
"Ada apa lagi?" tanya ustadz Alzam yang tidak mengerti sebab sang istri akhir-akhir ini sering badmood.
"Mangga nya habis dimakan orang. Ini gara-gara Abi, ummi nitip kok dikasih orang." Mentari merajuk.
Ustadz Alzam nampak bingung, matanya mencari sosok ibu-ibu yang telah meminta mangganya tadi.
Tidak berselang lama di belakang Mentari muncul pemilik rumah dan ibu yang telah mengambil mangga dari tangan ustadz Alzam dengan sedikit berlari menuju tempat Mentari dan ustadz Alzam duduk.
"Maaf ya Mbak, maaf ya Ustadz. Mangga nya telah dimakan adik saya dan kami berdua tadi malah tidak sempat melihatnya," ucap pemilik rumah merasa bersalah sebab dirinya mengulangi kesalahan ustadz Alzam yang teledor.
Ibu yang tadi telah meminta mangga dari tangan ustaz Alzam pun menunduk karena sangat merasa bersalah sebab kalau bukan karena dia yang meminta mangga tersebut, tidak mungkin buah itu sekarang sudah habis dimakan oleh -Dinda- adik dari pemilik rumah.
"Abi harus bertanggung jawab!" rengek Mentari dan ustadz Alzam hanya bisa menggaruk kepalanya sambil berkata, "Nanti kita cari di pedagang buah atau mall saja ya. Sekarang berhenti dulu makan mangga nya!"
"Nggak mau, Ummi mau makan mangga sekarang belum tuntas nih ngidamnya, Abi mau punya anak ileran?"
Ustadz Alzam hanya bisa menggelengkan kepala melihat Mentari menjadi wanita yang tidak sabaran.
"Mbak nya rujak kedondong aja ya, kedondong itu lebih enak loh kalau dirujuk begini." Ibu pemilik rumah merayu Mentari agar tidak ngambek lagi dan memberi kode dengan matanya agar ibu yang telah mengambil mangga dari tangan ustadz Alzam tadi mengambil kedondong dan sambalnya ke dapur.
Namun, saat potongan buah sampai di hadapan Mentari, dia menolaknya.
"Tidak mau, bawa pergi saja buah itu. Saya hanya ingin mangga, bukan kedondong," tolak Mentari.
"Ya sudah yuk kita pergi untuk membeli mangga." Ustadz Alzam bangkit dari duduknya dan meraih tangan sang istri.
"Awas kalau nggak ketemu, nanti ummi nggak akan ngajak Abi ngomong sampai sebulan," ancam Mentari. Antara sedih dan mau ketawa ustad Alzam mendengar kalimat ancaman dari sang istri padahal wanita itu sendiri yang selama ini ingin selalu menempelkan dengan dirinya.
"InsyaAllah dapat." Yang penting meyakinkan dulu agar sang istri mau pergi dari tempat tersebut biar tidak melakukan hal yang memalukan. Perkara ketemu mangga muda atau tidak biarlah menjadi pikirannya nanti.
"Tapi kayaknya susah, kata ibu musim mangga sudah hampir berakhir, jadi susah kalau mau cari yang muda." Masih saja merengek sedangkan di belakang sana pemilik rumah terdengar memarahi sang adik karena telah lancang memakan mangga milik orang lain.
"Kan itu mangga milikku Kak, aku yang nemu duluan dan aku biarkan tanpa mengambilnya agar menjadi lebih besar. Eh tiba-tiba istri ustadz itu datang dan mengambil. Siapa yang sembarangan ayo? Ya dia lah." Tidak terima dirinya disalahkan begitu saja.
"Dinda! Kau tahu ustadz Alzam itu sudah membayar mangga itu dan ini uangnya." Pemilik rumah tersebut mengambil uang dari saku dasternya dan menunjukkan beberapa lembar uang ratusan ribu yang telah diberikan oleh ustadz Alzam tadi.
Adiknya yang bernama Dinda itu menganga melihat uang yang telah ditunjukkan oleh sang kakak. "Sebanyak itu? Hanya satu buah mangga dihargai setinggi itu?" kagetnya.
"Ya makanya kamu jangan sembarangan makan. Jangankan cukup untuk membeli satu buah mangga buat beli buah satu pohon mangga yang seperti pohon di depan pun ini uangnya pun lebih dari cukup."
"Maaf Kak saya tidak tahu kalau mangga ini sudah kakak jual. Terus bagaimana dong? Mangga nya sudah terlanjur habis." Kalau sudah seperti ini baru merasa bersalah.
"Ya sudah minta maaf sana! Kakak kan jadi tidak enak sama ustadz Alzam."
"Baiklah," ucap wanita itu dengan berjalan pelan mendekati Mentari.
"Maafkan saya ya Mbak, maafkan saya ya ustadz. Saya tidak tahu kalau mangga itu sudah menjadi milik kalian."
__ADS_1
Ustadz Alzam mengangguk dan memaafkan. "Tidak apa-apa. Nanti kami akan membelinya."
"Loh-loh tidak apa bagaimana Abi?" Mentari tidak terima sang suami memaafkan wanita itu begitu saja. Mentari sangat jengkel pada perempuan itu yang telah mengambil haknya. Wanita itu telah menghilangkan seleranya saat ini.
"Ya terus harus bagaimana Ummi? Masa Abi harus marah-marah hanya gara-gara mangga. Ibu itu tadi memaafkan saat kita bersalah, kenapa kita tidak?"
