HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 76. Menemukanmu


__ADS_3

Setelah meninju udara dan melepaskan kekesalannya Bintang berbalik dan meninggalkan tempat tersebut.


Kali ini dia berhenti melakukan pencarian Mentari pun juga berhenti mengikuti papanya karena harus pergi ke kantor dan berniat akan melakukan pencarian esok hari saja.


Sore hari.


Plak.


Bintang meletakkan tasnya sembarangan ketika sampai di apartemen. Katrina yang ada di belakangnya mengeluh karena sejak tadi siang di kantor suaminya itu tidak mau berbicara padanya. Katrina terpaksa masuk kerja karena kemarin sudah masuk lagi ke kantor akibat permintaan Bintang.


"Kenapa sih kamu Bin? Sejak siang cemberut saja. Bawaannya jadi males aku tuh lihat muka kamu."


"Ya sudah nggak usah dilihat kalau malas." Bintang menjatuhkan tubuhnya di atas


sofa lalu bersandar dan menutup mata.


"Pasti karena wanita itu lagi ya?" tebak Katrina.


"Bintang! Bintang! Jangan bodoh kamu, wanita itu sudah jelas-jelas ninggalin kamu, masih saja diharapkan." Katrina menuangkan air putih ke dalam gelas dan memberikannya pada Bintang.


Bintang membuka mata mengambil gelas yang disodorkan Katrina dan meneguk airnya. "Boleh aku minta sesuatu sama kamu Kate?" pinta Bintang dengan penuh harap.


Katrina tampak mengernyit tak biasanya Bintang meminta sesuatu padanya. "Apa itu?"


"Aku mohon jika Mentari nanti kembali kamu berdamailah dengan dia. Jangan berselisih terus Kate. Sekali-kali kau mengalah lah, kamu kan lebih dewasa dibandingkan dia," mohon Bintang.


Dahi Katrina semakin berkerut saja mendengar permintaan Bintang. Baginya permintaan Bintang itu aneh. Dalam hati mana mungkin dirinya bisa berdamai dengan Mentari selagi wanita itu masih belum bercerai dengan Bintang.


Namun, saat Bintang menatap dirinya dengan wajah yang tampak memelas, Katrina tersenyum dan mengangguk. "Baiklah aku akan berusaha menjalin hubungan dengannya layaknya dua istri yang akur." Dalam hati terus berharap jangan sampai Mentari kembali ke sisi Bintang. Jika lama tidak bertemu, Katrina yakin lambat laun perasaan Bintang akan terkikis habis untuk Mentari.


"Nah gitu dong itu baru istriku yang baik hati," ucap Bintang begitu bahagia membayangkan hidup dengan dua istri yang akur dan saling menghargai satu sama lain. Pasti hidupnya akan diliputi bahagia.


"Siapkan air panas Kate, aku mau mandi!" perintah Bintang.


"Baik," sahut Katrina sambil berjalan ke arah kamar mandi. Meskipun dia juga lelah sehabis bekerja, tetapi dia harus baik-baikin Bintang agar Bintang bisa menyayangi dirinya lebih dari ini. Dia bertekad akan mengambil hati Bintang hingga seutuhnya menjadi milik Katrina. Suatu saat Katrina yakin tidak akan ada nama Mentari lagi di dalam hati Bintang.


"Air panasnya sudah siap Bin," ucap Katrina mendekat ke arah Bintang.


"Mandilah! Biar ku siapkan makan malam dulu," lanjutnya.


Bintang mengangguk dan langsung bergegas ke dalam kamar mandi.


Bersamaan dengan itu Pesanan makanan online Katrina datang. Dia langsung membawa ke dapur dan menghangatkan. Setelah itu menghidangkan di meja makan.


Katrina lalu bergegas memanggil Bintang yang sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian.


"Bin makanannya sudah siap," lapornya.


