HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 155. Arka


__ADS_3

"Siapa sayang?" Seorang wanita paruh baya dengan rambut yang tergerai basah berjalan mendekat ke arah Arka yang masih bersandar di ranjang. Namun, meskipun usianya hampir memasuki setengah abad, wanita itu tampak segar, bugar, dan awet muda sehingga terlihat lebih muda dari umurnya.


"Teman Bu," jawab Arka berbohong. Tidak mungkin bukan mengenalkan Katrina kepada Bu Bos dengan sebutan kekasih gelap. Bisa ketahuan Bintang hubungan mereka selama ini dan hal itu bisa merusak impian Katrina.


"Teman apa teman?" Perempuan itu tampak memiringkan wajah ke arah wajah Arka dan menatap intens mata pria itu seperti menyelidik.


"Teman Bu," sahut Arka lagi.


"Oh, mau apa dia malam-malam menelponmu?"


"Nanya ada lowongan pekerjaan ataukah tidak di perusahaan Ibu. Kalau ada Arka minta supaya ibu bisa memasukkan dia bekerja di perusahaan ibu," mohon Arka.


"Apa dia ada pengalaman kerja sebelumnya?"


"Ada Bu, sebelumnya dia bekerja di perusahaan sebagai sekretaris."


"Dimana?" tanya wanita itu lagi.


"Maksud Ibu?"


"Dia menjaga sekretaris di perusahaan apa."


"Oh, di perusahaan Pradiatama dibawah pimpinan Galaksi Pradiatama," jelas Arka.


Wanita itu tampak terhenyak.


"Mengapa Ibu kaget begitu? Apa ada sesuatu yang ganjil? Atau Ibu mengenal Gala?"


"Ah nggak hanya tahu saja, perusahaan itu adalah salah satu perusahaan besar. Mengapa tidak bertahan di sana?"


"Sebenarnya teman saya itu ada masalah dengan adik dari Gala, tapi kakaknya malah mencampur adukkan urusan pribadi dengan masalah pekerjaan hingga membuat sahabat saya itu harus dikeluarkan dari perusahaan miliknya."


Wanita itu mengernyit.


"Wah tidak profesional sekali ya yang namanya Pak Gala itu."


"Ya begitulah Bu. Namanya pemilik perusahaan bisa melakukan apapun yang dia inginkan termasuk memecat karyawan yang tidak disukainya."

__ADS_1


"Kau tidak menyindir aku, bukan?"


"Ah tidak Bu, kalau Ibu sangat berbeda. Ibu adalah orang terbaik yang pernah saya temui," puji Arka. Lidah tidak bertulang apapun akan Arka ucapkan ataupun lakukan asal pundi-pundi rupiah bisa mengalir terus ke rekeningnya. Rekening gendut adalah impiannya agar bisa meyakinkan Katrina agar mau hidup dengannya.


"Besok akan saya cek, kalau ada akan saya kabari dirimu langsung."


Arka mengangguk dan tersenyum.


"Ibu benar-benar baik, semoga memang ada tempat di perusahaan ibu untuk menampung sahabatku itu. Kasian Bu dia sekarang menjadi pengangguran."


"Iya akan saya usahakan, kamu pergilah sebelum saya meminta jatah lebih lagi malam ini! Untuk beberapa hari ini saya tidak akan membutuhkan layananmu lagi karena suamiku akan pulang dari Amerika."


Arka mengangguk dan langsung memasang pakaiannya kembali. Setelah memasang sepatunya Arka langsung pamit pergi.


"Kalau begitu saya pulang sekarang Bu."


"Iya hati-hati di jalan. Kau tenang saja sebelum kau sampai di rumah rekeningmu sudah terisi."


Arka mengangguk dan langsung keluar dari apartemen tanpa menoleh sedikitpun.


Setelah Arka hilang dari pandangan mata, terdengar bunyi ponsel.


"Halo Ma. Kapan Mama pulang, ini kan sudah malam?" Seorang gadis kecil tampak merengek dari ujung telepon.


"Sekarang mama sudah mau pulang. Maaf ya sayang mama pulangnya telat sebab pekerjaan mama baru kelar."


