi ceramah di sebuah majelis di luar kota. Kakak minta tolong ya kamu temani ibu, kasihan beliau seorang diri di rumah."


"Baik Kak. Kak Alzam bawa mobil Sarah saja biar Sarah yang pakai motor Kakak."


"Tidak usah Sarah saya berangkatnya bareng rombongan soalnya. Jadi sekalian ikut mobil mereka."


"Ya udah naik apapun itu yang penting Kak Alzam harus hati-hati."


"Insyaallah. Saya permisi pulang ya, ingat nanti sore kamu harus sudah berada di rumah."


"Siap Kak. Kak Alzam tenang saja. Sebelum kak Alzam pergi Sarah sudah sampai sebab sore ini Sarah lagi tidak aja jam kuliah."


"Bagus. Kalau begitu kakak pergi ya. Assalamualaikum semuanya."


"Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarakatuh," jawab semua orang.


Ustadz Alzam punya pergi dan semua orang kembali ke tugasnya masing-masing.


Mentari membereskan semua makanan dan piring-piring kotor sedangkan Sarah melayani para pembeli. Nanik dan Mega tampak sibuk kembali karena ada yang menelpon dan memesan kue untuk sebuah acara.


Jam 3 sore Sarah pamit duluan untuk menghampiri sang kakak yang akan berangkat bekerja sekaligus menemani sang ibu yang sendirian di rumah.


Satu jam kemudia Tuan Winata menyempatkan menjemput Mentari sepulang dari kantor.


"Bagaimana sudah diambil baju-bajunya atau mau mampir ke toko pakaian dulu?"


"Sudah Pa, sudah ada di rumah."


"Wah kamu gercep banget nih. Seneng deh papa dengernya kalau begini. Nggak ketemu Bintang kan?"


"Nggak Pa, Papa tenang saja."


"Oke bagus."


Mereka pun masuk ke dalam mobil dan pulang ke rumah Tuan Winata.


Di tempat lain. Di dalam apartemen Bintang kelabakan saat membuka kamar sudah tidak menemukan baju-baju Mentari.


"Kapan dia ke sini? Mengapa bajunya sudah tidak ada?" Bintang tampak termenung.


"Mungkin tadi siang. Dia datang bersama siapa?" Bintang bangkit ingin mengecek cctv. Namun, kemudian dia mengingat bahkan dulu dia telah mencopot alat itu dari unit apartemennya dengan alasan tidak suka privasinya akan terekam. "Sial!"

__ADS_1


Bintang meraih ponsel dalam kantong dan langsung menelpon ke nomor Mentari. Sayangnya bukannya mendengar suara Mentari pria itu malah mendengar suara operator yang mengatakan bahwa nomor yang dia putar Salah.


"Arh!" Bintang yang emosi langsung melempar ponselnya sembarangan.


Katrina mengernyit. "Kenapa Bin?" tanyanya sambil berjalan masuk kamar.


"Kapan Mentari pulang?"


Pertanyaan Bintang membuat dahi Katrina mengerut lalu dengan entengnya dia berkata, " Tidak tahu." Katrina mengendikkan bahu.


"Bagaimana kamu bisa tidak tahu, bukankah kamu seharian ada di apartemen?" Bintang terlihat murka.


"Kamu kok malah marahin aku sih Bintang? Dianya aja yang nggak punya aturan. Pergi nggak bilang-bilang sama suami itu artinya dia tidak menghargai kamu sebagai suaminya. Jadi istri kok kabur-kaburan."


Mendengar ocehan Katrina Bintang menjadi panas. "Awas kamu ya Mentari kalau ketemu." Bintang mengepalkan tangannya kuat, merasa tidak dihargai sebagai suami.


Katrina tersenyum licik karena telah berhasil membuat Bintang semakin membenci Mentari.


Saat-saat seperti itu terdengar ponsel Bintang berbunyi.


"Masih hidup dia kupikir sudah hancur." Bintang bangkit dari ranjang dan mencari arah suara ponselnya yang berdering.


"Ternyata ada di sini." Bintang meraih ponselnya yang tergeletak di bawah meja di sudut ruangan.


Matanya membelalak saat melihat siapa yang menghubunginya.


"Ibu Mertua." Bintang menimang-nimang ponsel di tangan, ragu antara mau mengangkat atau tidak. Dia tidak tahu harus menjawab apa jika ibu mertuanya menanyakan Mentari.


