HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 16O. Dia Hamil?


__ADS_3

Sampai di parkiran rumah sakit segera Bintang menggendong tubuh Mentari menuju ruang periksa.


"Ada yang bisa saya bantu?" Seorang dokter tampak keluar dan menyambut kedatangan Bintang.


"Dokter tolong, dia pingsan."


"Ayo bawa masuk!" perintah dokter tersebut dan Bintang mengangguk serta langsung membawa Mentari ke dalam ruangannya.


"Kenapa sampai pingsan seperti ini Pak istrinya?" Dokter tersebut masih menganggap Mentari adalah istri Bintang seperti dulu. Maklum dokter tersebut baru datang dari luar negeri beberapa hari ini sehingga tidak mendengar kabar yang sempat viral di tanah air.


"Tidak tahu Dok, tidak diapa-apain juga, tapi tadi dia muntah-muntah sedari tadi." Bintang meletakkan tubuh Mentari di atas brankar rumah sakit. Dokter itu mendekat dan melakukan serangkaian pemeriksaan.


"Dokter, boleh pinjam kamar mandinya?" Bintang baru sadar dengan kondisi bajunya yang kotor terkena muntahan Mentari. Tentu saja muntahan Mentari itu mengenai bajunya sendiri karena tadi Bintang langsung menggendong tubuh Mentari tanpa mengingat terlebih dahulu bahwa dirinya masih dalam keadaan kotor. Maklumlah dia sangat panik tadi.


"Silahkan, kamar mandinya di sana," tunjuk dokter tersebut pada kamar mandi yang berada dalam ruangan periksa tersebut.


"Terima kasih." Bintang lalu melangkah masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan bekas muntahan Mentari di bajunya dengan air dan tentu saja baju dan celana Bintang tampak basah karena itu. Namun, tak apalah daripada dia harus menghirup bau tak sedap dari pakaiannya sendiri. Untung saja yang membuat kotor pakaian Bintang adalah Mentari. Kalau bukan, mungkin saja pria itu akan meninggalkan wanita yang telah berani muntah di bajunya itu meski pingsan sekalipun.


Sementara Bintang berada dalam kamar mandi, dokter melakukan pemeriksaan terhadap Mentari dan ternyata saat itu Mentari malah sadar dan menatap dokter dengan raut wajah penuh tanya.


"Saya ada di mana? Kenapa ada dokter di sini?" tanya Mentari dengan dengan bingung. Wanita itu melihat ke seluruh ruangan.


"Bukankah aku tadi bersama Mas Bintang, kenapa malah berada berdua dengan dokter ini?" batin Mentari.


"Ada ada Bu?" Dokter merasa Mentari sedang memikirkan sesuatu dan sepertinya wanita itu bingung dengan keadaan.


"Ah tidak ada apa-apa Dok, saya sakit apa?" tanya Mentari langsung.


"Apa yang ibu rasakan?" Dokter itu malah berbalik bertanya agar dirinya bisa memastikan keadaan Mentari yang sebenarnya.

__ADS_1


"Kepala saya rasanya pusing Dok, tubuh terasa lemas dan perut sakit serta mual," terang Mentari menjelaskan keadaan dirinya yang sejujurnya.


"Anda tidak hamil?" Pertanyaan dokter yang sungguh membuat diri Mentari merasa kaget.


"Saya tidak tahu Dok karena saya tidak pernah memeriksa."


Dokter tersebut mengangguk mendengarkan penuturan Mentari.


"Apakah siklus menstruasinya masih lancar?"


"Oh iya Dok seharusnya seminggu yang lalu saya datang bulan, tapi sampai sekarang belum juga datang. Saya pikir hanya telat saja."


"Kalau dari hasil pemeriksaan tadi sepertinya ibu sedang hamil. Keluhan yang ibu sebutkan tadi emang pertanda orang hamil. Namun, untuk lebih jelasnya sebaiknya ibu melakukan pengecekan melalui tespek saja." Dokter itu berjalan ke arah sebuah rak dan merogoh sesuatu dari sana. Dokter tersebut membawa sebuah tespect di tangan dan memberikan pada Mentari.


Bersamaan dengan itu Bintang membuka pintu kamar mandi. Mendengar suara pintu dibuka Mentari langsung menoleh dan ternyata mendapati Bintang sedang berdiri di sana.


"Mas Bintang?" Mentari terlihat syok melihat Bintang masih berada di sekitar dirinya.


