HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 111. Talak Tiga


__ADS_3

Hari ini Mentari kembali ke apartemen Bintang untuk meminta tanda tangan kembali. Mentari berharap Bintang kali ini bisa diajak bekerjasama agar proses perceraian mereka tidak menjadi sulit.


Apabila tidak bisa Mentari terpaksa harus mencuri foto dan video saat Bintang bermesraan dengan Katrina agar bisa dijadikan bukti bahwa Bintang berselingkuh.


Ya cara terlicik pun harus dia lakukan agar bisa segera terbebas dari pernikahan yang tidak sehat itu. Dia akan mengatakan Bintang telah berselingkuh dengan Katrina di pengadilan nanti.


Mungkin saja Bintang mempunyai bukti pernikahan dirinya dan Katrina. Jika nanti Bintang membahas akan hal itu maka Mentari pun akan membahas ketidakadilan dari Bintang memperlakukan kedua istrinya. Pria itu cenderung lebih sayang pada Katrina.


Namun, ada kekhawatiran di dalam hati Mentari. Dia ragu akan berhasil dalam gugatannya itu mengingat beredar kabar perselingkuhan dirinya dengan ustadz Alzam. Jadi daripada menyelesaikan semuanya di meja persidangan mendingan dia bujuk Bintang saja agar mau menandatangani surat gugatan cerai.


"Mau apalagi kau kemari?" tanya Katrina sinis. Susah payah dirinya mengalihkan perhatian Bintang agar bisa melupakan Mentari. Eh, wanita ini muncul lagi. Satu hal yang Katrina tidak suka, apabila Bintang bertemu Mentari maka moodnya akan berubah jelek dan pria itu akan marah-marah tidak jelas padanya.


"Aku mau bertemu Mas Bintang," ucap Mentari hendak masuk ke dalam. Namun, segera di tahan oleh Katrina.


"Minggir Kate, beri aku jalan!" perintah Mentari.


"Kau tidak boleh masuk!"


"Seharusnya kau senang ya aku memperjuangkan diriku agar bisa lepas dari Mas Bintang agar dia bisa seutuhnya menjadi milikmu. Kamu itu bego atau apa sih?" cerca Mentari kesal dengan sikap Katrina.


"Kau tidak tahu saja semakin dia melihatmu maka dia akan semakin membencimu, dan itu akan semakin membuatnya ingin mempertahankanmu. Bukan karena cinta, tapi karena dia tidak ingin melihatmu bahagia, camkan itu!"


"Alah aku tidak perduli, hari ini juga aku harus dapat tanda tangan itu." Mentari hendak menerobos masuk, tetapi Katrina masih berusaha menahan hingga bayi dalam gendongannya menangis kencang.


"Sayang kenapa bayi kita?" teriak Bintang dari dalam.


"Dia butuh susu Bin, tolong buatin dong!"


"Oke-oke sebentar." Terdengar samar-samar suara Bintang dari dalam.


"Mas Bintang!" teriak Mentari.


Katrina menutup mulut Mentari tanpa mempedulikan bayinya yang menjerit-jerit minta asi dari tadi.


"Dasar ibu tidak becus, tuh urusi bayimu jangan urus aku." Mentari semakin kesal melihat Katrina mengabaikan bayinya.


"Keluar!" Katrina mendorong Mentari ke luar.

__ADS_1


"Kate!" Mentari tidak habis pikir ada ibu yang membiarkan bayinya menangis tanpa inisiatif untuk mendiamkannya.


"Sini aku yang gendong!" Mentari tidak tahan lagi mendengar tangisan bayi itu yang semakin kencang.


"Kau tidak boleh menyentuh bayiku, najis," ucap Katrina sambil menjauhkan bayinya dari Mentari dan akhirnya Mentari punya kesempatan untuk masuk ke dalam.


"Bin, cepat dong susunya!" teriak Katrina.


"Sebentar sayang ini masih aku kocok," ucap Bintang sambil berlari ke arah Katrina.


Melihat bayinya yang menangis kencang Katrina jadi gusar. Dia yang merasa Bintang terlalu lama akhirnya berinisiatif memberikan asi yang jarang ia berikan pada putranya itu. Gerakannya yang kaku dan gusar membuat dia abai.


Bruk.


Tubuh bayinya langsung jatuh telentang ke lantai. Bayi yang dari tadi menangis kencang terdiam begitu saja dengan mata terpejam. Namun, bayi itu keluar sesuatu dari mulutnya seperti orang muntah.


