HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 144. Minta Maaf Atau Cari Masalah


__ADS_3

"Aaaaa!" Sarah berteriak kencang melihat Gala berdiri di depannya. Namun, Gala tidak langsung pergi hanya mematung di tempat.


Sarah kelabakan melihat ternyata Gala telah melihat tubuhnya yang telanjang. Buru-buru gadis itu menyambar handuk lalu menutup bagian tubuhnya.


"Dasar mesum suka ngintip orang mandi!" gerutu Sarah, sangat kesal dengan keberadaan Gala yang datang tiba-tiba.


"Kok malah menyalahkan saya sih, orang kamu sendiri yang masuk kamar saya. Mau menggoda saya ya," kelakar Gala sambil mengedipkan mata.


Sarah jengah, bangkit dari duduknya dan langsung mendorong tubuh Gala ke belakang.


"Argh! Jahat," ketus Sarah sambil berlari ke luar kamar dan menemui Mentari di dalam kamarnya. Dia duduk di tepian ranjang sambil menangis.


Dia begitu syok dengan keadaan yang menimpa dirinya kini. Bagaimana tidak, selama ini rambutnya saja dia jaga agar tidak pernah terlihat pria lain yang bukan muhrimnya, tetapi sekarang malah hampir seluruh tubuhnya terlihat oleh Gala. Benar- benar memalukan. Untung saja posisi dirinya tadi sedang duduk, bayangkan saja kalau saat itu Sarah berdiri pasti akan lebih syok dari sekarang ini.


"Kenapa sih Sarah, teriak-teriak dari tadi?" Mentari berjalan ke arah Sarah dan duduk di sampingnya. "Kok menangis?"


"Kenapa Kak Mentari nggak bilang sih bahwa itu kamar Pak Gala?" Sarah sewot sambil mengusap air matanya.


Mentari mengernyit. "Memang kenapa? Mas Gala tidak ada di rumah kok, kan dia tadi ada di kantor."


Sarah diam, dia kesal pada Mentari.


"Kenapa sih?" gumam Mentari lalu meletakkan baju yang dipegangnya di samping Sarah.


"Pakai baju dulu nanti masuk angin!"


Sarah hanya menjawab dengan anggukan.


Mentari keluar dari kamar dan pergi ke kamar Gala dengan rasa penasaran.


"Apa ada sesuatu yang terjadi?" batinnya.


Dia memeriksa kamar Gala dan menemukan pria itu baru keluar dari kamar mandi.


Mentari kaget dan langsung menutup mulutnya yang reflek menganga.


"Mas Gala sejak kapan ada di sini?" Mentari mengintrogasi Gala.


"Sejak tadi, kenapa?" tanya Gala dengan ekspresi tenang.


"Saat Sarah ada di sini?" tanya Mentari lagi.


"Iya, kenapa?" tanya Gala santai.


"Kau apakan dia sampai berteriak-teriak dan menangis begitu?" Mentari mencerca Gala dengan pertanyaan. Entah kenapa dia mencurigai Gala melakukan hal yang tidak benar pada Sarah.


Gala mengernyit mendapatkan pertanyaan seperti itu dari adiknya sendiri.

__ADS_1


"Saya ngapain dia? Saya nggak ngapa-ngapain kok."


"Bohong! Mas Gala melakukan hal yang buruk ya sama dia. Mas Gala melakukan tindakan tidak senonoh," tuduh Mentari.


"Ya ampun Ca, jangan menuduh mas kamu sendiri seperti itulah, kamu pikir aku lelaki biadab apa."


"Terus kenapa dia menangis begitu?" Mentari masih tidak bisa percaya.


"Ya mana aku tahu," jawab Gala enteng sambil mengangkat kedua bahunya.


"Mana mungkin ada asap kalau tidak ada api? Mana mungkin Sarah menangis kalau tidak ada sebab-sebabnya? Mentari menatap mata Gala dengan tatapan tajam penuh curiga. Dia paling benci dengan laki-laki yang berbuat mesum kepada wanita yang bukan istrinya.


"Iya deh aku ngaku, pas aku mau pipis tadi tidak sengaja melihat tubuh Sarah yang tidak memakai apapun di dalam kamar mandi. Salahnya sendiri kenapa pintunya tidak dikunci." Tidak ingin disalahkan ya menyalahkan terlebih dulu.


"Jadi Mas Gala melihat tubuh Sarah?" tanya Mentari ikutan syok.


"Gimana tidak mau melihat kalau dia pas ada di hadapanku."