"Ibunya Mentari." Bintang masih terlihat ragu hingga akhirnya panggilan terputus Bintang bernafas lega.


Namun tidak bertahan lama kini kekhawatiran melanda kembali karena ponselnya berbunyi lagi dan masih dari orang yang sama.


"Angkat saja dan katakan Mentari kabur dari rumah biar dia tahu kelakuan Mentari yang suka pergi tanpa pamit pada suami."


"Kate diamlah! Kau membuatku semakin tidak konsentrasi."


Bintang menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab panggilan telepon dari Warni.


"Halo Bu, ada apa?"


"Nak Bintang, ibu ingin bicara pada Mentari."


"Mentari sedang keluar Bu bersama teman-temannya. Mereka lagi shoping. Kenapa ibu tidak menelpon ke nomor Mentari langsung?"


"Sudah Nak berulang kali ibu sudah menelepon, tetapi nomornya sudah tidak aktif."


"Sebaiknya ibu telepon lagi nanti saja."


"Begini aja Nak. Kalau Mentari pulang bilang saja kalau adiknya demam dan memanggil nama dia. Mungkin Pandu rindu sama kakaknya Nak."


"Iya Bu. Nanti Bintang akan sampaikan," ucap Bintang.


"Terima kasih ya Nak."

__ADS_1


"Iya Bu sama-sama."


Panggilan langsung diputus oleh Bintang.


"Saya harus mencari." Bintang bergegas keluar kamar.


"Bintang mau kemana? Jangan pergi!"


Bintang terus melangkah.


"Bintang, aduh sakit." Katrina pura-pura meremas perutnya, tapi sayangnya Bintang sudah jauh melangkah sehingga tidak mendengar perkataan Katrina apalagi melihatnya.


"Bre*gsek gara-gara wanita itu Bintang sampai mengabaikan aku!" Katrina memukul tepi ranjang.


"Au, sakit." Ia meringis tangannya mengenai pinggiran ranjang besi.


"Awas ya kamu Mentari. Apapun caranya aku akan berusaha memisahkan kalian."


Bintang masuk ke dalam mobil tetapi tidak tahu tujuannya akan kemana. Bertanya pada papanya tidak mungkin. Ya dia akan disalahkan atas kepergian Mentari.


"Bodoh kenapa aku tidak bertanya pada Sarah saja?" Bintang memukul setir kesal dengan otaknya yang tidak encer.


Ia kembali turun dari mobil dan menutupnya. Melangkah tergesa-gesa menuju apartemen Sarah.


"Dia tidak akan kemana-mana paling menginap di kamar Sarah. Aku yakin itu karena dia tidak punya teman di sini dan juga tidak terlalu tahu akan jalanan di kota ini." Raut wajah Bintang yang kesal tapi berubah berbinar. Bahkan terlihat dia tersenyum.


"Ini dia unit apartemennya." Bintang membunyikan bel, tetapi tak ada yang membukakan pintu.


"Sarah! Sarah buka pintunya!" Bintang beralih mengetuk-ngetuk pintu.


"Sarah ada yang ingin saya tanyakan." Tetap tak ada suara. Bintang menggedor-gedor tetapi masih saja tidak ada yang menjawab.


"Sepertinya dia tidak ada di dalam." Bintang berbalik kembali ke mobil. Kali ini tujuannya adalah toko kue dan roti. Entah toko roti dan kue yang mana karena dia tidak pernah menanyakan nama toko kue dan roti yang menampung Mentari bekerja.


Hari sudah semakin gelap. Bintang tak menemukan Mentari di toko kue manapun. Bahkan saat menghampiri Nanik di toko Sarah, dia mengatakan tidak kenal pada Mentari.


Bintang teringat akan Gala. Bagaimanapun Mentari juga kenal dengan bosnya itu. Bintang langsung menghubungi Gala.


"Kenapa Bin? Apa ada yang masih kurang jelas?"


"Bukan Pak ini bukan masalah pekerjaan."


"Terus masalahnya apa?"


"Mentari kabur dari apartemen? Apa dia tidak bersamamu?"


"Apa? Kau gila ya. Kamu suaminya mengapa dia harus bersamaku?"


"Siapa tahu Pak Gala melihatnya."


"Tidak aku tidak melihatnya," ucap Gala dan langsung menutup telepon. Bintang hanya membuang-buang waktunya saja. Padahal saat ini Gala masih menyuapi sang ayah.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2