"Dokter yang menangani Mentari tadi mengernyit melihat Mentari pingsan setelah melihat Bintang.


"Ada apa ini? Kenapa Ibu Mentari pingsan setelah melihat Pak Bintang? Apa jangan-jangan Pak Bintang melakukan kekerasan dalam rumah tangga sehingga membuat istri Pak Bintang ketakutan dengan suaminya sendiri?" tanya dokter itu mengintrogasi bintang. Dia benar-benar curiga dengan apa yang terjadi pada pasiennya.


"Argh, kenapa Dokter terlalu sensitif? Mana mungkin saya melakukan kekerasan padanya?"


"Syukurlah kalau dugaan saya salah, tapi demi kebaikan Ibu Mentari sebaiknya Pak Bintang menjaga perasaannya karena sepertinya Ibu Menteri saat ini sedang syok ditambah dia juga hamil muda. Jadi, rentan keguguran apabila dia banyak pikiran. Entah dia berpikiran tentang apa, Pak Bintang tentunya yang lebih tahu daripada saya."


"Hamil Dok?" tanya Bintang tidak percaya, bagaimana mungkin Mentari bisa secepat ini hamil sedang saat menjadi istrinya hampir setahun menikah tidak hamil-hamil juga.


"Iya sepertinya begitu, untuk lebih tepatnya saya menyuruhnya untuk melakukan pengecekan melalui tespect saja biar lebih meyakinkan, tapi saat melihat Pak Bintang dia malah pingsan lagi."

__ADS_1


Bintang terdiam mendengar kabar kehamilan Mentari. Kalau itu benar-benar terjadi maka tidak ada harapan Mentari kembali padanya. Dia pun tidak mungkin tega membuat seorang anak hidup berpisah dengan ayah atau ibunya karena hanya sebuah perceraian.


"Sebaiknya Pak Bintang tunggu saja di luar dan jangan masuk dulu sebelum keadaan pasien stabil. Saya tahu dia pingsan karena melihat Pak Bintang ada di sini. Apapun permasalahan kalian semoga mendapatkan penyelesaian terbaik.


Bintang tampak menarik nafas berat mendengar saran dari dokter. "Baiklah saya akan menunggu di luar. Tolong kabari saya apabila terjadi sesuatu pada Mentari."


"Baiklah." Setelah berkata seperti itu dokter fokus menangani Mentari lagi sedangkan Bintang berjalan keluar dari ruang pemeriksaan.


Sampai di luar ruangan Bintang mendekati sebuah kursi dan duduk merenung.


"Sebegitu mengerikannya kah diriku hingga membuatmu sampai ketakutan begini Me?" Bintang bermonolog sendiri.


"Dan apa benar kamu hamil?" Bintang tampak termenung memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya jika Mentari benar-benar sudah hamil. Matanya melihat orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya, tapi hatinya ke arah lain.


Lama Bintang termenung sambil menopang dagu hingga dokter keluar dari kamar periksa dan menemui Bintang.


"Selamat Pak Bintang istri anda benar-benar sedang hamil." Dokter tersebut mengulurkan tangan ke arah Bintang. Bintang menerima uluran tangan dokter tersebut dengan perasaan hampa.


"Kenapa Pak Bintang tidak terlihat senang?" tanya dokter itu heran melihat ekspresi Bintang yang mengarah pada rasa kecewa dibandingkan bahagia.


"Ah tidak saya senang kok Dok, cuma kaget aja dia sekarang hamil." Bintang beralasan.


"Oleh karena itu perlakukan dia dengan baik sehingga jangan sampai dia malah takut pada suaminya sendiri." Dokter masih saja menyarankan seperti itu sebagai pertanda dia masih mencurigai Bintang telah melakukan kekerasan pada Mentari.


"Kenapa dokter malah seperti menuduhku?" Bintang tidak terima dengan pemikiran dokter tersebut.


"Itu karena pasien meminta agar tidak membiarkan Pak Bintang untuk menemuinya. Sekarang kami akan membawa Ibu Mentari ke ruang perawatan sebab tubuhnya masih lemah dan harus diinfus. Saya mohon untuk pengertiannya, Pak Bintang jangan muncul dulu di hadapannya hingga keadaan hatinya mulai membaik."


"Baiklah," ucap Bintang pasrah. Bagaimanapun dia tidak mau mengambil resiko terhadap diri Mentari. Dia tidak mau kalau sampai Mentari depresi.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2