
"Nggak nyangka ya, cantik-cantik pelakor," ujar salah satu karyawan wanita yang kebetulan berjalan di samping mereka.
"Iya ya. Apa dia nggak laku ya hingga harus merebut suami orang," sambung yang lain.
"Entahlah. Jaman sekarang demi harta orang bisa melakukan apa saja. Yang penting bisa hidup bergelimang harta, milik orang lain pun digondol kayak maling."
"Semua itu tidak benar, itu fitnah. Saya menikah dengan Mas Bintang atas permintaan Tuan Winata, papanya Bintang. Saya juga tidak tahu kalau Mas Bintang sudah punya istri. Kalau saya tahu demi Tuhan saya tidak akan pernah menikah dengan Bintang. Seharusnya Katrina mencegah pernikahan kami kalau Bintang memang sudah menjadi suaminya. Kenapa dia hanya diam saja?" Mentari melakukan pembelaan.
"Alah, mana ada maling ngaku? Tidak usah bawa-bawa nama Tuhan deh. Mana ada pelakor jujur. Kalau jujur dia bisa tekor, hahaha."
"Iya seharusnya kalau kamu punya hati kamu mundur dari pernikahan ini. Kan kamu sudah tahu sekarang bahwa Pak Bintang sudah punya istri?"
Mentari menggeleng. "Ini tidak semudah yang kalian pikirkan."
"Memang tidak mudah melepaskan pria tampan dan tajir. Iya nggak teman-teman?"
"Ya jelaslah dia nggak mau pisah sama Pak Bintang. Orang dia mengejar harta beliau," ucap seorang karyawan dengan wajah yang sinis.
"Betul," sambung yang lain."
"Dasar wanita murahan," tambah yang lain.
Wajah Mentari memerah mendengar orang-orang mengata-ngatai dan menertawakan dirinya.
"Mampus Loh, Katrina di lawan," ucap Katrina dalam hati, puas melihat Mentari dihina oleh orang-orang. Katrina berharap Mentari akan merasa tidak kuat kalau mendapat bulian terus-menerus sehingga akhirnya memilih mundur dengan sendirinya. Dalam artian dia yang akan minta pisah pada Bintang. Kalau mengharapkan Bintang yang harus menceraikan Mentari itu mustahil mengingat Bintang tidak berani pada papanya.
Tidak ada yang boleh memiliki Bintang selain diriku. Bintang milik Katrina semata, dari dulu sampai kapanpun.
"Kasihan Katrina. Kurang apa lagi sih dia? Kenapa Pak Bintang harus menduakannya coba."
"Iya cantik sudah, pinter juga iya. Wanita karir apalagi," tambah yang lain membuat telinga Mentari serasa panas.
"Pinter cari muka," batin Mentari kesal.
"Enaknya perempuan seperti dia kita apain ya?" Seseorang bertanya dengan ekspresi sangar.
Mentari mengernyit, memikirkan apa yang akan diperbuat orang-orang padanya. Dia sedikit heran dengan pemikiran para karyawan yang lebih memilih menghentikan aktivitasnya bekerja dan menghampiri dirinya dan Katrina.
"Kita keroyok aja biar tahu rasa."
Mentari bergegas pergi sebelum karyawan di sana melukai dirinya. Namun, langkahnya dihadang oleh karyawan wanita yang lain.
"Hei ada apa ini? Kenapa ribut-ribut saat jam kerja? Mau saya pecat semua?" Suara bariton terdengar dari atas tangga, menghentikan langkah para karyawan yang hendak berbuat aniaya.
__ADS_1
"Ini tempat orang bekerja. Kalau mau keroyokan sana, bergabung dengan para preman!"
"Maaf Pak. Kami salah telah terpancing keributan." Salah seorang meminta maaf dengan wajah yang menunduk.
"Ampun Pak jangan pecat kami."
"Kali ini saya maafkan, tetapi kalau sampai terjadi hal seperti ini lagi jangan harap kalian bisa bekerja di tempat ini lagi. Saya tidak suka menampung karyawan yang akhlaknya bobrok, ingat itu!"
"Iya Pak, kami janji tidak akan mengulanginya lagi."
"Bagus dan satu hal. Ingat peraturan di sini tidak ada yang boleh menikah dalam satu perusahaan. Kalau ada maka salah satu pasangan harus out dari perusahaan ini."
