HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 87. Kesetiaan


__ADS_3

"Baiklah kalau begitu." Mentari menyambut ajakan Bintang dengan senang. Jarang-jarang suaminya itu mengajak Mentari makan di luar apalagi sejak Katrina muncul dalam rumah tangga Mentari dan Bintang. Suaminya itu sudah tidak pernah lagi mengajak Mentari makan di luar.


"Oke yuk!" Bintang menggenggam tangan Mentari dan menuntun istrinya ke pintu mobil. Sampai di depan pintu mobil dia langsung membukakan pintu. Setelah itu Bintang menggerakkan tangan kanannya di depan dada secara terlentang, mempersilahkan Mentari masuk. Mentari hanya tersenyum melihat perlakuan suaminya yang seolah menjadikan dirinya ratu. Bintang membalas tersenyum lalu memutar tubuhnya dan membuka pintu di samping kemudi kemudian masuk ke dalam mobil.


Dia pun melajukan mobilnya ke sebuah restoran yang Bintang ketahui baru selesai dibangun dan pembukaannya masih dua hari yang lalu.


"Wah indah sekali." Mentari mengagumi pemandangan yang terpampang di samping mobil tempatnya duduk dari balik kaca. Mentari pun membuka kaca mobil agar bisa melihat dengan jelas pemandangan di luar yang menunjukkan sebuah danau hijau terpancar matahari senja sehingga menghasilkan warna yang unik pada airnya itu.


"Mau ke sana?" tanya Bintang melihat istrinya begitu antusias.


Mentari hanya mengangguk.


"Lain kali saja ya, sekarang sudah hampir malam," ujar Bintang dan Mentari mengangguk lagi.


Mobil pun melaju mulus di jalanan hingga memasuki sebuah restoran yang begitu megah dan pemandangan luarnya sedap dipandang mata. Desain restoran itu benar-benar eksotis dan memberikan kesan romantis. Pantas saja baru dua hari dibuka hari ini sudah ramai pengunjung.


Mereka berdua kini sudah duduk di salah satu ruangan restoran. Memesan makanan sambil berbincang-bincang sebentar tentang pengalaman Bintang yang ditolak perusahaan sana sini. Mentari tertawa lepas mendengar penuturan Bintang tentang kisahnya yang kadang diselipkan humor. Mentari baru tahu bahwa sebenarnya Bintang juga pria yang humoris.


Sejenak Mentari melupakan rasa kecewa pada Bintang. Seolah pria itu adalah miliknya satu-satunya dan selalu bisa membuatnya bahagia.


Beberapa saat kemudian pesanan mereka datang. Mereka pun menghentikan aktivitas mengobrolnya dan fokus makan.


Dari arah pintu restoran terlihat Katrina masuk ke dalam bergandengan tangan dengan seorang pria.


"Arka sebaiknya kita jangan duduk semeja," ucap Katrina tiba-tiba saat matanya tak sengaja menangkap sosok Bintang ada di dalam restoran.


"Kenapa?" tanya Arka heran. "Bukannya tadi kamu sudah berjanji ya bakal makan bersama?" heran Arka.


"Bukan begitu tapi ...."


"Tenang saja deh Kate kali ini aku yang traktir," potong Arka perkataan Katrina.


"Bukan masalah siapa yang bayarin tapi tuh!" Katrina menunjuk ke arah Bintang dan Menteri dengan dagunya.


Arka menatap ke arah yang ditunjuk oleh Katrina. "Oh ada dia rupanya," ujar Arka.

__ADS_1


"Jadi dia yang namanya Mentari?" tanya Arka kemudian.


"Iya, jadi kamu belum tahu dengan Mentari?" tanya Katrina penuh selidik. Dalam hati berpikir kalau Arka belum tahu seperti apa wajah Mentari berarti perkataannya yang akan membantu menyingkirkan wanita itu hanyalah omong kosong belaka.


"Apa?" tanya Arka melihat tatapan tajam dari Katrina. Dia mengerti pasti wanita di sebelahnya itu memikirkan sesuatu tentang dirinya.


"Nih kalau kau tidak percaya padaku." Arka mengambil botol kecil dari saku bajunya dan meletakkan pada genggaman tangan Katrina.


"Ini obat yang ku pesan?" tanya Katrina sebelum memasukkan botol itu dalam tas.


Arka mengangguk dan berbisik," Sudah kita berpencar sebelum mereka melihat kita bersama."


Katrina pun mengangguk lalu masuk ke dalam. Setelah menemukan meja yang kosong dia duduk dan pura-pura tidak melihat ke arah Bintang dan Mentari yang masih menunduk dan fokus dengan makanannya masing-masing.


