HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 101. Perasaan Bersalah


__ADS_3

"Silahkan dimulai kakakku sudah siap," ucap Sarah di depan para wartawan.


"Sarah ...." Ustadz Alzam ingin protes, tetapi ucapannya langsung dipotong oleh Sarah. "Kak Alzam tidak ingin lepas dari fitnah ini dan membiarkan fitnah itu beredar di masyarakat begitu saja? Ya sudah anggap saja kak Alzam memang menyukai Mentari."


"Sarah!" Suara ustadz Alzam mulai meninggi.


"Ya sudah konfirmasi sana lewat wartawan biar semua tahu bahwa itu cuma fitnah dan video yang beredar di masyarakat itu sama sekali tidak benar. Asal kakak tahu Sarah melakukan ini karena sayang sama Kakak. Sarah tidak ingin berita semakin beredar tampa sanggahan dan itu akan semakin mencemarkan nama baik Kak Alzam."


"Baiklah," ucap ustadz Alzam pasrah.


Sarah pun memanggil para wartawan dengan tangannya agar mendekat. "Silahkan bisa dimulai," ucapnya lagi.


"Baik."


Mereka pun bersiap-siap dan segera mendekat. Setelahnya melakukan video konfirmasi yang menampilkan ustadz Alzam yang sangat menentang dan tidak membenarkan berita yang beredar di masyarakat itu. Ustadz Alzam menceritakan yang sebenarnya terjadi antara Mentari dan dirinya saat itu. Sayangnya ustadz Alzam belum punya bukti yang bisa diangkat ke permukaan publik untuk meyakinkan semua orang.


"Saat ini saya memang belum punya bukti, tapi saya yakin suatu saat nanti akan terlihat dengan jelas siapa yang salah dan siapa yang benar."


"Menurut ustadz siapa sih yang telah menyebar video ini hingga menjadi tranding topik saat ini? " tanya seorang wartawan.


"Insyaallah saya tahu pelakunya, tetapi maaf saya tidak akan menyebut sebelum punya bukti takutnya nanti lari ke fitnah juga. Tidak bagus kan fitnah dilawan fitnah?"


"Iya ustadz benar, yang ada konflik ini akan semakin panjang kalau saling tuduh. Ya sudah ya ustadz konfirmasinya semoga cepat terselesaikan masalah ini. Yang benar biarlah menjadi yang benar dan yang salah tetaplah menjadi yang salah," ucap salah satu wartawan menutup pembicaraan nya.


"Amin terima kasih atas doanya."


"Sama-sama." Kamera pun dimatikan.


Para warga segera pamit pergi. Sarah dan ustadz Alzam beranjak kembali ke kamar sang ibu.


"Semoga bisa meredam berita yang beredar itu ya Kak," ucap Sarah penuh harap.


"Amin, terima kasih ya Sarah atas semuanya."


"Iya Kak sama-sama. Eh tapi siapa ya Kak kira-kira yang menyebarkan berita itu?" tanya Sarah penasaran. "Sepertinya kakak mencurigai seseorang deh."


"Kata siapa?" Ustadz Alzam masih menampik.


"Tadi sama wartawan ngomong begitu," ujar Sarah.


"Hanya prediksiku saja, belum tentu benar."


"Apa madunya Mentari?" tanya Sarah penasaran.


"Bukan," jawab ustadz Alzam.


"Seyakin itu?" tanya Sarah lagi.


"Kepo nih anak," ucap ustadz Alzam.


"Ya iyalah kepo. Punya kakak nggak ada terbukanya sama sekali, tapi kalau Sarah disuruh jujur dan ngomong terbuka terus." Gadis itu tampak cemberut.


"Jangan cemberut begitu ah pantesan nggak ada Lelaki yang ngelamar palingan nggak berani dekat-dekat sama kamu. Takut dimakan haa!" Ustadz Alzam berbicara di dekat telinga Sarah membuat gadis itu mengorek telinganya. "Berisik, apaan ustadz kelakuannya kayak gitu," protes Sarah.

