HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 175. Serba Salah


__ADS_3

"Hei ada apa sebenarnya?"


"Maafkan aku, tadinya aku ingin merahasiakan semuanya dari Abi dan juga semuanya."


Bukan hanya ustadz Alzam saja yang bingung dengan apa yang ingin dikatakan Mentari, tetapi Gala dan semua orang yang ada di dalam ruangan itu saat ini sama-sama bingung.


"Rahasia apa? Kau berselingkuh dengan dia?" Ustadz Alzam menggoda sang istri. Dia benar-benar tidak paham apa yang telah terjadi.


"Abi berpikiran seperti itu?" tanya Mentari tak percaya sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Tidak aku hanya bercanda, memang apa yang ingin kamu katakan?"


"Janji tidak akan marah?" Mentari terlihat gemetar.


"Iya Ummiku sayang, ada apa sih sampai kamu jadi seperti ini?" ustadz Alzam pun semakin mengeratkan pelukannya pada sang istri.


"Abi janji tidak akan marah pada Ummi. Menang selama ini Abu pernah marah?" Pria itu mengusap-usap bahu sang istri dalam pelukannya.


"Jangan marah juga sama Mas Bintang."


Mentari sudah berjanji dengan Arumi dan Tuan Tama. Hanya gara-gara Katrina yang datang, terpaksa dia harus membongkar segalanya. Mentari berada dalam posisi yang serba salah. Mengatakan sejujurnya dia telah melanggar janjinya pada mantan mertuanya itu dan jika tidak maka akan menimbulkan kecurigaan oleh sang suami dan Mentari tidak ingin membuat suaminya berprasangka macam-macam terhadap dirinya dan juga takut ustadz Alzam akan kecewa apabila tahu dari orang lain. Katrina saja ada yang memberi tahu apalagi ustadz Alzam sebagai suaminya sendiri.


"Ya aku berjanji." Ustadz Alzam membelai rambut Mentari yang tertutup hijab dan sesekali mengecup kening sang istri.


"Mas Gala juga harus janji!"


"Oke, baiklah," ucap Gala pasrah. Dia tidak ingin sang adik lebih lama lagi menunda penjelasannya. Dalam hati dia berniat akan menemui Bintang di belakang Mentari nanti jika pria itu memang berbuat yang tidak benar pada adiknya itu.


"Abi tahu saat ummi mengantarkan Abi sampai do pintu gerbang kemarin sore tenyata saat itu Mas Bintang mengawasi kita." Mentari mulai menjelaskan dan sang suami hanya mengangguk dan tak pernah lepas dari memeluk istrinya itu.


"Saat Abi pergi, ummi mendengar bunyi penjual es campur dan saat penjual itu ummi panggil dia tidak mendengar. Terpaksa Ummi mengejarnya dan saat itu pula Mas Bintang menghadang jalan ummi."


"Jangan berbohong kamu Me!" seru Katrina. "Kau masih menyukainya, bukan? Kau pasti yang merayu dia 'kan agar meninggalkan aku?"

__ADS_1


"Demi Allah dan Rasulnya Kate, aku sudah tidak memiliki perasaan apa-apa sama dia. Sebagai seorang istri sudah sepatutnya kau menjaga suamimu agar tidak menculik istri orang lain."


"Menculik?" Semua orang kaget kecuali Katrina yang sama sekali tidak percaya dengan perkataan Mentari.


"Alah jangan percaya sama dia. Dari dulu dia yang sangat menginginkan Bintang hingga tega merebut dia dariku. Mengerti 'kan apa yang bisa dilakukan oleh seorang wanita yang pernah menjadi pelakor dalam hubungan rumah tangga orang lain?"


"Kate, hentikan ocehanmu! Kau tahu dengan siapa kamu berbicara sekarang? Kau tahu bukan, bahwa dia adalah Cahaya adikku?" Gala berbicara dengan nada suara yang meninggi.


"Ya aku tidak lupa. Aku kesini bukan untuk mendengarkan silsilah keluarganya, tapi aku ingin tahu dia menyembunyikan Bintang dimana?!"


"Astaghfirullahaladzim, aku benar-benar tidak tahu Kate!" Mentari menjadi murka.


"Sabar Ummi, jangan dengerin dia," saram ustadz Alzam dan Mentari hanya mengangguk.


"Biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Anggap saja dia anjingnya jadi jangan dengarkan perkataan dia kalau tidak ingin kehilangan banyak waktu," ujar Gala.


"Dasar, kau pikir aku anjing apa?!" Katrina kesal lalu meninggalkan ruangan. Dia tahu tak akan mendapat informasi tentang Bintang di tempat ini. Mentari terlalu berkilah, pikirnya dalam hati.


"Kau bilang kamu tadi diculik?" tanya Gala memastikannya perkataan Mentari bukan salah ucap tadi.


"Tindakanmu sudah benar Ummi."


Mentari mengangguk. "Tapi salah dimata dia. Dia kesal dan langsung menggendong tubuhku ke dalam mobil tanpa bisa melakukan perlawanan. Saat aku memberontak di dalam mobil dia menggila dengan membawa mobilnya dengan kecepatan penuh membuat tubuhku terbentur ke sana kemari. Aku takut Abi, dia menggunakan nekad."


"Kau tenang saja, aku pastikan dia tidak akan mengganggu dirimu lagi."


Mentari mengangguk.


"Terus dia dimana sekarang Ca?" tanya Gala barangkali Mentari tahu dengan keberadaan Bintang. Namun, tidak ingin memberitahukan pada Katrina.


"Aku tidak tahu Mas, setelah dia mengantarkan aku ke rumah sakit sebab muntah-muntah di dalam mobil dia langsung menghilang."


Gala dan ustadz Alzam saling pandang dan seolah saling memberi kode.

__ADS_1


"Baiklah semuanya 'kan sudah jelas lebih baik Ummi makan lagi!"


"Tidak Abi, saya sudah tidak berselera."


"Akh baiklah kalau begitu, kita siap-siap untuk pulang saja. Abi mau keluar dulu untuk mengurus administrasinya," pamit ustadz Alzam sambil turun dari ranjang.


"Tidak usah, aku sudah mengurus segalanya," cegah Gala.


"Bagaimana Mas Gala bisa tahu kalau aku akan pulang sekarang?" tanya Mentari heran sebab semalam ketika pamit pulang Gala mengatakan akan kembali besok sore sepulang bekerja.


"Dari pihak rumah sakit, aku yang memintanya untuk mengabari langsung apabila ada apa-apa denganmu," jelas Gala dan Mentari serta ustadz Alzam hanya mengangguk.


Hari itu Mentari pulang ke rumah suaminya. Gala mengantar dengan mobil lain dan tentunya Sarah juga dengan kendaraan lain sebab dia membawa motor ke rumah sakit itu.


Setelah sampai di rumah dan memastikan Mentari sudah beristirahat dengan tenang, Gala dan ustadz Alzam berencana menemui Bintang di rumah orang tuanya. Gala yakin Bintang tidak kemana-mana dan hanya ada di sana.


"Sarah nitip kakakmu ya, kalau dia bangun dan menanyakan tentang kami bilang kemana kek, jangan bilang kami akan ke rumah Paman Winata," ujar ustadz Alzam.


"Kak Alzam menyuruhku berbohong?" Sarah kaget.


"Demi kebaikan," ucap ustadz Alzam sambil terkekeh.


"Kan berbohong itu keahlianmu," ujar Gala.


"Sudah ah, pergi sana. Malas bicara denganmu!" usir Sarah.


"Baiklah aku akan pergi."


Setelah pamit kepada sang ibunda, Gala dan ustadz Alzam segera berangkat ke rumah Tuan Winata untuk menegur Bintang karena telah membahayakan keadaan Mentari dan bayi dalam kandungannya.


"Ada apa Gala, tumben datang berdua dengan Nak Alzam?" Arumi yang membukakan pintu jadi getir sendiri melihat keduanya datang bersama. Dalam hati berdoa semoga mereka berdua datang ke rumahnya bukan ingin memenjarakan Bintang yang telah melakukan penculikan terhadap Mentari. Arumi tahu siapa Gala, jika orang lain berbuat salah dengan salah satu anggota keluarganya, pria itu bisa nekad.


"Semoga mereka tidak tahu dengan apa yang terjadi sebenarnya. Semoga Mentari menepati janjinya," batin Arumi penuh harap.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2