HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 77. Berselisih


__ADS_3

"Mentari!"


"Pak Gala!"


Kaget Bintang yang melihat adegan yang terpampang di depannya.


Keduanya menoleh secara bersamaan.


"Mas Bintang?" Mentari terbelalak.


"Bintang?" Gala pun tak kalah kagetnya.


Mentari segera melepaskan tangan Gala dari pinggangnya.


"Oh ini yang kamu lakukan di belakangku, hah!" Bintang terlihat murka.


"Pantas saja kau pergi dari apartemen, ternyata kau ingin bebas bermesraan dengan Pak Gala," tuduhnya.


"Mas ini tidak seperti yang kamu lihat. Aku keluar dari apartemen bukan karena ingin ...."


Belum sempat melanjutkan perkataannya Bintang mengangkat tangan agar Mentari tidak bicara lagi.


"Bintang, semua bisa ku jelaskan. Apa yang kamu lihat tidak seperti kenyataannya. Tadi Mentari hampir terjatuh dan aku berusaha menangkapnya agar dia tidak jatuh pada pecahan beling ini." Gala mencoba menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Namun, Bintang menggeleng, dia tetap tidak percaya pada Gala dan Mentari.


"Kalian pikir aku akan percaya begitu saja dengan alasan kalian hah?"


"Kau boleh tidak percaya padaku dan pada Mentari Bin, tapi di sini bukan cuma ada kami berdua saja. Ada papa yang bisa menjadi saksi dan ada bibi juga. Kau bisa bertanya pada mereka sebenarnya apa yang telah terjadi di sini."


"Hmm." Bintang tersenyum sinis.


"Kau pikir aku akan percaya dengan jawaban yang akan diberikan pembantumu ini? Tidak Pak Gala, kalian pasti sudah bersekongkol untuk menutupi perselingkuhan kalian termasuk dengan pembantumu ini." Bintang berkata sambil menunjuk si bibi dan juga menekankan pada kata Pak Gala.


"Mas aku bukan tukang selingkuh, jangan pernah menuduhku sembarangan." Mentari membela diri. "Tanyakan sama papa Tama aku hanya ingin menuntunnya ke kamar dan tiba-tiba aku tergelincir, Pak Gala terpaksa berlari dan menangkapku," jelas Mentari.


"Papa? Waw hebat banget, belum apa-apa sudah manggil papa sama paman Tama. Niat banget ya menjadi istri seorang Gala?"


"Mas!" bentak Mentari dia sangat tidak suka dengan perkataan Bintang.


"Bintang paman bisa menjelaskan semuanya. Kamu jangan emosi dulu." Tama yang dari tadi hanya menyaksikan dengan diam akhirnya angkat bicara. Dia merasa bersalah karena ulah dirinya terjadi salah paham seperti ini.


"Paman tidak usah ikut campur, dimana-mana tidak akan ada yang bisa percaya dengan perkataan orang yang tidak waras," ucap Bintang dengan suara lantang.

__ADS_1


Mendengar perkataan Bintang yang mengatakan papanya tidak waras, Gala tidak terima. Gala langsung menarik kerah baju Bintang dan memukuli wajah dan tubuh pria itu beberapa kali.


Bug-bug-bug!


"Pak hentikan!" Mentari berteriak melihat wajah Bintang yang sudah berlumuran darah. Bintang tidak bisa melawan karena Gala langsung memukulnya secara bertubi-tubi tanpa jeda.


"Sekali lagi kau mengatakan papa gila maka jangan salahkan aku jika aku membuatmu lumpuh!" Gala mendorong Bintang hingga terjungkal ke belakang untung saja tubuhnya tidak mengenai pecahan beling.


Bintang bangkit dari lantai, memeriksa tubuhnya yang sudah terlihat babak belur akibat ulah sepupunya sendiri. Bintang mengibar-ngibaskan tangan di bajunya lalu meraih proposal yang dibawanya tadi yang kini terlempar di sampingnya.


"Aku tidak menyangka kau memang benar-benar menyukai Mentari. Kupikir kau hanya bercanda. Satu hal yang aku tidak suka, kalian bermain di belakangku," sesal Bintang. Dia masih saja buruk sangka membuat Gala semakin kesal saja.


"Ya saya memang menyukai Mentari. Ceraikan dia dan aku akan menikahinya." Gala yang sudah teramat marah tidak bisa mengontrol ucapannya.


Pernyataan Gala itu, sontak membuat Mentari maupun Tama terlihat kaget. Mentari tampak menggelengkan kepala berharap apa yang didengarnya ini tidaklah benar.


"Hmm, ingat! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menceraikan Mentari dan kau bermimpi lah terus untuk mendapatkan Mentari karena hal itu tidak akan pernah menjadi kenyataan."


"Kau mungkin tidak akan menceraikannya, tetapi aku akan membantu Mentari agar terlepas dari belenggu pernikahan yang sama sekali tidak bisa membuatnya bahagia," kecam Gala.


"Kau!" Bintang menuding Gala lalu melempar proposal di tangannya. "Aku mengundurkan diri dari perusahaan."