"Oke sebentar, kamu tunggulah di ruang makan," suruh Bintang sambil menyisir rambutnya.

__ADS_1


Katrina mengangguk dan keluar kamar, dia memilih menunggu di ruang tamu.


Beberapa saat kemudian Bintang keluar kamar. "Ayo, katanya mau makan malam," ajak Bintang pada Katrina.


Katrina mengangguk dan bangkit dari duduknya. Mengambil tangan Bintang dan menggandengnya hingga ke ruang makan.


Sampai di meja makan Katrina melayani suaminya makan.


"Bagaimana Bin masakanku enak tidak?" tanya Katrina dengan senyum yang mengembang.


"Ini semua kamu yang masak?" tanya Bintang kaget.


"Iya spesial untukmu. Aku bela-belain belajar loh Bin agar bisa membuatmu bangga," ucap Katrina begitu bersemangat.


"Enak, enak banget malah ini. Semua bumbunya pas. Ternyata kamu juga jago masak ya, tapi sayang kamu malas dari dulu," goda Bintang.


"Iya aku kan juga sibuk di kantor Bin, tapi sekarang aku akan berusaha untuk tetap bisa masak meskipun ngantor."


"Oke bagus, tapi ngomong-ngomong kok cepat masaknya?" tanya Bintang heran. Bukannya Katrina tadi pulang dari kantor bersamanya karena tiba-tiba mobil yang dipakai Katrina bannya bocor di tengah perjalanan pulang. Terpaksa mobilnya itu disuruh jemput sama montir dan Katrina ikut mobil Bintang pulang ke apartemen.


"Iya karena sebenarnya kan aku buatnya pagi Bin. Kupikir kamu mau pulang ke sini sebelum ngantor. Ya udah aku hangatin sekarang karena tadi pagi nggak kemakan," jelas Katrina.


Bintang terkejut mendengar penuturan Katrina. Dalam hati bertanya sejak kapan istrinya itu mau dengan masakan yang dihangatkan. Biasanya dulu, Katrina kalau sudah beli makanan sekarang ya harus dihabiskan sekarang kalau ada sisa dia pasti tidak akan memakannya lagi dilain waktu. Dia pasti akan membuang makanan tersebut.


Tapi baguslah berarti dia mendengarkan omonganku waktu itu untuk berhemat.


"Iya Bin." Katrina pun mengambil makanan dan meletakkan ke piringnya sendiri lalu ikut makan.


"Nanti tidur di kamarku ya Bin! Daripada kamu tidur sendiri di kamar sebelah. Kayaknya anak kamu nih juga sudah kangen pengen tidur dengan papanya."


Bintang memandang wajah Katrina lalu mengangguk. Katrina membalas anggukan Bintang dengan senyuman.


***


Sudah satu bulan Bintang mencari Mentari, tetapi belum dia temukan juga keberadaan wanita itu.


"Kau bersembunyi dimana sih Me? Mengapa tidak ada dimana-mana? Aku merindukanmu Me." Bintang menutup wajahnya dengan kedua tangan.


"Kenapa pak Gala belum datang juga? Ini berkas harus segera ditandatangani." Bintang melihat-lihat berkas ditangannya.


"Kate aku akan ke rumah Pak Gala dulu. Ini harus segera ditanda tangani. Ini harus disetorkan hari ini juga." Bintang bangkit dari duduknya.


"Apa perlu Bin? Palingan sebentar lagi Pak Gala tiba," sahut Katrina sambil melirik arloji di tangannya. "Jam segini mah sudah biasa Pak Gala telat," lanjut Katrina.


"Tidak aku tidak ingin mengulur-ulur waktu. Kau tahu sendiri dengan sikap Pak Gala, bukan? Kalau tidak karena kita yang kuat di sini mungkin sudah bangkrut nih perusahaan," keluh Bintang mengingat kurang disiplinnya pemilik perusahaan.