Mentari menggeleng. "Pantas saja Sarah menangis, dia pasti sangat malu saat ini."


"Bagaimana mungkin ada barang bagus yang terpampang di hadapan diacuhkan begitu saja, mubasir tahu," ucap Gala lalu terkekeh.


Mentari terbelalak mendengar pernyataan Gala. "Tidak kau sentuh, kan?"


"Tidak," ucap Gala dengan nada tegas.


"Huft." Mentari bernafas lega.


"Kau kenapa Mas?" tanya Mentari, wajahnya berubah khawatir melihat Gala tidak baik-baik saja.


"Tidak apa-apa hanya alergi saja." Gala beranjak ke arah ranjang dan hendak membaringkan tubuhnya.


"Ke dokter kalau begitu," saran Mentari.


"Nggak usah sudah minum obat tadi biasanya besok sembuh." Tubuh Gala sudah terbaring sempurna di atas ranjang.


"Eits jangan tidur dulu!"


"Apalagi? Aku harus tidur sekarang. Kalau tidak, akan tersiksa menahan gatal dan panas pada kulitku."


"Nanti, sekarang minta maaf pada Sarah dulu!"


"Apa, Minta maaf? Ogah ah dia yang salah kok malah aku yang minta maaf."


"Suruh siapa mandi di kamarku," imbuhnya.


"Itu aku yang nyuruh Mas sebab kran mandi di kamarku macet, please ya minta maaf, aku kan jadi tidak enak dengan Sarah," mohon Mentari.

__ADS_1


Gala diam sebentar, sepertinya pria itu tampak berpikir. "Baiklah kalau itu permintaanmu." Gala langsung bangkit dari berbaringnya.


"Ayo!" Gala langsung melenggang ke luar kamar.


"Pastikan dulu dia sudah memakai baju apa belum. Entar aku disalahkan lagi," gerutu Gala saat tepat berada di depan kamar Mentari.


Mentari mengangguk. "Mas Gala tunggu di sini, aku lihat dulu ke dalam."


"Oke."


Mentari masuk ke dalam kamar dan memastikan apakah Sarah sudah memakai baju atau tidak. Saat melihat Sarah sudah duduk termenung di atas ranjang dengan pakaiannya, barulah Mentari membuka pintu dengan lebar dan memberi kode pada Gala untuk masuk juga ke dalam kamar.


"Tuh minta maaf sana!" perintah Mentari sambil menggerakkan dagunya ke arah Sarah.


Gala mengangguk dan mendekat ke arah Sarah.


"Sarah!" panggilnya.


Sarah menoleh. "Kamu mau apa ke sini?"


"Minta maaf."


"Setelah melihat tubuhku? Kenapa tadi tidak langsung keluar saat menyadari ada orang di dalam kamar mandi, dan kenapa tadi malah menganggap aku mau menggodamu?" protes Sarah bibir yang cemberut.


"Hmm, aku tadi sedang kaget kupikir ada setan di dalam kamar mandiku, mana sempat berpikir untuk keluar."


"Cih bilang aja otakmu ngeres, malah berkilah."


Gala menoleh ke arah Mentari seolah ingin protes mengapa Sarah tidak menangis seperti yang adiknya itu katakan. Di mata Gala Sarah bukannya terlihat sedih, tetapi malah lebih terlihat menyebalkan.


"Sorry ya aku tidak demen dengan wanita sepertimu. Aku nggak nafsu dengan tubuhmu!" Gala langsung berbalik dan meninggalkan Sarah.


Sarah yang semakin kesal dengan Gala langsung meraih bantal dan dilemparkan pada Gala.


"Argh kau benar-benar jahat. Aku membencimu!" teriak Sarah.


Gala menangkap bantal yang dilemparkan Sarah padanya dan berbalik.


"Aku juga membencimu," ucap Gala sambil menaruh bantal kembali di atas ranjang.


Sarah tidak menjawab, hanya memandang Gala dengan aura kebencian.


"Eh tunggu! Aku menyukai tahi lalat di dadamu, di atas pa ...."


Sontak Sarah langsung melempar semua bantal yang ada di atas ranjang ke arah Gala. Gala hanya terkekeh lalu berlari keluar kamar.


"Bye!" ucapnya sambil menutup pintu.

__ADS_1


"Aku bingung nih dengan kalian setiap bertemu pasti begini. Nggak ada akurnya, kayak Tom and Jerry aja," ucap Mentari sambil menggelengkan kepala.


Bersambung.


__ADS_2