
Jadilah acara ulang tahun untuk kedua kalinya di umur Mentari yang sudah menginjak 22 tahun ini. Meskipun hanya pesta kecil-kecilan, tapi Tama mengundang beberapa kerabatnya termasuk Bintang dan keluarganya.
"Papa kok nggak bilang-bilang sih mau ngadain pesta begini. Kalau tahu kan aku undang teman-temanku juga. Sarah juga belum aku kasih tahu," keluh Mentari.
"Tidak usah kasih tahu dia, dia sedang sibuk," jawab Tama.
"Papa kok tahu sih dia sibuk?" tanya Mentari heran. Bagaimana mungkin sang ayah bisa tahu kegiatan Sarah saat ini. Bukan hanya Mentari Gala pun mengernyit mendengar kalimat sang Papa.
"Oh itu, kenapa papa tahu? Tadi aku ketemu dia di jalan saat membeli kado untukmu. Tadinya papa mau minta bantuan dia untuk menyuplai ultah ini tapi saat aku berbasi-basi bertanya dia mengatakan dirinya saat ini memang sibuk jadi papa mengundurkan diri untuk meminta bantuannya."
Gala mengangguk paham mendengar penjelasan sang Papa. Dia berpikir mungkin benar Tama tadi tidak sengaja bertemu Sarah saat wanita itu dalam perjalanan pulang dan saling menyapa saat bertemu.
"Oh begitu ya Pa?"
"Iya, katanya dia dikasih tugas sama bos-nya tempat dia magang untuk menyakinkan klien besok agar bekerjasama dengan perusahaan tempatnya magang. Jadi sudah bisa dipastikan bukan malam ini dia harus memeras otak untuk mencapai tujuannya."
Gala menganga mendengar penjelasan dari sang Papa.
"Dia berkata seperti itu Pa?" tanyanya penasaran.
"Katanya sih iya. Papa heran aja mana ada bos di perusahaan meminta ditemani siswa magang untuk bertemu klien. Kayak nggak ada karyawan lagi di sana. Jadi penasaran perusahaan macam apa yang tengah dimasuki Sarah sekarang?"
Gala hanya menelan ludah mendengar perkataan sang papa.
"Oh ya Gala kenapa kamu bertanya seperti tadi sama papa? Pasti kamu nggak yakin ya dengan itu semua. Papa juga nggak yakin ya dengan hal itu, tapi papa yakin Sarah nggak akan bohong," ujar Tama lagi.
"Iya Pa aneh aja." Gala hanya bisa berkata seperti itu.
"Iya aneh tuh pemimpin perusahaannya. Kalau kamu nggak mungkin kan meminta siswa magang seperti itu. Papa yakin kamu tidak akan melakukan hal itu hanya karena kepentingan pribadi karena citra perusahaan akan dipertaruhkan jika persentasi gagal nanti."
Untuk kedua kalinya Gala menelan ludah. Namun, kepalanya terlihat mengangguk.
"Ya sudah deh Pa kalau begitu Cahaya nggak akan ngabarin Sarah biar dia fokus saja untuk menyiapkan segalanya besok. Mungkin kemampuan Sarah bisa diandalkan sehingga pemilik perusahaan mempercayakan pada dia. Kita berpikir positif saja," ujar Mentari dijawab anggukan oleh semua orang.
"Ya sudah kita mulai saja," ujar Tama agar memulai acara ultah putrinya itu.
Baru saja hendak bernyanyi lagu ulang tahun, Bintang dan kedua orang tuanya datang.
"Abi!" Mentari merasa takut lagi. Wanita itu meraih tangan sang suami dan ustadz Alzam menggenggam tangan sang istri dengan erat sambil berbisik, " Tenang tidak usah berpikiran macam-macam. Dia tidak akan berani mengganggu dirimu lagi."
Mentari mengangguk dan mencoba menarik nafas panjang.
"Apa yang dikatakan Abi benar apalagi di sini ada Papa Tama, Mas Gala juga ada Papa Winata," batin Mentari.
"Selamat ulang tahun ya Mentari, eh Cahaya. Maaf mama sudah terbiasa memanggilmu Mentari," ujar Arumi.
"Nggak apa-apa Ma santai saja. Semua orang malah masih memanggilku dengan nama itu termasuk suamiku juga. Yang memanggil Cahaya cuma Papa dan Mas Gala," ujar Mentari dengan senyum tipis di bibirnya lalu mendongak ke atas, memandang wajah sang suami yang juga sedang tersenyum padanya.
"Selamat ulang tahun ya Me." Bintang mengulurkan tangannya ke arah Mentari. Mentari menatap sang suami sebelum menerima uluran tangan Bintang.
Melihat sang suami mengangguk terpaksa Mentari menerima uluran tangan Bintang meski cepat-cepat pula Mentari menarik tangannya kembali.