"Iya tidak apa-apa asal mama pulang. Silvia tidak bisa tidur kalau tidak memeluk mama."


"Iya sayang mama otw pulang."


"Baiklah Silvia akan menunggu."


"Oke."


Perempuan itu mengambil tasnya lalu keluar dari unit apartemen dan berjalan menuju tempat mobilnya terparkir. Setelah sampai dalam mobil segera ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, menerobos jalanan yang terlihat lebih sepi dari biasanya.


"Mama!" Gadis kecil tampak berlari dengan senyum ceria melihat mamanya datang.

__ADS_1


***


Di tempat lain.


Arka sampai di rumah langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya dari sisa-sisa percintaan dengan Bu Bos nya tadi. Baginya yang hanya tinggal seorang diri tidak menjadi masalah akan pulang jam berapa sebab tidak akan ada yang protes kapanpun dirinya pulang. Tidak pulang sekalipun tidak akan ada yang menanyakan keberadaannya. Sungguh ironis seseorang yang hanya hidup sebatang kara. Namun, bagi Arka itulah kebebasannya.


"Bu Bos terlalu agresif padahal sudah tua. Sebenarnya aku malas melayaninya," keluh Arka sambil menggosok tubuhnya dengan sabun.


"Kate maafkan aku. Ini semua demi kamu," gumam Arka. Dalam hati merasa bersalah karena telah mengkhianati pujaan hatinya. Namun, bukankah Katrina lebih membutuhkan harta dibandingkan cintanya?"


"Tapi kau juga tidur dengan Bintang," gumam Arka lagi. "Apa bedanya aku dengan dirimu?"


Padahal jelas saja berbeda, Katrina sah bersama Bintang dan dengan dirinya tidak, sedangkan Arka dengan Katrina maupun Bu Bos-nya sama saja. Sama-sama menabung dosa.


Arka segera menyelesaikan mandinya kala merasa matanya ngantuk sekarang walau sudah terkena siraman air yang seharusnya bisa membuatnya lebih segar kembali.


Saat Arka kembali ke kamar terdengar notifikasi dari dalam ponselnya.


"Apakah Kate yang nge-chat aku?" Buru-buru Arka menyambar ponsel miliknya yang terbengkalai di atas ranjang.


Matanya terbelalak tatkala membaca notif M-banking yang masuk. Dia kaget melihat nominal yang dikirimkan oleh wanita tadi.


"Bu Bos benar-benar royal. Kalau begini terus aku bisa cepat kaya," gumamnya pada diri sendiri.


"Aku kaya!" teriaknya bahagia sambil melempar lagi ponselnya ke atas ranjang.


Setelah itu Arka langsung menyambar pakaian di dalam lemari dan mengganti handuk yang dipakainya dengan baju yang diambilnya itu.


Setelah selesai memasang baju, Arka langsung mengambil ponselnya lagi untuk diletakkannya di meja samping tempat tidur dan di bawah lampu tidur sebelum dirinya terbaring. Memejamkan mata di atas lautan kapuk.


"Katrina." Dia jadi mengingat Katrina saat melihat wajah wanita itu di layar ponselnya.


"Dulu aku sering malak dia dengan selalu meminta gajinya. Tidak ada salahnya sekarang saya mengirimkan uang saat dia sudah tidak bekerja lagi."


Arka langsung mentransfer sebagian uang yang dikirimkan oleh Bu Bos nya tadi ke rekening Katrina.


"Semoga setelah tahu aku banyak uang dia akan melepaskan diri dari Bintang," ucap Arka penuh harap dengan bibir yang tersenyum membayangkan Katrina lebih memilih hidup dengannya ketimbang masih bertahan dengan Bintang.

__ADS_1


"Cinta memang benar-benar membuat orang menjadi bodoh," ungkapnya sambil menggelengkan kepala lalu naik ke atas ranjang untuk mengistirahatkan diri setelah seharian bekerja ditambah lagi harus memberikan servis yang memuaskan untuk sang Bos, sebab semakin memuaskan transferannya semakin tinggi.


Bersambung.


__ADS_2