
Namun apa yang terjadi? Tama tidak mendekati Mentari melainkan Warni yang telah bertualang di alam mimpi.
"Bu Warni bangun Bu." Tama mengguncang-guncang tubuh Warni agar terbangun.
"Pa, ngapain papa bangunin dia?" tanya Gala heran. Pria itu melirik Mentari. Ternyata wanita itu baru saja terlelap sambil memeluk sang adik.
"Papa mau meminta penjelasan," ucap Tama terus terang.
"Meminta penjelasan apa Pa? Ini sudah malam jangan mengganggu orang tidur," protes Gala.
"Aku ingin tahu mengapa kalung ini bisa ada di dalam rumah mereka," jelas Tama.
"Memang itu kalung apa?" tanya Gala tidak mengerti dan penasaran.
"Nanti kamu akan tahu sendiri." Tama tetap
mengguncang-guncang tubuh Warni agar terbangun.
"Tidak bisa menunggu besok saja kah Pa? Kasihan Bu Warni sepertinya dia kelelahan. Biarkan dia beristirahat malam ini."
"Tidak bisa, malam ini papa tidak akan bisa tidur lagi. Jadi dia juga tidak boleh tidur. Enak saja." Tama terlihat egois.
"Tapi Pa ...."
"Sudah Gala kamu tidak perlu ikut campur ini urusanku dengan wanita ini."
Gala hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang papa.
"Biarin lah daripada dia ngamuk," batin Gala pasrah.
"Bu Warni bangun Bu!" Suara Tama semakin dikeraskan mengingat Warni dari tadi dibangunkan tidak bangun-bangun.
"Eh bocor-bocor." Bu Warni langsung terbangun dari tidurnya. Barangkali dia bermimpi atap rumahnya bocor. Hal itu sering terjadi pada rumahnya dulu sebelum tinggal di rumah yang dibangunkan oleh Tuan Winata.
"Jelaskan mengapa kalung ini bisa ada di tanganmu!" Tama langsung meminta Warni menjelaskan padahal nyawa Bu Warni seperti belum kembali seutuhnya akibat tidurnya yang dikagetkan.
"Jelaskan mengapa kalung ini ada padamu?" tanya Tama sekali lagi.
Warni terdiam sesaat, dalam hati berpikir apa maksud orang yang ada di hadapannya kini.
"Katakan!" Tama tak sabaran.
"Aku .... "
__ADS_1
"Ya-ya aku kenapa?" potong Tama ucapan Warni.
"Aku ... menemukan itu di hutan saat mencari kayu bakar," jelas Warni.
"Dimana kamu menemukannya? Apa melekat pada seorang balita?' Tama masih mengintrogasi.
"Aku menemukannya di ...."
Warni lalu diam. Ia teringat akan belasan tahun yang lalu ketika dirinya dan sang suami sedang memasuki hutan hendak mencari kayu bakar untuk dijual.
Saat itu mereka melihat beberapa orang pria yang berlari-larian masuk ke hutan. Terdengar suara samar-samar dari balik pepohonan.
"Bunuh bayi itu sebelum mereka menemukan kita di sini. Bayi itu tidak boleh dibiarkan hidup. Aku kehilangan bayiku karena orang tuanya. Dia pun juga harus musnah dari muka bumi."
"Bang suara siapa itu?" Warni bertanya kepada sang suami. Suami Warni yang bernama Ali itu pun memasang telinga lebar-lebar agar bisa mendengar pembicaraan orang yang sama sekali tidak bisa dilihatnya karena lebatnya dedaunan di hutan.
Terdengar krusak-krusuk orang yang berlarian di dalam hutan.
"Harimau! Harimau, lari!"
"Ada harimau Bang," ucap Warni pada Ali.
"Tenanglah jangan takut, selama kita tidak mengganggu mereka, mereka tidak akan menggangu kita," ucap Ali.
"Tenanglah Dek, ada Abang di sini." Meskipun mengatakan hal seperti itu tetap saja Warni merasa ketakutan. Baginya keberadaan suaminya di hutan bersamanya tidak akan berpengaruh pada hewan buas karena sang suami bukan pawang hewan yang bisa diandalkan.
"Kita pulang saja Bang," ajak Warni. Wajahnya sudah terlihat pucat karena takut.
"Ya sudah kita pulang, ayo!" Ali menarik tangan Warni agar mengikuti langkahnya untuk keluar dari hutan.