"Ini kadonya, maaf cuma ini yang bisa saya berikan padamu." Bintang mengulurkan kado ke hadapan Mentari tetapi wanita itu enggan menerimanya.
"Terima kasih." Ustadz Alzam yang mengambil dan meletakkan di atas meja.
Bintang mengangguk dalam hati dia paham pasti Mentari masih membenci dirinya hingga tidak mau menerima apapun pemberian dari Bintang.
"Kado dari kami masih di luar. Bibi tadi yang mengambil alih untuk membawakan," jelas Arumi.
"Iya tidak apa-apa Ma, terima kasih banyak," ujar Mentari.
Pesta ulang tahun kecil-kecilan itu pun dimulai. Setelah meniup lilin Mentari memotong kue dan tentu saja potongan pertama tetap untuk sang suami.
"Maaf ya Pa, untuk Abi dulu," ucap Mentari merasa tidak enak pada sang papa.
"Iya nggak apa-apa Ca, kamu tuh sekarang milik suamimu baru milik papa," ujar Tama santai.
__ADS_1
Mentari mengangguk dan menyuapi sang suami dengan potongan pertama kue tart tadi.
Bintang memalingkan muka, tidak mau melihat kemesraan keduanya. Meskipun sekuat apapun dia sudah berusaha melupakan perasaannya pada Mentari, nyatanya dia merasa sakit jika melihat Mentari bahagia dengan orang lain, bukan dengan dirinya sendiri.
Baru setelahnya Mentari menyuapi Tama dengan potongan kue tart berikutnya.
Saat tiba pada giliran Gala wanita itu langsung menaruh potongan kue di atas tangan Gala.
"Suapin juga dong!" pinta Gala menggoda sang adik.
"Ogah ah Mas Gala kan bisa menyuapi sendiri. Kan masih muda," protes Mentari.
"Berarti suami tua dong, tadi kan kamu nyuapi dia," ujar Gala.
"Beda lah Mas dia kan suamiku," sahut Mentari.
"Kalau begitu kamu nggak bakal dapat kado dari kakak," ujar Gala mengancam sang adik.
"Baiklah." Mentari pasrah dan menyuapi sang kakak. "Abis ini ambil kadonya, awas kalau tidak berbobot," kelakar Mentari.
"Ashiap," jawab Gala.
Mentari mengangguk dan memotong kue lagi serta membagi-bagikan pada yang lainnya termasuk kepada para pembantu yang hadir bersama.
Setelah acara pemotongan kue usai Tama memberikan kado spesial untuk Mentari.
"Apa ini? Boleh dibuka ya Pa?" Mentari penasaran melihat kado dari sang papa yang terlihat besar dan datar.
"Boleh," jawab Tama.
Mentari mengangguk dan dengan pelan tangannya merobek kertas kado yang membungkus hadih di dalamnya.
"Waw lukisan?" Mentari terperanjat melihat lukisan yang terpampang di hadapannya kini. Mungkin hadiah ini bukanlah barang mahal, tetapi sangat berarti bagi Mentari sebab dalam bingkai tersebut terlukis gambar keluarganya.
"Ini Mas Gala?" tanya Mentari sambil menunjuk anak laki-laki yang tersenyum di depan Tama.
Mentari melihat-lihat lukisan itu secara seksama, terutama melihat sang Mama yang kini telah tiada.
"Mama! Cahaya ingin bertemu meski hanya dalam mimpi. Cahaya kangen." Mentari mengusap lukisan itu dengan lembut. Ada setitik air mata yang lolos dari pelupuk matanya.
"Itu lukisan mamamu sendiri," ujar Tama dan Mentari hanya mengangguk saja sebab matanya masih fokus memandang Rosa dan dirinya sendiri yang ada dalam gendongan.
"Ummi memang gemes sedari kecil," ujar ustadz Alzam untuk mengalihkan perhatian sang istri agar tidak semakin sedih.
"Akh, Abi ada-ada saja," ujar Mentari lalu bangkit dari posisi berjongkok.
"Saya bawa pulang ya Pa lukisan ini. Apa boleh ya Pa biar jadi pengobatan kangen saat Mentari ingat akan mama," pamit Mentari.
"Pasti itu memang untukmu."
Mentari mengangguk.
"Tunggu Pa! Katanya tadi papa keluar untuk membeli kado masa kadonya cuma ini?"
Sepertinya Tama ketahuan berbohong tentang ceritanya tadi yang mengatakan bertemu Sarah di jalan.
"Ada di kamar Papa tapi kadi yang itu akan saya berikan besok saja," kilah Tama.
"Papa tidak sedang mengerjai kita semua, bukan?" tanya Gala masih penasaran.
"Baiklah kalau kamu tidak percaya. Bik tolong ambilkan kado yang saya bungkus untuk Cahaya tadi di kamar. Bibi kan tadi yang menaruhnya?"