Katrina menelan ludah mendengar perkataan Gala. Sepertinya ia harus hati-hati agar pernikahannya dengan Bintang tidak diketahui oleh Gala. Dia harus bertindak cepat. Memperingatkan para karyawan yang tahu akan pernikahannya dengan Bintang supaya bungkam.
"Iya Pak, kami mengerti."
"Kalau begitu tunggu apalagi? Bubar sana dan kerjakan tugas masing-masing!" titah Gala.
"Ayo Mentari kita ke atas! Bintang ada di sana," ajak Gala kemudian, pada Mentari.
"Baik Pak, terima kasih."
Mentari pun mengikuti langkah Gala. Menapaki tangga ke atas kemudian masuk ke dalam lift khusus petinggi perusahaan.
"Hai Me kenapa lama sekali?" tanya Bintang. Pria itu mengernyit melihat Mentari datang bersama Gala. Ada sedikit kecurigaan, jangan-jangan omongan Gala tadi pagi tidak hanya gurauan semata, tetapi memang benar pria itu tertarik pada Mentari.
"Maaf makanannya pasti sudah dingin, abisnya aku ketahanan di bawah selama dua jam."
"Ketahanan? Di bawah selama 2 jam? Kok bisa?"
"Iya dan yang menahannya adalah istri kesayanganmu," ujar Gala lalu masuk ke ruangannya sendiri.
"Kamu menangis?" tanya Bintang melihat mata Mentari yang memerah. Dia tidak menggubris ucapan Gala karena lebih fokus pada wajah sang istri.
"Nggak, aku hanya kelilipan," bohong Mentari. Dia tidak ingin membahas kejadian tadi di kantor. Mentari tidak mau Bintang tidak fokus dalam pekerjaannya.
"Sebentar ya aku mau ngasih ini pada Pak Gala dulu, atau kamu yang akan memberikannya sendiri?"
"Kamu saja deh. Aku mau makan saja. Sepertinya perutku sudah kelaparan." Bintang sengaja membiarkan Mentari yang langsung memberikan makanan itu pada Gala karena ingin melihat ekspresi pria itu jika hanya berdua saja dalam ruangan bersama Mentari.
Mentari mengangguk lalu mengambil satu kotak makan dan beranjak ke ruangan Gala yang kebetulan pintunya tidak ditutup.
"Permisi Pak!"
__ADS_1
"Silahkan masuk!"
Mentari mengangguk dan masuk ke dalam.
"Ada apa?"
"Saya hanya ingin memberikan ini sama Bapak. Maaf kalau masakannya tidak enak."
"Tidak masalah taruh saja di situ! Nanti saya akan memakannya." Gala menunjuk meja di hadapannya.
Mentari mengangguk dan meletakkan kotak makan tersebut. "Terima kasih ya Pak."
"Atas?"
"Pertolongan Bapak tadi. Kalau tidak ada Bapak saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada diri saya."
"Sama-sama."
"Permisi." Mentari berbalik dan hendak beranjak keluar.
"Tunggu!"
Mentari berbalik.
"Mengapa kamu mau menikah dengan Bintang?
"Itu ... itu karena ... saya tidak tahu kalau Mas Bintang sudah punya istri."
"Sekarang kalau sudah tahu? Apa yang akan kamu lakukan?"
"Saya tidak tahu, tapi yang jelas saya harus bertahan," jawab Mentari sambil mencoba tersenyum.
"Ya sudah pergilah!"
"Maaf Pak saya lancang. Saya hanya ingin bertanya, jadi sebenarnya Bapak tahu kalau Mas Bintang sama Katrina sudah ...."
"Ya, aku tahu semuanya."
"Saya permisi." Mentari langsung bergegas keluar meski sebenarnya dia penasaran apa alasan Gala mempertahankan keduanya bekerja di perusahaannya. Padahal sudah jelas-jelas peraturan yang disebut Gala tadi suami istri tidak boleh bekerja dalam satu kantor.
"Ah sudahlah, Pak Gala pasti punya alasan tersendiri."
Sedangkan Bintang bernafas lega karena melihat Galaksi biasa saja saat Mentari menemuinya.
__ADS_1
"Benar kan tidak mungkin dia menyukai Mentari," batinnya lalu fokus menikmati makanannya kembali.
Bersambung...