"Ya Mbak maafkan saya ya Mbak." Yang namanya Dinda itu minta maaf lagi.
"Baiklah, kamu mau aku maafkan?" tanya Mentari.
"Tentu saja," jawab Dinda.
"Kalau begitu muntah kan mangga yang sudah kamu makan baru aku maafkan!" perintah Mentari.
"Muntah-kan?" tanya Dinda tidak percaya dengan permintaan Mentari sedangkan ustadz Alzam tampak menepuk jidatnya sendiri sambil beristighfar dalam hati.
Kenapa istrinya jadi aneh seperti itu? Apakah Mentari akan memakan muntahan dari Dinda? Ustadz Alzam ngeri membayangkannya. Dia tampak mengingat-ingat apakah saat proses pembuatan bayi dalam kandungan istrinya dia lupa membaca doa sehingga ada setan yang ikut campur dalam proses pembuatan anak tersebut.
"Iya baru aku puas sebab kita sama-sama tidak bisa menikmati mangga tersebut. Keluarkan! Keluarkan!" geramnya.
Haruskah ustadz Alzam lega sebab Mentari tidak ingin memakan muntahan wanita tersebut sedangkan istrinya terlihat dendam seperti itu?
Ini sungguh Gila, kenapa istriku bisa seperti ini?
Dinda kebingungan apa yang harus dia lakukan. Pun dengan orang yang masih hadir di tempat tersebut.
Haruskah Dinda benar-benar akan memuntahkan isi perutnya agar bisa mendapatkan maaf dari Mentari ataukah uang yang ada dalam genggaman kakaknya harus kembali?
"Ini ustadz, kebetulan saya pulang dan mengecek pohon buah mangga milik nenek saya dan ternyata ada satu buah yang masih tersisa di pohonnya." Seorang ibu-ibu menyodorkan satu mangga muda ke tangan ustadz Alzam.
"Wah terima kasih ya Mbak. Saya ambil ya. Berapa kira-kira saya harus membayar?"
"Tidak usah ustadz, gratis pokoknya buat ustadz."
"Wah terima kasih banyak kalau begitu." Tanpa aba-aba Mentari langsung mengambil mangga dari tangan sang suami sebelum diambil orang lain lagi. Wajahnya yang tadi memberangut kesal kini terlihat cerah dengan senyum yang mengembang di bibirnya.
Semua orang akhirnya bernafas lega.
"Bu pinjam dapurnya," pamit Mentari. Setelah mendapat izin dari pemilik rumah dia langsung bergegas ke dapur dan mengupas serta memotong buah mangga nya sendiri. Tidak akan Mentari biarkan orang lain menyentuh mangganya itu.
"Pengen?" tanyanya pada Dinda. Mentari seakan pamer karena dirinya kini berhasil rujakan mangga muda.
Dinda hanya menelan ludah sebab ingin rujakan juga. Tadi dia hanya makan mangga tanpa sambal.
"Bu mana tadi kedondong nya?" tanya Mentari. Buah yang tadi ditolak akhirnya ditanyakan kembali setelah mangga sudah habis.
Ustadz Alzam semakin tidak percaya dengan tingkah sang istri.
__ADS_1
"Maaf ya Bapak-bapak juga Ibu-ibu, istri saya belakangan ini memang aneh padahal aslinya dia tidak begitu."
"Tidak apa-apa ustadz, kalau orang hamil terkadang kemauannya memang aneh-aneh. Yang penting istri ustadz baik-baik saja."
"Aamiin, semoga istri saya dan kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT."
"Aamiin," ucap semua orang serempak.
Di tempat lain.
"Bagaimana keadaan kantor saat saya tinggalkan selama seminggu ini?" tanya Gala sambil berjalan ke ruangannya sendiri.
"Aman terkendali Pak Bos," jawab Kiki sang asisten, mantap.
"Oke, baguslah. Oh ya kayaknya banyak karyawan baru ya, aku lihat tadi di lantai bawah?"
"Bukan karyawan baru Pak, cuma mahasiswa magang."
"Oh." Gala mengangguk-angguk.
"Boleh aku minta data-data mereka?"
"Buat apa Pak?"
"Nggak, mau tahu aja siapa saja yang diutus dari masing-masing kampus."
"Oh oke, saya hubungi bagian personalia dulu biar mengantarkan datanya," ujar Kiki dan Gala hanya mengangguk.
Pria itu tampak menelpon seseorang lalu menutup panggilan teleponnya kembali.
"Diandra kemana Pak, tidak ikut balik bareng Bapak?" Kiki menanyakan sekretaris yang menggantikan Katrina.
"Pulang juga tapi saya langsung menyuruh dia istirahat sebab dia sakit."
"Sakit?"
"Ya mungkin cuaca di daerah yang kami datangi tidak cocok dengan tubuhnya."
Kiki hanya manggut-manggut saja.
"Oh ya dari sekian mahasiswa magang ada nggak yang kira-kira berbakat?"
"Ada Pak padahal saat di wawancara dia mengatakan kepleset ke perusahaan ini. Untung kami tidak mengeluarkan mahasiswi tersebut sebab sebenarnya dia sangat pintar dan berbakat dalam dunia bisnis."
"Siapa dia? Kalau benar-benar bagus nanti kita beri beasiswa dengan syarat setelah lulus kuliah dia harus bekerja di perusahaan ini."
"Nanti Bapak juga bakal tahu. Kita tunggu saja daftar-daftar mahasiswa magang dulu."
__ADS_1
"Baiklah," ucap Gala pasrah.
Bersambung.