HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 32. Bertengkar


__ADS_3

Setelah selesai makan siang Mentari dan Nanik kembali ke tugasnya masing-masing sedangkan Sarah pamit keluar karena ada kepentingan.


Mentari kembali ke toko untuk melayani para pembeli. Kebetulan saat itu pembeli banyak berdatangan. Nanik kembali ke dapur, berkutat dengan adonan untuk membuat kue lagi.


Hingga larut malam barulah Mentari kembali ke apartemen karena kebetulan pesanan kue untuk besok membludak jadi terpaksa dia harus membantu Nanik untuk membuat kue-kue pesanan pelanggan.


"Darimana saja?" tanya Bintang saat Mentari membuka pintu unit apartemen dan berjalan ke dalam. Bintang nampak duduk bersandar di sofa ruang tamu.


"Kerja," jawab Mentari singkat.


"Selarut ini?" tanya Bintang lagi.


Mentari menarik nafas berat. "Iya, kue pesanan pelanggan yang akan diambil besok pagi belum selesai jadi saya harus menyelesaikan malam ini," jelas Mentari.


"Bukankah kamu bilang jadwal pulangnya itu jam 9 malam?" Bintang melirik angka yang tertulis pada arloji di pergelangan tangannya.


"Ini sudah jam 11 malam," kesalnya.


"Mau bagaimana lagi? Namanya juga kerja sama orang ya tidak boleh pulang sembarangan kalau pekerjaan belum kelar."


"Jelas saja boleh. Kamu bisa pulang kalau sudah jam 9 begitu kan aturannya? Atau jangan-jangan kamu keluyuran dulu sebelum pulang ke apartemen," tuduh Bintang.


Mentari mendesah kesal. Dia sebenarnya tidak ingin menjawab protes dari Bintang tetapi sayangnya dia masih dalam keadaan kesal pada Bintang karena kejadian tadi pagi.


"Terus kalau Pak Gala meminta Mas Bintang lembur karena sesuatu yang mendesak, Mas Bintang akan menolak begitu? Oh, atau jangan-jangan Mas Bintang memang menolak melakukan pekerjaan dari Pak Gala tetapi malah keluyuran dengan istri pertama Mas," ucap Mentari dengan menekankan pada kata istri pertama.


"Kenapa kamu jadi ngawur seperti itu Me," protes Bintang.


"Mas Bintang yang mulai. Mentari tidak suka dituduh macam-macam," keluh Mentari.


"Bukan Maksudku menuduhmu begitu Me," ucap Bintang.


"Ah sudahlah Mas aku tidak mau bertengkar, aku capek, aku mau mandi." Mentari meninggalkan Bintang dan masuk ke dalam kamar. Setelah meletakkan kado pemberian Sarah dan yang lainnya tadi ia lalu mengambil handuk dan baju tidur lalu berjalan menuju ke kamar mandi.

__ADS_1


Bintang ikut masuk dan memilih menunggu Mentari di atas kasur. Pria itu tampak berbaring sambil memejamkan mata, tetapi tidak tidur.


Beberapa saat kemudian Mentari keluar dari kamar mandi dengan menggunakan pakaian tidur. Ia duduk di meja rias sambil menyisir rambutnya yang basah lalu mengeringkan dengan hair dryer.


"Mulai besok kamu berhenti kerja saja!" perintah Bintang.


"Asal kamu bisa pulang tiap hari aku akan berhenti," sahut Mentari tanpa menoleh pada Bintang. Dia masih fokus mengeringkan rambutnya.


"Mana mungkin Me? Aku punya dua istri jadi tidak mungkin pulang setiap hari."


"Kalau begitu berikan pembagian waktu yang jelas. Misal 3 hari di sini 3 hari di sana. Yang satu hari terserah mau tinggal di mana. Atau seminggu di sini dan seminggu di sana."


"Itu tidak bisa Me keadaan Katrina tidak jelas. Kadang dia sehat kadang dia tidak. Emosinya juga tidak bisa terkontrol. Dia butuh aku saat emosionalnya tidak stabil. Aku takut itu semua akan berpengaruh pada perkembangan janinnya nanti."


"Kalau begitu aku juga tidak bisa. Aku punya tanggungan keluarga yang harus aku tanggung. Ada ibu, ada Pandu yang membutuhkan uangku."


"Tapi mereka kan sudah dapat jatah dari papa."