"Mas Bintang lepaskan! Aku tidak mau pulang denganmu." Mentari berusaha melepaskan pegangan tangan Bintang yang begitu kuat mencengkram tangannya. Dia takut pergi bersama Bintang sekarang.


"Kau harus pulang atau kalau tidak akan ku sebarkan pada penduduk kampung bahwa kau bukanlah istri yang baik. Kau meninggalkanku dan pergi berselingkuh dengan laki-laki lain," ucap Bintang dengan posisi masih menyeret Mentari keluar dari rumah.


"Bintang jangan kasar sama Mentari!" Gala yang hendak menarik Mentari ditendang oleh Bintang. "Jangan pernah ikut campur, ini urusanku dengan istriku sendiri!" bentak Bintang.


"Mas lepas! Aku bisa jalan sendiri." Mentari meringis kesakitan Bintang begitu kasar menariknya.


Bintang tidak mendengarkan perkataan Mentari, ia terus saja menyeret wanita itu hingga sampai di samping mobil. Pak satpam yang melihat hanya terlihat bingung dan tidak berani ikut campur melihat wajah Bintang yang terlihat merah padam dikuasai amarah.


Setelah membuka pintu mobil, Bintang mendorong tubuh Mentari ke dalam masih dengan kasar.


"Auw." Mentari meringis kesakitan. Dia meraba dahinya yang kepentok dasboard mobil. Terasa ada benjolan di sana. Mentari menutup wajah dengan kedua tangan dan menangis di dalam sana. Namun, sebisa mungkin dia menahan agar tangisnya tidak mengeluarkan suara.


"Turun!" perintah Bintang setelah mereka sampai di depan gedung apartemen. Mentari pun menurut dan berjalan ke dalam dengan terus menunduk.


Setelah sampai di depan unit apartemennya Bintang membuka pintu dan menyuruh Mentari masuk ke dalam.


"Mandilah! Aku tidak suka ada parfum pria lain di tubuhmu."

__ADS_1


Mentari pun mengangguk dan berjalan ke arah kamar mandi. Sedangkan Bintang tampak duduk di sofa mencoba menetralisir kemarahannya sendiri.


Selesai mandi Mentari duduk di tepi ranjang. Memikirkan nasibnya sendiri. Mentari merasa hidupnya seolah terombang-ambing di kota.


"Ibu aku ingin pulang."


"Ayah bawa Mentari pergi bersama ayah."


Dia menutup wajah dengan kedua tangan lagi dan menangis sesenggukan. Meratapi nasibnya yang seperti homo sapiens saja, dimana tempat tinggalnya nomaden atau berpindah-pindah. Beberapa hari tinggal di apartemen, beberapa hari tinggal di rumah mertuanya, beberapa hari tinggal di rumah Tama dan setelah ini dia akan berpindah kemana lagi?


"Akh." Mentari pusing dibuatnya. Haruskah dia menghilang dari semua orang?


Tidak ini bukan jalan terbaik menyelesaikan masalah.


Mentari tampak berpikir, dia juga tidak punya ganti baju sekarang. Haruskah dia memakai baju Bintang.


"Biarlah aku akan tetap memakai jubah mandi ini." Mentari berpindah tema sekarang ia


duduk di depan meja rias. Bukan untuk merias wajah atau menggunakan make up, tetapi hanya untuk melihat benjolan di dahinya.


Saat berada di sana ia mengingat telah meletakkan sesuatu di dalam laci dibawah meja rias.


Mentari bergegas membuka laci itu dan mengambil kado yang diberikan Sarah, Nanik dan juga ustadz Alzam.


Kado pertama yang dibuka oleh Mentari adalah kado dari Sarah meskipun dia sudah tidak penasaran dengan isinya karena saat memberikan Sarah sudah memberitahu bahwa isinya adalah novel.


Hadiah kedua dari Nanik yang sudah jelas isinya karena tidak dibungkus dengan kertas kado. Dari luar sudah nampak bahwa isinya adalah sebuah tas.


Hadiah ketika berupa kotak berwarna merah. Entah mengapa Mentari mengingat wajah ustadz Alzam yang terlihat begitu tulus saat menyodorkan benda itu ke tangannya begitupun dengan perkataannya.


"Selamat hari lahir ya. Terimalah kado ini dariku meski sangat sederhana sekali. Semoga kamu suka dan bermanfaat."


Dengan tangan yang gemetar Mentari mencoba membuka kado tersebut. Tampak sebuah kain yang terbungkus oleh plastik.


Mentari meletakkan kotak tersebut dan beralih membuka bungkusan plastik itu. Ternyata isinya adalah gamis berwarna putih lengkap dengan kerudungnya.


"Ustadz kamu benar barang ini sangat aku perlukan saat ini. Terima kasih ustadz," gumam Mentari dengan air mata yang telah berlinang di pipinya.


Mentari segera mengganti jubah mandinya dengan baju gamis pemberian ustadz Alzam. Namun, untuk sementara dia meletakkan kerudung yang menjadi setelan bajunya itu. Mungkin suatu saat nanti dia bisa memakainya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2