HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 232. Good Mood


__ADS_3

"Ya sudah sana pergi!"


"Ya udah ya Cahaya pamit sama papa dulu."


Gala mengangguk dan Mentari melangkah ke arah Tama dan menyampaikan keinginannya.


"Ya, hati-hati ya Ca!"


"Iya Pa."


"Ummi pamit dulu ya Izzam, baik-baik sama Om Gala. Sini salaman dulu sama ummi." Mentari meraih tangan Izzam dan menggerakkan tangannya ke wajah Izzam agar mencium tangannya.


"Dada! Assalamualaikum."


"Wa'alailum salam," sahut Gala dan langsung berbalik menuju kamarnya sendiri.


Sampai di kamar Sarah ternyata sudah berada di dalam kamar mandi.


"Tuh, kamu nggak kasihan ya sama Tante baru mandi harus mandi lagi padahal nggak ada hasil. Ini gara-gara kamu sih." Gala menoel-noel hidung Izzam membuat anak itu menggelengkan kepala ke kanan dan ke kiri lalu berceloteh.


Beberapa saat kemudian Sarah keluar dari kamar mandi dan duduk di hadapan Gala sambil mengajak Izzam bicara.


Gala memandang wajah Sarah begitupun sebaliknya. Saat tatapan mata mereka bertemu keduanya lalu tertawa seolah ada yang lucu.


"Gara-gara kamu, gara-gara kamu." Gala menggelitik ketiak Izzam membuat anak itu tertawa cekikikan.


"Udah pak kasihan, dia pasti tersiksa kalau dibegitukan."


"Biarin ini hukuman untuk anak kecil pengganggu," ujar Gala sambil tersenyum.


"Bukan dia yang pengganggu, tapi Pak Gala yang nggak tahu waktu. Sini sama Tante aja. Omnya biar mandi dulu." Sarah meraih tubuh Izzam dari pangkuan Gala dan menggendongnya.


"Jangan jauh-jauh sebentar lagi masuk waktu dhuhur!" seru Gala memperingatkan.


Sarah hanya menoleh dan mengangguk. Setelahnya membawa Izzam keluar dari rumah dan berjalan-jalan.


Jam 2 siang Mentari kembali dari ke rumah Tama dan menjemput Izzam untuk pulang. Kali ini Izzam sudah ada dalam gendongan Tama sedangkan Gala dan Sarah duduk-duduk sambil mengobrol di ruang tamu.


"Saya dan Izzam pulang ke rumah ibu ya Pa, Mas," pamit Mentari pada ayah dan kakaknya sambil meraih Izzam dalam gendongan kakeknya.


"Loh nggak nginep di sini?" tanya Tama. "Papa masih ingin bersama Izzam."


"Lain kali aja ya Pa. Mentari dan Izzam takut mengganggu pengantin baru," ujar Mentari sambil melirik ke arah Gala dan Sarah sambil tersenyum.


Sarah membalas senyuman Mentari dengan tersenyum pula sedangkan Gala sedikit dongkol dan bergumam dalam hati, "Bagus ya, setelah berhasil menganggu kami kau bawa pulang tuh bocah."


"Tuh raut wajah Mas Gala beda. Sepertinya kedatangan kami memang mengganggunya," ujar Mentari sambil tersenyum menggoda.


"Enggak Kak," ujar Sarah sambil menyenggol lengan Gala.


"Ah siapa bilang? Saya malah senang kok kalau Izzam ada di sini terus."


"Ya sudah deh lain kali saja. Sekarang saya pamit pulang ya semuanya. Kasihan ibu di rumah seorang diri."


"Iya Ca, hati-hati. Lain kali kami akan ke sana juga," ujar Gala.


"Hari Jum'at gimana Pak? Sarah mau ziarah sekalian ke makam Kak Alzam."


"Boleh," jawab Gala.

__ADS_1


"Di tunggu ya Ca, hari Jumat jangan kemana-mana!"


Mentari mengangguk, bersalaman pada semua orang kemudian beranjak keluar rumah.


"Papa tinggal ke kamar ya, mau istirahat, capek," pamit Tama pada Sarah dan Gala.


"Iya Pa."


Tama pun meninggalkan ruangan menuju kamarnya sedangkan Sarah tampak asyik mengobrol dengan Gala.


Beberapa saat kemudian Sarah pun pamit ingin ke kamar. Dia butuh mengistirahatkan tubuhnya walaupun hanya sekedar berbaring saja.


"Ya sudah sana istirahat saja biar tubuhmu fit. Persiapkan untuk nanti malam. Kita akan melakukan ritual yang sempat tertunda tadi," ujar Gala sambil mengedipkan sebelah matanya pada Sarah.


"Ada ritual pernikahan yang belum dilaksanakan Den?" tanya bibi yang kebetulan lewat di samping mereka.


"Ada Bik bahkan ritual itu katanya harus dilaksanakan setiap hari agar rumah tangga harmonis," ujar Gala lalu terkekeh.


Si bibik menggaruk kepala sambil berlalu dari hadapan keduanya.


