
"Izzam beneran mimpi?" tanya Gala.
Izzam terlihat mengangguk sehingga Bintang dan Mentari bisa bernafas lega.
"Tapi kenapa wajah Cahaya merah seperti itu? Seolah-olah merasakan ketakutan dengan apa yang disampaikan oleh Izzam?" tanya Gala lagi.
"Gala!" protes Tama. "Bagaimana kalau sehabis tidur dengan Sarah kamu juga ada yang meledek?"
Gala langsung menunduk sedangkan Sarah hanya mengangguk-angguk sambil tersenyum melihat nyali sang suami langsung ciut mendengar teguran dari Tama.
"Melakukan hubungan suami istri adalah ibadah. Kenapa harus menjadi bahan ledekan? Kamu tahu tidak, bahwa dalam ******** istri itu ada shodaqoh. Artinya shodaqoh yang dikhususkan untuk suami, kalau untuk pria lain ya beda lagi hukumnya, sudah menjadi suatu dosa besar atau zina," jelas Tama panjang lebar takut semua orang yang berada di ruangan itu salah paham sehingga menganggap kalau shodaqoh yang satu itu juga bebas berbagi pada siapapun.
Gala tidak menjawab.
"Lagipula kalau memang benar apa yang dikatakan Izzam, terus terang papa ikut bahagia kalau kalian memang benar-benar menjalankan pernikahan kalian dengan normal. Hanya perlu kalian ketahui jika akan melakukan hubungan suami istri pastikan dulu keadaan sekitar. Ca, Bin, anak-anak itu polos dan daya ingatnya kuat, jangan sampai dia diperlihatkan sesuatu yang polos di hadapannya karena bisa saja menceritakan pada orang lain." Kini Tama menasehati Bintang dan Mentari.
"Iya Paman, nasehat Paman akan Bintang ingat selalu," sahut Bintang disertai anggukan dari Mentari.
"Yasudah lanjutkan makan kalian!" perintah Tama.
"Kebetulan saya dan Meme sudah selesai makan Paman. Bagaimana kalau kami pamit duluan," pamit Bintang yang memang baru saja menyelesaikan makannya begitu juga dengan Mentari.
"Silahkan," sahut Tama.
Bintang mengangguk dan melihat ke arah Mentari.
"Mas Bintang pergi duluan saja, saya mau menyuapi Izzam sebentar."
"Baiklah Me saya ke kamar duluan," pamit Bintang lagi sambil bangkit dari duduknya.
"Izzam papi ke kamar dulu, kalau mau menemui papi, ke kamar saja ya!"
"Iya Pi."
Bintang mengangguk. "Permisi semuanya!"
Setelah itu Bintang langsung beranjak pergi sedangkan Mentari masih sibuk menyuapi Izzam.
Selama menyuapi Izzam Mentari tidak banyak bicara hanya menjawab sepatah kata saat Tama bertanya padanya.
"Ca, apapun dan bagaimanapun kamu sekarang sudah menjadi istri Bintang. Selama dia menyuruhmu melakukan kebaikan maka patuhlah pada suamimu!"
"Iya Pa."
"Terus kalian nggak ada rencana bulan madu? Kemana gitu? Nanti biar Izzam tinggal sama papa saja."
"Nggak tahu Pa, tergantung Mas Bintang saja."
"Kau bicarakanlah dengan suamimu siapa tahu dia ingin punya waktu banyak berdua denganmu tanpa ada yang menganggu," ujar Tama lagi.
"Iya Pa."
__ADS_1
"Ya sudah papa lanjutkan makan dulu."
"Iya."
Selesai menyuapi Izzam, Mentari langsung membawa putranya ke kamar mereka lagi. Tampak di sana Bintang sedang bersandar pada sandara ranjang dengan santai.
"Sudah makannya?" tanya Bintang saat Izzam melangkah ke arahnya.
"Sudah Papi."
Bintang mengangguk dan menepuk ranjang. "Duduk di sini!" perintah pria itu.
Izzam mengangguk lalu naik ke atas ranjang.
"Pelan-pelan!"
"Oke Papi."
"Mas tadi aku membuat kopi untukmu, tapi lupa membawanya ke sini. Saya ambil dulu ya!"
"Iya."
Mentari mengangguk lalu melangkah keluar kamar dengan langkah cepat.
"Papi mau tanya sama Izzam. Izzam mimpi apa saja semalam?" tanya Bintang ingin mengetes apakah Izzam benar-benar melihat adegan dirinya dan Mentari di atas kasur semalam ataukah memang benar-benar hanya sebuah mimpi.
"Mimpi apa ya?" Izzam tampak berpikir sejenak sebelum bercerita.
"Ayo mimpi apa?" tanya Bintang masih penasaran.