Katrina hanya mengangguk membenarkan. Memang kenyataannya seperti itu. Gala sering telat ke kantor bahkan kadang memberitahukan bahwa tidak akan ke kantor setelah keduanya menunggu atasannya begitu lama. Alasannya tetap satu karena sang papa yang keadaannya berubah-ubah. Kadang Bintang bingung kenapa Gala tidak membawa Tama ke rumah sakit jiwa saja kalau papanya itu begitu merepotkan.


Namun, Gala akan marah ketika Bintang memberi usul seperti itu. Gala akan mengatakan papanya tidak gila, hanya depresi saja. Begitu konyol menurut Bintang.

__ADS_1


"Baiklah kau hati-hati," ucap Katrina.


Bintang mengangguk dan langsung meninggalkan kantor.


Beberapa saat setelah mobil Bintang melaju mulus di jalanan akhirnya sampai juga di kediaman Gala.


"Pak satpam, Pak Gala ada?" Bintang turun dari mobil dan bertanya pada satpam dari luar pagar.


"Ada Den Bintang, ayo bawa masuk mobilnya biar saya bukakan pintu pagarnya."


"Tidak perlu Pak, biar saya parkir di luar saja. Lagi pula saya hanya sebentar di sini. Cuma mau minta tanda tangan saja," ujar Bintang sambil menunjukkan proposal di tangannya.


"Oke-oke Den, ayo masuk!" Pak satpam mendorong pintu pagar.


"Terima kasih Pak." Setelah mengatakan itu Bintang lalu masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah Tama mengamuk karena tidak melihat keberadaan Mentari di sana. Padahal wanita itu hanya keluar sebentar karena ingin membeli sesuatu.


Tama berpikir Mentari pergi dari rumah tersebut karena tidak pamit pada dirinya. Pada Kenyataannya Mentari tidak pamit karena tidak tega membangunkan Tama yang masih tertidur pulas.


Mentari datang saat Tama membuang makanan dan minumannya sembarangan ke lantai dengan bibi yang terus membujuk untuk makan, tetapi sama sekali tidak didengarkan. Gala yang hendak pergi ke kantor pun tertahan sedari pagi karena ulah sang papa.


"Ya ampun papa kenapa sih?" Mentari berlari ke arah Tama melihat semua orang terlihat sedih. Mentari yakin itu pasti ulah Tama.


"Kau kembali, kupikir kau meninggalkan papa di sini. Jangan pergi lagi setelah bertahun-tahun kau meninggalkan papa." Tama langsung mendekap erat tubuh Mentari. Mentari yang awalnya risih dipeluk Tama, karena sudah terbiasa tidak lagi merasakan hal itu. Malahan dia sekarang menganggap Tama sebagai ayahnya sendiri.


Mentari mengurai pelukannya. "Papa makan ya," bujuk Mentari karena melihat bibi memegang makanan sedangkan di lantai juga banyak berserakan makanan. Bahkan bukan hanya makanan pecahan beling juga.


Tama mengangguk. "Suapin papa ya," rengeknya manja. Gala yang sudah duduk di sebuah sofa hanya menggeleng melihat sikap papanya itu.


"Oke Pa siap," ucap Mentari.


"Di kamar," ucap Tama lagi.


Mentari pun mengangguk dan langsung menuntun Tama naik ke atas tangga.


Tidak disangka Mentari tergelincir dan hampir jatuh oleh lantai yang kotor dengan makanan dan juga genangan air yang membuatnya licin. Bibi belum sempat membersihkan itu semua.


Karena tidak ingin jatuh pada pecahan beling, buru-buru Gala bergerak cepat. Ia segera menangkap tubuh Mentari sehingga posisi mereka seperti orang yang berpelukan.


Bersamaan dengan itu Bintang tiba di ruang tamu dan melihat keduanya.


"Mentari!"


"Pak Gala!"


Kaget Bintang yang melihat adegan yang terpampang di depannya.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2