HURT SECOND WIFE

HURT SECOND WIFE
HSW BAB 159. Rencana Membawa Kabur


__ADS_3

Hidup tanpa Mentari di sisinya membuat Bintang merasa hampa apalagi ditambah dengan Katrina yang selalu sibuk sendiri dengan pekerjaan barunya. Entahlah Bintang tidak mau tahu wanita itu bekerja di mana. Tak ada keinginan sedikitpun untuk mencari tahu tentang pekerjaan wanita itu dan apa yang dilakukan oleh Katrina di luar pekerjaannya.


"Bagaimana caranya aku harus mendapatkan Mentari kembali." Masih saja terobsesi untuk mendapatkan mantan istrinya kembali. Bintang menopang dagu sambil memikirkan cara yang tepat untuk mengambil kembali Mentari dari sisi ustadz Alzam.


"Tidak dengan cara baik, dengan cara buruk pun bisa di tempuh." Bintang tersenyum devil mendapatkan ide yang melintas begitu saja di otaknya yang bisa dipakai untuk membawa Mentari ke sisinya. Dia akan membawa kabur Mentari dan akan membuat wanita itu lupa dengan ustadz Alzam.


"Suruh siapa kau ingkar janji." Masih tidak terima dengan sikap ustadz Alzam yang ingin memiliki Mentari selamanya. Padahal ustadz Alzam sudah seringkali mengingatkan bahwa dirinya tidak pernah menyanggupi permintaan Bintang untuk menjadi seorang muhallil.


Bintang segera bangkit dari duduknya. Dia berjalan keluar dari apartemen, tidak memperdulikan tubuhnya yang lelah meminta untuk diistirahatkan setelah seharian bekerja. Setelah masuk ke dalam mobil dia segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju kediaman ustadz Alzam.


Sore hari di kediaman ustadz Alzam tampak lengang. Bintang memarkirkan mobilnya dari jarak jauh sambil mengawasi rumah itu dari dalam mobil.


Sejenak kemudian pintu pagar tampak dibuka dan ternyata yang membukanya adalah Mentari sendiri. Bintang tersenyum melihat mantan istri yang sebenarnya masih dicintainya itu.


Sebuah mobil tampak keluar dari pekarangan. Beberapa saat setelah pagar terbuka pengemudinya langsung turun setelah mobil berada di luar pagar.


"Aku berangkat dulu ya Ummi, kalau ada apa-apa telepon Abi dan kalau mau kemana-mana Ummi minta tolong Mas Gala saja ya untuk nganterin," pesan ustadz Alzam sambil mengusap kepala Mentari yang tertutup hijab.


"****! Menghalangi pandanganku saja." Bintang mengumpat dalam hati sebab ustadz Alzam menghalangi pandangannya terhadap tubuh Mentari.


"Oke Abi siap." Mentari berucap sambil bersemangat dengan senyum yang mengembang di bibirnya membuat ustadz Alzam yang gemas langsung mengecup bibir istrinya itu.


"Abi genit," ucap Mentari melihat suaminya tidak tahu tempat. Dari jauh Bintang meradang melihat ustadz Alzam mencium Mentari.


"Ah aku benci kau ustadz Alzam." Bintang mengepalkan tangannya, marah.


Dia harus kembali padaku," tekadnya dalam hati.


"Sudah ya Ummi, Abi pergi. Baik-baik di rumah dan jangan lupa jaga diri."

__ADS_1


"Iya Abi, bawel."


Ustadz Alzam hanya terkekeh mendengar istrinya mengatakan dirinya cerewet. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil.


"Dada Ummi, Abi pergi dulu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam warahmatullahi ta'ala wabarakatuh, hati-hati Abi." Mentari pun melambaikan tangan melepas kepergian sang suami.


Ustadz Alzam mengangguk dengan tersenyum. Setelahnya langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan rumah menuju tempat dimana dia harus mengisi ceramah.


Setelah mobil ustadz Alzam hilang dari pandangan, Mentari berbalik untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya terhenti tatkala mendengar penjual es yang mengetuk-ngetuk mangkok dengan sendok seperti penjual bakso keliling.


"Bakso apa es sih?" Mentari berbalik dan menatap seorang bapak-bapak yang mendorong gerobak menjauh darinya.


"Kayaknya es campur deh, aku pengen minum es itu." Lidah Mentari penuh dengan air ludah mengingat dirinya yang minum es campur dengan Aliya waktu di kampung dulu.


"Eh bapak penjual es!" teriaknya lagi sambil melambaikan tangannya. Namun, sayang pedagang itu sama sekali tidak mendengar.


Mentari langsung berlari mengejar. Dia bertekad agar bisa menikmati es campur di sore hari itu, seperti orang ngidam saja.


"Pak tunggu!" Mentari hendak mempercepat larinya, tetapi tiba-tiba saja ada yang menghadang langkahnya.


Mentari langsung berhenti, menatap sepatu seorang pria yang tiba-tiba saja berdiri di hadapannya.


Mentari mendongak dan kaget melihat orang yang berdiri di hadapannya ternyata adalah Bintang.


"Mas Bintang! Mau apa kau menghalangi langkahku?"


"Tidak baik berlari-lari seperti ini kalau kau jatuh bagaimana?"

__ADS_1


"Bukan urusanmu. Kalau aku yang jatuh maka aku yang sakit bukan dirimu," ketus Mentari.


"Masih menjadi urusanku karena aku perduli padamu."


"Cih, sorry aku akan kembali." Mentari berbalik tidak ingin mengejar penjual itu lagi sebab seleranya sudah hilang melihat Bintang tiba-tiba ada di hadapannya."


Bintang menangkap tangan Mentari. "Bukankah kamu mau minum es itu? Ayo aku antar untuk mengejarnya."


"Tidak jadi, lepaskan tanganku!" Mentari mengguncang-guncang tangannya agar terlepas dari genggaman tangan Bintang yang begitu kuat.


"Aku bilang aku akan menemanimu mengejar tukang es itu. Mengejar dengan mobil lebih baik, bukan?"


"Tidak. Sudah kubilang tidak ya tidak." Mentari terlihat ngeyel membuat Bintang geregetan dan langsung menarik tubuh wanita itu.


"Lepaskan Mas Bintang! Kita bukan muhrim lagiz tidak baik hanya berdua seperti ini. Bisa-bisa timbul fitnah diantara kita."


"Bagus dong kalau ustadz Alzam dengar aku yakin dia akan melepaskanmu."


"Kau benar-benar gila sekarang ya Mas Bintang."


"Ya aku memang benar-benar gila dan itu semua gara-gara kamu. Makanya kamu yang berkewajiban untuk mewaraskanku kembali."


Mentari menggeleng mendengar ucapan Bintang. Lalu wanita itu menunduk dan menggigit tangan Bintang yang masih menggenggam tangan Mentari dengan kuat.


"Auw sakit," pekik Bintang sambil melepaskan pegangan tangannya di tangan Mentari lalu meniup-niup tangannya sendiri. kesempatan itu digunakan Mentari untuk kabur.


"Me tunggu!"


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2