"Ke laut?" tanya Bintang lagi dan anak itu mengangguk.
"Iya naik perahu, tiba-tiba ombak kencang sehingga perahunya bergerak kasar dan Izzam hampir terjatuh."
Mendengar cerita Izzam ingin rasanya Bintang tertawa lepas, tetapi ditahannya takut menimbulkan pertanyaan di diri Izzam.
"Lalu Izzam memanggil ummi, ternyata perahunya diam sejenak, tapi kemudian bergerak kasar kembali. Izzam lalu panggil nama papi dan perahu berhenti bergerak lagi."
"Ya ampun Izzam maafkan papi Nak, yang bergerak itu bukan perahu tapi ranjang dan kasur," ucap Bintang antara rasa bersalah dan ingin tertawa.
"Kamu kenapa sih Mas?" tanya Mentari melihat raut wajah Bintang begitu aneh. Wanita itu lalu menaruh segelas kopi di atas meja.
"Sudah duduk dengarkan cerita Izzam!"
Mentari mengangguk ragu lalu duduk di tepian ranjang sambil melihat ke arah putranya yang tampak antusias. Mentari tampak mengernyit, penasaran apa yang disampaikan oleh putranya.
"Ini nggak ada hubungannya dengan cerita Izzam tadi di meja makan 'kan, Mas?"
"Justru inilah cerita yang sebenarnya."
"Hah!" Mentari kaget, bagaimana mungkin Bintang menanyakan tentang hal itu. Bisa-bisa Izzam semakin tidak bisa lupa dengan kejadian yang dilihatnya semalam.
__ADS_1
"Aku pergi saja deh Mas." Mentari bangkit dari duduknya, tetapi lengannya ditahan oleh Bintang.
"Sudah duduk dulu Me! Biasakan mendengarkan cerita anak agar kamu tahu bagaimana perkembangan cara berpikirnya."
"Iya deh." Akhirnya Mentari duduk kembali.
"Terus bagaimana selanjutnya?" tanya Bintang dan Mentari hanya bisa menggelengkan kepala melihat Bintang seolah mengintrogasi putranya.
"Perahu bergerak lagi Pi terus Papi Bintang bicara pada seorang penjual mainan dan membelikan Izzam mobil truk mainan. Ya udah Izzam bilang terima kasih sama papi karena Izzam suka dengan mainannya.
Mentari memberikan kode seolah bertanya 'ada apa sih sebenarnya'?
"Kau penjual mainannya," ucap Bintang lalu terkekeh.
"Auh ah aku nggak paham," ucap Mentari benar-benar tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh Bintang.
"Sini aku bisikin!"
Mentari pun mendekat dan Bintang langsung membisikkan sesuatu.
"Apa Mas?" Mentari kaget mendengar penjelasan Bintang.
Bintang mengangguk sambil senyum-senyum sendiri.
"Terus-terus Izzam!" perintah Bintang lagi agar putranya itu melanjutkan ceritanya.
"Sudah-sudah Mas!" protes Mentari.
"Sudah Me nggak apa-apa biarkan Izzam menuntaskan ceritanya. Lagipula di sini tidak ada orang lain selain kita bertiga."
"Perahu bergerak lagi hingga terasa berhenti kemudian saat Izzam membuka mata sudah berada dalam gendongannya Papi dan Papi tidak pakai baju hanya sarung saja. Mungkin baju Papi basah kena air laut ya sehingga harus dibuka?" tanya Izzam.
"Sepertinya kamu benar," ucap Bintang lalu cekikikan.
"Tapi Izzam bingung sebab setelah itu Izzam merasa sudah ada di kamar sendiri lalu kok bisa kembali ke kamar Ummi lagi saat membuka mata?"
"Jawab Mas, jawab!" kesal Mentari.
Bintang menggaruk kepalanya.
"Semua itu 'kan hanya mimpi sayang jadi saat membuka mata ya pastilah kamu berada di tempat saat kamu tidur. Kamu semalam 'kan memang tidur di kamar kami?"
"Iya sih papi, tapi Izzam juga bingung kenapa sprei di kasur ini tiba-tiba berubah padahal sebelum Izzam tidur 'kan warna merah dan ada gambar bunga-bunganya, tapi saat Izzam bangun kok menjadi warna biru dengan gambar kotak-kotak?"
"Mampus kau Bintang, dia sangat jeli," batin Bintang.
"Masyaallah sayang daya ingatmu sungguh kuat sekali," ujar Bintang.
"Papi bisa menjelaskan 'kan kenapa itu bisa terjadi?"
Kini Mentari yang cekikikan melihat Bintang menggaruk kepalanya bingung.
__ADS_1
"Ayo jelaskan Mas!" desak Mentari.
Bersambung.