
"Kate!" teriak Bintang kemudian.
Katrina sama sekali tidak menggubris teriakan Bintang dan terus berjalan hingga hampir memasuki pintu lift.
"Ampun, bagaimana aku bisa belanja kalau dompet saja ketinggalan." Katrina memukul kepalanya sendiri lalu berbalik lagi ke unit apartemen Bintang.
"Baguslah kalau kamu kembali. Bukankah kamu tadi yang bicara masa depan. Jadi harus pintar-pintar mengatur keuangan," ucap Bintang saat Katrina masuk kembali ke dalam apartemennya.
Katrina tidak menjawab, dia buru-buru masuk ke dalam kamar dan mengambil tasnya sendiri. Setelah mendapatkan apa yang ingin dia ambil, perempuan itu keluar lagi.
"Kate!" protes Bintang sambil menarik tangan Katrina saat berada di pintu.
"Apa sih Bin?"
"Kalau mau belanja yang penting-penting saja," nasehat Bintang.
"Kau itu orang kaya Bin, nggak malu ya kalau orang lain melihat keadaan ekonomi kita seperti ini. Harus hemat-hemat, kayak orang miskin saja. Seharusnya kamu minta sama papa Tama buat menyerahkan perusahaannya padamu, bukan menyuruh aku jadi orang pelit. Pintar dikit dong Bin masa iya anak orang kaya kerja sama orang lain," ucap Katrina sambil menghempaskan tangan Bintang dan langsung pergi lagi.
"Argh kamu pikir aku begini bukan karena kamu Kate," ucap Bintang dan mendorong kasar pintu hingga tertutup sendiri.
Bintang duduk dan meneguk kopinya kembali. "Ah lebih baik aku menemui ustadz itu daripada harus memikirkan Katrina yang semakin hari semakin bikin aku stres saja. Dia sekarang benar-benar sudah berubah, tidak seperti dulu lagi."
Bintang bangkit dari duduknya, masuk kamar mandi dan bersiap-siap untuk menemui ustadz Alzam di rumahnya. Kemarin dia sempat mengikuti Gala saat menemui adiknya itu, jadi Bintang tahu dimana Mentari dan ustadz Alzam sekarang tinggal.
Setelah siap, dia menarik nafas panjang sebelum akhirnya keluar dari unit apartemennya dan pergi menuju mobilnya sendiri.
"Tunggulah Me aku akan mengembalikan dirimu ke sisiku lagi. Aku janji akan melakukan apapun yang kau minta jika sudah kembali padaku termasuk jika kamu meminta aku untuk melepaskan Katrina." Bintang menghembuskan nafas berat.
Setelah berkata seperti itu pria itu langsung menghidupkan mesin mobilnya dan menyetir menuju rumah ustadz Alzam.
"Assalamu'alaikum Bu, ustadz Alzam ada?" sapa Bintang pada ibu ustadz Alzam yang sedang menyapu di halaman rumahnya. Pepohonan yang rindang membuat halaman rumah senantiasa dihiasi dedaunan kering.
"Ada di dalam dia baru kembali dari luar kota. Nak Bintang duduk saja dulu biar saya panggilkan anak saya."
Bintang mengangguk dan mengikuti ibu itu berjalan ke ruang tamu.
"Silahkan duduk," ucap Ibu ustadz Alzam lagi.
"Iya Bu, terima kasih." Bintang duduk sedangkan si ibu menemui ustadz Alzam di kamarnya.
"Nak ada tamu," lapor sang ibu.
"Siapa Bu?" tanya ustadz heran sebab tidak biasanya ada tamu di saat jam-jam seperti sekarang.
"Nak Bintang," sahut sang ibu.
"Baiklah saya akan segera menemuinya."
Ibunya mengangguk dan bergegas pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Assalamualaikum," sapa ustadz Alzam sambil berjalan ke arah Bintang lalu duduk di hadapannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bintang.
"Maaf apa gerangan yang membawamu ke sini?" tanya ustadz Alzam to the poin.
__ADS_1
"Mentari mana?"
"Oh dia, pulang sebentar ke rumah papa Tama."
Bintang mengangguk.
"Bagaimana karirmu sekarang?" tanya Bintang berbasa-basi.
"Alhamdulillah sedikit menanjak setelah berita perselingkuhan itu sudah clear semuanya," jawab ustad Alzam jujur.
Memang semenjak Bintang menyuruh temannya untuk memberikan bukti ke media bahwa kabar perselingkuhan yang sempat naik ke permukaan itu adalah tidak benar ustadz Alzam mendapat tawaran lagi untuk mengisi ceramah di berbagai acara. Saat itu ustadz Alzam menolak karena masih sibuk dengan pernikahannya dengan Mentari.
Namun, setelah beberapa hari menikah dan Mentari mendukung dengan profesi sang suami, ustadz Alzam berkecimpung lagi dalam dunia dakwah. Padahal mereka baru saja menikah, tetapi Mentari sama sekali tidak keberatan jika harus ditinggalkan oleh sang suami untuk berdakwah. Bukankah nabi bersabda, "Sampaikan meskipun hanya satu ayat." Jadi, apa alasan Mentari untuk melarangnya.
Semakin hari semakin banyak yang mengundang ustadz Alzam lagi saat kabar pernikahannya dengan Mentari sempat membuat geger lagi dunia maya. Meskipun demikian ustadz Alzam pandai membagi waktu agar sang istri tidak merasa sendiri dan kesepian.
"Alhamdulillah kalau begitu," ucap Bintang.
Ustadz Alzam hanya mengangguk.
"Sebenarnya kedatangan saya ke sini ingin menagih janji pada ustadz." Bintang mulai masuk ke topik pembicaraan.