"Aaaaa!" teriak Katrina sambil berjongkok untuk meraih putra kecilnya itu, tetapi kedahuluan Mentari.


"Sayang dia kenapa?" Bintang jadi ikut syok melihat bayinya yang nampak kejang-kejang di tangan Mentari.


"Ini bukan salahku Mas, ini salah dia!" Katrina menuding Mentari.


Mentari menggeleng. "Itu tidak benar Mas," sanggah Mentari.


"Dia mendorongku Mas karena tidak aku izinkan untuk bertemu dirimu, dan akhirnya putra kita terjatuh," adu Katrina dengan air mata yang bercucuran dan segera mengambil putranya dari gendongan Mentari dan meletakkan sebentar di atas sofa. Dirinya langsung menelpon ambulance karena saking gusarnya.


"Dasar wanita pembohong, mau apalagi ke sini?"


"Aku ... mau ... minta ... tanda tangan," ucap Mentari ragu karena dalam keadaan seperti itu dia tidak mungkin membahas tentang masalah perceraian.


Bintang terlihat murka. "Oh jadi karena hal itu kamu malah sengaja membuat anakmu seperti ini Mentari. Ternyata kau wanita jahat. Baiklah mulai sekarang ku talak tiga dirimu."


"Aku talak dirimu! Aku talak dirimu! Aku talak dirimu!" teriak Bintang berulang-ulag karena saking emosinya.


Mentari terdiam mematung. Dia memang ingin bercerai dengan Bintang, tetapi bukan seperti ini caranya. Apalagi Bintang melakukan itu karena tuduhan yang tidak benar.


Tiba-tiba dadanya terasa sesak. Air matanya menetes di pipi. Entah dia harus senang atau sedih kali ini. Yang pasti hatinya terasa sakit.

__ADS_1


"Apa yang kau tunggu? Pergi sebelum ku jebloskan kau ke penjara!"


Mentari menggeleng. Dia tidak tahu bagaimana cara membuktikan dirinya tidak bersalah. Dia tahu Bintang tidak pernah memasang cctv di dalam unit apartemennya karena tidak ingin privasinya terganggu. Andai Mentari tahu semua ini akan terjadi tentulah dulu ketika dirinya tinggal di tempat ini menyuruh orang secara diam-diam untuk memasang cctv.


"Pergi!" bentak Bintang lagi.


Mentari berlari keluar apartemen dengan air mata yang tampak bercucuran.


"Paman ada apa ini?" tanya Gala pada Tuan Winata saat berpapasan dengan Mentari yang menangis. Hari ini dia telah berhasil menemukan pak Yanto dan menekan pria itu agar memberikan rekaman cctv yang asli. Mereka kini menuju ke unit apartemen Bintang untuk memberitahukan semuanya.


"Kita kejar dia!" perintah Tuan Winata. Namun langkahnya yang ingin berbalik terhenti tatkala melihat Bintang berlari-lari dengan menggendong bayi mereka sambil menangis. Katrina yang ada di sampingnya juga ikut menangis.


"Ini ada apalagi Paman?" tanya Gala yang tidak paham dengan keadaan.


"Kita cari Mentari lain kali saja. Sepertinya terjadi sesuatu dengan bayinya," ucap Tuan Winata.


Gala pun mengangguk dan segera berlari ke arah Bintang disusul Tuan Winata di belakangnya.


"Pa, tolong Bintang!"


"Dia kenapa?" tanya Tuan Winata penasaran.


"Jatuh Pa, dan dia muntah-muntah," sahut Bintang.


Tuan Winata meraih bayi di tangan Bintang. "Ayo cepat kita bawa ke rumah sakit!" perintah Tuan Winata sambil membawa bayi itu dengan setengah berlari. Walaupun meragukan bayi itu tetap saja Tuan Winata bersimpati pada bayi yang tidak berdosa itu.


"Ayo Paman," ucap Gala.


Setelah sampai di luar ternyata ambulance yang dipesan Katrina datang.


"Aku naik ambulance saja Gala siapa tahu bayi ini bisa ditangani di dalam. Kau bawa Bintang dan tenangkan dia!"


"Baik Paman."


Setelah itu Tuan Winata masuk ke dalam ambulance diikuti Katrina di belakang sedangkan Gala dan Bintang menyusul ambulance itu dengan mobil lain.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2