Beberapa saat melangkah tiba-tiba terdengar suara bayi di sekelilingnya.
"Bang suara bayi siapa itu, jangan-jangan bayi kuntilanak yang beranak dalam kubur." Warni semakin ketakutan. Tubuhnya sudah basah bermandikan keringat.
"Sepertinya itu bayi manusia. Bayi yang diharapkan mati oleh seseorang tadi." Mereka terus melangkah menyusuri hutan mencari jalan keluar.
"Bang itu apa? Mengapa ada kereta bayi di dalam hutan? Ih Bang saya takut." Warni belum bisa menyingkirkan rasa takutnya meski Ali sudah mengatakan itu bayi manusia.
"Kamu tunggulah di sini sepertinya harimau itu kelaparan dan ingin memangsa bayi itu." Ali berlari ke arah kereta bayi. Dia terkejut mendapati harimau itu sudah menjilat-jilat wajah bayi dalam kereta bayi tersebut.
Dengan sigap Ali meraih bayi itu dan menggendongnya. Harimau itu marah dan langsung menyerang Ali. Dengan satu tangan menggendong bayi dan satu tangan melakukan perlawanan Ali lakukan agar dirinya terbebas dari serangan buas itu.
Namun, sayangnya Ali kalah. Harimau itu berhasil menggigit lengan Ali hingga darahnya mengucur begitu banyak mengenai kereta bayi.
__ADS_1
Melihat sang suami kehilangan banyak darah, rasa takut dalam hati Warni sirna. Dia langsung mengarahkan kayu bakar terbesar dalam genggamannya untuk memukul harimau tersebut.
Harimau tersebut tampak berputar-putar, mungkin pusing akibat terkena pukulan. Warni yang melihat ada kain dalam kereta bayi itu mengambilnya dan mengajak sang suami untuk menjauh dari tempat itu.
Setelah jarak mereka agak jauh, Warni membebatkan kain tersebut pada lengan Ali dan kemudian mengambil alih bayi dalam gendongan suaminya itu.
Dari jarak yang agak jauh dia melihat 3 laki-laki bergerak ke arah kereta bayi itu dan salah satu diantara 3 orang tersebut adalah Tama.
Bayi dalam gendongan Warni menangis kencang.
"Warni susui lah dia. Jangan biarkan orang-orang jahat itu menemukannya karena mendengar suara tangisannya. Argh sakit sekali ini."
"Tapi Bang aku kan tidak ....."
"Tidak apa-apa hanyalah untuk menghentikan tangisnya sementara."
Warni pun menuruti perkataan sang suami untuk menyusui bayi yang baru ditemukannya itu. Diluar dugaan bayi itu tiba-tiba diam padahal asi Warni tidak keluar.
"Bang dia diam." Warni tersenyum senang.
"Lebih baik kita rawat dia daripada harus jatuh ke tangan penjahat itu."
"Iya Bang, Abang benar. Apalagi kita memang sudah lama tidak dikaruniai anak. Mungkin inilah jalan takdir kita untuk bisa merasakan jadi orang tua. Nanti saya akan meminum jamu apapun agar asi saya bisa keluar sehingga bayi ini bisa mendapatkan asi."
"Bagus tidak ada salahnya dicoba."
"Tapi Bang bagaimana kalau orang-orang bertanya darimana asal anak ini. Kalau kita jawab nemu pasti orang jahat itu akan mengambil bayi ini."
"Kita akan pergi dari daerah sini untuk beberapa waktu dan akan kembali setelah dia mulai berumur dua tahunan. Sekarang kita ke puskesmas dulu. Aku takut lukaku akan infeksi."
Warni mengawasi orang yang mendekati keranjang bayi tadi. Ternyata sudah tidak ada orang ddi sana. Orang-orang itu telah pergi semua.
"Ayo Bang kita pergi sekarang. Keadaan sudah aman karena orang-orang jahat itu telah pergi."
***
"Sampai kapan kau menggantung ucapanmu itu? Sampai kapan kau diam seperti itu? Jawab! Dimana kau menemukan kalung ini?" Tama tampak kesal pada Warni.
"Tidak dia tidak boleh tahu bahwa bayi itu adalah Mentari. Dia orang jahat pasti akan merencanakan hal yang buruk terhadap putriku," ucap Warni dalam hati.
"Jawab!" bentak Tama.
Bersambung....
__ADS_1