"Menagih janji?" Ustadz Alzam terlihat kaget. "Janji apa?" tanyanya bingung.
"Janji jika sudah menikah dengan Mentari dan berhubungan badan akan segera menceraikan Mentari dan mengembalikan padaku asal nama ustadz Alzam bersih kembali."
Ustadz Alzam tampak syok. Kapan dirinya berjanji seperti itu.
****
Di tempat lain.
"Baiklah ayo kita pulang." Terpaksa menuruti keinginan Sarah agar wanita itu tidak merajuk dan melapor pada sang kakak. Bisa kacau semuanya kalau sampai ustadz Alzam tahu sebab bisa saja hal apa yang terjadi tadi mengundang salah paham orang lain.
Sarah mengangguk dan langsung bangkit dari duduknya kemudian keluar dari kamar Mentari. Mentari menyusul dari arah belakang.
"Sampai di depan kamar Gala, Sarah berhenti sebentar melihat Gala berdiri dengan gelisah. Dia berjalan mondar-mandir tak tentu arah di dalam kamar yang pintunya masih terbuka.
Sarah mendekat dan mengintip ingin tahu sebenarnya ada apa dengan pria itu.
Gala tampak menggaruk wajah dan lengannya, sesekali meniup lengannya yang memerah.
"Ah kenapa masih panas sih? Malah merembes ke muka nih panas dan gatalnya," kesal Gala dan menggerutu sendiri. Pria ini mengambil kipas tangan dan mengipasi wajahnya.
"Kenapa?" tanya Mentari saat melihat Sarah berhenti di depan kamar Gala.
Suara Mentari terdengar di telinga Gala sehingga pria itu langsung menoleh.
"Mau balik Ca?" tanya Gala sambil terus menggaruk wajahnya.
"Iya Mas, eh wajahnya jangan digaruk terus nanti rusak lebih baik diusap-usap saja," saran Mentari.
"Iya nih Ca tapi Mas rasanya tidak tahan," ujar Gala.
"Ngapain kamu memandangku seperti itu?" tanya Gala saat menyadari Sarah menatapnya aneh sedari tadi.
__ADS_1
"Hahaha wajahmu tampan sekali hari ini Pak Gala." Sepertinya sarah ingin balas dendam dengan mengejek pria itu.
"Tampan apaan? Hus sana pergi!" usir Gala tidak terima Sarah mengejeknya.
"Tapi kayaknya kurang lengkap deh kalau belum belekan sama bintilan. Biasanya orang yang suka mengintip orang mandi akan seperti itu. Sebab telah berani mengintip Sarah maka ku kutuk gatal-gatalmu awet."
"Sarah!" teriak Gala geram dan langsung menutup pintu. Pria itu benar-benar kesal saat ini, sudah gatal-gatalnya belum ada tanda-tanda mau hilang setelah meminum obat malah tambah parah rasanya ditambah dengan ejekan Sarah juga semakin membuat tubuh dan hatinya panas saja.
"Kalau belum ada efek dari obatnya ke dokter saja Mas!" teriak Mentari dari luar pintu. Lalu menyusul Sarah yang sudah terlebih dulu menuruni anak tangga.
"Pa saya mau pulang," pamit Mentari pada Tama yang masih makan.
"Loh secepat ini?"
"Iya Pa takut abi datang." Alasan Mentari padahal hanya diajak Sarah saja.
"Loh kamu tidak izin sama suamimu? Jangan begitu Nak, kamu kalau kemana-mana harus bilang dulu sama Nak Alzam, kalau dilarang ya jangan berangkat. Ya sudah sana pulang."
Sarah mendekat, ingin pamit dengan bersamaan.
"Tidak usah salaman saja Nak tanganku kotor," ucap Tama dan Sarah urung.
"Ya sudah ya Pa Cahaya pulang," pamit Mentari sambil berjalan keluar rumah.
"Iya, hati-hati kalian berdua."
"Langsung pulang Kak atau mampir ke mana dulu?" tanya Sarah saat mereka sudah duduk di dalam mobil.
"Loh katanya dari tadi kamu yang mau pulang."
"Iya tadi saya kan sempat kesal sekarang tidak lagi." Wajah perempuan itu ceria kembali seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Mentari hanya menggelengkan kepala dan sedikit merasa curiga.
"Kenapa Kakak geleng-geleng kepala?"
"Aneh sama sikap kamu yang berubah-ubah. Jangan-jangan kamu jadi senang melihat Mas Gala tersiksa," tuduh Mentari.
"Eits dia itu kakaknya," batin Sarah. Sepertinya Sarah baru ingat kalau Gala adalah kakak dari kakak iparnya itu.
"Sudah sekarang langsung pulang!" perintah Mentari.
"Siap," ucap Sarah dan langsung menyetir mobilnya keluar dari kediaman Tama menuju rumah ibunya.
"Sudah ya Kak aku tidak mau masuk sampaikan salamku pada ibu dan Kak Alzam. Katakan aku sedang terburu-buru." Sarah langsung memutar mobilnya dan langsung pergi. Dia baru ingat ada janji dengan teman-temannya.
"Ada tamu rupanya, siapa ya?" Mentari melihat-melihat mobil yang terparkir di halaman rumah.
"Mas Bintang, ngapain dia ke sini?"
Mentari langsung berlari ke arah pintu takut-takut Bintang akan membuat masalah di sini.
Sampai di depan pintu Mentari terhenyak mendengar perkataan Bintang.
"Janji jika sudah menikah dengan Mentari dan berhubungan badan akan segera menceraikan Mentari dan mengembalikan padaku asal nama ustadz Alzam bersih kembali."
__ADS_1
"Apa ini?" Mentari menekan dadanya sendiri.
Bersambung.