__ADS_1


"Aku bukan ustadz Sarah, cuma kalau disuruh mengisi ceramah di suatu tempat yang aku sanggupi. Tidak salah kan membagi ilmu?"


"Tidak salah sih cuma ...." Sarah berlari meninggalkan sang kakak.


"Cuma apa Sarah?" Ustadz Alzam mengejar Sarah ke dalam kamar ibunya.


"Kalian apa-apaan sih, kayak anak kecil saja main kejar-kejaran," protes sang ibu yang sudah terlihat duduk di pinggir ranjang bersama Finda.


Ustadz Alzam duduk di samping ibunya sedangkan Sarah duduk di samping Finda.


"Kadang lebay Sarah diatur tidak boleh gini tidak boleh gitu," keluh Sarah sambil melihat ke wajah ustadz Alzam dengan cemberut.


"Coba senyum biar dapat pahala daripada cemberut yang tidak jelas."


Finda terkekeh mendengar perkataan ustadz Alzam yang langsung membuat Sarah tersenyum, tetapi tampak seperti senyum yang dipaksakan.


"Maafkan aku tapi itu semua demi kebaikanmu. Sebagai manusia biasa aku pun banyak salah Sarah jadi kau bisa menegur kakak jika kakak ada salah."


"Tidak ada Kak, Sarah cuma bercanda."


Ustadz Alzam mengangguk. Mereka berdua bangkit dan langsung memeluk ibunya.


"Apa kabar ayahmu?" tanya sang ibu.


"Baik Bu, tadi Sarah ke sana meminta bantuan ayah dan wartawan-wartawan ini ayah yang memanggil. Nanti kalau cara ini tidak berhasil, Sarah akan meminta bantuannya lagi."


"Jangan Sarah, jangan pernah merepotkan ayah. Sejak ibu dan ayah berpisah dan kakak menolak ajakan untuk tinggal bersamanya kakak berjanji pada beliau tidak akan pernah meminta bantuan dalam hal apapun padanya."


"Sudahlah untuk ini saja jangan membantah."


"Alzam apa kamu masih membenci ayahmu?" tanya sang ibu.


Ustadz Alzam menggeleng. "Saya tidak pernah membenci siapapun hanya tidak ingin beliau menganggap Alzam tidak mandiri dan tidak bisa membahagiakan ibu walau kenyataannya memang demikian. Saya belum bisa membahagiakan ibu. Maafkan Alzam ya Bu." Ustadz Alzam bersimpuh di kaki sang ibu.


"Bangun Nak kamu tidak perlu melakukan ini semua. Ibu bahagia tinggal bersamamu." Sang ibu membelai rambut putranya.


"Aku juga mau Bu dibelai seperti itu." Sarah segera melepaskan jilbabnya dan juga duduk di kaki sang ibu.


Sang ibu membelai rambut kedua anaknya sambil meneteskan air mata. Dirinya memang jarang bertemu dengan Sarah sewaktu kecil karena gadis itu dibawa ayahnya dan jarang bertemu.


Kembali ke Mentari.


Setelah ditinggalkan Bintang dia berdiri termangu sambil memikirkan kejadian yang ada dalam video tadi. Kapan dan dimana kejadian itu berlangsung.


Mentari kemudian berjalan di tepi jalan raya menyusuri jalan dengan berjalan kaki sambil merenungkan kejadian tadi. Kejadian yang benar-benar membuat dirinya merasa syok setengah mati.


Tiba-tiba Mentari teringat pada saat pertama kali melihat wajah ustadz Alzam. Ya seorang lelaki yang di temuinya di kamar Sarah saat dirinya mulai sadar dari pingsan. Mentari mulai mengingat baju yang dipakai pria itu dan juga dirinya sendiri.