Katrina melirik ke arah Arka yang mengangkat dua jari jempol tangannya. Katrina mengangguk dan tersenyum kemudian memanggil pelayan untuk memesan makanan.


Selesai makan Mentari dan Bintang baru mengangkat mukanya kembali dan mulai bersenda gurau sambil menunggu bill dari pelayanan.


"Di sini tempatnya romantis ya Mas," ucap Mentari saat menyadari konsep restoran yang begitu menggugah hatinya.


"Suka, suka sekali malah. Tempat ini bisa aku jadikan referensi tempat dalam novel online-ku," jawab Mentari tersenyum puas.


Mendengar jawaban Mentari Bintang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Selalu ya dikaitkan dengan novel online. Kayaknya kamu tergila-gila nih sama MC pria dalam novel buatanmu sendiri. Terbukti kalau sudah menyebut novel online kamu terlihat begitu antusias," protes Bintang karena melihat tatapan mata Mentari yang berbinar-binar.


"Ya jelaslah orang itu tokoh aku ciptakan sesuai keinginanku sendiri. Seperti halnya pria idamanku begitu," jelas Mentari sambil senyum-senyum membayangkan tokoh pria dalam novelnya.


"Kok aku jadi kepo sih? Dia tampn nggak? Boleh aku tahu jalan ceritanya?"


"Ya jelas lah dia tampan kayak Mas Bintang," jawab Mentari membuat Bintang


senyum-senyum sendiri serasa dipuji oleh Mentari.


"Ceritanya gini, dia kan istrinya nggak bisa ngasih anak gitu Mas padahal umur pernikahan mereka sudah berlangsung selama sepuluh tahun. Jadi orang tua dari si pria ini mau menjodohkan putranya dengan wanita lain biar cepat punya cucu. Namun, si pria ini menolak bahkan dia rela diusir dari rumah dan kehilangan segalanya demi tetap hidup berdua dan menjaga perasaan serta cinta pada istrinya itu. So sweet banget nggak Mas? Di dunia ini sudah jarang laki-laki seperti itu. Pria itu begitu setia pada istrinya padahal sudah jelas istrinya itu punya kekurangan. Dokter telah memvonis si istri itu


mandul."

__ADS_1


Bintang hanya terdiam


mendengar pernyataan Mentari. Kalau sudah menyangkut perihal kesetiaan mah dia memang sudah tidak bisa diandalkan.


"Nggak bisa kan jadi seperti dia? Makanya aku mengagumi tokoh itu karena dalam dunia nyata nyari pria yang setia seperti dia, itu sangatlah sulit. Kayaknya seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami." Entah kenapa setelah tahu Bintang beristri dua Mentari menganggap hampir sebagian lelaki itu sama. Padahal dia hanya belum bertemu saja dengan pria yang benar-benar setia.


"Kata siapa tidak bisa?" tanya Bintang kemudian sepertinya dia ingin usil pada istrinya itu.


"Emang Mas Bintang bisa melepaskan salah satu diantara kami? Aku apa Katrina?" tanya Mentari dengan suara yang keras karena saat itu dia melihat Katrina duduk tidak jauh dari tempatnya sekarang.


"Aku kan sudah setia," jawab Bintang.


"Setia apaan?" protes Mentari.


"Setia pada dua wanita." Bintang terkekeh. Namun, dia segera menghentikan kekehannya saat Mentari bangkit dari duduknya dengan cemberut.


"Sudah ah aku mau pulang, kalau kamu mau pulang dengan Katrina silahkan saja, biar aku naik taksi saja.


"Katrina?" Bintang terlihat kaget.


"Tuh!" tunjuk Mentari ke arah Katrina yang kini sedang menatap ke arah mereka.


"Untung aku tidak menyebut namanya tadi kalau tidak, dia bisa ngamuk malam ini," batin Bintang.


"Kate, kau mau pulang dengan kami?" tanya Bintang.


"Pergilah Bin susul Mentari biar dia tidak menghilang lagi. Tentang aku jangan kau pikirkan, aku bisa pulang sendiri karena bawa mobil," ucap Katrina.


Sebenarnya Bintang heran dengan sikap Katrina. Namun, itu tidak penting sekarang.


"Sudahlah yang penting sekarang aku harus menyusul Mentari biar tidak kemana-mana lagi," gumam Bintang sambil berlari keluar menyusul Mentari.


"Mas! Mas! Bill-nya belum dibayar!" teriak seorang pelayan membuat Bintang menghentikan langkahnya secara mendadak dan langsung menepuk dahinya.


"Kenapa aku bisa lupa sih?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2