
Ustadz Alzam berlalu dari ruangan itu dengan pria tadi memandang kepergiannya dengan tatapan kasihan.
Setelah sampai di mobil ustadz Alzam langsung melajukan mobil tersebut pulang ke rumah.
"Jelaskan ini maksudnya apa Nak?" tanya sang ibu yang berdiri di depan pintu dengan nada suara yang sedikit meninggi.
"Assalamualaikum Bu," sapa ustadz Alzam sambil menjabat tangan ibunya untuk disalami.
"Wa'alaikum salam." Ibunya menjawab dengan suara yang ketus. Dia merasa kecewa pada putranya sekarang.
Ustadz Alzam menggeleng melihat sikap ibunya. "Kenapa sih Bu, kok sepertinya ibu kesal?" Ustadz Alzam tidak mengerti apa yang membuat ibunya marah.
"Lihat itu!" Ibunya menunjuk televisi yang menyala di ruang tamu. Ustadz Alzam masuk ke dalam rumah dan melihat ke arah televisi.
"Astaghfirullah hal adzim cepat banget ya menyebar kalau ada kabar yang tidak benar seperti ini," keluh ustadz Alzam. Memang zaman sekarang semua serba cepat. Gosip yang tidak benar akan cepat menjalar bak jamur di musim penghujan.
"Sudah kubilang kamu lebih baik menikah saja. Umurmu sudah lebih dari cukup untuk membina rumah tangga. Malah menolak terus jika ibu jodohkan, ujung-ujungnya mengganggu rumah tangga orang. Malu-maluin saja." Si ibu duduk di sebelah ustadz Alzam dengan ekspresi memberengut.
"Bu dengarkan dulu penjelasan Alzam, ini tidak seperti yang diberitakan. Itu hanya kesalahpahaman yang disebarkan menjadi sebuah fitnah. Apa ibu percaya kalau anak ibu ini bisa menganggu rumah tangga orang lain?"
Ibu ustadz Alzam terdiam mendengar pertanyaan putranya. Ingin rasanya dia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya di layar datar yang terpampang di hadapannya kini. Namun, apalah daya dia tidak bisa. Dalam hati berpikir apakah ada orang yang begitu tega menyebar fitnah semacam itu. Tidakkah orang itu takut berhubungan dengan hukum karena telah mencemarkan nama baik orang lain?
"Saya tahu ibu pasti tidak percaya." Ustadz Alzam menghembuskan nafas kasar. "Berarti ibu belum mengenal begitu dalam anak ibu sendiri," ucap ustadz Alzam lagi, menyayangkan sikap ibunya.
"Bukan begitu Nak, jelaskan padaku sebenarnya apa yang terjadi. Maafkan ibu yang telah berburuk sangka terhadapmu," sesal ibunya.
"Sebenarnya itu hanya video saat saya menolong seorang wanita yang tergeletak tidak berdaya di depan unit apartemen Sarah Bu. Jadi, tidak mungkin kan Alzam membiarkan tubuh wanita itu tergeletak di sana terus-menerus tanpa ada yang menolong. Bagaimana kalau yang menemukannya orang jahat? Alzam memang menggendongnya menuju kamar Sarah," jelas ustadz Alzam dan ibunya hanya mengangguk memaklumi.
Sebenarnya dia percaya pada ustadz Alzam, tidak mungkin putranya itu akan berbuat tidak senonoh apalagi dengan istri orang. Namun, dia juga perlu berpikir realistis bahwa manusia tidak akan pernah luput dari yang namanya salah dan dosa. Mungkin saja kan putranya khilaf.
"Kalau ibu tidak percaya tanya Sarah," lanjut ustadz Alzam, matanya menyiratkan kejujuran. "Dia ada di kamarnya saat itu."
"Baik ibu percaya, sekali lagi maafkan ibu."
Ustadz Alzam mengangguk. "Saya permisi ke kamar dulu ya Bu, mau istirahat."
"Iya Nak."
Ustadz Alzam beranjak ke kamar dan mencoba merebahkan tubuhnya yang terasa remuk akibatnya pukulan Bintang tadi. Batinnya juga terasa lelah. Meski sekuat apapun dia mencoba bersikap tenang dan bersabar tetap saja cobaan ini menyiksa hatinya.
"Ya Allah apa yang harus aku lakukan?" Ustadz Alzam benar-benar lelah dia ingin tidur sebentar barangkali dengan begitu akan sedikit membuat tubuhnya lebih baik.
"Kak! Kak!" Terdengar teriakan Sarah dari arah luar. Ustadz Alzam yang hampir menutup mata jadi urung untuk beristirahat.
"Sarah? Apalagi tuh anak, datang-datang bukan mengucapkan salam, tetapi malah teriak-teriak." Ustadz Alzam bangkit dari berbaring dan berjalan keluar.
"Nak ada banyak wartawan di luar, apa jangan-jangan dia mau menginterogasi dirimu terkait berita tadi." Ibu ustadz Alzam terlihat pucat. Dia tidak mau putranya akan viral dengan berita keburukan.
__ADS_1
Sang ibu tampak menutup pintu agar orang-orang tidak dapat masuk dan menemui ustadz Alzam.
"Kok ditutup Bu?" tanya ustadz Alzam heran.
"Biarkan mereka akan semakin menambah masalah untuk kita," jawab sang ibu.
"Tapi tadi aku mendengar suara Sarah. Sepertinya dia ada di luar ...." Belum sempat meneruskan bicara Sarah berteriak lagi.
"Kakak! Ibu! Buka pintunya!"
Tok, tok, tok.