Sarah hanya menggelengkan kepala sambil menimpuk tubuh Gala dengan bantal sofa sebab Gala tidak kira-kira kalau bicara. Pria itu bahkan membuat pembantunya berpikir keras.


🍓🍓


Esok hari di dalam perusahaan Prasdiatama.


Gala berjalan memasuki bangunan perusahaan dengan bernyanyi-nyanyi kecil. Wajah pria itu tampak bersemangat bahkan beberapa kali menyapa karyawannya dengan ramah.


"Selamat pagi semuanya!"


"Selamat pagi Pak!"


"Alhamdulillah iya Pak."


"Baguslah, selamat beraktifitas kembali."


Mereka semua mengangguk.


"Tumben Pak Gala menyempatkan diri menyapa kita-kita," ujar salah seorang karyawan bingung dengan perubahan sikap atasannya.


Biasanya Gala hanya akan mengajak mereka berbicara apabila ada perlunya saja. Sekarang malah menyempatkan diri untuk berbasa-basi.


"Baguslah biar kita semakin akrab dengan atasan kita kalau Pak Gala begitu terus. Kenapa kau malah protes?"


"Bukannya aku protes cuma heran aja."


"Mungkin Pak Gala sedang bahagia makanya moodnya hari ini bagus," timpal yang lain.


"Ya iyalah Pak Gala kan baru menikah? Pengantin baru mana ada yang sedih?" sambung yang lain lagi.


"Ada lah, tentu saja bagi mereka yang menikah paksa."


"Kayaknya pernikahan Pak Gala sama Sarah juga perjodohan para orang tua, kan?"


"Ya tapi bisa juga mereka memang sudah saling suka jadi para orang tua mewadahi mereka saja agar bisa menikah dan bersatu."


"Iya juga ya?"


Gala sama sekali tidak perduli dengan apa yang karyawannya bicarakan. Yang terpenting saat ini dia sudah bahagia mendapatkan Sarah yang seutuhnya.

__ADS_1


"Uhui sepertinya ada yang sukses nih malam pertamanya," goda Kiki saat melihat Gala memasuki ruangan dengan rambut yang basah dan wajah yang berbinar.


"Kenapa, iri ya?"


Kiki tidak menjawab pertanyaan Gala. "Semangat amat bekerja Pak baru menikah masih masuk kerja terus."


"Kan sudah dapat suntikan dari Sarah ya harus semangat dong. Masa lemes?"


"Mau pamer dia mentang-mentang sudah punya istri. Dapat suntikan dari Sarah? Yang ada dia yang ngasih suntikan sama Sarah," lirih Kiki.


"Suntikan semangat maksudku Ki, jauh amat berpikirnya. Kau malah kucel. Apa karena ditinggal Diandra?" Gala duduk di kursi kebesarannya lalu bersandar.


"Ya Pak Gala benar. Gara-gara pak Gala nih saya harus bekerja sendirian. Bagaimana kalau Bu Sarah saja yang menjadi sekretaris?"


"Enak saja. Bisa bahaya kalau dia yang jadi sekretaris."


"Bahaya?"


"Ya sebab di luaran banyak buaya."


"Buaya apa sih Pak?" tanya Kiki tidak mengerti.


"Buaya darat seperti dirimu. Hahaha." Gala tertawa renyah.


"Ih, saya dibilang buaya darat." Kiki protes.


"Ya apalagi namanya kalau bukan buaya darat. Tiap hari ngengombalin Diandra pas dia minta tolong nggak dipedulikan."


"Ya bagaimana lagi daripada saya dipecat sama Pak Gala." Kiki duduk.


"Ya kasih kerja apa kek, jadi asisten di rumah kamu gitu. Lumayan punya pembantu seksi." Gala tertawa lagi.


"Mentang-mentang bahagia, tertawa terus," gumam Kiki dengan ekspresi wajah cemberut.


"Sudah mana proposal yang harus saya periksa?"


Kiki pun bangkit dari duduknya dan berjalan ke meja kerjanya kembali. Beberapa saat kemudian kembali dengan proposal di tangannya.


"Ini Pak periksa dulu sebelum saya serahkan pada perusahaan Pak Damar."


Gara langsung meraih proposal dan membacanya.


"Sepertinya sudah bagus. Bisa langsung kau serahkan. Oh ya Ki, kalau ada rekomendasi sekretaris bisa kamu bawa kemari, tapi ingat ya cari yang punya akhlak biar nggak kayak Diandra. Nggak sungkan-sungkan menggoda bos."


"Nanti saya cari Pak. Pak Gala minta yang seperti apa?"


"Yang pintar lah Ki, masa kamu masih nanya."


"Maksudku penampilannya Pak. Kalau masalah SDM ya sudah tentu harus diutamakan."


"Yang punya malu aja deh Ki."


Kiki menggeleng mendengar jawaban Gala.


"Ada yang salah?" tanya Gala melihat raut wajah Kiki seperti orang bodoh.


"Ti–dak Pak. Pak Gala selalu benar."


Kali ini Gala yang menggeleng. Sepertinya Kiki tidak fokus.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2