"Iya Tuan." Sang bibi yang mengerti dengan kode yang ditunjukkan majikannya gerak cepat dan langsung pergi dari tempat itu. Dia langsung menelpon seseorang untuk menyiapkan kado tersebut.
"Kado papa yang ditanyaiin, kado dari Mas Gala sendiri mana?" desak Mentari.
"Hehe saya lupa untuk membelinya tadi sebab lupa bahwa hari ini tanggal ulang tahunmu," ujar Gala sambil cengengesan.
__ADS_1
"Dasar! Abang apaan tuh nggak ingat tanggal ultah adiknya. Awa nanti kalau ulang tahun juga. Cahaya akan pura-pura lupa." Mentari pura-pura ngambek.
"Hutang dulu lah Ca, aku beli besok dulu. Lagian jangankan aku suamimu pasti juga nggak ingat kan kalau kamu sekarang ultah?"
"Siapa bilang? Dia yang ingat pertama kali," ujar Mentari.
"Tapi tak ada kadonya juga," bantah Gala.
Bersamaan dengan itu seorang satpam menghampiri Mentari dan menyatakan bahwa ada kiriman mobil untuknya.
"Tuh Mas Gala, Abi kasih aku mobil," ujar Mentari menggoda sang kakak.
"Mas Gala tidak boleh kalah," tambah Mentari lagi.
"Nanti aku belikan kamu kapal deh," ujar Gala tak mau kalah.
"Jet pribadi?" tanya sang Papa kaget.
"Bukan Pa, tapi kapal-kapalan," ungkap Gala lalu terkekeh.
Mendengar perkataan sang kakak yang tidak serius, Mentari langsung menyenggol lengan Gala. "Nggak usah sekalian," ketusnya.
Sementara yang lain sedang menikmati makan malam sambil berbincang-bincang. Gala dan ustadz Alzam keluar untuk mengecek mobil yang baru dibelinya untuk Mentari itu.
Jam sebelas malam semua kerabat pamit pulang termasuk Bintang dan keluarga.
"Yakin nggak mau pulang ke rumah Bin, ini sudah malam loh," ujar Arumi.
"Nggak Ma, aku pulang ke apartemen saja," tolak Bintang.
"Baiklah kalau begitu mama dan papa duluan ya," ujar Arumi.
"Iya Ma."
"Hati-hati Nak." Tuan Winata menepuk bahu putranya sebelum akhirnya masuk ke dalam mobilnya sendiri.
Setelah mobil yang ditumpangi Tuan Winata dan Arumi hilang dari pandangan mata, barulah Bintang masuk ke dalam mobilnya sendiri dan melajukan mobil tersebut menuju apartemen.
Sepanjang perjalanan Bintang membandingkan dirinya dengan ustadz Alzam.
"Pria itu begitu sempurna, pantas saja Mentari memilih dia dibanding diriku ini," gumam Bintang.
"Pria itu tidak hanya takwa dan tampan tetapi juga romantis dan banyak uang. Ternyata aku salah telah menilainya kere saat itu. Dia bahkan lebih punya dariku yang tidak punya apa-apa selain kekayaan orang tuaku."
Perjalanan yang tidak begitu jauh menjadi terasa sangat lama sebab Bintang menyetir dengan tidak bergairah.
"Akh sudahlah, lupakan Mentari dan fokuslah pada Katrina. Kau dulu bahagia dengan Katrina sebelum ada Mentari di sisimu." Suara hati Bintang yang lain.
"Ya aku memang harus fokus pada Katrina dan membuktikan bahwa perempuan itu memang layak menjadi menantu papa. Aku harus membimbing Katrina agar menjadi istri yang baik. Suatu saat, cepat atau lambat papa pasti akan menerimanya," tekad Bintang.
Setelah memarkirkan mobilnya pria itu langsung berlari menuju lift dan masuk ke dalam.
Dengan tergesa-gesa pria itu keluar dari lift dan berjalan menuju unit apartemennya sendiri.
"Loh pintunya tidak dikunci?" Bintang heran Katrina belum mengunci pintu padahal jam sudah menunjukkan hampir jam 12 malam.
Bintang masuk ke dalam dan terus melangkah menuju kamar yang biasanya menjadi tempatnya menghabiskan malam bersama Katrina.
Ada sedikit suara berbisik dari kamar Katrina sehingga Bintang mempercepat langkahnya. Dalam pikirannya Katrina pasti bermimpi buruk saat ini.
"Ada yang terjadi di dalam?" Entah mengapa perasaan Bintang tidak enak mendengar suara dari dalam sana yang sekarang terdengar sangat jelas.
Dengan pelan Bintang memutar handle pintu dan membukanya. Pria itu terperanjat.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Bintang dengan ekspresi wajah yang murka.
Bersambung.
__ADS_1