"Tuh kan Bu betul yang Alzam tadi bicara, Sarah ada bersama mereka." Ustadz Alzam menggeleng mengingat perkataan Sarah di telepon ternyata tidak main-main. Adiknya itu memang mengundang wartawan.
Ustadz Alzam membuka pintu. Tampak Sarah nyengir di balik pintu.
"Cepat masuk Sarah aku tidak ingin wartawan itu
macam-macam sama kakakmu." Wanita tua itu tampak pucat dan tubuhnya bergetar karena takut.
"Tenang Bu, ibu jangan takut," ucap Sarah sambil merangkul ibunya.
"Bagaimana ibu tidak takut melihat mereka. Apa yang akan mereka lakukan di tempat ini? Bukankah diantara kita tidak ada yang menjadi artis?" cerocos sang ibu.
Sarah malah tertawa melihat ibunya yang begitu kolot. Memang dia pikir hanya artis saja yang diburu wartawan. Dimana pun tempat yang bisa mendapatkan berita ataupun informasi, yang namanya wartawan pasti akan mendekat seperti halnya peribahasa dimana ada gula disitu ada semut.
"Bicara yang benar jangan sampai bikin ibu jadi tremor," protes ustadz Alzam.
"Iya, iya. Begini Bu, Ibu tidak usah takut mereka datang ke sini karena diundang oleh Sarah," jelas Sarah.
Tampak si ibu syok dan langsung kejang-kejang.
"Bu, ibu kenapa sih?" Sarah mengguncang tubuh sang ibu karena sangat khawatir. Namun, tubuh sang ibu langsung luruh ke lantai dan pingsan.
"Demen banget sih bikin masalah," protes ustadz Alzam sambil berjongkok untuk menggendong sang ibu ke dalam kamar.
"Maaf Kak tidak sengaja!" teriak Sarah saat ustadz Alzam menjauh dari dirinya.
"Teman-teman maaf ya acara ditunda sebentar. Tunggu ya sampai ibuku kembali sadar." Finda sahabatnya langsung menggetok kepala Sarah.
"Auw sakit tahu Fin main getok kepala aja. Gimana kalau otakku yang pintar ini jadi bodoh karena digetok terus sama kamu. Kau harus bertanggung jawab!"
"Tuh ibu loh tuh, masih mikirin. berita," protes Finda.
"Ah iya."
"Ibu!" teriak Sarah sambil mengejar ustadz Alzam ke dalam kamar.
__ADS_1
"Jangan berisik cepat ambilkan minyak angin sana!"
"Iya Kak," jawab Sarah sambil merengut dan pergi keluar kamar untuk mengambil pesanan kakaknya. Sebentar kemudian kembali ke dalam kamar sang ibu dengan ekspresi yang masih sama.
"Nggak usah cemberut, ini gara-gara kamu," protes ustadz Alzam.
"Nggak usah ngambek Kak, yang salah bukan Sarah tapi kak Alzam," bantahnya.
"Loh kok gara-gara aku?" sanggah ustadz Alzam.
"Ucapan itu adalah doa dan Kak Alzam tadi yang bilang ibu akan tremor. Ya sudah deh kejadian dan akhirnya ibu pingsan."
"Kamu?" Ustadz Alzam menggeleng, adiknya ini memang kadang suka berdebat dengannya, tetapi sebenarnya Sarah itu penurut kalau mengenai hal yang masuk di logikanya.
"Tapi tidak apa saya tidak punya firasat buruk kok tentang ibu, itu artinya ibu akan baik-baik saja."
"Hmm." Ustadz Alzam malas menanggapi ucapan Sarah.
Setelah membalurkan minyak angin di dahi dan kening ibunya ustadz Alzam menaruh minyak angin pada hidung sang ibu barangkali akan mempercepat sadarnya dari pingsan. Sarah keluar lagi dari kamar dan membuatkan teh hangat agar saat sadar ibunya bisa langsung meneguknya.
Beberapa saat kemudian si ibu tersadar.
"Minum dulu ya Bu." Sarah menyodorkan teh hangat ke bibir sang ibu dan wanita tua itu meneguknya.
"Bagaimana wartawannya sudah pulang?" Sang ibu masih saja kepikiran.
"Belum Bu biar kami mengusirnya dulu. Ayo Kak Alzam." Sarah menarik tangan kakaknya.
"Tidak bisa sendiri, kah?" tanya ustadz Alzam heran dengan sikap Sarah. Bukannya dia pernah mengatakan tidak takut pada siapapun karena sudah dibekali ilmu beladiri.
"Bu Kak Alzam tidak mau." Sarah merengek padahal dalam hati tertawa.
"Nak antarkan adikmu bicara dengan mereka."
"Baik Bu." Ustadz Alzam paling tidak bisa menolak ibunya kecuali dalam satu hal yaitu perjodohan. Baginya menikah itu cukup satu kali seumur hidupnya. Jadi dia tidak boleh sembarangan menerima seorang wanita. Dia benar-benar harus memilih pasangan hidupnya nanti.
"Finda tolong jaga ibu ya!" Sarah mengerlingkan mata pada Finda. Gadis itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala. Dia mengerti apa yang akan dilakukan Sarah di luar.
"Awas nanti juling tuh mata." Ustadz Alzam yang melihat kerlingan mata Sarah langsung melayangkan protes.
"Kak Alzam tidak asyik doanya selalu jelek. Udah ah ayo!" Sarah semakin kencang menarik tangan kakaknya keluar.
"Iya Sarah saya bisa jalan sendiri."
"Hehe ... baiklah." Sarah melepaskan pegangan tangannya di tangan ustadz Alzam dan berjalan keluar menuju Beberapa wartawan yang sedari tadi disuruh menunggu oleh Sarah.
Bersambung
__ADS_1