"Mulai saat ini aku tidak ingin mereka bergantung pada Papa. Biarlah mereka menjadi tanggunganku saja. Aku tidak mau terlalu banyak berhutang budi pada papa Winata," tukas Mentari sambil melangkah ke ranjang dan ikut berbaring. Namun ia berbaring membelakangi Bintang. Enggan melihat wajah suaminya itu.


"Ini apa Me?" tanya Bintang saat melihat paper bag di pinggir ranjang.


Mentari berbalik dan menatap Bintang sekilas. "Itu pemberian teman."


"Teman siapa? Mengapa ini berupa kado?" tanya Bintang penasaran. Mentari tidak menjawab.


"Me jawab pertanyaanku!"


"Apa ini kado dari Pak Gala?" tanya Bintang lagi. Dia curiga Mentari dekat dengan Gala sebab pria itu semakin menunjukkan pada Bintang bahwa pria itu menyukai Mentari. Apalagi tadi siang Gala pergi keluar dari kantor dengan alasan ada kepentingan di luar sebentar. Bisa saja kan Gala mengajak Mentari jalan bareng dan akhirnya memberikan kado untuk Mentari.


Bintang curiga setelah tahu beberapa bulan yang lalu baju yang Mentari pakai ternyata bukan papanya yang membelikan tetapi ternyata adalah Gala. Saat tahu itu Bintang langsung menyuruh Mentari membuang baju-baju pemberian Gala. Karena tidak ingin baju tersebut menjadi sampah Mentari memberikan baju tersebut pada Sarah untuk diberikan kepada siapa saja yang mau. Sarah pun memberikannya pada Nanik.


"Tidak usah bawa-bawa Pak Gala. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya," bantah Mentari.

__ADS_1


"Terus ini pemberian siapa Me? Apa kamu selingkuh?"


"Hm, aku bukan Mas Bintang ya yang dengan mudahnya bisa mendua. Kalau orang lain yang jadi Mentari mungkin saja akan dekat dengan perselingkuhan karena teramat jarang mendapatkan nafkah batin dari Mas Bintang tapi kalau bagi Mentari, meski Mentari tidak punya apa-apa tapi Mentari punya harga diri. Perselingkuhan atau mendua itu tidak pernah ada dalam kamus Mentari."


"Terus ini dari siapa?"


"Bukankah sudah kujawab dari teman."


"Kalau teman wanita pasti akan memberikan langsung. Tidak akan dibungkus seperti kado begini." Bintang masih saja berprasangka buruk.


"Mas Bintang ingat ini hari apa?"


"Ingat, hari Senin kan? Kamu pikir aku sampai lupa hari begitu karena saking sibuknya bekerja."


"Mas Bintang ingat ini tanggal berapa?"


"Tanggal 19 juli. Memang kenapa?" Fix, Mentari benar-benar kecewa pada Bintang.


"Katakan pada Katrina selamat ulang tahun." Sebenarnya Mentari mengatakan ini agar Bintang juga mengingat hari ulang tahunnya juga, tetapi sayangnya pria ini tidak peka.


"Wah bahkan kau tahu hari ulang tahun dia. Terima kasih ya sayang. Semoga ini awal yang baik. Aku berharap ke depannya kalian berdua bisa akur."


Mendengar perkataan Bintang, Mentari menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Air matanya tumpah lagi. Mentari menangis sesenggukan. Bintang benar-benar tidak mengingat tanggal lahirnya.


"Sayang kenapa kamu malah menangis?" Bintang memeluk Mentari di atas selimut.


Mentari menepis tangan Bintang. "Jangan sentuh aku Mas, aku benci kamu!"


"Katakan apa alasannya!"


"Kau tidak adil kau lebih menyayangi Katrina dibandingkan aku. Mulai sekarang kau boleh selamanya tinggal bersama dia asalkan kau jangan pernah menyentuhku lagi."


"Enak saja. Bagaimana pun kamu itu milikku. Ingat tanda tangan yang kau bubuhkan di atas materai di hadapan papa. Kalau kamu tidak bisa melayaniku maka silahkan bayar hutang-hutangmu atau penjara yang akan menjadi tempat persinggahanmu."

__ADS_1


Mentari semakin benci pada Bintang. Dia pikir pria itu akan mengatakan tentang status pernikahannya sebagai bantahan akan keinginan Mentari. Nyatanya pria itu seolah menilai dirinya dengan uang. Mentari merasa dibeli sebagai seorang istri.


Bersambung....


__ADS_2