"Berarti benar itu adalah video pada malam itu. Berarti yang menolongku dan membawa tubuhku ke dalam kamar Sarah adalah ustadz Alzam sendiri bukan Sarah." Bergumam sendiri kemudian dikuatkan dengan ingatannya tentang Sarah yang mengatakan ustadz Alzam yang menolongnya tempo hari.


"Aku harus menjelaskan semuanya pada Mas Bintang bahwa dirinya salah paham."


Mentari melihat-lihat ke arah depan dan belakang mungkin saja ada taksi atau kendaraan umum lainnya yang melintas. Namun, jalanan tampak lengang.

__ADS_1


"Tumben sepi begini?" Mentari terus berjalan menyusuri jalanan yang sepi itu sambil meraih ponselnya untuk menelpon ojek online. Namun, dia tetap meneruskan langkahnya. Pikirannya yang kacau tidak bisa berpikir jernih.


Beberapa saat kemudian saat kakinya telah lama melangkah dia menyadari sesuatu. "Jangan-jangan sopir ojek menungguku di depan toko Sarah." Dia menggaruk kepala menyadari kebodohannya sendiri.


Mentari langsung meraih


ponselnya untuk mengkonfirmasi tempatnya sekarang.


Baru saja mengecek ternyata sudah banyak panggilan tak terjawab dari nomor yang sama.


"Ya ampun kasihan dia." Hendak menelpon balik, tetapi malah mendengar seseorang memanggilnya.


"Mbak ya yang memesan ojek dengan nama Mentari?" tanya sopir ojek online tersebut.


"Kok Mas bisa tahu kalau saya sudah ada di sini?" tanya Mentari heran.


"Saya melacaknya tadi melalui nomor telepon Mbak," jelas sopir ojek online tersebut.


"Oh, oke maaf jadi merepotkan. Tadi saat menelpon Mas nya sedang tidak konsentrasi jadi berjalan terus tanpa sadar."


"Tidak apa-apa Mbak. Pasti Mbak nya punya masalah ya," tebak sopir ojek tersebut.


Mentari hanya mengangguk.


"Oh semoga segera terselesaikan ya Mbak."


"Amin, terima kasih Mas."


"Sama-sama Mbak dan ini helmnya." pria itu menyodorkan helm ke tangan Mentari. Mentari memakai helm tersebut dan langsung membonceng di belakang.


"Sudah Mas," ucap Mentari setelah dirinya duduk dengan sempurna di atas sepeda.


"Iya Mbak. Eh Mbak boleh tidak saya berhenti sebentar di sebuah depot nanti untuk membelikan makanan pesanan istri saya. Kebetulan dia lagi ngidam."


"Bolehlah Mas."


"Wah terima kasih nih Mbak. Mbak tenang saja depotnya letaknya tidak jauh kok masih sejalur dengan tujuan Mbak. Letakkan ada sebelum apartemen Mbak."


"Iya Mas nggak apa-apa."


"Sip," ucap pria itu kemudian tancap gas. Sebelum sampai ke apartemen mereka berhenti dulu di sebuah depot untuk membeli makanan.


"Mbak nya mau pesan makanan juga?" tanya pria itu karena melihat Mentari juga berjalan menyusul dirinya.


Namun, Mentari tidak menjawab karena matanya fokus pada layar televisi di depot tersebut yang mengarah ke jalan raya.


"Bukannya dia ustadz Alzam ya?" Mentari melebarkan pandangan matanya sambil terus berjalan mendekat ke arah televisi.


Nampak dengan jelas bahwa ustadz Alzam diusir secara halus oleh seorang karena sebagian yang hadir dalam acara tersebut berkata-kata tajam kepadanya.


"Maafkan aku ustadz semua pasti gara-gara aku." Mentari benar-benar merasa bersalah. Hanya karena dirinya karir ustadz Alzam langsung hancur seketika.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2